
Pagi hari di wilayah kebun Teh dengan udara yang masih segar dan fresh, dengan di selimuti kabut adalah suatu pengalaman tersendiri. Menikmati warna hijau di setiap hamparan wilayah perkebunan teh sangat menyejukkan dan menenangkan fikiran terlepas sejenak dari kesibukan keseharian yang ada.
Hamparan hijau kebun teh berpadu dengan langit biru menjadi pemandangan memanjakan mata. Ditambahkan lagi udara sejuk pegunungan pada ketinggian 1.800 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Suasana pagi di Lembang sangat menawan, setelah sholat subuh Dira bangun menyapa pagi. Sedikit merenggangkan otot badannya. Dia pun menyiapkan sarapan untuk suami dan adiknya. Sebelumnya Dira memeriksa apakah Vira sudah bangun apa belum. Masih terlihat Vira memeluk guling.
Senyumnya mengembang melihat sang adik kini sudah memasuki 20 tahun. Rasanya baru kemarin dia protes sama mamanya karena gagal jadi anak bungsu. Dan sekarang sang adik menjelma menjadi gadis yang cantik dan ceria.
Langkah kaki Dira terhenti saat gawainya bergetar di meja dapur.
"Assalamualaikum, Ma." sapa Dira pada mama Dewi di saluran telepon.
"Waalaikumsalam, Nak. Kamu apa kabar?"
"Alhamdulillah, Ma. Aku sehat-sehat saja. Mama main kesini dong bentar lagi tahun baru."
"Iya, nanti mama usahakan. Oh ya, Vira mana? mama mau ngomong."
"Vira masih tidur, Ma. Biarin saja. Dia sampai habis magrib soalnya. Terus lama dia bisa istirahat. Pokoknya mama tenang saja."
"Tapi dia sama Elsa, kan? nggak pergi sendirian kan?"
"Enggak, ma. Vira datang bareng Elsa. Mereka masih istirahat."
"Yasudah kalau seperti itu kan mama jadi tenang. Semalam dia nekat mau pergi sendiri. Kan mama bisa suruh Jaka atau siapa yang antar Vira."
Dira menatap kearah Vira yang sudah bangun tidur. Kepalanya menggeleng melihat kenekatan adiknya pergi sendiri ke Lembang. Bukan dia tidak percaya pada Vira. Hanya saja, adiknya sudah terbiasa diantar kemanapun pergi. Tentu saja mamanya cemas karena tidak biasanya Vira main pergi saja.
"Kenapa kamu bohong sama mama?" Dira mulai interogerasi adiknya. Tangan Dira melipat di bawah dadanya.
"Bohong apanya, Kak? Aku bilang sama mama liburan semester ini mau di Lembang. Salahnya dimana?"
__ADS_1
"Tapi kamu bilang sama mama pergi sama Elsa. Sekarang mana Elsa? nggak ikut kan?"
"Iya, aku memang pergi sama Elsa. Tapi dia cuma antar aku ke terminal. Bukan ikut ke Lembang. Pasti tadi mama telepon kan? sudah ku duga. Mama minta aku di kawal sama Jaka. Jadi aku bilang kalau pergi sama Elsa. Aku mau ngerasain pergi sendiri naik kendaraan umum. Apa itu salah?"
Juna terbangun mendengar omelan Dira pada adiknya. Juna paham sejak masalah Vira yang hendak di lecehkan papanya, mama Dewi jadi protektif pada dua anak perempuannya.
Juna dan Feri sering di tugaskan menjadi pengawal dua gadis itu. Tapi Juna lebih sering mengawasi Dira daripada Vira. Itu yang membuat mereka jadi dekat di samping saat itu Juna masih galau tentang Delia.
"Sayang, kamu jangan mikir yang berat-berat. Ingat kamu sedang hamil muda." ucap Juna menenangkan istrinya.
"Aku nggak emosi, Mas. Aku kesal sama Vira. Dia bohong sama mama kalau perginya sama Elsa. Mama tadi telepon memastikan Vira sudah sampai apa belum. Wajar mama cemas kan Vira belum pernah pergi sendiri ke luar kota."
"Aku kan sudah besar, kak. Sudah 20 tahun. Sudah pernah di lamar orang. Aku bukan anak kecil lagi, kak. Kak Dira, Kak feri, dan mama masih saja mengganggap aku seperti anak kecil." Vira tidak mau di salahkan.
"Iya, kamu sudah pernah di lamar, sudah dua puluh tahun. Tapi kamu masih belum ada dewasanya. Masih bersikap semaunya. Makanya belum ada yang percaya kamu harus di lepas sendiri. Kamu itu anak perempuan Vira." Dira memegang kepalanya karena kembali merasakan pusing.
"Sayang, kamu istirahat dulu di kamar. Kan aku sudah bilang jangan mikir yang berat-berat." Juna memapah Dira hingga sudah bersandar di dinding ranjang. Dengan sigap memberikan minuman air putih kepada Dira. Sekejap gelas itu sudah kosong.
"Kak Dira kok kayak gini lagi." Vira cemas melihat kakaknya pucat sekali. " Kakakmu memang begini sejak di vonis hamil. Sama seperti hamilnya yang dulu. Tapi ini sepertinya...." Dira tidak berani meneruskan ucapannya.
"Maafin, Vira kak. Aku tidak bermaksud bikin kakak emosi. Aku juga nggak maksud mau bohong sama mama. Aku cuma pengen mandiri itu saja. Tapi Vira minta tolong jangan bilang sama mama soal ini, ya." Dira menggelengkan kepalanya.
Memang selama ini semua yang ada di keluarga masih menganggap Vira masih anak kecil. Di samping karena dia bungsu, belum lagi mama masih trauma atas apa yang pernah papa mereka lakukan.
"Kamu nggak salah, Vira. Memang kakak kondisinya seperti ini. Satu yang harus kamu tahu, kami semua sayang sama kamu. Mama, Kak Feri, Aku dan semua yang ada di dalam keluarga sayang sama kamu, Ra. Kalau memang sikap mama protektif pada kamu itu karena ..."
"Karena papa pernah melecehkan aku, kan ...." Sambung Vira.
"Kamu sudah tahu? siapa yang bilang?" Dira sedikit terkejut. Pasalnya mama sangat menyimpan rapat rahasia itu. Mama takut psikologis Vira terusik.
"Mama sudah cerita semuanya, termasuk soal Danu. Aku sudah tahu siapa Danu yang sebenarnya. Lagian aku nggak mungkin mau sama lelaki macam dia. Sudah hamilin Kayla, malah ninggalin Kayla tidak mau bertanggung jawab. Itu bukan tipe ku."
__ADS_1
...****...
Dawa masih di sibukkan dengan beberapa proyek kantor yang harus dia selesaikan sebelum resign. Dia beri waktu menyelesaikan semua pekerjaannya oleh Khairul. Karena lelaki itu sudah menyiapkan calon baru untuk memimpin perusahaan tersebut. Dawa sudah siapa dengan segala konsekwensinya.
Baru saja dia hendak keluar makan siang, Raisa sang sekretaris datang membawa dua box kardus yang sudah di wrap. Dawa merasa tidak memesan apapun, dia malah menganggap ini dari lawan bisnis.
"Pak ini paketnya." Raisa masuk ke ruangan atasannya.
"Dari siapa?"
"Saya tidak tahu. Tadi ada perempuan yang antar. Katanya ini untuk Danu. Saya sudah bilang tidak ada yang bernama Danu di kantor ini. Dia bilang, pak bos kenal dengan pemilik nama ini."
"Yasudah, ini biar saya yang urus. Kamu kembali ke tempat." Raisa pun undur diri dari ruangan atasannya.
"Kalau ada yang tahu sama nama kecilku, berarti dia masih kenal dekat. Tapi siapa? ini cuma ada nama penerimanya. Tidak ada pengirimnya."
Dawa urung melanjutkan rencana makan siangnya. Dia memilih membuka paket misterius yang dialamatkan padanya. Ketika bukaan pertama Danu menemukan photo kecilnya bersama sapi. Tangannya gemetaran melihat barang yang dulu dia kirimkan melalui kakaknya.
"Sapi ... apakah dia disini? Ya Allah, terimakasih. Akhirnya aku bisa tahu keberadaan sapi. Cctv iya cctv .. Iya aku bisa tahu seperti apa sosok sapi yang sebenarnya."
Dawa meninggalkan ruang kerja untuk pergi ke ruang cctv. Demi rasa penasarannya tentang sosok "sapi" selama ini. Kaki Dawa sudah berdiri di depan ruang cctv. Melihat atasannya sudah berdiri di depan, petugas cctv mempersilahkan masuk.
"Apa ada yang mencurigakan membuat anda mengecek cctv?" tanya petugas.
"Tolong cek cctv di lokasi resepsionis. Ada yang mau saya periksa disana."
"Baik, pak." petugas itu langsung membuka cctv.
Dawa memeriksa layar tersebut. Melihat gadis bertubuh gempal membawa paket mirip dengan yang dia terima.
"Jadi dia adalah sapi?" batin Dawa.
__ADS_1