
"Ra, aku mau ngobrol berduaan sama kamu." Kayla tiba-tiba mendatangi Vira di dapur. Gadis usia 20 tahun itu mengkerut. Tidak biasanya Kayla bicara seperti itu. Mungkin memang benar kalau orang yang mau menikah bukan happy tapi rata-rata mereka sedikit down.
"Boleh. Sama Elsa juga." kata Vira.
"Kan aku bilang berdua. Antara aku dan kamu, Ra." kata Kayla meyakinkan Vira.
Vira menatap kearah Elsa. Ada rasa tidak enak karena temannya tidak dilibatkan. Tapi mungkin Kayla memang butuh bicara berdua saja. Setelah pamit sama Elsa, Vira mengajak Kayla duduk di area dekat kolam renang.
"Kamu mau ngomong apa, Kay?" Vira langsung duduk permasalahannya.
"Ra, aku dengar kamu pernah hampir menikah? bagaimana rasanya kamu dilamar lelaki yang kamu cintai." Kayla mulai membuka obrolan.
"Kalau aku dulu mencoba menjalani apa yang sudah kuterima. Keseriusan calonku meyakinkan aku untuk menjalani bahtera rumah tangga kami nantinya. Setiap wanita pasti bahagia ketika pujaan hatinya menyatakan keseriusan ke jenjang lebih tinggi yaitu menikah."
"Lalu kenapa tidak jadi menikah?"
"Karena banyak hal yang harus korbankan nantinya setelah menikah. Aku harus ikut suami, meninggalkan mama. Melangkahi kedua kakakku. Meninggalkan kuliah dan cita-cita. Dan pastinya pikiran itu terus membelenggu. Usia yang seharusnya masih harus menikmati masa muda. Usia yang seharusnya membuktikannya baktinya pada orangtua. Hal-hal yang seperti itu membuat saya berpikir ulang tentang pernikahan."
"Seluas itu pikiranmu, Vira." kata Kayla.
"Nggak juga, Kay. Aku hanya berusaha realistis. Aku hanya tidak mau terlalu buru-buru itu saja. Karena semua yang kita lakukan tanpa pikir panjang akan ada konsekuensinya. Sama ketika aku menerima lamaran kak Satria, dulu."
"Kay, Kamu udah siap untuk menikah? Usia kamu berapa sih sekarang?"
"Aku 19 tahun. Sebenarnya sih aku dan kak Dawa itu di jodohkan. Dia usia nya jauh diatasku. Ada 10 tahun bahkan lebih. Sejak dia tinggal sama papa, kak Dawa sudah seperti bodyguard. Ngintil aku kemana-mana. Dia juga yang bilang kalau dia mencintai aku. Mau jadi suamiku kalau aku selesai sekolah nanti."
"Terus kenapa dia mau menikahi kamu padahal masih kuliah, Kay?"
Kayla sedikit tersenyum penuh arti. Saatnya dia mematahkan hati Vira. Paling tidak temannya itu sudah pasti ilfeel sama Pandawa.
Tangan Vira di letakkan di atas perut Kayla. Kayla meminta Vira menebak maksudnya.
"Kamu hamil, Kay?' kata Vira sambil mengeluarkan bola matanya.
"Dia yang sudah buat kamu seperti ini, Kay?" Kayla mengangguk.
"Dasar cowok brengsek! kurang ajar dia mau menodai temanku." amuk Vira.
Kayla hanya menyunggingkan senyuman. Rencana dia berhasil. Paling tidak dia sudah mencuci pikiran Vira untuk membenci Dawa. Sekarang tinggal terus mengulas pikiran temannya semakin dalam.
"Kamu tenang saja, Vira. Toh dia mau menikahi aku. Artinya dia mau bertanggungjawab. Ya, walaupun sebenarnya aku terpaksa melayani kemauan dia di ranjang." kata Kayla.
__ADS_1
"Kamu bodoh, Kay! mau saja jadi budak nafsu dia. Lelaki seperti itu bukan hanya bermain dengan satu wanita. tapi dengan banyak perempuan. Aku yakin dia mau menikahi kamu hanya untuk tanggung jawab sama anakmu. Bukan karena cinta."
Kayla memeluk Vira sebagai sandaran. Aktingnya menampakkan kesedihan karena menjadi korban nafsu Dawa.
"Bahkan saat di ranjang dia malah menyebut wanita lain." adu nya.
"Ya Allah, Kay. Apa papamu sudah tahu?" Kayla mengangguk.
"Papa semua mau menuntut kak Dawa masuk penjara. Tapi aku minta sama papa supaya menikahi kami. Begitu juga kak Dawa. Dia juga bersujud sama papa supaya menikahi aku."
"Ya, baguslah kalau dia mau tanggung jawab. Aku cuma takut dia nggak mau nikahi kamu. Atau mungkin dia sekedar formalitas saja. Takutnya setelah anak kamu lahir dia malah ceraikan kamu."
"Semoga yang kita takutkan tidak terjadi, Vira. Hanya saja, aku sudah cerita ini sama Jordy. Dia marah sekali. Aku kenal Jordy, dia kalau marah temperamennya tinggi."
"Maaf kalau aku bertanya seperti ini, kamu dan Jordy sebenarnya apa?"
"Jordy itu sahabat aku sejak kecil. Kami kemana-mana selalu berdua. Dia selalu ada buat aku. Meskipun aku sudah sama kak Dawa. Tapi dia tetap selalu berada di sisiku." cerita Kayla.
"Cuma sahabat kan? tapi kok aku lihatnya lain ya? maaf Kay bukan aku nuduh kamu macam-macam. Tapi yang aku lihat ekspresi Jordy ke kamu itu lebih dari sahabat. Lagian mana ada sahabat bertahun-tahun tanpa ada perasaan khusus."
"Entahlah, Ra. Aku belum bisa mikir kesana. Di mataku Jordy itu tetap teman baikku. Lagian dia bilang suka sama kamu. Coba deh kamu buka hati untuk Jordy."
"Saya? jangan ngaco kamu! mana mungkin.."
"Bukan masalah itu, Kay. Tapi kan aku juga nggak punya perasaan apapun pada Jordy. Akrab juga tidak. Sama dengan kamu, dulu kita nggak sedekat ini. Tapi sejak kak Dawa punya kerjasama dengan perusahaan mamaku. Kita jadi dekat kan? seperti istilah tak kenal maka tak sayang."
"Ra, aku minta jangan cerita pada Elsa, ya?" kata Kayla.
"Kenapa?" Vira sedikit heran.
"Karena aku percaya sama kamu." jawab Kayla.
"Kay, kenapa kamu begitu lepas cerita sama aku. Padahal kita di kampus nggak dekat amat." tanya Vira.
"Nggak apa-apa, Ra. Karena aku sudah lama mau temenan sama kamu. Tapi ragu, circle kamu lebih ke Elsa. Anak dari pemilik stasiun televisi terkenal. Dan kamu anak dari pengusaha terkenal. Sedangkan aku, anak dari pengusaha kecil." jelas Kayla.
Kayla menghembuskan nafas kasarnya ke udara. Ada rasa kelegaan setelah memutarbalikkan fakta. Tentu saja itu untuk kepentingannya. Dia mau anaknya dapat penghidupan yang lebih baik. Vira dan Kayla kembali ke kamar dimana mereka menemukan Elsa sudah terlelap. Sementara Bi Inah sepertinya belum kelihatan.
Soal Jordi dia akan mengurusnya nanti. Karena dia sudah bosan pada lelaki itu. Walaupun mereka menikah siri. Bisa saja pernikahan itu dia lepaskan.
"Halo, pak Bambang. Saya sudah kirimkan photo. Jadi tolong amankan dia hingga setelah pernikahan saya dan kak Dawa selesai."
__ADS_1
"Baik, Bu. Apa ada lagi?"
"Tidak ada, pak."
"Mamamu kemana?" tanya Kayla.
"Mama ke Lembang sama Tante Salma. Kak Dira dan suaminya juga menyusul kesana."
"Owh, Begitu?"
"Kalau papamu?" tanya Kayla.
"Mama dan papa bercerai saat aku masih kecil." cerita Vira.
"Maaf, ya."
"Nggak apa-apa."
Kayla merasa handphonenya bergetar. Dia pun pamit pada Vira mengangkat telepon dari Dawa.
"Assalamualaikum, kak."
"Kamu dimana, Kay? aku ke rumah, kamu tidak ada."
"Aku di rumah Vira. Kenapa?"
"Nggak apa-apa, aku kangen sama kamu. Tadi pas habis meeting tiba-tiba keingat kamu. Aku susul kesana, ya?"
"Tapi ini hujan, kak. Nanti kakak sakit."
"Nggak apa-apa. Om Irul lagi ke Medan jadi kamu adalah tanggungjawabku."
"Yasudah terserah kak Dawa saja." Kayla menyudahi telepon mereka.
Waktu terus berjalan Vira memilih masuk ke kamar. Sementara Kayla menunggu kedatangan Dawa. Sebelumnya Vira sempat memarahi Kayla karena mengundang Dawa di luar jam besuk.
"Kamu tahu, Kay. Ini sudah jam berapa? kenapa kamu malah minta kak Dawa datang kesini? Kami di rumah biasanya tidak menerima tamu lagi diatas jam 9 malam."
"Cuma sebentar, Ra. Kak Dawa kangen sama anaknya." kilah Kayla.
"Kay, kalau ini rumah kamu nggak masalah. Tapi ini rumah saya dan punya aturan juga. Kalau kamu tidak cocok dengan aturan kami, kamu boleh pulang bareng pacarmu."
__ADS_1
"Loh kamu usir saya?"
"Terserah kamu menilanya seperti apa. Aku bicara sebagai tuan rumah. Bukan sebagai teman kamu."