SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 188


__ADS_3

"Maafin mama, Nak. Bukan maksud mama bikin kamu seperti ini. Mama hanya mau menjaga kamu dari mereka yang ingin menghancurkan keluarga kita. Tolong mengertilah, Nak," batin mama Dewi.


Vira masih asyik mengetik di laptop, entah apa yang di tulis putri bungsunya.


"Nak," mama Dewi menepuk pundak Vira.


Vira yang tadinya asyik dengan dunia maya tersentak karena tepukan mama Dewi. Vira melepaskan headset sambil tersenyum pada mamanya. Masih dengan sikap ramah tentunya tak begitu ingat kejadian tadi malam.


"Kamu sudah makan, Nak?"


"Belum, Ma. Tanggung tinggal sedikit lagi rampung,"


"Emang kamu lagi ngapain?"


"Urus S2 di Jepang, Ma. Mau ambil jurusan manajemen perusahaan. Biar bisa bantu mama di kantor, ya kan kak Dira bakal pulang ke Lembang jadi nyonya bos pabrik teh, kak Feri pasti bakal naik kembali menjadi direktur. Dan aku ... yang pasti aku tidak mau buru-buru mencari pasangan. Dulu aku berjanji pada opa Han, harus menjadi orang sukses," Vira tetap bersikap riang di depan mamanya.


"Keren, Nak. Apapun keputusanmu mama akan dukung. Kalau perlu sampai S3 biar nanti kamu bisa di kasih jabatan tinggi sama Feri,"


"Ma, tadi kenapa?"

__ADS_1


"Mama mau ajak kamu sarapan. Dira dan Juna sudah menunggu di bawah. Nanti bisa kamu lanjutkan kegiatannya. Yang penting perut kamu jangan kosong. Mama buatin ayam goreng nggak pakai kulit kesukaanmu,"


"Mama duluan saja, nanti aku nyusul," Mama Dewi meninggalkan kamar loteng yang dulunya milik Dira. Kini menjadi kamar Vira.


Vira merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Menatap langit-langit dinding kamarnya. Seperti ada yang hilang, entah apa itu dia tidak tahu. Cinta pada Panji? Vira dulu memang pernah di buat berbunga-bunga pada perhatian Panji. Perempuan mana sih yang tidak senang dengan perhatian yang di berikan pada seorang lelaki. Perempuan mana yang tidak di buat melayang dengan sejurus perhatian.


Itu dia temukan dalam diri Panji. Tapi soal cinta, jujur dia menerima Panji karena tidak mau mengecewakan mamanya. Harapan tinggi yang di pupuk sang mama membuatnya melupakannya kebahagiaan dirinya sendiri.


"Kata orang kalau mau bahagia harus mengantongi restu dari orang tua yang paling utama ibu atau mama. Tapi kenapa orang yang mama restui malah memberikan kekecewaan yang paling dalam. Buat aku kalau dia sendiri meragukan tentang jati diriku, itu tandanya dia tidak menerima aku apa adanya.


Kak Satria saja nggak pernah berpikir seperti itu, tapi dia malah sebaliknya," Vira menatap ke samping. Melihat tangannya yang mengalami luka lecet saat penculikan.


"Sial! ada polisi!" amuk Irul.


"Seno, buka ikatannya,"


Seno membuka ikatan yang membelit tubuh Dawa. Tubuh Dawa sudah tergeletak di lantai bersimbah darah. Seno bahkan masih menendang dan memukul tubuh Dawa. Kaki Seno dan Irul terus menghujam perut Dawa. Cairan merah kental keluar dari mulut lelaki itu.


"Seno, buka ikatannya. Kita tinggalkan saja mereka berdua. Tapi .... aku harus memastikan Dawa sudah meninggal dunia. Supaya dendam untuk Winda terbalaskan. Hajar lagi, Seno, hajar dia sampai mampus.... Hahahaha...!"

__ADS_1


Vira pun di lepaskan ikatan yang membelit tubuhnya. Gadis itu memegang tubuhnya Dawa. Meletakkan kepala Dawa diatas pahanya. Berkali-kali dia meminta lelaki itu untuk bangkit, hanya sedikit respon yang di berikan Dawa.


"Vira, ma...af ....kan ... saya, saa.. ya .... cin ...."


"Kakak bangun! kak Danu tolong bangun! kakak pernah janji sama aku dulu akan sama-sama, kakak bangun!"


Vira menatap Seno penuh amarah. Dengan langkah gontai dia mengambil benda keras yang ada di dekatnya. Tanpa dia sadari Seno sudah melakukan perlawanan. Lelaki itu memukul tangan tangan Vira dengan kayu yang di pakai untuk menghajar Pandawa. Vira menjerit kesakitan, tangannya terluka bahkan dia tidak bisa membalas Seno.


"Kamu mau menyusul lelaki itu silahkan. Kalian akan bertemu di neraka," Vira tersungkur hingga tak sadarkan diri.


Flashback off


"Haaaah!"


Vira terpekik dalam pejaman mata. Nafasnya terputus-putus ketika menyadari dia masih dalam kamar. Masih dalam kamar suara jatuhnya air hujan terdengar kencang. Dia langsung bangkit kearah balkon, padahal masih jam 11 siang. Tapi langit seakan mau malam.


"Ya Allah, jika seandainya kak Danu memang sudah meninggal dunia. Tempatkan dia di tempat yang paling baik.


Jika dia selamat sembuhkanlah dia seperti sediakala,"

__ADS_1


__ADS_2