
Sebuah panti rehabilitasi, tampak seorang perempuan duduk dengan tatapan kosong. Menatap kearah langit biru. Tubuhnya yang sedikit mengecil di hempaskan pada sebuah kursi berbahan besi. Salah seorang wanita berseragam putih menghampirinya. Meminta perempuan itu masuk ke dalam, karena akan ada pemeriksaan dari pusat.
"Mbak Tania, masuk, yuk," ajak suster bername tag Larasati.
"Sebentar Mbak Laras saya mau menikmati langit indah ini. Tumben cerah dan tak berawan,"
"Iya, Mbak langitnya cantik dan bersih," sambung Suster Larasati.
"Kalau saya bisa mengulang waktu, saya ingin seperti langit itu. Putih bersih dan pasti hatinya bersih. Tidak seperti saya berlumuran dosa,"
"Tidak ada manusia yang sempurna, Mbak. Seputih-putihnya hati seseorang, pasti punya kekhilafan juga.
Tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik manusia adalah yang mau memperbaiki kesalahannya dan untuk memperbaiki kesalahan dimasa lalu tentu saja kita harus memiliki bekal, yakni Iman dan taqwa" kata Suster Larasati.
Langit mulai menghitam menandakan akan datang hujan. Suster Larasati pun kembali membujuk Tania masuk ke dalam. Mereka meninggalkan pelataran panti rehabilitasi sekitar daerah Maribaya, Lembang, Bandung barat. Panti yang sudah hampir satu tahun menerima dirinya.
Kaki Tania terhenti saat berjalan di lorong menuju tempat istirahatnya. Seorang wanita berdiri di hadapannya. Wanita yang dulu banyak dia sakiti karena rasa iri memenuhi otak dan pikirannya.
Tania berjalan pelan mendekati wanita itu. Sosok di depannya masih mematung menatap dirinya. Tak lama Tania melipatkan kakinya. Meraih jemari wanita itu, isakan kecil terdengar perlahan-lahan.
Wanita itu memilih buang muka, namun dia tetap menerima saat Tania menempelkan dahinya di lekuk jemarinya.
"Maafkan aku, Dira. Maafkan aku jika selama banyak melukai perasaanmu. Aku memang perempuan kotor, jahat. Aku juga bukan ibu yang baik untuk anakku Raja.
Tapi percayalah, Dira. Suamimu adalah lelaki yang paling baik yang pernah aku temui. Suamimu menyelamatkan anakku, dari ibunya yang biadab ini. Aku tahu kamu tidak akan pernah memaafkan kesalahan yang terdahulu. Kesalahanku satu, Ra. Aku mendamba lelaki seperti Arjuna, walaupun aku tahu itu tidak mungkin. Sekarang aku sadar, hanya perempuan beruntung mendapatkan cinta Arjuna dan perempuan itu kamu, Ra."
__ADS_1
Tania masih bersikukuh bersimpuh di kaki Dira. Perempuan yang selama ini dia sakiti. Tania merasa kediaman Dira adalah bukti kalau wanita itu tidak memaafkan dirinya. Tapi dia pantang menyerah apapun dia lakukan asal Dira memaafkannya.
Sementara Dira memandang teman sesama alumni kampusnya dengan tatapan lirih. Bagaimana dulu dia di kucilkan satu kampus karena di tuduh pelakor. Bagaimana Dira enggan melihat dunia sejak masalah itu.
Sesak kembali melanda wanita usia 27 tahun tersebut. Sambil melempar pandangan ke lain arah. Mencoba membendung air matanya. Tapi dia juga wanita, melihat kondisi fisik Tania membuatnya sisi ibanya timbul.
"Tania, sudahlah. Jangan begini," Dira mengangkat tubuh Tania yang masih bersimpuh di kakinya.
"Enggak, Dira aku tahu kamu susah memaafkan aku. Aku tahu sudah banyak,..."
"Aku sudah maafkan kamu, Tania. Aku tahu perasaanmu menjadi wanita sebagai single mom. Aku juga tahu bagaimana posisi kamu serba salah. Tapi enggak harus menyiksa anakmu, Tania,"
"Jika umur ku tak lama lagi, aku cuma minta satu sama kamu, Dira. Tolong rawat anakku, biarkan dia merasakan kasih sayang orangtua seperti kalian. Aku tahu permintaan ini sangat sulit di lakukan. Tapi umurku tak lama lagi, Dira. Beberapa hari yang lalu dokter memvonis aku kanker darah. Dan sudah stadium akhir,"
"Sayang," Juna muncul setelah membiarkan keduanya saling bicara.
"Mas, aku rasa sudah cukup saat ini, aku ingin pulang. Aku rindu Fajar," Dira berjalan menjauhi Juna. Lelaki itu pamit pada petugas panti lalu mengejar istrinya.
"Sebenarnya ada apa? apa yang di katakan sama Tania?" Juna terus mencerca pertanyaan pada istrinya.
"Kita bahas di rumah saja,"
"Baiklah, tapi dia tidak menyakiti kamu, kan?" Dira menggelengkan kepala.
"Dia cuma minta maaf sama aku, itu saja," Juna membuka pintu mobilnya.
__ADS_1
Selang berapa lama mereka sampai di rumah. Dira turun tanpa bicara apapun. Juna menebak ada omongan Tania yang menyinggung perasaan istrinya. Lelaki itu mengumpat mengatakan Tania tidak tahu untung.
"Sayang, please ada apa? kenapa kamu murung lagi?"
"Tania minta kita adopsi anaknya, Mas. Sumpah, aku belum siap berbagi kasih sayang sama anak orang lain. Tapi di sisi lain aku kasihan sama anaknya. Kita harus bagaimana, Mas?"
"Jadi dia minta juga sama kamu?"
"Juga? jadi dia pernah minta hal ini sebelumnya?" Juna mengangguk.
"Aku mau minta pendapat kamu, sayang. Kalau adopsi aku tidak bisa, tapi soal biaya lain-lain aku akan usahakan bantu. Cuma jika Raja sudah di adopsi orang, aku berhenti membantu. Bagaimana?"
"Boleh. Tapi cuma sebatas membantu kan, Mas tidak hal yang lain?"
"Iya,"
"Oke, aku sepakat kalau soal itu,"
"Jadi," Juna mulai mengencangkan tangan membelit pinggang istrinya.
"Apa sih, Mas? jangan aneh-aneh, ini masih jam berapa?" Dira mencoba menghindari sikap agresif suaminya.
"Kamu tahu aku merindukan momen ini. Sejak kamu sibuk dengan Fajar, waktu luang kita sangat sedikit. Aku rindu momen ini, Dira," Juna menyandarkan Dira di dinding kamarnya. Mereguk bibir ranum, sebuah kerinduan sangat terasa pada keduanya. Mumpung Fajar sedang bersama sang mama.
"I love you, sayang. Terimakasih sudah mau menjadi istriku, sudah menjadi ibu dari anak-anakku. Tapi kamu tidak keberatan kan sehabis yang kedua kita program lagi," Dira membulatkan matanya. Yang ini saja belum lahir sudah minta nambah lagi. Seketika suntikan kecil mendarat di perut buncit lelaki itu. Juna hanya tertawa kecil melihat wajah kusut Dira.
__ADS_1