SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 197


__ADS_3

Di luar sana tampak beberapa orang menunggu selesainya persalinan Tina. Raut kecemasan terpancar di wajah mereka. Tentu saja mereka berharap ibu dan anak kembarnya lahir dengan selamat.


Dari keluarga Amran hanya budenya Tina yang menunggu, sementara pihak keluarga Feri pun ikut menunggu ada Dewi, Opa Han, Maya dan suaminya ikut menyusul. Semua merasakan harap-harap cemas.


"Mas, aku mau ke tempat mama," kata Dira yang masih di kamar.


"Sayang kamu jangan banyak bergerak, kamu itu tinggal menunggu reaksi anak kita,"


"Tapi kan dokter bilang aku belum ada tanda-tanda melahirkan. Kontraksinya saja sudah tidak terasa. Ayolah, Mas. Aku mau lihat kak Tina," rengek Dira.


"Baiklah," nada berat terasa di bibir Arjuna.


Lelaki itu memindahkan tubuh istrinya ke kursi roda. Tangan kekar itu mendorong gagang kursi untuk melaju ke luar ruangan.


Lokasi kamar tidak jauh dari ruang persalinan. Hingga sekali belok mereka menemukan rombongan keluarganya sudah berkumpul.


"Itu mereka, Mas!" tunjuk Dira.


"Iya, kamu mau kesana kan?" Dira mengangguk.


"Mas, ..." tiba-tiba Dira minta berhenti.


"Iya, sayang," Juna melihat perubahan ekspresi istrinya.


"Aaaauuuu.... Mas, perutku ... Perutku ... sakit...."


"Kan apa aku bilang tadi, kamu nya ngeyel di kasih tahu," Juna memutar kursi roda Dira untuk kembali ke kamar.


...****...


Lengkingan suara bayi bersahutan di ruang persalinan terdengar oleh para Oma yang berada di luar. Mama Dewi dan bude nya Tina saling berpelukan. Mereka bahagia karena statusnya sudah menjadi Oma. Apalagi cucu mereka paket lengkap, sepasang laki-laki dan perempuan.


Tina yang di bawa ke rumah sakit dari sembilan pagi, harus menunggu waktu melahirkan, hingga baru kontraksi besar lima jam kemudian. Dan setelah hampir tiga jam persalinan si kembar pun berjalan dengan lancar.


Tidak hanya Tina yang di bawa, Dira pun sama, setelah merasakan kontraksi hebat, ternyata juga belum waktunya lahir. Pada akhirnya diminta menginap di rumah sakit sambil menunggu reaksi dari calon bayi mereka.


"Alhamdulillah kita sekarang jadi nenek, Dewi," ucap bude nya Tina.


"Iya, Kak. Kita punya sepasang cucu yang cantik dan ganteng. Kita sudah jadi Oma, kak. Dan om Burhan sudah jadi poyang,"


"Aku kabari mas Amran dulu, kasih kabar bahagia ini," Bude nya Tina mengeluarkan handphonenya.


"Assalamualaikum, Mas. Aku mau kasih kabar kalau anak Tina sudah lahir. Mereka kembar sepasang. Mas kesini ya, lihat cucu kita," bude nya Tina pun menutup komunikasi.


"Kata, Mas Amran dia tunggu pas pulang dari rumah sakit saja. Ya Allah, rasanya baru kemarin kita lihat dan Feri bersanding, sekarang mereka sudah menjadi orangtua. Mungkin ini bayaran karena sempat kehilangan Mey, Tuhan menggantinya melalui Tina," kata bude nya Tina.


"Iya, jeng. Ini sebagai pengobat kesedihan Feri sewaktu di tinggal bayi dan istrinya. Saya kalau ingat Mey merasa bersalah, Jeng. Karena dia meninggal saat di rumah kami. Tidak ada yang tahu kalau dia meninggal saat di ruang kerja," kenang Dewi.

__ADS_1


"Saya yang minta maaf sama kamu, Dewi. Semua karena keegoisan Mayka saat itu. Andai Mayka tidak di kuasai rasa cemburu yang membuat jantung Mey kumat. Mungkin kita sudah menggendong cucu,"


Feri mengadzankan kedua anaknya secara bergantian. Air matanya menetes melihat sosok kecil yang masih merah. Keduanya saling menguap seakan menikmati udara baru yaitu udara dunia. Feri bergantian mengecup kening putra dan putrinya.


"Mas, ..." suara Tina terdengar lirih.


"Terimakasih, Sayang. Terimakasih sudah memberikan anak yang lucu-lucu seperti mereka. Aku janji akan menjadi ayah yang baik untuk keduanya. Aku mau menamakan Harry dan Hermione. Bagaimana, sayang?"


Tina hanya diam saja. Kalau kondisinya lebih baik sudah pasti akan memprotes nama yang di berikan suaminya. Ibu mana yang mau anaknya di kasih nama penyihir, tidak ada doa dan harapan yang terkandung dalam nama itu.


"Sayang," Feri masih menunggu jawaban dari istrinya.


"Soal nama kita bicarakan sama para Oma ya, Mas? aku sih nggak masalah, tapi takutnya mereka yang nggak setuju," kata Tina.


"Aku juga kurang setuju, Mas," batin Tina.


"Baiklah, kalau tidak ada titik terang. Maka nama pertama yang akan di pakai. Bagaimana?"


"Terserah kamu, Mas," Tina melemparkan pandangan ke lain arah.


Feri keluar dari ruang persalinan untuk mengabarkan kelahiran anak-anaknya. Sambutan suka cita atas kelahiran sang buah hati membuat Feri terharu. Para Oma dan juga opa Han memeluk Feri secara bergantian.


"Selamat ya, Nak. Kamu sekarang sudah menjadi ayah, dimana prioritas kamu sekarang bukan hanya Tina saja melainkan si kembar juga. Opa harap kamu bisa belajar dari yang terjadi sama mama kamu,"


"Baik Opa, Terimakasih," Feri menyalami opa Han.


Sementara Juna membawa Dira kembali ke kamar rawat. Suara kesakitan Dira terus terdengar seperti merintih. Lebih hebat dari kontraksi sebelumnya.


"Mas, jangan pergi!" Dira menahan Juna yang hendak mencari bantuan. Dia tidak tega melihat istrinya kesakitan.


"Aaaarrggh ... Sakit, Mas ... Sakit!" teriak Dira.


"Iya, Sayang. Aku cari dokter dulu," Juna tetap pergi meninggalkan Dira mencari dokter Melati.


Dokter Melati baru saja keluar dari ruang persalinan. Setelah membereskan pekerjaannya. Saatnya menarik nafas sejenak. Rencananya dia mau pulang. Akan tetapi sepertinya dia akan gagal pulang cepat. Dokter Melati melihat Juna datang mendekatinya.


"Ya sepertinya tugasku belum selesai. Aku baru ingat kalau istrinya pak Arjuna juga sedang menunggu giliran," batin dokter Melati.


"Dokter!" Juna terengah-engah begitu sampai di hadapan dokter.


"Apakah Bu Dira sudah mulai melahirkan? tanya dokter Melati.


"Istri saya kontraksi lagi dok, terus keluar cairan bening dari atas kakinya. Tolong, Dok!" mohon Juna.


"Baik, saya akan siapkan ruang persalinannya," Dokter Melati meninggalkan Juna di depan ruang persalinan. Bersamaan dengan itu Tina pun keluar dari ruangan tersebut untuk di pindahkan ke kamar rawat sebelumnya.


Juna pun kembali ke kamar rawat Dira. Tampak petugas rumah sakit sudah mempersiapkan Dira untuk di pindahkan ke ruang persalinan. Juna sudah berganti baju dengan jubah khusus rumah sakit.

__ADS_1


"Mas, sakit," rintih Dira.


"Iya, sayang ada aku disini," Juna ikut berjalan beriringan dengan gerakan brankar pasien. Tangan keduanya tidak terlepas.


Dira dan Juna sudah berada di ruang persalinan. Ada rasa deg-degan karena ini pertama kalinya dia mendampingi Dira melahirkan. Setelah satu tahun yang lalu mereka gagal jadi orangtua.


"Bismillahirrahmanirrahim,


Qāla rabbi innī wahanal-'aẓmu minnī wasyta'alar-ra`su syaibaw wa lam akum bidu'ā`ika rabbi syaqiyyā wa innī khiftul-mawāliya miw warā`ī wa kānatimra`atī 'āqiran fa hab lī mil ladungka waliyyā yariṡunī wa yariṡu min āli ya'qụba waj'al-hu rabbi raḍiyyā


Artinya: Dia (Zakaria) berkata, "Wahai Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah, kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku. Sesungguhnya aku khawatir terhadap keluargaku sepeninggalku, sedangkan istriku adalah seorang yang mandul. Anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu. (Seorang anak) yang akan mewarisi aku dan keluarga Ya'qub serta jadikanlah dia, wahai Tuhanku, seorang yang diridai."


Juna membaca doa menjelang persalinan Istrinya. Tentu dengan harapan besar agar anak mereka menjadi anak yang Sholeh atau Sholehah.


"Pak Juna anda sudah siap?" tanya salah satu perawat.


Juna mengangguk kecil. Dia siap mendampingi istrinya melahirkan secara normal. Karena sejak awal kontrol memang tidak ada masalah dalam kandungan istrinya.


Bayangan saat Dira mual dan gampang drop terlintas di ingatannya. Baik Dira maupun Juna berharap kelahiran anak mereka sebagai hasil perjuangan mereka.


"Aaaaaa.... uuuuuuhhhh.... Aaaaaaa.... uuuuhh,"


"Terus, Bu Dira, sedikit lagi kepalanya sudah mau keluar. Ayo,Bu Dira!" dokter Melati terus memberikan semangat pada pasiennya.


"Sayang, ayo semangat!" support Juna pada Istrinya.


"Aaaaaa... uuuuuuhhhh...."


"Oooooeeeeee..... oooooeeeeee...." suara lengkingan terdengar sangat nyaring.


"Waaah, pak Juna selamat. Anak anda laki-laki," kata dokter Melati.


Tak terasa air matanya menetes. Melihat sosok tampan yang lahir ke dunia. Sosok tampan yang di harapkannya menjadi anak yang Sholeh. Para perawat membawa bayi Dira untuk di bersihkan.


"Sayang, anak kita laki-laki," kata Juna ketika duduk di samping ranjang istrinya.


"Iya, Mas," Dira menjawab dengan nada terbata-bata.


"Siapa namanya, pak? biar langsung di buatkan aktenya," tanya salah satu suster.


"Muhammad Fajar Perdana Bramantyo," kata Juna.


"Mas, jangan pakai Bramantyo, kan itu nama belakang papa mu, masa anak kita pakai bin opa nya,"


"Tapi nama ku sebenarnya bukan Arjuna Bramantyo saja, Sayang, Nama asliku Arjuna Pradana Bramantyo. Tapi karena pihak capil merasa nama itu kepanjangan jadi Arjuna Bramantyo. Padahal di akte namaku tetap sepanjang itu,"


"Pak, ini anaknya sudah di mandikan," Juna menerima bayi nya yang sudah di bersihkan. Lanjut mengadzankan anak pertama mereka.

__ADS_1


"Selamat datang Fajar, semoga kehadiranmu seperti namamu menerangi kebahagiaan rumah tangga kami,"


Juna mengabari mama Dewi dan juga mama Salma soal kelahiran putra pertama mereka. Tentu saja kabar itu menjadi suka cita baik keluarga Bramantyo dan Keluarga Dewi Savitri.


__ADS_2