SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 73


__ADS_3

Juna


"Jadi dia ada disana?" tanyanya.


"Iya, kak. Bagaimana? mau aku temani atau kak Juna yang menyusul." kata Awan kakak sepupunya.


Meskipun usia dirinya lebih tua dan lebih dulu lahir ke dunia fana. Tapi karena status Awan adalah anak kakak mamanya, otomatis Juna tetap merasa dia anak di bawah Awan.


Sayangnya Awan menolak di sebut kakak karena lelaki itu merasa muda dari Juna. Tapi ya itu tadi, secara silsilah keluarga, Awan jatuhnya kakak.


"Dia sama siapa?" tanya Juna


"Sendiri, tapi sepertinya dia menunggu seseorang. Tadi Opa Han drop, jadi beliau minta kak Dira untuk menemui kliennya. Namanya Panji."


"Laki-laki?" nada itu terdengar tersulut panas.


"Iya, Kak Juna tenang saja. Kak Dira itu masih setia sama cincin yang melingkar di jari manisnya."


"Iya, semoga begitu." Perasaannya sedikit lega setelah mendengar penuturan saudara sepupunya.


Juna duduk di sebuah kedai kecil tak jauh dari tempat Awan dan Dira berada. Di temani Naura dan Jimmy mereka layaknya keluarga kecil duduk di satu meja.


"Ayah Juna, kalau di Jakarta itu teman liburan dimana?" tanya Jimmy.


"Ada taman mini Indonesia indah, disana kita bisa mengenal semua budaya seluruh Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke ada.


Ada Dufan, bermacam-macam permainan ada di sana. Lengkap terus dekat pantai."


"Wah seru, ya. Aku mau kesana." ucap Jimmy riang.


"Hush, kamu jangan banyak minta sama ayah Juna. Ingat lusa kita sudah pulang ke tempat Oma Salma." kata Naura.


"Nggak apa-apa, Naura. Hitung-hitung sebagai balas budi saya sama kamu. Sekaligus sebagai permintaan maaf saya sama kamu."


"Minta maaf? kak Juna nggak salah kok minta maaf? saya yang harusnya minta maaf sama kakak. Karena saya selama ini mengira kakak adalah Sandi. Kalian benar-benar mirip. Dan itu yang membuat kak Dira pergi padahal kata Bi Ajeng, kak Dira rencananya mau liburan satu minggu di tulang bawang." kata Naura mengalihkan netranya ke lain arah.


Bukan maksud apa-apa. Wajah lelaki di depannya sangat mirip dengan wajah Sandi yang lama. Itu yang membuat Naura tidak kuat dengan menatap lama Arjuna. Naura masih belum terbiasa dengan wajah baru Awan saat ini. Wajah yang dulu membuatnya jatuh cinta pada lelaki itu.


"Aku mohon kamu jelaskan pada Dira tentang yang sebenarnya." pinta Juna.


"Iya, kak Juna. Aku akan bantu kak Juna supaya bisa kembali pada kak Dira. Cuma ya, kenapa bukan kak Juna yang jelaskan sendiri pada kak Dira?"


"Dia nggak percaya. Dalam anggapannya aku hanya menutupi borok saja. Kata mama Salma Dira punya trauma karena orangtuanya bercerai. Dua kali dikhianati."


"Kak Juna tidak ada sedikit pun punya ingat soal masa lalu gitu. Tentang mantan mungkin, atau bisa teman akrab kak Juna." selidik Naura.


"Ada. Tapi yang aku ingat papaku menentang hubungan aku sama Dira. Karena dia punya rencana perjodohan dengan Delia. Hanya aku baru tahu kalau kami atau aku dan Dira sudah menikah. Dan kata mama anak kami sudah tiada sejak dalam kandungan." cerita Juna.


Tak jauh dari mereka ada dua perempuan yang masuk ke kedai kopi. Salah satu dari mereka seperti mengenal sosok lelaki yang duduk di sana.


"Itu bukannya Arjuna, ya?" tebaknya.


"Siapa, Mia?" tanya temannya.


"Kayak suami temanku, Li. Tapi setahu saya suaminya sudah meninggal dunia."


"Kalau sudah meninggal berarti hanya mirip saja, Mia. Yuk lah kita cari tempat duduk. Laper, nih."


"Iya, Lisa. kita duduk di dekat mereka. Sumpah aku kepo banget sama tuh orang." Mia makin penasaran sama sosok lelaki yang di yakini suami Dira.


Mia duduk menghadap kearah Arjuna. Sambil bermain handphone. Sebenarnya dia memvideokan sosok yang di yakininya sebagai suami temannya. Setelah selesai menyimpan bukti, Mia bersikap biasa lagi.


"Aku harus kasih tahu Dira."


"Ih, ngapain? kurang kerjaan saja kamu." Protes Lisa melihat kelakuan temannya.


"Lo, tahu nggak Dira sampai down saat suaminya kecelakaan dan meninggal dunia. Enam bulan yang lalu kan angkatan suaminya ngadain reuni. Sampai ngadain tahlilan di sekolah buat mantan ketua OSIS di era mereka. Kan kakaknya Dira sama kakakku satu angkatan." cerita Mia.


"Iyakah? berarti suami Dira itu lumayan supel anaknya kalau sampai satu angkatan bisa merasa empati gitu."


"Dulu di SMA kami kan ada grup belajar. Nah yang paling laris grupnya ya punya kak Arjuna suaminya Dira. Dulu banyak lo yang antri mau deketin kak Juna. Tapi aku dengar kak Juna udah punya calon istri."


"Wah, kamu tahu banyak soal saya." Mia kaget kalau yang di bicarakan mendengar obrolannya.


"Ayah, katanya mau pesankan aku eskrim." rengek Jimmy.


"Jimmy, kamu jangan gitu, nak. Kalau mau pesan sama ibu aja." Naura tak enak atas sikap Jimmy pada Juna.


"Maaf atas sikap Jimmy, kak Juna."


"Nggak apa-apa, bentar saya belum selesai sama anda. Apa anda mengenal saya?"


"ja..di ... kamu ... benar Arjuna suami Dira?" ucap Mia terbata-bata.

__ADS_1


"Maaf saya ada urusan lain. Naura kamu mau ikut?" ajak Juna.


"Mau seperti yang aku bilang tadi aku akan jelaskan yang sebenarnya. Biar tidak salah paham." jawab Naura.


"Oke kita jalan kaki saja. Lokasinya nggak jauh dari sini."


Juna sudah sampai di cafe yang di sebutkan oleh Awan. Berhubung jaraknya dekat. Juna dan Naura serta Jimmy pun masuk. Di sambut Awan yang sudah menunggu di depan cafe.


*


*


*


Dira


Menunggu itu sangat membosankan. Itu lah yang Dira rasakan saat menunggu kedatangan Panji, klien yang di janjikan opa Han.


Sudah sekitar 15 menit bahkan rasanya lebih, yang di tunggu belum menepati janji. Dira tahu Jakarta terkenal macet. Tapi paling tidak ya harus on time.


Rasa suntuknya sedikit terganggu saat melihat pesan di ponselnya.


"Mia?" ucapnya heran.


"Tumben dia ngechat aku, ada apa-apa, ya?" pasalnya dia dan Mia tidak terlalu akrab. Hanya sekedar kenal dan tergabung di grup WhatsApp alumni.


Karena penasaran Dira membuka pesan yang dikirimkan oleh Mia. Tangannya gemetar melihat video yang dikirim Mia. Sesaat rasanya mau menangis. Tapi dia sadar, wajar Juna baik sama Jimmy dan Naura karena mereka keluarga.


Mereka sepertinya keluarga bahagia. Terlihat kak Juna sangat sayang sama Jimmy, terlihat Jimmy bahagia punya ayah seperti kak Juna. Jadi buat apa aku bertahan, buat apa tangisan dan doa ku selama ini. sia-sia, benar kata orang. Kak Juna sudah meninggal, bukan jasadnya tapi sosoknya sudah menjadi orang lain.


"Nona Dira," suara bariton menyapa Dira dalam jarak dekat.


"Terimakasih anda mau datang menemui saya. Oh, ya nama saya Panji dari perusahaan Madu berkah. Saya berencana bekerja sama dengan pabriknya pak Burhan.Ternyata anda cantik juga."


"Terimakasih, apa bisa dimulai meetingnya?"


"Oh iya maaf. Anda sudah pesan?"


"Belum."


Dira dan Panji berbicara santai dari soal pengenalan diri sampai cerita ringan lainnya. Tawa, canda, riang bisa sedikit mengobati perasaan sakit yang dirasakan Dira. Meskipun masih terbayang di pikirannya bagaimana bahagianya keluarga baru suaminya.


Dan Juna datang kembali mengacaukan perasaannya.


"Maaf sepertinya saya datang di waktu yang kurang tepat." ucap Panji.


"Nggak apa-apa, kak Panji. Kan ini urusannya soal pekerjaan. Saya tidak mau mengecewakan opa Burhan dengan menggagalkan pertemuan ini. Saya minta maaf kalau ada seseorang yang membuat anda tidak nyaman.


Dan saudara Arjuna, maaf anda bisa meninggalkan kami berdua? saya sangat tidak nyaman dengan kedatangan anda yang tiba-tiba." usir Dira.


Buat apa kamu kesini kak Juna? buat pamer sama aku kalau kamu sudah bahagia bersama Naura. Kenapa dari dulu kamu suka sekali menyiksa perasaanku.


"Ra, dengarkan aku dulu." Tangan itu menahan lengan Dira.


Dengan kasar Dira menghempaskan tangan Juna. Dira pun mendorong tubuh Juna lalu pergi meninggalkan cafe sejauh mungkin.


Kakinya terhenti mendengar suara keramaian. Tapi kembali melangkah meninggalkan cafe. Setelah berlabuh di sebuah kursi, Dira di kagetkan dengan kedatangan Awan.


Entah bagaimana lelaki itu bisa menemukannya. Dira enggan mencari tahu apa sebabnya.


"Non, saya minta agar non Dira menemui kak Juna." kata Awan.


"Buat apa, mereka sudah punya Naura dan Jimmy." tolak Dira.


"Awaaaan!"


Mobil membawa Dira ke sebuah rumah sakit tak jauh dari daerah Cipayung. Dira masih belum paham kenapa Awan membawanya ke rumah sakit.


"Tadi saat mengejar kak Dira, kak Juna tertabrak motor yang nekat melintas di trotoar. Kepala kak Juna terbentur dan tidak sadarkan diri." cerita Awan.


Dira masih kekeuh dengan kekerasan hatinya. Meskipun ada terselip rasa bersalah karena sudah membuat Juna tertabrak.


"Ini" Awan memberi surat pada Dira.


Dira membuka surat yang dia tak tahu dari siapa. Perlahan-lahan dia membaca isi surat itu. Bait per bait di bacanya.


Dear istriku ..


Kalau kamu baca surat ini aku harap bisa membuka pikiranmu.


Ya walaupun aku tahu kamu susah di taklukkan.


Aku punya sepenggal ingatan tentang kita. Meskipun aku baru tahu kalau kita sudah menikah dari mama dan Awan.

__ADS_1


Yang aku ingat ada anak perempuan yang bercita-cita menjadi istriku. Walaupun dia tahu kalau itu hanya khayalan anak-anak.


Tapi siapa sangka cita-cita itu terwujud.


Dira ...


Waktu nulis ini, aku sedang berada di taman bermain. Kamu ingat saat anak-anak sedang asyik bermain,


kamu datang menangis mengadu karena di jahili mereka.


Dira mengatupkan kedua mulutnya. Suaminya sudah mengingat sebagian kenangan mereka. Suaminya sudah kembali menjadi Arjuna Bramantyo seutuhnya.


Tidak Dira! Dia milik Naura.


Dira memeluk erat surat dari Juna. Seakan sosok itu yang ada di dalam dekapannya.


"Aku ingin memelukmu dan juga anak kita." ucap Juna saat Dira masih hamil.


Awan memandang ipar sepupunya sambil tersenyum kecil.


Sampai di rumah sakit Dira langsung turun berjalan mencari ruang rawat Juna.


"Suster mana korban tabrakan motor?" tanya Dira dengan harap-harap cemas.


"Yang mana? tadi ada dua yang tabrakan motor satu yang sedang dirawat satu lagi laki-laki meninggal dunia."


"Meninggal dunia!" Dira berjalan meninggalkan resepsionis.


"Mas Junaaaa!" pekik Dira.


"Kak Dira!" Awan berlari mengejar ipar sepupunya.


"Wan, ini nggak bener kan? mas Juna nggak meninggal kan? kenapa dia tega ninggalin aku lagi? setelah satu tahun dia pergi tanpa kabar, setelan semua yang terjadi, kenapa dia malah ninggalin aku lagi?


Wan, dimana ruang jenazahnya aku pengen lihat. Aku mau minta maaf karena tadi nggak mendengarkan dia. Dimana, wan?"


"Kak Dira tenang dulu."


"Bagaimana aku bisa tenang, Wan?"


"Kak Dira masih cinta sama kak Juna, kan? terus kakak kenapa tadi masih keras kepala? kakak tahu kak Juna itu sudah berusaha datang kesini untuk memperbaiki semuanya. Termasuk untuk membuka ingatannya.


Tapi apa yang kak Dira lakukan tadi? kakak bahkan memperlakukan kak Juna dengan kasar. Seakan dia seorang yang patut dibenci."


"Kamu nggak tahu apa yang aku rasakan, Wan. Kamu nggak tahu apa yang dia buat."


"Aku yang nikahi Naura bukan kak Juna. Aku yang mempertanggungjawabkan atas Naura dan Jimmy. Bukan kak Juna." kata Awan meninggi.


Awan masih meluapkan semua yang sedari tadi dia pendam. Masih menceritakan apa yang terjadi selama Dira pergi. Dira seperti merasa bumi berputar, tubuhnya ingin jatuh. Dalam pelukan Awan, Dira menjatuhkan tubuhnya hingga tak sadarkan diri.


"Kenapa dengan kak Dira, mas?" tanya Naura saat Awan membopong Dira di ruang rawat lain.


"Aku sudah bilang semuanya. Dia sepertinya syok. Aku sudah tidak tahan melihat kak Dira dan kak Juna saling menyiksa diri." kata


"Aku yang salah, mas. Saat Jimmy bilang kak Dira pingsan karena melihat photo Sandi. Itu yang membuat aku takut Sandi berpaling lagi. Kamu dulu ninggalin aku pas acara pernikahan kita.


Dan saat kak Juna menjadi Sandi, aku takut sekali kalau kamu pergi lagi."


"Mas Juna," suara lirih terdengar dari ranjang di samping Naura.


"Kak Dira, sudah sadar?" sapa Naura.


"Mas Juna mana? aku mau lihat jasadnya?"


"Jasad?" Naura bingung dengan perkataan Dira.


"Tadi ada suster bilang mayat lelaki tabrakan motor. Makanya kak Dira down banget."


"Astaga, kak Juna kan ..." Awan menutup tangan di bibir Dira.


"Biarkan dia penasaran." Bisik Awan.


"kamu tuh, ya. Jahil banget!" cubit Naura di perut suaminya.


"Kak saya panggil dokter dulu, ya? Yuk, sayang." Ajak Awan pada istrinya.


"Kemana, mas?" tanya Naura masih belum paham.


"Quality time."


"Astaga, Jimmy!" Naura baru ingat putranya tadi menemani Juna.


Awan tersenyum saat seorang lelaki duduk di kursi roda. Mereka mempersilahkan lelaki itu masuk ke dalam dimana Dira berada.

__ADS_1


"Jimmy ikut ayah saja." ajak Awan. Jimmy pun menurut pada kedua orangtuanya.


__ADS_2