
Semua mahasiswa akhirnya berkumpul di depan pintu ruangan CEO perusahaan GLOBAL MACHINE. Banyak para mahasiswi yang membicarakan soal siapa pemilik perusahaan tersebut. Banyak yang mendengar kalau CEO yang masih muda dan tampan. Vira juga penasaran dengan sosok CEO tersebut. Apalagi setelah tahu kalau ternyata sang CEO tadi menolongnya. Vira menerobos beberapa temannya karena kekepoannya tadi.
"Si Kayla main masuk aja," keluh yang lain.
"Mungkin dia kenal sama yang punya perusahaan. Saudaranya kali?" tebak yang lain.
"Pacarnya mungkin. Kayla kan anak orang kaya, tentu jodohnya yang keren seperti itu." ucap yang lain.
"Lo bukannya sama Jordy. Sering lihat mereka berduaan terus." sambung Eno.
"Iya, ya. Aku juga sering lihat mereka berduaan terus. Aku pikir mereka pacaran."
"Mungkin teman saja. Lagian Jordy juga bukan orang kaya. Tinggal di kontrakan sempit nggak mungkinlah dia mau sama tuh cowok." umpat yang lain.
"Sudah! sudah! dari tadi kalian ngomongin Kayla terus. Nanti dosanya Kayla malah pindah ke kalian. Mau?" kata Elsa.
Vira sedari tadi mendengar obrolan teman-temannya hanya tersenyum kecil. Dia juga sama penasaran dengan hubungan antara Kayla dan Jordy. Lagi-lagi di tepisnya pikiran itu. Vira merasa tidak mau mencampuri urusan Kayla atau urusan hubungan Kayla antara Jordy dan Dawa. Elsa masih sibuk dengan gawainya membuat Vira sedikit penasaran.
"kamu ngapain,sih?" tanya Vira.
"Ih, mau tahu aja urusan orang." Kilah Elsa.
"Harus itu, kita kan sohib. Nggak ada rahasia, aku aja nggak pernah rahasiaan sama kamu." ucap Vira.
"Benar mau tahu?" Elsa mengerlingkan matanya.
"Ish ...." Vira menyerobot handphone Elsa.
Lama Vira terdiam saat melihat sebuah postingan di WhatsApp keluarga Elsa. Elsa dengan cepat merebut handphonenya. Tak berapa lama wajah Vira kembali seperti biasa. Hanya saja Elsa tahu perubahan wajah Vira bukanlah keceriaan asli.
"Makanya aku nggak mau kasih tahu kamu, Ra. Aku tahu kamu dan kak Satria masih saling cinta."
"Apaan sih, kamu ngomong gitu? buat apa? buat aku nanti baper, ya? maaf, Sa, kak Satria sudah masa lalu. Kan aku yang mutusin dia. Ngapain juga mikirin laki orang!"
"Eh, Ra. Itu pintu sudah terbuka. Yuk masuk." sahut Elsa mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Selamat sore. Terimakasih atas kunjungan kalian ke perusahaan kami Global Machine. Saya sebagai direktur utama perusahaan ini sangat senang dengan antusias kalian dalam kunjungan ini."
"Whaaaaaaat!" batin Vira.
Dawa tersenyum melihat Vira melototinya. Lelaki itu kembali memperkenalkan diri pada beberapa mahasiswa yang masih menatap takjub padanya. Kayla menggelendot manja seakan memamerkan pada temannya kalau dawa adalah kekasihnya. Jordy hanya menatap nanar ke arah Dawa dan Kayla. Andai dia bisa menghajar lelaki di depannya, tentu sudah dia lakukan saat Kayla masuk ke dalam ruangan Dawa.
Kayla melihat kearah Jordy yang menatapnya penuh emosi. Sesaat dia mengalihkan pandangan ke lelaki di sampingnya. Baru kembali melihat kearah tempat Jordy berdiri. Sayangnya lelaki itu sudah tak terlihat lagi. Kayla sudah mewanti-wanti Jordy supaya bersikap biasa saja. Dia juga paham, kekasihnya tipe pria cemburuan. Sama dengan Dawa yang juga cemburuan. Kayla menarik nafasnya dalam-dalam.
"Jadi dia pacar Kayla?" tanya Elsa pada Vira.
"Iya," Vira menghempaskan tubuhnya di sofa ruangan kerja Dawa. Bersama beberapa mahasiswa yang menjadi perwakilan juru bicara. Vira pun di tunjuk mencatat semua poin-poin.
"Kamu tahu?" tanya Elsa lagi.
"Aku pernah diajak Kayla pulang bareng naik mobil tunangannya. Tapi aku baru tahu kalau ini kantornya." jawab Vira cuek.
"Keren, ya Kayla. Dapat tunangan seperti pengusaha itu. Kamu move on dong dari Satria." Vira hanya menjulurkan lidahnya. Dibalas dengan cekikikan kecil Elsa.
"Kalian daritadi berisik banget." kata Eno.
Acara kunjungan pun selesai. Para mahasiswa pun pamit pada sang direktur di sambut tawaran makan bersama di restoran. Beberapa mahasiswa menyetujui tapi tidak dengan Vira. Dia memilih untuk pulang karena sudah ilfeel melihat Dawa. Elsa yang tadinya mau ikut dipaksa Vira untuk ikut pulang. Dan Vira akhirnya menceritakan kalau lelaki yang pernah dia ceritakan adalah Dawa.
"Whaaaaaaat! jadi tunangannya Kayla yang datang caper sama keluargamu?" Vira mengangguk. Elsa yang mendengar cerita Vira ikut kesal pada Dawa.
"Kalau ceritanya begitu aku setuju sama kamu. Cowok kayak gitu jangan dikasih celah. Mentang-mentang sukses, mempermainkan perasaan wanita." kata Elsa mendengus kasar.
"Berarti kamu setuju kan sama aku?" kata Vira disambut anggukan Elsa.
Vira sudah sampai di depan rumah. Elsa pun ikut ke rumah Vira. Sebelumnya Elsa izin sama papanya untuk tidak masuk kerja. Tentu saja dengan alasan mau menjenguk keluarga Dewi Savitri yang kena musibah.
"Titip salam mamanya Vira, ya. Kasihan kakaknya baru saja menikah harus kehilangan suami dan calon anaknya. Mama mungkin besok main kesana." Kata mamanya Elsa. "Terimakasih, ma sudah diizinkan libur kerja." Elsa lega urusannya selesai.
Suasana rumah terlihat sepi. Tak ada suara riang mamanya atau pun kakak lelakinya. Vira membuka kamar mamanya. Mendekati Dira yang tengah tertidur. Vira mengusap wajah kakak perempuannya. Wajah yang masih di rundung kesedihan. Elsa pun ikut menemani Vira di kamar mamanya Dira. Dia pun ikut merasakan simpati dengan apa yang dialami Dira.
"Non Dira tadi melamun. Terus nangis pas bibi kasih makan dia udah tidur. Kasihan, non Dira. Dia harus jadi janda padahal baru dua bulan menikah." kata bi Inah.
__ADS_1
"Mama mana, Bi?"
"Ibu Dewi dan Bu Salma tadi keluar bareng den Feri. Bibi nggak tahu kemana mereka." jelas Bi Inah.
"Jadi kakak di kantor polisi?" tanya Vira saat menelepon kakaknya.
"Iya, yang celakain Juna sudah ketangkap. Mereka ternyata buron begal, niat mereka cuma mau merampok." cerita Feri.
"Alhamdulillah kalau sudah ditangkap." kata Vira.
Vira lega kalau pelaku yang mencelakai Arjuna sudah ditangkap. Itu artinya polisi tinggal mengerahkan pasukannya untuk mencari keberadaan Arjuna. Hidup atau sudah meninggal pun akan mereka terima. Paling tidak jelas permasalahannya.
"Sa, kamu nggak ngantor?" tanya Vira pada Elsa.
"Aku sudah izin sama mama dan papa. Jadi nggak masalah, aku juga bilang mau nginap disini."
"Terimakasih, Sa."
"Sama-sama, Ra. Teman sejati itu selalu ada di saat yang seperti ini."
Persahabatan dapat sangat menyentuh atau mengena karena bisa terjadi bagi setiap orang sebagai makhluk sosial. Tetapi juga disaat kebingungan mencari solusi atas masalah yang sedang dihadapi, merasa sedih, cemas dan menghadapi berbagai situasi berat lainnya.
Kepolisian Resor (Polres) Metro Tangerang Kota, Polda Metro Jaya menangkap dua orang pelaku begal sepeda motor berinisial E (46) dan MM (21) yang merupakan dua bersaudara asal warga Kabupaten Lebak, Banten.
"Kedua pelaku ditangkap di kediamannya yaitu di Kampung Padarame, Desa Sukanegara, Kecamatan Gunung Kencana, Kabupaten Lebak pada Senin pukul 02.00 WIB dini hari," kata Kapolres Metro Jaya.
"Keduanya sudah mengakui kalau dia awalnya hanya ingin merampok korban tidak lebih. Incaran mereka adalah mobil yang kendarai korban.
Kedua begal berhasil ditangkap di rumahnya, meski sempat mencoba melarikan diri akhirnya pelaku diberikan tindakan terukur terarah di kakinya oleh petugas.
Kedua tersangka masih dilakukan pendalaman pemeriksaan, dan kasus ini akan terus dikembangkan untuk mengungkap kasus lainnya, mengingat kedua pelaku merupakan buronan," jelas Bripda Febri kepada Feri.
"Mana mereka? aku ingin lihat siapa yang sudah membuat anak saya meninggal, menantu saya jadi janda. Saya ingin memberikan pelajaran bagi mereka. Saya ingin ..." Salma tidak bisa melanjutkan bicaranya. Hatinya sangat terguncang dengan apa yang menimpa putranya dan juga menantunya. Mama Dewi pun merasakan hal yang sama. Kedua besan tersebut saling menguatkan.
"Jeng yang sabar. Kita semua berharap ada keadilan buat Juna. Biar polisi yang menangani." kata mama Dewi pada mama Salma.
__ADS_1