SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 82


__ADS_3

Menjelang pernikahan Dira selalu di hujani pesan atau telepon dari Arjuna. Lelaki yang akan menjadi suaminya untuk yang kedua kalinya tidak berhenti menanyakan kegiatan Dira. Lagi apa? sedang apa? kangen tidak sama dirinya selalu menjadi pertanyaan yang kadang membuat Dira jenuh. Seingatnya dulu waktu mereka mau nikah Juna tidak seperti itu.


Dira duduk di depan balkon kamarnya. Puing-puing kenangan pun bangkit dimana cinta mereka tumbuh. Bukan cinta mereka sih, lebih tepatnya dirinya sendiri, setiap pagi ada pemandangan indah di seberang kamarnya. Dimana setiap saat ada sosok mata yang indah mengintip di balik tirai jendela. Begitulah aktivitas Dira sejak usia remaja.


Memandang makhluk tuhan yang paling indah. Sosok yang selalu menjadi kekuatan untuk bangkit dari keterpurukan. Namun saat itu dia terus merasa ingin membuang perasaan itu. Sudah tahukan kalau saat itu di hati Juna hanya ada Delia seorang.


"Sayang," suara bariton itu terdengar dari headsetnya.


"Mas, kita ini lagi di pingit. Nggak boleh ketemu."


"Kita nggak ketemu, tapi teleponan. Nggak tatap muka cuma saling mendengar."


"Mas, kakimu bagaimana?"


"Kakiku ya masih begini. Duduk di kursi roda."


"Emang kakimu belum sembuh?"


"Nggak ada yang mau bantu sembuhkan."


"Ajak Awan kek, siapa kek? kalau ada kemauan pasti bisa. Dasar kamu saja yang nggak mau usaha." ucap Dira kesal.


Bagaimana tidak kesal. Pernikahannya sudah mendekati lusa. Tapi Arjuna malah masih betah di kursi roda. Dira berjalan menuju ranjangnya menghempaskan tubuhnya.


"Kamu malu, ya?" tanya Juna


"Malu kenapa, Mas."


"Malu punya suami yang duduk di kursi roda. Kan aku seperti ini gara-gara kamu."


"Enggak lah, mas. Aku nggak malu. Cuma kan hari sakral seharusnya di persiapkan dengan baik."


"Iya, maaf. Aku kalau sedang di Lembang mungkin bisa. Tapi aku di rumah opa, sayang. Cuma ada pembantu. Awan antar Naura dan Jimmy pulang ke Lembang. Naura juga nggak bisa lama-lama di Lembang. Mereka sekeluarga berencana pulang ke Tulang Bawang."


"Loh, kan seharusnya mereka juga hadir, kok malah pulang."


"Nanti aku ceritakan masalah sebenarnya."


"Yasudah, Mas. Aku mau istirahat. Kamu juga istirahat."


"Kok buru-buru. Aku masih ...."


Tuuuuuut. ....


Dira memandang langit-langit kamar. Sebentar lagi dia akan kembali menjadi istri Arjuna. Sekarang dia masih istri Arjuna, tapi setelah satu tahun terpisah. Terpisah karena sebuah tragedi yang menimpa mereka. Dira menghirup nafas dalam-dalam. Setelah semua yang mereka alami, akhirnya tak akan ada lagi jurang yang memisahkan mereka.


Baru saja hendak memejamkan mata.


"Kaaaaakkaaaak!" suara manis menerobos pintu kamarnya.

__ADS_1


Dira terlonjak kaget saat Vira sudah mengepung ranjangnya.


"Ya Allah, Vira. Kamu bisa tidak masuk kamar pakai assalamualaikum, dulu." Dira kaget saat Vira langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang besar.


Goncangan ranjang yang begitu kencang membuat Dira menyingkirkan sesaat. Kepalanya menggeleng melihat tingkah adik bungsunya.


"Capek banget, kak." keluhnya.


"Emangnya kamu ngapain sampai kecapekan segala?"


Dira kembali memposisikan tubuhnya di samping adiknya. Setelah Dira ikutan rebahan di samping adiknya, Vira segera beringsut di atas pinggang sang kakak.


"Aku mau menikmati calon kamar baruku. Kata mama aku yang akan menempati kamar ini. Katanya kakak mau pindah ke Lembang? jadi kamar ini buat aku, ya?"


"Terus kamar kamu gimana?"


"Itu buat Amar, adiknya kak Tina. Kata mama Amar akan tinggal sama kami disini. Kak bukankah kak Dira pernah mau Ngajukan S3 setelah kak Juna meninggal dunia."


"Iya, kenapa?"


"Minta brosurnya, dong."


"S1 saja kamu belum selesai udah minta S3."


"Aku kan ngejar mata kuliah full, Alhamdulillah selama satu tahu kuliah IPK ku diatas 3, 75. Jadi kalau seandainya bisa ngejar 3,5 tahun. Aku mau cari S2 di luar negeri.


Elsa saja sudah nyari buat lanjutan S2."


"Kakak nggak jadi ambil S3?"


"Nggak jadi, Vira. Kakak mau jadi ibu rumah tangga saja. Menunggu suami pulang dari kerja. Masak buat suami dan punya anak yang lucu."


Vira membuka laptop milik Dira. Vira membuka web yang tertinggal di laptop kakaknya. Tangannya berselancar diatas laptop. Senyumnya mengembang saat informasi yang di butuhkan dapat.


"Kamu mau nyari sekarang? tamatin dulu yang sekarang."


"buat jaga-jaga, kak." Vira kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Bagaimana rasanya nikah lagi sama suami lama." kata Vira pada Dira.


"Biasa saja. Nggak se tegang waktu nikah pertama dulu."


"Kakak nikah sama cinta pertama, Kak Feri juga begitu. Rasanya lucu, ya nikah sama cinta pertama. Kak Feri begitu berjuang untuk mendapatkan cinta kak Tina. kak Dira bertahan dengan perasaan yang tumbuh sejak kecil."


Bukankah dulu waktu masih kecil kamu sering menanyakan Danu, Ra.


Sepertinya kamu sudah melupakannya.


Bisa jadi karena tidak bertemu lagi. Beda dengan aku dan kak Juna yang bertetangga bertemu satu kantor pula. batin Dira.

__ADS_1


Sejak kecil Vira suka bergaul dengan orang yang usianya diatas. mungkin karena memang di lingkungan sini tidak ada anak sepantaran dia.


Maka itu saat sekretaris mama tidak pernah datang lagi. Vira selalu merengek mau bertemu teman cowoknya yang bernama Danu.Aku sendiri belum pernah bertemu sama teman gede nya, Vira.


"Dan kamu di langkah sama cinta pertamamu, Vira. Padahal dulu yang di lamar siapa yang nikah malah siapa?" tawa kecil Dira mengubah raut wajah gadis muda itu.


"Ya kalau aku jadi nikah. Kuliahku pasti berantakan. Memang kak Satria bilang dia yang akan menanggung kebutuhan kuliah. Tapi belum tentu juga bisa dia wujudkan. Makanya aku sudah antisipasi duluan." jawab Vira tidak mau kalah.


Sementara mama Dewi sedang sibuk menata rumah nya untuk tamu-tamu penting. Karena bakal ada keluarga besar yang berkumpul.


"Vira," Panggil mama Dewi.


Mama Dewi kembali mengulang panggilannya.


"Vira, mana sih nih anak?" mama Dewi pergi menyusul anaknya di kamar.


"Maaf, Bu. Tadi non Vira ke atas. kamar non Dira."


"Panggil, Bi!" Bi Inah langsung menyusul Vira di kamar Dira.


"Non di panggil nyonya." sapa Bi Inah saat menyambangi kamar Dira.


"Bentar, Bi. Aku masih pengen ngobrol sama kak Dira."


"Sudah kamu turun dulu. Tidak baik mengabaikan perintah orangtua apalagi mama."


Vira pun turun ke lantai bawah. Dimana mama Dewi terlihat sangat sibuk mengatur dekorasi rumah untuk acara pernikahan kakak-kakaknya.


"Ada apa, ma?"


"Kamu punya kontak Panji?" Vira menggeleng. Lagian dia juga merasa tidak punya kepentingan sama si "Om".


"Masa nggak punya? dia beberapa kali jemput kamu kesini. Masa calon mantu mama tidak ada kontaknya?" omel mama Dewi.


"Whaaaaaaat! Mama mau suruh aku sama om-om. Ih, masih banyak yang muda yang ganteng. Kenapa harus dia sih?" sungut Vira kesal.


"Ya, mama lihat cuma dia yang saat ini dekat sama kamu. Orangnya ganteng, masih muda. Ya setelah tadinya berharap seseorang bisa gantikan Satria tapi ternyata harapan mama punah. Jadi masuknya Panji bisa mengobati kekecewaan mama."


"Apaan sih, Ma? Vira nggak suka mama nodong bergilir kayak gini. Vira masih muda masih kuliah semester empat. Jadi masih panjang waktu, kecuali kalau usia Vira rawan kayak kak Dira dan kak Feri."


"Vira ambil karpet di gudang, nak."Titah mama Dewi.


Dalam keadaan kesal Vira masih menurut pada perintah mama. Kakinya berjalan menyeret masuk ke gudang. Tampak banyak barang menumpuk disana. Selama ini Vira tak pernah masuk ke gudang. Tapi ini yang pertama dia masuk melihat isi gudang. Vira melihat beberapa box yang bertulis nama mereka masing-masing. Ada yang punya Dira dan punya Feri.


Vira menebak itu barang bekas milik kakaknya. Vira mendekati box namanya. Box yang sudah tebal dengan debu membuat hidungnya terasa gatal.


Pembukaan pertama Vira menemukan sebuah photo. Belum sempat dia membuka photo tersebut suara lengkingan mama kembali terdengar.


"Vira, mana karpetnya?"

__ADS_1


"Iya, Ma. Sebentar. Berat nih!"


__ADS_2