SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 136


__ADS_3

Angin berhembus sedikit kencang, mengibaskan hawa dingin yang membuat kaki bergetar dan tubuh menggigil. Gelap. Langit hanya diterangi oleh cahaya bintang yang kerlap-kerlip, cahaya itu entah sudah melewati berapa miliar tahun hingga sampai ke bumi lalu terlihat oleh mata manusia.


Sebuah keluarga kecil sedang merasakan bahagia atas kehadiran calon anak mereka. Dira dan Juna baru selesai makan malam. Juna menyiapkan susu segar yang sudah dia siapkan untuk sang istri.


"Mas, kenapa aku nggak enek sama susu segar. Dulu waktu hamil aku menelan susu saja susah."


Juna senang kalau apa yang dia lakukan tidak menjadi hal mubazir. Tangannya mengelus perut istrinya yang masih rata.


"Aku akan lakukan apapun demi kesehatan kamu dan bayi kita. Sedari dini kita tanamkan makanan sehat. Empat sehat lima sempurna. Ya kan anak papa."


Ting tong...


"Mas, itu dari tadi bel bunyi. Bukain dong. Apa aku yang ke depan buat buka pintu."


Juna langsung menahan tangan Dira. Melarang istrinya melakukan aktivitas yang berat. Lelaki itu langsung ke depan membuka pintu rumah.


"Surprise!" Suara cempreng memekik telinga.


"Astaga, Vira!" Juna terlompat kaget saat suara Vira melengking tinggi.


"Assalamualaikum, Kakak iparku yang ganteng." sapa Vira ceria.


"Waalaikumsalam, dari dalam aku sudah hapal suara siapa." sahut Dira dari dalam.


"Waaah, kakakku yang cantik." Vira melewati Juna langsung memeluk kakak keduanya.


Juna langsung melerai pelukan Vira. Dia takut kalau nanti kandungan istrinya terjepit.

__ADS_1


"Eh, peluknya jangan kuat-kuat kasihan ponakan kamu."


Vira langsung melepas pelukannya. Dia berasa Juna bicara soal keponakan.


"Jadi kak Dira?" Dira mengangguk kecil.


"Waaaaah, aku bakal punya dua keponakan." Vira menciumi perut Dira. Sama yang dia lakukan saat tahu Tina hamil.


"Eeeeh.... Dengar, ya. Yang boleh cium perut Dira hanya saya, suaminya." Juna masih berusaha melerai keusilan Vira dari istrinya.


"Kak Juna kenapa sih? aneh banget." umpat Vira.


"Sejak tahu aku hamil dia protektif banget. Aku nggak boleh ini nggak boleh itu. Makanan dia yang menentukan. Pokoknya ribet banget dah." Dira membayangkan perubahan sikap Juna sampai usia sembilan bulan nantinya. Jujur dia senang dengan perhatian Juna yang seperti itu. Akan tetapi risih juga seakan terkekang tidak bisa melakukan apapun.


Setiap Dira memprotes sikap suaminya, Juna selalu menjawab seperti ini.


"Kak," suara Vira membuyarkan lamunannya.


"Eh, iya. Kamu tidur di kamar depan ya. Berhadapan dengan kamar kakak." Dira mengajak Vira memasuki kamarnya.


Dira mengatarkan Vira ke kamarnya. Dira mau bantu bawa koper milik Vira. Akan tetapi adiknya menolak, dia tahu kakaknya sedang hamil. Tahu batasan bagaimana hamil muda banyak pantangan. Vira memasuki kamar mess dengan ranjang memakai kelambu.


"Kayak pengantin saja." umpat Vira.


"Ngomongin soal pengantin, kakak semalam ketemu Panji. Dia sedang ada disini, katanya ada acara untuk komunitas peternak madu. Kamu sama Panji bagaimana?"


"Aih, ngapain juga bahas dia? dia bukan siapa-siapa aku, kak. Ya kali aku sama om-om kayak dia."

__ADS_1


Dira tertawa menutup mulutnya. Melihat adiknya segitu sewot membahas Panji, pasti ada sesuatu. Masih mode menggoda sang adik. Dira memanasi kalau Panji ada asisten yang cantik saat ini.


"Ya, biarkan saja, kak. Bukan hak aku mengatur dia dekat sama siapa. Lagian kakak kenapa sih malah bahas soal Panji segala. Apa mama ada cerita sesuatu?"


"Ada, mama bilang kamu nolak perjodohan itu. Kan kakak sudah bilang tradisi keluarga kita adalah sayembara jodoh. Jadi kamu mau mengelak pun, opa Han dan juga mama kita akan mencarikan pasangan buat kamu.


Lagian apa kurangnya Panji sih? Mapan, ganteng, baik, dan perhatian. Paket lengkap tuh orang. Emang kamu mau nunggu siapa? Satria atau ..."


"Yasudah lah, kamu istirahat. Ini sudah malam. Kalau mau kesini kan harusnya kabari dulu. Biar mas Juna jemput kamu. Kamu diantar sama siapa kesini?"


"Ya kalau kasih tau bukan surprise namanya, kak Dira. Aku kan sedang libur semester. Aku kesini naik travel. Tadi ketemu kak Ayu. Dia yang antarkan aku kesini. Rumah kakak keren juga. Kayak rumah Eropa musim panas." Vira memandang ke sekeliling ruangan kamar.


Dira pamit kembali ke kamar. Tidak enak sama Arjuna sebagai tuan rumah. Tampak lelaki itu sedang berbaring di ranjang. Dira melangkah duduk di dekat suaminya.


"Mas, maaf, ya." Dira memegang tangan Juna.


"Kenapa minta maaf? kamu nggak ada salah, kok."


"Aku tidak enak dengan kedatangan Vira. Soalnya dia muncul mendadak tidak kasih kabar. Aku takut kamu..." Juna meletakkan jari telunjuknya di bibir Dira.


"Kamu kok ngomong gitu? Vira adikmu, berarti adikku juga. Aku tidak masalah kalau keluargamu datang dan menginap disini. Kan kamar kita cuma dua. Nanti kalau anak kita lahir, aku akan persiapkan kamar dua lagi. Untuk tamu sama kalau mungkin kak Feri mau menginap juga. Kan nggak mungkin dia campur sama mama dan Vira."


Dira lega kalau Juna tidak marah dengan kedatangan Vira. Tadinya Dira takut kedatangan Vira bikin suaminya bad mood. Apalagi mess tempat tinggal mereka milik mertuanya. Dira pun menaiki tempat tidur karena sudah masuk jam sembilan malam.


Keluarga merupakan sebuah hal yang begitu istimewa di dunia ini. Keluarga menjadi sebuah cerminan untuk melihat orang dalam kehidupan sosial mereka, sehingga keluarga bahagia menjadi sebuah hal yang diinginkan setiap orang. Sederhana dan bahagia saja sudah cukup untuk membuat sebuah keluarga yang sempurna.


Keluarga merupakan orang yang akan selalu berada di baris kedepan saat kita berada dalam kesulitan atau rasa sakit. Keluarga menjadi pendukung utama saat kita berada pada sebuah kesuksesan luar biasa. Bahkan keluarga menjadi hal penting yang dimiliki manusia saat berada di dunia ini.

__ADS_1


...****...


__ADS_2