
"Kamu dimana?" suara telepon dari seberang menanyakan keberadaan si penerima telepon.
"Di kostan. Ada apa?" tanya lelaki gondrong itu.
"Sudah lihat berita belum? heboh banget." suara di sana terdengar bersemangat.
"Belum. Berita apa?"
"Pokoknya kamu buka televisi atau baca di handphone kek. Beritanya dimana-mana."
"Iya, nanti aku buka. Sekarang aku mau ke kampus. Urus kuliahku. Dah habis masa cuti ku." suaranya seperti tidak terlalu bersemangat.
"Lesu amat kamu, Jordy. Makanya aku bilang lihat sosmed. Beritanya sudah heboh. Masa ada ayah kandung nyekap anaknya yang lagi hamil besar. Sekarang malah anaknya kritis katanya bayi sudah meninggal di dalam.
Berita ini sudah heboh di kampus, karena dua korbannya adalah angkatan kita, satu fakultas sama kita."
"Sudah, Ko. Kamu ngoceh terus dari tadi kayak lambe turah tau nggak. Nanti aku buka di sosmed. Oh ya, kamu sekarang dimana?"
"Aku di rumah sakit nengokin Vira, bareng anak-anak angkatan lainnya. Soalnya Vira juga korban penculikan yang di sekap sama .... Di, bentar ya aku di panggil. Kamu mau nyusul nggak apa-apa, Bye... bye ..." Eko menutup teleponnya. Jordy menarik nafas dalam-dalam.
Lalu membuka handphone sesuai instruksi dari temannya. Mata Jordy membulat ketika mendengar anak dari pengusaha K di temukan kritis dalam keadaan tengah hamil tua.
"K" Jordy menebak-nebak siapa yang dimaksud. Tapi akhirnya Jordy mengabaikan berita itu. Dia memilih membersihkan konstan yang sudah berbulan-bulan di tinggalkan.
Jordy duduk di sudut ranjangnya meneguk botolan air mineral. Udara hari ini terasa gerah. Maklum kost nya tidak jauh dari kampus. Ibu kost nya masih berbaik hati menerima dia kembali ke tempat itu. Tempat yang penuh kenangan. Tempat dimana dia dan Kayla pernah memadu kasih.
Kost tempat Jordy memang tergolong bebas. Bukan hanya Jordy, banyak teman kost nya yang lainnya suka bawa pacarnya ke kost. Entah apa mereka sama seperti dirinya. Mereguk bebas indahnya gaya pacaran.
Tapi Jordy yakin kalau sebagian dari mereka ada sudah tidak perjaka lagi. Sama seperti dirinya, bahkan saat Kayla mengatakan kalau dia hamil. Jordy langsung mengajak wanita pujaannya untuk menikah siri. Kayla sempat menolak karena takut papa nya tahu.
"Untuk saat ini aku ingin memberikan ikatan pasti buat kita. Jika anak ini lahir nanti, aku akan menikahi kamu secara resmi. Kamu percaya sama aku, Kay. Aku sangat mencintaimu, kamu minta backstreet aku mau, kamu minta ketemu sama om Irul aku nggak masalah. Asalkan itu sama kamu."
"Tapi, Jo, kamu nggak tahu papa aku seperti apa? kalau kita nekat nanti orangtuamu dan keluarga yang lainnya kena imbasnya."
"Aku akan berusaha semampunya. Tapi kalau seandainya aku menyerah di tengah jalan bagaimana?"
"Kamu mau menyerah sementara di sini ada benih yang sedang berjuang hidup. kalau begitu kenapa kamu sejak awal tidak merelakan aku dengan kak Dawa," Kayla langsung mengambil tas dan meninggalkan Jordy.
__ADS_1
Jordy hanya tersenyum kecil mengingat perjalanan cinta mereka. Dia sadar selama ini sudah banyak mengalah dari Kayla. Kata hatinya mengatakan kalau wanita itu akan kembali ke padanya. Karena dia pemilik mahkotanya.
Baru saja dia akan meninggalkan kamar. Pendengarannya berpusat pada deringan dari kantong celananya. Dahinya mengkerut ada nomor asing di permukaan layar pipih tersebut.
"Halo, assalamualaikum," sapa nya.
"Kau Jordy kan?" suara manis menyebut namanya.
"Iya, ini siapa?"
"Kamu cepat ke rumah sakit. Kayla membutuhkan tanda tangan kamu sebagai suaminya. Itu kalau kamu bukan seorang pengecut. Kayla mau di operasi." Si penelepon langsung mematikan handphonenya.
"Ini siapa sih? kayak suara Elsa. Apa mungkin Elsa, ya? tapi di rumah sakit mana? ah coba ku telepon lagi," Jordy kembali menghubungi nomor yang tadi meneleponnya. Sayangnya nomor itu tidak aktif.
...****...
Di Rumah Sakit Medika
Pukul 16. 00
Jordy sudah sampai di rumah sakit langsung mendekati tempat resepsionis.
"Saya check dulu." .
Jordy menunggu suster memeriksa catatan pasien yang masuk. Kedua suster itu menggelengkan kepalanya.
"Jordy?" suara seseorang gadis muda membuatnya berarah ke pemilik suara.
"Elsa? apa kamu yang meneleponnya aku tadi?" Elsa menggangguk kecil.
"Tapi kamu kok tahu rumah sakit ini? padahal aku tadi lupa kasih tahu," Elsa tadi berusaha memberi tahu kembali di mana Kayla di rawat. Beberapa kali nomor Jordy tidak aktif.
"Kamu ikut aku," Elsa menarik tangan teman kuliahnya. Memasuki sebuah ruangan VIP. Gadis muda itu mendorong pintu kaca berwarna hitam.
"Mbak Wati ada yang mau nengokin Kayla," Elsa memperkenalkan Jordy pada Wati.
Wanita itu menatap Jordy dengan penuh kekecewaan. Langkah kakinya mendekati suami siri anak majikannya.
__ADS_1
PLAAAAAK!
PLAAAAAK!
"Mbak Wati, sabar." Elsa kaget tangan Wati dengan cepat melayang ke wajah Jordy.
"Dia ini, Non. Dia ini nggak pantas ada di sini. Tidak ada tanggung jawab sama anak dan istrinya.
Non kayla sangat berharap dia datang menyelamatkan dirinya dan anak mereka. Tapi pesan saya saja dia abaikan."
Jordy mendekati tempat Kayla berbaring. Air matanya menetes melihat wajah Kayla yang pucat. Seandainya dia tidak terlalu cuek dengan pesan yang di kirim Wati mungkin akan beda ceritanya.
"Kayla membutuhkan persetujuan kamu untuk operasi bayinya."
"Sebenarnya ada apa?" tanya Jordy.
"Kayla di sekap sama papanya. Sudah sekitar tiga bulan papa nya Kayla mengurung anaknya di vila. Semua akses komunikasi di di tahan oleh om Irul.
"Bukan hanya Kayla saja, Vira dan mbak Wati juga di sekap di gedung yang sama. Aku sendiri tidak tahu apa motif mereka menyekap Vira." Elsa menceritakan yang di ketahuinya dari Wati.
"Vira juga?" Elsa mengangguk.
"Aku tinggal ya, mau check keadaan Vira. Ini sudah hari kedua dia belum sadar."
"Terimakasih, Sa,"
Jordy masih duduk di ruang rawat Kayla. Tentu saja masih di awasi sama Wati, asisten yang setia menunggu Kayla. Bibirnya pucat dan mengelupas. Pipi kanannya terlihat lebam seperti habis di siksa. Sama seperti Wati yang mengalami lebam di pipi kirinya.
"Om Irul kejam sekali. Padahal ini anak kandungnya. Ada ayah seperti itu," kata Jordy.
"Lalu dimana om Irul sekarang?"
"Tidak tahu. Dia masih buronan. Polisi masih mencarinya, kemungkinan dia masuk ke hutan area villa." jelas Wati sambil membuang mukanya. Wanita itu masih kesal pada Jordy.
"Terus lelaki calon suami Kayla, Pandawa. Kemana dia? apa dia jadi menikahi Kayla?"
"Tidak tuan Pandawa membatalkan pernikahannya dengan Kayla. Karena ketahuan hamil,"
__ADS_1
"Mbak, saya minta maaf kalau terlambat datang. Saya sudah mencari keberadaan Kayla tapi nihil. Bahkan nomornya dan nomor mbak Wati malah tidak bisa di hubungi. Saya ke kantor Global Machine ternyata sudah di jaga polisi,"