SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 192


__ADS_3

Empat bulan kemudian


Juna duduk di teras belakang, memandang rintik air hujan yang sudah mengurangi eksistensinya. Tidak sederas tadi saat dia dan Dira berencana kontrol kehamilan.


Saat ini dia masih berada di Jakarta, menemani sang istri yang sudah memasuki delapan bulan kehamilan. Bolak-balik Jakarta Bandung pun di rasa melelalahkan. Sekarang sudah satu bulan dia tidak pulang ke Bandung. Semua pekerjaannya di serahkan ke Tio, sebagai wakilnya.


"Mas, teh nya," sapa Dira muncul membuyarkan lamunannya.


"Terimakasih, anak papa," Juna mencium perut istrinya yang sudah semakin membesar.


"Sama-sama, papa," Dira menjawab dengan menirukan ucapan anak kecil.


"Kamu benar nggak mau USG, sayang. Memang kamu nggak penasaran anak kita laki-laki atau perempuan. Kak Feri aja udah ketahuan kalau isinya sepasang," kata Juna.


"Enggak, Mas. Biar suprise saja. Nanti kamar nya dekor Pororo aja, Mas. Jadi netral," ucapan Dira di barengi tawa dari Juna.


Dira mengerutkan dahinya.


"Apa ada yang lucu, Mas?"


"Aku kira kamu mau bikin kamar tema little Poni, kan kamu dulu suka tergila-gila sama little Poni. Kok malah jadi suka Pororo,"


"Kalau pakai little nanti anakku cowok nggak bagus juga, Mas. Nanti pas gedenya malah belok,"

__ADS_1


Juna kini bergantian mengerutkan dahinya. Kenapa istrinya tiba-tiba takut anaknya belok. Padahal dalam keluarga dirinya dan keluarga Dira tidak ada yang bermasalah kepribadiannya.


Dira tidak menjawab pertanyaan suaminya. Dira juga enggan membahas hal yang tabu dalam keluarga. Dia punya sepasang sepupu yang tak menikah karena suka sesama jenis. Dan ternyata om sepupu dari pihak ipar tantenya juga ada yang seperti itu.


"Karena aku punya beberapa sepupu yang seperti itu, Mas. Ingat kasus kak Feri dan Meyra, dan itu juga ada Tante ku yang begitu. Apa yang terjadi dalam keluarga kami seperti devaju. Beberapa kejadian yang menjadi turun temurun. Dan aku takut kalau..."


"Mama juga sempat cemas saat kak Feri dan Kak Juna-ku ini nempel terus. Berharap kalau salah satu dari kalian sudah punya kekasih. Dan ketika mama tahu kakak suka sama Delia, mama tidak lagi takut dengan kedekatan kalian,"


"Kenapa kamu bilang begitu? asalkan kita mendidiknya dengan penuh kasih sayang tidak akan terjadi yang seperti itu,"


Semua anak itu suci. Tidak ada anak yang terlahir langsung di nyatakan kelainan mental atau apapun itu. Tidak ada, sayang, kita akan mendidiknya dengan pondasi agama yang kuat. Insyaallah anak kita juga akan kita bekali agama yang kuat,


Ya, kan anak Papa. Semoga kamu menjadi anak yang Sholeh dan Sholehah, apapun jenis kelamin kamu akan papa terima,"


"Kalau ada yang seperti itu jangan di jauhi, kita bantu dia untuk sembuh, selama kita tidak menekannya insyallah anak-anak kita akan baik-baik saja," Juna masih memberikan pencerahan pada istrinya. Berharap perasaan Dira sedikit tenang.


"Mas, kamu jangan pakai baju seperti itu. Terlalu muda kelihatannya," kata Dira.


Berputar ingatannya dua bulan lalu, saat mereka kontrol ke rumah sakit. Dimana Juna suka memakai celana jeans dengan kaos membentuk tubuh. Gaya suaminya yang di kata Vira mirip aktor Korea membuat Dira harus memperhatikan gaya berpakaian suaminya.


"Ya kan suami kamu ini ganteng. Mau diapain aja tetap aja jadi daya tarik para wanita, ..... Awwwwww...."


"Yasudah, aku saja yang kontrol diantar sama Vira," kata Dira.

__ADS_1


"Eeeeeh, nggak ada itu," cegah Juna. Mana mungkin dia akan membiarkan istrinya pergi tanpa kawalan.


"Pokoknya kamu pergi sama aku, titik!"


Sebelum berangkat Juna berpesan pada Bi Inah kalau mereka akan periksa ke rumah sakit.


"Bibi rasanya kayak nunggu cucu lahir. Perasaan baru kemarin lihat non Dira masih unyu-unyu sekarang sudah mau jadi ibu, jujur bibi juga tidak menyangka kalau den Juna yang jadi jodohnya non Dira,"


"Ibarat kita dalam novel, Bi. Yang mengatur siapa jodoh kita ya author. Kalau dalam dunia nyata yang mengatur semua ya Tuhan, Bi. Kita sebagai manusia hanya mengikuti alurnya," Bi Inah hanya mengangguk kecil. Wanita usia hampir kepala lima itu pun meninggalkan Juna dan Dira di ruang tamu.


"Oh ya sayang kata Om Deka. Dia sudah menemukan anak kandungnya. Kalau kamu sempat kita ke rumahnya yang cempaka putih, sebelum beliau pulang ke Sukabumi," Dari obrolan ke Bi Inah Juna mengalihkan pembicaraan pada istrinya.


"Aku penasaran siapa anak kandungnya pak Merdeka, kayaknya kamu sudah kenal baik dengan beliau,"


"Om Deka, Papa Johan dan Om Abdullah Shabab adalah tiga sekawan sejak SMA, sayang. Dulu ada salah satu buruh pabrik papa yang membuat om Deka kepincut. Kata papa, Mama nya om Deka sempat beberapa kali mendatangi pabrik hanya untuk mengancam perempuan yang bernama Sekar. Nggak lama Bu Sekar bilang dia hamil tapi Om Deka nggak pernah ada kabarnya.


Kata papa Bu Sekar di usir dari perkebunan karena ketahuan hamil diluar nikah. Setelah beberapa bulan papa menemukan Bu Sekar kerja di keluarga kaya. Hanya saja dia belum tahu kabar Om Deka. Kalau saja tahu papa juga bakal mempertemukan mereka. Katanya majikannya mau membantu persalinan Bu Sekar. Sepuluh tahun kemudian papa dan om Deka kembali bertemu. Mereka sempat mendatangi kediaman tempat kerja Bu Sekar. Katanya pas Bu Sekar hamil besar mereka pindah. Nggak ada yang tahu bagaimana kabarnya,"


"Terus sekarang Bu Sekar sudah ketemu?"


"Kata Om Deka, dia menemukan anaknya. Dia sempat menyebarkan intelnya mencari Bu Sekar dan anaknya sampai beberapa tahun. Om Deka menikah dengan kakak iparnya yang sudah punya anak masih bayi. Istrinya sempat beberapa kali mengalami keguguran. Apalagi suami dari perempuan itu adalah kakaknya sendiri. Di kata turun ranjang gitu,


Terakhir masih berkomunikasi dengan om Deka, tiga tahun yang lalu. Saat aku masih kerja di PUTRA NUSA, saat itu om Deka memilih mundur dari kerjasama perusahaan papa dan om Shahab. Karena dia kurang suka sama teman papa yang satu itu. Malah waktu papa mau mempercepat rencana pernikahan aku dan Delia, Om Deka memilih tidak mau tahu. Sudah keburu kesal katanya," cerita Juna sudah panjang lebar ternyata teman ngobrolnya malah tidur di sofa.

__ADS_1


"Ya, mamanya anakku, aku capek-capek cerita dia malah tidur," Juna membiarkan Dira tertidur di sofa yang panjang. Sementara dia mengambil laptop untuk menyelesaikan pekerjaannya supaya bisa di kirim file nya ke Tio.


"Alhamdulillah pabrik di tangan Tio berkembang dengan baik. Nggak sia-sia aku menitipkan ini dengan dia, sebenarnya kalau kita memberikan kepercayaan dengan baik pasti tidak akan ada rasa persaingan. Aku yakin dia sebenarnya lelaki yang baik hanya saja sepertinya ada sifat iri yang bersarang di hatinya,"


__ADS_2