
"Kalian siapa?"
Dawa merasa asing pada sosok yang mengelilingi dirinya.
"Nak, ini papa, ayah kandungmu,"
Dawa sedikit memundurkan tubuhnya. Sungguh dia masih bingung dengan apa yang terjadi. Setahu dia, ayah dan ibu kandungnya sudah lama meninggal. Disusul dengan kedua kakaknya.
Sekarang ada orang lain yang mengaku sebagai ayah kandungnya. Sungguh membingungkan.
"Dawa mungkin kamu pasti kaget mendengarnya. Saya paham itu, tapi saya memang ayah kandung kamu. Ibu kamu namanya Sekar kan?"
"Maaf, pak. Nama ibu saya adalah Claudia Wijaya. Ibu saya meninggal setelah melahirkan saya. Itu kata kakak saya,"
Deka menarik nafas dalam-dalam. Rasanya akan sulit memberi pengertian pada putra kandungnya. Mungkin dia akan mencari waktu untuk menjelaskan yang sebenarnya. Pelan tapi pasti anaknya harus tahu kalau dialah pewaris satu satunya dari keluarga Abraham. Memang dulu Fadli lah yang di elu-elu kan sebagai pewaris. Tapi Fadli sudah tenang di sana. Tak perlu di ungkit lagi.
Deka merapikan cara duduknya, di hadapannya seorang lelaki muda yang katanya mantan seorang direktur. Itu yang Deka selidiki selama Pandawa koma.
"Nama saya Dirgahayu Merdeka, saya tahu kamu masih asing dengan pengakuan saya tadi. Mungkin ini kabar yang mengagetkan. Akan tetapi saya memang ayah kandung kamu, dan ibu kandungmu sudah meninggal dunia setelah melahirkan kamu. Kalau kamu bilang saya pergi meninggalkan ibumu terserah.
Ibumu yang hilang tanpa kabar, saya sempat mencari ke tempat keluarga angkatmu. Tapi mereka sudah meninggal dunia dan katanya kamu di bawa kakak perempuanmu. Itu informasi terakhir yang saya tahu. Kamu adalah pewaris tunggal keluarga Abraham, Pandawa Danuarta" Deka tetap berusaha menjelaskan kronologi kisah dia dan juga Dawa. Masalah bagaimana reaksi Pandawa itu urusan belakangan. Sekarang terpenting Dawa sudah tahu siapa dirinya.
Dawa hanya menunduk tanpa berani menegakkan kepalanya. Setiap untaian kata dari Deka dia resapi. Jika memang demikian ceritanya, berarti selama ini dia hanya anak angkat keluarga Wijaya. Lelaki itu tidak bisa mengungkapkan perasaan kalau sebenarnya dia bahagia punya keluarga kandung.
Sedari kecil dia juga mendapat limpahan kasih sayang. Kakaknya Paundra meninggal dunia saat usianya lima tahun. Sejak itu dia hanya punya Padma, kakak keduanya. Padma mencurahkan kasih sayang seperti seorang ibu pada anaknya, hanya saja dalam versi saudara. Bahkan Angga, kakak iparnya juga sangat menyayanginya.
Beralih saat tinggal bersama Khairul, dia juga diperlakukan dengan baik oleh lelaki itu. Lelaki yang sudah seperti ayahnya sendiri, lelaki yang menurutnya sangat baik karena memberikan perusahaan dengan cuma-cuma. Meskipun dia merasa kecewa ternyata kebaikan Irul topeng belaka. Ternyata dia hanya di manfaatkan untuk membalas dendam atas kematian adiknya Irul serta kebencian Irul pada keluarga Dewi.
Sekarang ada sosok baru yang mengakui sebagai orangtuanya. Benar atau tidaknya Dawa tidak bisa langsung memberikan kesimpulan. Sekarang ini yang dia fokuskan sembuh dan menemui Savira. Dia ingin tahu keadaan gadis itu. Merindukan gadis yang selalu ketus kepadanya.
"Vira, kamu apa kabar? semoga kamu baik-baik saja,"batinnya.
"Om, maaf. Saya berterimakasih anda sudah merawat saya selama ini, terimakasih anda sudah memberikan perhatian selama saya disini, tapi beri saya waktu untuk menerima ada sosok baru seperti anda,"
"Tidak masalah kalau kamu belum bisa menerima kehadiran saya sebagai ayah kandungmu. Mungkin seperti kata kamu butuh waktu untuk menerima kenyataan ini. Tapi izinkan saya tetap memperlakukan kamu seperti ayah pada anaknya," Dawa dan Deka saling berpelukan. Deka merasa Dawa menerima dirinya. Meskipun masih ada penolakan dari lelaki muda itu.
"Apa boleh aku memanggil anda dengan sebutan papa?" tanya Dawa terbata-bata.
"Boleh, Nak. Boleh sangat," Keduanya sudah berlinang air mata.
"Papa,..." Deka menegakkan kepalanya. Berharap lelaki itu mengulangi panggilannya.
"Kamu tadi panggil apa, Nak?"
"Papa, nama ku Pandawa Danuarta. keluargaku memanggil namaku sebagai Danu," ucap Danu memperkenalkan diri.
"Iya, papa tahu, kamu adalah Pandawa Danuarta, mantan direktur Global Machine. Pernah hampir menikah dengan putri dari seorang pengusaha. Papa sudah lama tahu tentang jati diri kamu. Maafkan papa yang baru sekarang menemukan kamu, Nak. Papa sudah lama mencari kamu dan ibumu, Sekar namanya.
Ibumu pergi setelah mengatakan kalau dia hamil, tapi saat papa mau bertanggung jawab dia malah ikut majikannya pindah entah kemana"
__ADS_1
"Apakah aku anak haram, Pa?" entah kenapa begitu mendengar penuturan Deka, langsung ada kesimpulan statusnya. Dawa semakin merasa dia sangat kecil sekali.
"Tidak ada yang namanya anak haram, Nak. Yang haram itu kesalahan kami, aku begitu takut kalau mamaku memaksa menikah dengan Yasmin, makanya kami melakukan hal yang melewati batas, tapi setelah itu kami menikah di bawah tangan. Padahal Yasmin dan Sekar adalah sahabat, sama-sama berasal dari keluarga biasa.
tapi begitu tahu kalau Yasmin menikah dengan Shahab, Sekar malah pergi kerja di kota, dia menghubungi aku cuma mengabari kehamilannya, setelah aku ke tempat majikannya mereka sudah pindah bersama Sekar,
Apapun yang terjadi kamu tetap anak kami, Danu" cerita Deka.
...****...
"Vira," sapa Elsa berlari di sekitar koridor kampus.
Vira tersenyum ketika namanya di panggil. Langkahnya yang tadi hendak ke kantin terhenti. Sepertinya Elsa akan memberinya kabar entah baik atau buruk. Semoga saja baik, tapi kalau buruk yang mau tak mau di terima.
"Ada apa, Sa?"
Elsa mencoba menarik nafas dalam-dalam. Soalnya kabar yang dia bawa ada dua yaitu baik dan buruk. Gadis muda menarik Vira mencari tempat duduk untuk saling bertukar cerita.
"Ada apa, sih?"
"Ra, ini kabar bikin heboh kampus. Kabar yang harus kamu tahu," Elsa masih ngos-ngosan.
"Udah bilang saja ada apa?"
"Pak Randi di pecat, Ra. Semua mahasiswa menyayangkan pemecatan pak Randi, dan mereka minta kamu yang membujuk dosen atas pak Randi,"
"Kok aku? aku nggak punya masalah sama pak Randi,"
"Iya aku tahu itu. Tapi nggak ada hubungannya sama pak Randi, kan yang jahat papa nya, bukan anaknya," kata Vira.
"Entahlah, pasti nggak ada yang nyangka kalau om Adrian begitu cuma bela-belain kak Panji. Lagian adiknya pak Randi kan ada yang cewek, kenapa harus kak Panji sih," sungut Elsa kesal.
"Ehmmmm.... jadi kamu masih ngarep kak Panji, Sa?
kenapa kamu tolak kalau memang suka,"
"Enggaklah," bantah Elsa.
"Ra, nggak ada ceritanya aku sama bekas sahabatku. Tidak ada dalam kamus hidup Elsa,"
"Masa?" Vira tertawa kecil sementara Elsa menatap Vira dengan kesal.
"Mama dan papa mau ke rumah kamu nengok dedek fajar, Harry dan Hermione. Eh Hermione di panggilannya apa?"
"Mimi, kata kak Tina dia lagi cari ganti nama itu. Emaknya nggak mau anaknya di kasih nama penyihir,"
"Lagian kak Feri ada saja kasih nama kayak gitu, mending kalau Harry, lah ini Hermione, kayaknya kakakmu fans Harry Potter,"
"Emang! dia pun semua seri novel Harry Potter, lengkap.
__ADS_1
Dulu pas kak Dira SMA, dia ikut acara Halloween gitu, dia malah di dandani ala penyihir Padahal kak Dira sudah mau pakai baju peri gitu. dress slim badan,
Terus tiga lelaki yang lihat pada menggeleng.
Kata kak Feri gini.
Terlalu cantik kalau untuk Halloween, nggak matching.
Kak Juna malah bilang gini "aurat!" malah dia bilang sambil nutup muka nya Jaka. Soalnya Jaka kayak mupeng,"
"Hahahaha....." duo sahabat tertawa lepas mendengar cerita Vira.
"Sadar nggak sih kak Juna kayak sudah ada cemburuannya," kata Elsa.
"Dan endingnya kak Dira di dandan kayak penyihir, pakai daster hitam, mukanya di dandan tua,"
"Plus toga kerucut," Keduanya kembali tertawa lepas.
Vira masih asyik bercerita tentang kedua kakaknya. Bagi Elsa cerita Vira terkadang membuat dia iri. Terlahir sebagai anak tunggal, tanpa punya saudara, sepupunya banyak, tapi jauh semua.
"Terus kabar baiknya apa, Sa?"
"Ini," Elsa memberikan surat dari universitas ternama luar negeri.
"Swiss!" Elsa menggangguk.
"Papa menyiapkan aku untuk kuliah disana. Dia sudah ancang-ancang mencari rumahku disana," Elsa menyandarkan kepalanya di atas dinding kursi kayu kampus.
"Aku pasti akan merindukanmu, Sa. Ingat kita masih punya satu tahun lagi di sini. Satu tahun, Sa. Dan aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku mau ..."
"Kamu bukannya bakal ke Jepang?" Vira mengangguk.
"Ra, kamu nggak ada niat jenguk kak Dawa. Bukannya kita lihat postingan perawat waktu itu. Tidak adakah terbersit kamu mau cari tahu," kata Elsa.
Vira menggelengkan kepalanya. Dia mau sekali sekedar menjenguk Danu. Tapi masih ada keraguan terbersit dalam di hatinya. Dia takut reaksi mamanya nanti. Vira paham kalau mama Dewi masih trauma berurusan dengan Pandawa. Walaupun mamanya pernah bilang tidak akan melarang Vira lagi. Akan tetapi, Vira paham kalau masih ada luka di hati mamanya.
"Aku tidak mungkin menyakiti perasaan mama. Apalagi yang berurusan dengan om Irul dan Dawa. Rasanya aku akan menjadi orang yang paling egois jika mengikuti kemauan sendiri,"
Elsa langsung memeluk Vira, baginya ucapan sahabatnya pertanda hati yang sedang patah. Sebagai sahabat Elsa paham tidak akan mudah mendapatkan pelabuhan terpercaya. Yang selama ini dekat saja belum tentu bisa menjaga.
"Ra, Berjalanlah dengan cinta kalian. seandainya lelah, brngkali kamu perlu berhenti, dan berpikir bahwa di depan sana ada yang benar menunggu untuk di perjuangkan."
Dalam kehidupan ini banyak pertimbangan yang membuat kita ragu-ragu dalam beragam persoalan mulai dari asmara, kehidupan, impian, maupun kemanusiaan. Sehingga membuat kita terjebak dalam kebimbangan dan mungkin berakhir dengan keputusan yang mengecewakan. Walaupun begitu, kita tak boleh menyerah untuk tetap bertahan dalam sebuah kehidupan yang keras ini. Beristirahat sejenak itu boleh, tapi bukan berarti menyerah dan tidak bangkit kembali.
"Sa, jadi bagaimana dengan pak Randi?" Vira mengalihkan pembicaraan.
"Ya, kan aku sudah bilang kuncinya di kamu, Ra. Pak Randi kan orang baik, jadi nggak mungkin macam-macam. Ayolah, Ra kamu temui mereka,"
"Iya, nanti aku kesana. Sekarang pak Randi nya mana?" Vira tidak menemukan sosok Randi di sekitar kampus.
__ADS_1
"Mungkin sudah pulang, Ra. Habis ini kamu mau kemana?" tanya Elsa.
"Pulang, dong. Kan aku punya temen sekarang. Main sama Harry, Mimi sama Fajar. Rumahku sekarang rame sama tangisan bayi,"