
Vira berjalan menembus keramaian acara. Gaunnya yang berwarna merah memancarkan aura kecantikannya. Wajahnya yang di bilang baby face mampu menyedot perhatian semua tamu yang menatapnya.
Dengan menjinjing bawahan dress-nya yang terasa sangat menyiksanya. Vira akhirnya menemu mama dan keluarga besarnya di sudut ruangan. Para lelaki dan wanita paruh baya tertawa riang seakan tidak ada beban dalam pikiran mereka. Vira jarang melihat mamanya tertawa lepas seperti itu. Begitu banyak masalah yang mereka hadapi setelah papanya pergi.
Selama ini Vira hanya tahu mama dan papanya berpisah karena perselingkuhan. Itu yang membuat Vira malas berurusan dengan lelaki. Dimatanya semua lelaki sama saja. Sama-sama tidak bisa di percaya.
Orang kedua yang dia tidak bisa dipercayai adalah Danu. Jujur rasa kecewanya pada Danu terobati saat adanya Satria. Sikap Satria yang mengayomi dan sangat dewasa membuat dia jatuh cinta. Satria memang pacar pertamanya, tapi jujur cinta pertamanya adalah Danu. Lelaki yang selalu ada di masa kecilnya.
"Sapi!"
"Jangan panggil aku sapi,kak! aku bukan sapi!" rengeknya saat itu.
"Biarin, Sapi si tukang makan! nyam, nyam, nyam!"
"Huaaaaahhhaa! aku nggak mau main kesini lagi!"
Di depan sekolah taman kanak-kanaknya. Vira menunggu seseorang yang biasa menemuinya. Beberapa saat kemudian sosok itu muncul bersama kakak wanita cantik itu. Dia mengenalnya sebagai sekretaris mamanya.
"Savira, kakak dan Danu mau pulang ke Jawa. Kami kesini mau pamit. Kamu jadi anak yang pintar ya."
"Jadi kalian mau pergi?" Keduanya mengangguk.
"Kak Danu, aku nggak bawa oleh-oleh. Ini aja, ya oleh-olehnya." Tangan mungil itu melepaskan gelang coklat lalu memindahkan ke tangan lelaki itu.
"Kakak punya jadwal buat kamu, Nanti kalau tiap liburan sekolah kakak kesini nengokin kamu."
Nyatanya dia menunggu liburan itu. Tak ada kabar apapun dari kakak Danu-nya. Lambat laun dia sudah melupakan hal itu. Kembali menjadi anak yang ceria meskipun dia hanya punya beberapa anak yang mau bermain dengannya.
"Mukanya gitu, sih?" suara bariton itu mengagetkan dirinya.
"Astaga, Om! ngagetin aja! kalau jantungku copot gimana?"
"Aku ambil lagi jantungnya, biar bantu pasangkan." suara bariton itu tertawa kecil.
"Om ini humornya boleh juga. Yasudah, Om saya mau ke mama dulu." Vira masih berusaha menghindar.
"Saya ikut, ya. Siapa tahu ada yang di promosikan."
"Terserah, Om aja deh."
__ADS_1
"Please, dong, jangan panggil saya, Om."
"Iya, pakde Panji."
Vira mendekati mamanya dan beberapa Tante sepupu mamanya. Mereka keluarga dari pihak neneknya Vira. Walaupun mereka jarang berkumpul di acara keluarga. Tapi sekali datang mereka langsung rame. Sekiranya ada 7 keluarga yang datang. Vira ingat terakhir bertemu mereka saat pernikahan pertamanya Feri.
"Meri, kamu masih ingat sama Vira?" mama mulai memperkenalkan Vira pada keluarga besarnya.
"Ya Allah, ini Savira.Sudah gadis ya? kalau tidak salah terakhir ketemu dia masih SMP kan. Geulis pisan."
"Iya, Meri ini yang bungsu."
"Terus ini siapa? calon suaminya, Ya? waaah ganteng sekali. Bahkan ini lebih tampan dari suaminya Dira."
"Saya calonnya Savira, tante." Panji memperkenalkan diri.
Vira melototi Panji. Bagaimana tidak lelaki itu tanpa pamit mempromosikan diri di depan keluarga besarnya. Vira menebak sebentar lagi dia akan jadi bahan berita keluarga besarnya. Dengan kasar dia menarik Panji dari kerumunan Tante-tantenya.
"Ngapain, Om ngomong gitu sama mereka?"
"Saya cuma mau bantu kamu." Panji masih santai.
"Biasanya kalau di acara nikahan. Pasti ditanya kapan nikah? apalagi kalau tahu anak mereka dengan status jomblonya."
"Itukan anda, bukan saya. Lagian mama saya tahu anaknya masih muda. Dan yang anda lakukan tadi sudah melewati batas."
"Maaf, ya." Panji yang tadinya selengean kini terdengar melow.
"Maaf, saya mau ke tempat kakak saya. Jadi jangan ikuti saya lagi. Atau saya akan bilang ke opa supaya cabut kerjasama anda dengan mereka." ancam Vira.
"Maafkan saya, ya. Please."
Vira melipat tangannya, tatapannya sebagai sinyal dia tidak akan suka sikap Panji.
"Bersikaplah sesuai usia anda, Tuan Panji.
Dira digiring ke ruang rias. Karena akan ada resepsi setelah akad. Gaun putih nan cantik sudah menanti tuannya. Tahun lalu mereka tidak memakai resepsi. Bagaimana tidak kalau acara akad saja sudah seperti resepsi. Dira dan Juna sudah duduk di ranjang pengantin.
"Sayang, kamu bahagia?" Dira mengangguk.
__ADS_1
"Aku bahagia, mas. Bahagia sekali, tapi apa ingatanmu sudah mulai pulih?"
"Aku tadi sebelum akad ketemu, Om Andre. Katanya Rian dan Delia sekarang tinggal di Singapura."
"Iya, mas. Mereka sudah disana selama satu tahun. Delia menderita alzheimer yang sangat parah. Jadi Rian membawa Delia berobat disana. Roger juga di bawa. Tante Yasmin juga ikut."
"Aku nanya apakah ingatan kamu sudah sembuh? Kenapa malah bahas Rian dan Delia? apa kamu belum..."
Dira terdiam sesaat ketika bibirnya di bungkam oleh suaminya. Bungkaman yang membuat dirinya melambung tinggi. Tangan Dira sudah naik ke bahu suaminya. Tangan Juna langsung menarik kencang ke pinggang Dira.
"Mas, kok kamu jadi agresif, sih? kan luntur lipstikku." protes Dira.
"Maaf, sayang. Aku sudah gemes duluan."
"Dasar, Omes."
"Mbak, maaf ganggu. Bisa kita mulai riasannya." kata mbak periasnya.
"Oh, Iya, mbak, maaf. Mas kamu kalau mau ganti baju di kamar mandi saja."
"emang kenapa?"
" Oh, mau pamer gratisan. Yaudah nanti malam kamu tidur di luar saja." ancam Dira.
"Iya, iya. Aku ganti di kamar mandi."
Dira dan Juna akhirnya selesai mengganti baju. Begitu juga dengan Feri dan Tina. Mereka berjalan beriringan menuju singgasana yang di letakkan dua pasang. Mama Dewi dan Mama Salma duduk di kursi orangtua. Sementara di bagian kiri ada bude dan pakde nya Tina.
Bermacam-macam aksesoris dan hantaran dijadikan hiasan di pesta pernikahan itu. Bermacam-macam makanan tradisional tersaji dimeja prasmanan. Bukan hanya makanan tradisional saja, makanan modern pun tersaji khusus untuk pejabat daerah dan kolega.
Pesta yang diadakan dalam konsep modern. Pelaminan yang mewah nuansa eropa menjadi pusat perhatian semua orang.Dua pasangan pengantin Membuat para tamu takjub dengan aura yang dimilikinya.
Dua pasang pengantin bak raja dan ratu yang memukau para undangan. Feri menggenggam tangan sang istri. Menuntun Tina untuk duduk di singgasana pengantin. Sebelumnya mereka menyapa para tamu undangan, dua pasang pengantin itu berdiri melambaikan tangan pada para hadirin yang memotret mereka.
Dira yang sudah mengenakan Bridal dress berwarna putih di padu dengan jas putih milik Arjuna. Begitu juga dengan Tina dan Feri. Raut wajah bahagia tampak terlihat pada kedua pengantin itu.
Mama Dewi melihat Andre seperti mengasingkan diri dari keramaian. Dia rasanya ingin bicara pada mantan suaminya itu. Tapi rasanya tidak etis kalau dia turun hanya untuk menyamperin lelaki itu. Maksud dia mau mendatangi bukan karena masih ada cinta atau apapun. Akan tetapi dia ingin tahu apa yang terjadi pada lelaki itu sampai menghilang bertahun-tahun.
"Papa," suara manis itu menyapa Andre.
__ADS_1
Kaki Andre terhenti. Melihat sosok gadis bergaun merah berjalan kearahnya. Andre memilih menghindar. Dia malu pada putri bungsunya. Malu dengan apa yang dia lakukan dulu pada Vira. Meskipun hampir, tapi tetap saja tidak di benarkan.