SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 221


__ADS_3

Suasana siang di sekitar kampus terasa sangat lengang. Dua gadis muda duduk di salah satu pondok kantin. Sambil menunggu pesanan mereka datang, Vira menceritakan apa yang terjadi semalam di rumahnya.


Elsa pun hanya bisa menggelengkan kepala. Jujur dia ikut sebal mendengar cerita Vira. Bukan sebal sama Pandawa melainkan pada sahabat. Dimatanya Vira itu munafik.


"Disini aku sudah angkat tangan sama kalian berdua. Yang laki-laki lempeng yang cewek sok jual mahal. Terus nanti endingnya kamu seakan meratapi. Kalau sudah begini aku juga yang jadi tempat buang uneg-uneg kalian,"


"Maksudnya kamu bosan dengar curhatku, Sa?"


"Aku tiap hari dengar curhat kamu, Ra. Tapi tetap ada usaha dari kalian berdua. Bukan saling mengeluh serta tidak ada pergerakan,"


"Ya kan bukan cewek yang usaha, cowok yang harusnya berjuang,"


"Dan yang di perjuangkan hanya menunggu gitu. Nggak imbang dong, apalagi yang di perjuangkan malah sok jual mahal. Hedeuuuh, nanti kalau dia pergi kayak sudah-sudah, baru kamu nyesal!"


"Ra, kamu mau menemani aku ke butik?"


"Ngapain?"


"Makan seblak, ya cari baju dong, Ra. Kamu ini kenapa sih jadi lemot gini. Pasti mikirin pernikahan mama kamu, pasti kamu masih belum ikhlas saudara sama Pandawa, Nah kan apa kata aku?"


"Apaan sih, jangan ngaco, Sa,"


Elsa memegang kedua bahu sahabatnya.


"Ra, aku kenal sama kamu bukan sebentar. Sudah bertahun-tahun, dari zaman kita SMA hingga sebentar lagi mau tamat kuliah. Orang lain mungkin nggak paham, tapi aku paham perasaan kamu,"


"Sok tahu!" bantah Vira tapi dalam hati mau tertawa.


Mobil melaju meninggalkan area kampus. Vira sudah berada di mobil pribadi milik Elsa. Di jemput seorang supir paruh baya. Mereka memanggilnya pak Eko.


Sepanjang perjalanan menuju ke butik, Vira hanya diam saja. Menikmati pemandangan luar yaitu keramaian kota. Elsa juga enggan membuka pembicaraan, sepertinya dia paham suasana hati sahabatnya. Elsa sebenarnya sudah di intruksikan mama Dewi untuk membawa Vira ke butik.


"Ra, apa kamu sudah bicara sama kak Dawa?" tanya Elsa.


"Bicara? buat?"


"Ya, buat memastikan perasaan kalianlah?"


"Nggak perlu, toh dia juga sudah pasrah mengikuti keinginan papanya. Sama kayak aku, lagian aku sudah punya calon dari opa,"


"Sayembara jodoh lagi? katanya kamu nggak mau? kok sekarang mau? buat pelarian kan? ih, jahat kamu, Ra,"

__ADS_1


"Apanya yang pelarian, Frozen? ih, kamu seharian ini makin aneh,"


"Non itu butiknya," suara pak Eko.


"Pak Eko tahu? perasaan tadi saya belum bilang alamatnya deh,"


"Kan nyonya sering kesini, Non,"


Elsa dan Vira akhirnya turun dari mobil. Disambut dengan sapaan ramah dari karyawan butik.


"Selamat siang nona, silahkan masuk," karyawan butik menyambutnya ketika mereka sudah memasuki ke dalam butik.


"Oh, ya, mbak kami mencari gaun untuk pesta pernikahan," sapa Elsa.


"Apa salah satu dari kalian akan menikah?"


"Bukan. Justru keluarga kami yang akan menikah. Maksudnya mama teman saya yang akan menikah. Jadi kami butuh gaun yang simpel tapi elegan. Oh ya teman saya ini juga mau bertunangan jadi tolong carikan gaun yang pas buat dia,"


"Baik, Nona," Karyawan butik langsung mengantarkan Vira menuju gaun yang mereka cari.


Vira mencari keberadaan Elsa untuk minta pendapat. Gaun-gaun yang berjejeran membuat dirinya bingung. Semuanya cantik.


Tampak beberapa patung menampilkan gaun pernikahan dengan gaya yang seksi, glamour, dan modern, tidak menghilangkan sisi feminim perempuan. Dengan model seperti tube dress dan backless menggunakan warna-warna seperti merah dan hitam terkesan seksi dan romantis.


"Nona, mau coba yang ini," sapa si karyawan.


"Enggak, Mbak. Ini untuk yang mau married. Saya kan belum mau married. Kalau cuma untuk dress code terlalu mewah," kata Vira meskipun hati kecil ingin sekali memiliki gaun itu.


Netranya beralih pada midi dress brokat. Dengan atasan sopan tertutup. Kalau di bilang panjang masih diatas mata kaki lebih panjang dari bawah lutut.


"Mbak saya mau coba yang ini?"


"Baik, Nona. Biar saya bantu mencoba,"


Karyawan butik pun menuntun Vira ke ruang ganti. Setelah gaun itu di lepaskan dari gantungan hanger baju. Serta memberikan tiga model pada Vira.


"Mbak, kan saya cuma ambil satu?" Vira heran dia minta satu tapi di sodorkan banyak gaun.


"Ini gaun masih baru, Nona. Siapa tahu anda suka, di coba saja," Vira mengangguk.


Elsa duduk menunggu Vira keluar dari ruang ganti. Tentu saja dia mau buat dokumentasi untuk sahabatnya. Momen yang di tunggu dalam keluarga Dewi Savitri. Momen yang dia tunggu melihat sahabatnya bahagia.

__ADS_1


Jodoh, maut, dan rezeki merupakan suatu ketetapan yang sudah diatur oleh Allah SWT, bahkan sebelum kita lahir di dunia ini.Selama apapun seseorang menjalin hubungan. Jika memang bukan takdirnya, pasti aka nada saja alasan tidak jadi ke jenjang pernikahan. Bahkan, seseorang yang sudah menikah sekalipun, bisa saja mereka tidak berjodoh sampai maut tiba.jodoh tidak akan kemana atau masing-masing orang sudah digariskan jodohnya.


Menurut Elsa, hidup Vira termasuk beruntung. Punya keluarga yang sayang serta perhatian, di dekati lelaki yang mapan. Punya orangtua yang demokratis, beda dengan papanya yang masih melihat pasangan dari materi. Beberapa kali dia di kenalkan beberapa lelaki yang umurnya sangat jauh. Bagi papanya bibit bebet dan bobot sangat penting. Sang papa ingin punya menantu yang sukses bukan karena harta orangtua. Tapi sudah berdiri sendiri.


"Mbak mau lihat temannya," sapa karyawan yang tadi mendampingi Vira.


"Apakah sudah di coba?" Karyawan tersebut datang mengiringi Vira yang sudah memakai gaun putih.


"Sa, ini cantik. Tapi kok ribet, ya," Vira mengeluh gaun panjang di pakainya.


"Kan kamu yang milih tadi, Ra,"


"Yang aku pilih tadi sempit, Sa. Ini pilihan mbaknya,"


"Nona Savira dan nona Elsa. Ini buatan desainer kami. Keluaran terbaru. Nona Savira adalah orang pertama yang mencoba gaun ini,"


"Kamu suka nggak, Ra. Kalau kamu minta pendapatku gaun ini cantik sekali. cocok dengan tema pestanya. Apalagi kata kamu calon pilihan Opa bakal datang ke acara,"


Vira menatap dirinya di kaca besar butik itu tampak anggun dalam balutan gaun pengantin fit to body putih. Detail brokat yang terdapat di seluruh bagian gaun membuat tampilan Vira semakin terlihat manis. Gaun kerah tinggi tersebut memiliki train yang panjang hingga menyapu lantai.


Tadinya ada aksesoris rambut seperti bando bunga menghiasi kepalanya. Vira menolak aksesoris itu karena dia merasa itu untuk pengantin bukan untuk anggota resepsi.


"Sebenarnya ini ada pasangan pria nya. Tapi dia sama kayak nona masih single. Dia pesan tuxedo putih untuk acara keluarganya juga. Salah satu karyawan kami sudah membawanya ke kediaman orangtua si pria, mereka akan fitting di rumah. Harusnya sih satu set dengan pasangan wanitanya. Tapi keluarga pria sudah bayar mahal kita lepaskan untuk jas pria nya.


Ya kalau saja kalian bertemu dan pemilihan gaun yang berpasangan. Pasti jodoh sekali," kata mbak karyawan.


"Pasti keluarga lelaki itu kaya banget, ya? sampai bisa beli semahal itu hanya buat jas doang. Pengusaha mana sih?" tanya Vira.


"Wah, saya kurang tahu. Sebab dia langsung sama desainernya,"


"Oh begitu,"


Tanpa Vira sadari Elsa sudah memvideokan sahabatnya untuk di kirim ke Pandawa.


"Kakak lihat teman ku itu tampak cantik dengan gaun itu. Sayang dia mau di jodohkan dengan lelaki lain." Elsa mengirimkan pesan kepada Pandawa.


"Iya, dia cantik sekali, Sa. Terimakasih sudah mengirimkan video ini," balas Pandawa.


Elsa tidak tahu mata Pandawa sudah berkaca-kaca. Mungkin kalau video call akan ketahuan betapa sesak hati pria itu.


"Sama-sama, Kak. Sedih juga kalau kalian endingnya jadi saudara," balas Elsa.

__ADS_1



__ADS_2