
"Mungkin kak Tina hamil?" tebak Panji.
Bi Inah melihat seorang lelaki muda berdiri di samping Vira. Sudah lama dia tidak melihat Vira dekat dengan lelaki lain setelah gagal menikah sama Satria. Sosok lelaki perfect dimata rakyat kecil seperti dirinya.
"Itu siapa? pacar baru non Vira, ya?" tanya Bi Inah.
Vira menoleh kearah Panji. Menatap lelaki itu dari atas sampai bawah. Tentu saja yang dilirik mulai dengan kenarsisannya. "Jangan segitunya lihat aku? nanti susah tidur." ucap Panji dengan penuh percaya diri.
"Widih, kumat." Vira seakan bergidik ngeri melihat kelakuan Panji.
"Ya kan kamu yang bikin aku kayak gini. Harus tanggung jawab." todong Panji.
"Elah, emang aku ngapain pakai harus tanggung jawab?" ucap Vira tidak mau kalah.
"Kamu tanggung sudah buat...."
"Vira sudah pulang, ya. Eh, ini siapa? pacar kamu, ya?" Tina tiba-tiba muncul di tengah mereka.
"Bukan. Amit-amit, dah sama dia."
"Hati-hati, nona cantik. Amit-amit bisa jadi amin-amin. Ada yang pernah bilang sama aku, kalau semesta merestui kita. Kemana pun kita pergi, pasti akan di pertemukan lagi. Betul kan bi Inah?" bisik Panji.
Vira melewati Panji sambil menjulurkan lidahnya. Panji hanya tertawa menanggapi. Dia makin gemas sama gadis kecilnya. Biasanya kebanyakan perempuan yang mendekatinya gampang baperan. Tapi Vira beda, gadis itu tetap jadi dirinya sendiri.
Bi Inah melihat Tina keluar dari kamar langsung menghampiri. Di tambah wajah Tina masih pucat dan lemas.
"Aduh, non istirahat saja di kamar. Non kan sedang kurang sehat." Bi Inah memegang Tina yang hendak duduk di kursi makan.
"Saya cari handphone, tadi rasanya ketinggalan di dapur. Mau telepon mas Feri." kata Tina.
"Ini, non handphonenya. Non di kamar saja."
"Nggak apa-apa, Bi. Justru saya pusing di kamar. Saya mau duduk di teras belakang saja. Menghirup udara segar." kata Tina.
"Kakak aku mau nanya boleh?" Vira menyusul Tina ke teras belakang. Panji mengikuti Vira ke teras belakang.
"Nanya apa, Vira?"
"Kakak terakhir haid kapan?"
Tina mendelik kearah Vira. Pertanyaan yang langsung meluncur dari adik iparnya. Pertanyaan yang biasanya di layangkan para mertua atau dokter kandungan. Sebenarnya pertanyaan seperti itu agak sensitif bagi pengantin baru seperti dirinya. Walaupun usia pernikahannya sudah masuk satu bulan. Tapi tetap saja terdengar tidak enak. Tina hanya membalas senyuman pada adik iparnya.
"Kenapa kamu tanya begitu?" Tina balik bertanya.
"Ya aku kan pengen tahu. Sebab kata Bi Inah, kak Tina tadi pusing-pusing. Makanya aku nanya kapan kak Tina terakhir haid. Maaf kalau pertanyaan aku rada sensitif, soalnya buat pengetahuan aku juga. Mirip kayak kak Dira gejalanya."
"Iya nggak apa-apa. Kakak dua hari setelah menikah kena haid. cuma sampai tiga hari kena nya. Masa pembersihan dua hari. Gitu aja."
__ADS_1
"Kalau kak Tina berhubungan dengan kak Feri dalam masa pembersihan itu biasanya ada proses pembuahan. Karena kakak sedang masa subur setelah haid. Karena kak Tina siklus haidnya cuma 3 hari. Itu sudah termasuk siklus haid pendek.
Siklus menstruasi terpendek kamu. Misalnya, 27 hari. Kurangi angka tersebut dengan 18. Hasilnya adalah 9 hari. Nah, angka ini adalah hari pertama masa subur kamu." jelas Panji.
"Ih, sok tahu bener. Kayak pernah nikah saja." seloroh Vira.
Panji duduk di tengah dua wanita beda generasi tersebut. Dia menjelaskan soal jarak haid dan masa subur wanita.
Dari yang pernah saya baca, Masa subur pada setiap Masa subur pada setiap wanita akan berbeda, sama halnya dengan lama waktu siklus menstruasi atau haid. Pada kebanyakan wanita, menstruasi atau haid akan berlangsung selama 28 hari, tetapi tidak menutup kemungkinan waktu haid tersebut menjadi lebih pendek atau bahkan lebih panjang.
Hal ini berpengaruh pada perhitungan masa subur wanita sehingga akan sulit diprediksi. Masa subur atau juga dikenal sebagai ovulasi, secara umum akan terjadi pada hari ke-8 atau hari ke-10 setelah haid. Namun, ada beberapa kasus, ovulasi juga dapat terjadi pada hari ke-14 setelah haid."
"Bisa kemungkinan kak Tina ada gejala hamil. Bukankah lebih cepat lebih baik. Ya Kalau saran saya sih, kak Tina langsung testpack saja."
"Bentar kak, kayaknya sisa punya kak Dira ada deh." Vira langsung berlari mengambil alat testpack punya Dira.
"Tapi rasanya aku nggak mungkin hamil. Kan baru satu bulan menikah. nggak mungkin lah secepat ini. Pasti ada prosesnya juga."
"Non, waktu saya hamil anak saya dulu, nggak nyampe satu bulan. Tiga minggu pernikahan saya sudah di kasih." kata Bi Inah.
"Emang bi Inah pernah nikah?" tanya Tina.
"Saya dulu kerja sama pak Burhan sudah jadi janda, non. Anak saya sama mantan suami saya." jelas Bi Inah.
Vira datang membawa satu alat testpack. Dia minta kakak iparnya langsung mencobanya. Namun di tahan oleh Panji.
"Kamu hebat, bisa paham masalah seperti ini. Kalau semua lelaki seperti kamu, aku yakin tidak akan ada lelaki yang meremehkan wanita. Tidak akan ada wanita yang terkena baby blues." puji Tina.
"Terimakasih Mbak Tina. Saya sering mengundang pakar kesehatan saat seminar di tempat kerja. Jadi dari wejangan mereka banyak pelajaran yang aku ambil, mbak.
Oh ya mbak untuk menjaga kesehatan, saya ada produk baru. Madu asli dari sarangnya langsung. Saya punya peternakan lebah madu di Bandung. Selain itu saya ..."
"Eh, ini bukan waktunya jualan." omel Vira.
"Non Vira, ayo makan dulu. Bibi sudah masak." ajak Bi Inah.
"Bibi tahu saja kalau aku sedang lapar." Panji mencubit pipi Bi Inah.
Bi Inah memegang pipi seperti mendapat durian runtuh. Sebentar tangannya terus memegang pipi. Sampai lupa menghidangkan minuman untuk mereka.
"Masakan Bi Inah emang top. Kayaknya ada yang harus belajar, nih sama Bi Inah." Sindir Panji. Vira tetap cuek meskipun sudah di sindir.
Selesai makan, Panji pun pamit. Mengingat nanti malam dia akan memenuhi undangan dari opa Han. Sebelum naik mobil, Panji pun meninggalkan sebuah kotak di ruang tamu. Itu pun tanpa sepengetahuan Vira.
"Aku pulang, ya. Kamu dandan yang cantik." kata Panji sambil mengedipkan matanya.
"Kenapa lama-lama dia kayak kak Juna, ya? sudah tua alay pula. Ya Allah, gini amat ketemu cowok modelan kayak dia."
__ADS_1
Setelah Panji meninggalkan kediaman Dewi Savitri. Vira pun kembali ke dalam. Saat melewati ruang tamu, netranya terfokus pada kotak berwarna gold. Sebuah kartu nama tertempel di atasnya.
"Buat seseorang yang mengubah mata duniaku. Tolong di pakai gaunnya ya."
Vira membaca pesan dari Panji hanya senyum-senyum sendiri. Gadis itu membawa gaun putih pemberian Panji.
*****
"Ma, sepertinya aku tidak ikut ke acara tempat opa Han." Feri menelepon mama Dewi yang dari siang di tempat opa Han.
"Kenapa, nak?"
"Tina demam, ma. Aku rasanya kayak mau demam juga. Sepanjang hari kepalaku terasa pusing. Dari tadi bolak-balik toilet. lemas badan Feri, ma." adu Feri.
"Ya sudah, kalau kamu merasa tidak sehat pulang saja. Kalian lucu, ya demam kok kompak. Pasti keseringan bertempur nih. Di jeda dong, nak. Kasihan Tinanya." terdengar tawa mama dari seberang.
"Yasudah, ma. Feri ....." belum sempat lelaki itu meneruskan ucapannya perutnya serasa naik. Kembali memuntahkan isi perut untuk kesekian kalinya.
Hueeeekkk! Hueeeekkk!
Feri kembali ke kursinya dengan kondisi semakin drop. Dia menelepon salah satu staf nya untuk mengantarkan pulang. Dia tak punya daya untuk menyetir mobil.
"Bapak sakit?" tanya Riko
Feri hanya menganggukkan kepalanya. Jangankan berdiri, lidahnya saja tak kuat berucap. Riko memapah Feri hingga sampai ke lantai bawah. Apa yang dialami Feri membuat para staf kantor bertanya-tanya. Kenapa kondisi manajer mereka seperti itu.
Feri saat ini bukan lagi direktur semenjak Dira mengundurkan diri. Dialah yang menggantikan adiknya. Sementara posisi Feri kembali di duduki oleh mama Dewi. Bagi mama Dewi selama dia masih kuat mengurus perusahaan tidak masalah. Di samping dia juga perlu aktivitas lebih untuk menepis kesepiannya.
Dulu dia bisa bersantai menerima hasil kerja kedua anaknya yaitu Feri dan Dira. Tapi sejak Dira menikah dan harus ikut suaminya, rumah pun kembali sepi. Dewi belum bisa meminta Vira untuk ikut membantunya. Mengingat putri bungsunya masih kuliah tahap awal.
Sekarang Feri sudah berada di mobil. Dia memilih tidur sejenak untuk mengurangi tubuhnya yang kurang baik. Tangannya mengerutkan dahinya, mencoba menghilangkan pusing yang belum reda.
"Bapak sakit apa?" lagi-lagi Riko bertanya pada atasannya.
"Kamu nyetir saja Riko jangan banyak tanya." sahutnya.
"Maaf, pak." kata Riko.
Mobil memasuki pelataran kediaman Dewi Savitri. Rumah megah beraksen klasik itu seakan menyambut kedatangan putra pertamanya. Riko pun memapah Feri masuk ke dalam rumah. Di bantu pak satpam, pemuda itu akhirnya lega bisa mengantarkan atasannya dengan selamat.
"Riko," panggil Feri.
"Iya, pak." jawab Riko sambil menunduk.
"Saya sudah pesankan grab untuk kamu. Ini ongkos kamu. Sekaligus tips buat kamu." Riko membelalakkan matanya. Pasalnya uang yang di beri Feri sangat banyak. Hanya terimakasih yang terlontar dari mulut lelaki itu.
Setelah Riko pulang. Feri pun mencoba berdiri sendiri. Meskipun masih lemas. Kakinya terhenti saat mendengar suara orang muntah di kamar mandi dekat dapur.
__ADS_1
"Apa aku ini kehamilan simpatik? apa aku akan jadi seorang ayah?" batin Feri.