SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 74


__ADS_3

Suara kursi roda berisik di depan pintu kamarnya. Suara roda berputar sesekali juga terdengar di telinganya. Dira bangkit mencari dari mana arah suara.


Kakinya terpaku pada sosok lelaki yang duduk diatas kursi roda. Dira menyimpuhkan tubuhnya dihadapan lelaki yang sudah menghalalkannya satu tahun yang lalu. Air matanya menetes membasahi pipinya.


"Maaf," ucapnya lirih.


Juna menangkap wajah Dira dengan kedua tangannya. Keduanya saling bertatapan lama. Wajah Juna pun sudah basah dengan air matanya.


"Sampai kapanpun cuma kamu istriku. Tidak ada wanita lain selain kamu."


"Sayang," Juna menarik tubuh istrinya hingga terduduk di atas kursi roda.


"Kata Awan kepalamu terbentur saat di tabrak. Kok aku lihat baik-baik saja?"


Juna hanya tersenyum kecil. Awan pasti mau bikin Dira khawatir pada Juna. Tangan Juna sudah merayap di pucuk sela rambut istrinya.


"Terimakasih kamu masih mencemaskan aku, Sayang. Tadinya aku takut sekali kalau kamu nggak peduli lagi padaku. Kamu tahu, melihatmu tertawa bahagia bersama lelaki lain saja sudah membuat aku sesak nafas. Sementara kamu menatap benci padaku.


Sebenarnya hanya kakiku yang tertumbur bukan kepala. Ah, Awan bisa saja dia buat istriku ini cemas."


"Mas, aku ...."


"Aku minta maaf kalau sudah membuat kamu menungguku selama itu. Aku bahkan sampai saat ini hanya mengingat statusku baru putus dari Delia. Bantu aku mengingat kembali kenangan indah kita, Dira. Bantu aku menjadi Arjuna yang kamu cintai dan menjadi Arjuna yang mencintaimu."


"Mas,.aku mencintaimu, sejak kecil cinta ini tumbuh. Sejak kamu selalu ada buatku cinta ini bersemi. Dan aku tidak akan melepaskan hal itu."


Cup!


Juna melabuhkan kecupan di dahi Dira. Wajah mereka semakin dekat dengan degupan jantung yang semakin kencang. Tangan Dira merangkum jemari suaminya.


Juna mengecup lembut bibir Dira. Hawa yang begitu panas menyeruak pada keduanya. Masih di dalam ruang rawat, Dira pun seakan menuntun kaki Juna ke ranjang rumah sakit. Juna pun tak ingin menyia-nyiakan momen ini. Juna menuntun Dira agar lebih dekat lagi. Keduanya saling ******* dan menyesap bibir pasangannya. Lidah mereka saling membelit, tangan Dira semakin erat menggenggam kerah kemeja suaminya.


"Aku mencintaimu, Dira."


Dira terus mendesah ketika Juna terus melancarkan serangan agresifnya. Dia menikmati apa yang dilakukan suaminya. Juna pun merebahkan tubuh Dira diatas ranjang rumah sakit.


"Mas, ini rumah sakit." Dira tiba-tiba menghentikan aktivitas panas mereka.


"Astaghfirullah, maaf sayang. Saking rindunya sama kamu."


"Benarkah kamu serindu itu padaku? atau hanya bualan saja."

__ADS_1


"Sangat, sayang. Aku sangat merindukanmu."


"Bohong! kalau kamu merindukanku kenapa kamu tidak pulang langsung ke rumah. Kenapa langsung ke Lembang?"


Juna menangkup kedua tangan Dira. Meyakinkan sang istri kalau seorang anak akan menemui orangtuanya sebelum istri.


"Mama pasti sangat mencemaskan aku, Ra."


"Dan aku juga sangat mencemaskanmu. Mas tahu, betapa sakitnya aku saat terbangun mendengar kabar kalau suamiku kecelakaan saat dalam perjalanan. Kamu tahu rasanya bagai di hantam batu yang besar, sakit rasanya, mas.


Dan lebih sakit lagi saat Jimmy mengakui kamu ayahnya." Dira memalingkan wajahnya.


Juna hanya menunduk meresapi ucapan dari Dira. Dia sadar selama ini sudah membuat Dira mengalami banyak masalah.


"Maafkan aku, sayang. Karena aku, kamu banyak menderita, karena aku kamu di kucilkan teman-temanmu, karena aku kamu diculik om Shahab."


"Sudah, mas. Yang lalu biarlah berlalu. Ambil hikmah dari yang semua kita alami.


Kita pulang yuk, mas. Mama pasti senang sekali kalau kamu sudah pulang." ajak Dira.


"Mama apa mama yang senang." goda Juna.


Juna dan Dira sudah berada di dalam mobil. Keduanya hanya terdiam dalam keheningan. Juna duduk di depan bersama Awan. Jimmy yang sudah tidur di pangkuan Juna. Hanya saja Naura masih bingung memulai pembicaraan pada Dira.


"Tadi pas nawarin duduk di belakang. Biar Naura yang kedepan, nggak ada. Tapi kayaknya nggak ikhlas jauh dari dia."


"Apa sih, wan? nyetir aja sana!"


Juna dan Dira hanya menyembunyikan wajah mereka yang bersemu merah. Keduanya hanya memegang dada mereka masing-masing menahan debaran jantung.


"Ra,"


"Iya, mas."


"Kak Feri jadi nikah sama Tina?"


Deg! Dira pikir ingatan Juna tak terarah sama Feri dan Tina.


"Kamu sudah ingat soal mereka?"


"Belum? sedikit sih, yang aku ingat Feri dulu dendam sekali sama Tina dan Glen."

__ADS_1


"Kok tahu mereka akan menikah?"


"Mama yang bilang. Makanya mama suruh datang ke undangan pengajian kak Feri."


"Oh, jadi datang kesini bukan untuk ketemu denganku. Bukan untuk memperbaiki semuanya. Tapi atas inisiatif mama Salma."


"Bukan gitu, sayang."


"Apa? dari dulu kan emang kamu selalu nurut sama mama Salma. Aku pikir tadi atas inisiatif sendiri, ternyata ..."


"Kalau aku duduk di belakang udah aku bungkam."


Awan tertawa kecil mendengar pertengkaran dua sejoli. Baru saja tadi mesra eh sekarang malah meributkan hal sepele.


"Kita sudah sampai." Awan mematikan mesin mobil. Langkahnya beralih ke belakang jok mobil. Mengeluarkan kursi roda milik Juna.


"Akhirnya aku pulang kesini lagi." batin Juna.


Dira berdiri di belakang suaminya. Menuntun kursi roda untuk masuk ke halaman rumah.


Sebelum masuk ke dalam, Juna memandang di sekelilingnya. Rumah yang tak banyak berubah aksennya. Hanya di depan rumahnya yang dulu hanya tanaman kini di letakkan ayunan anak.


"Ayunan itu di beli kak Feri untuk Amar. Sebentar lagi Amar dan Tina akan tinggal disini sama kita. Dan jika diizinkan aku akan ikut sama kamu ke Lembang."


"Kamu mau ikut ke Lembang?" Dira mengangguk.


"Bukankah sejatinya seorang istri harus ikut kemanapun suaminya berada."


Kewajiban memberi nafkah baru berlaku ketika istri mulai tinggal menetap bersama suaminya usai akad nikah. Artinya, kewajiban suami memberi nafkah pada isteri belum berlaku bila sekedar baru akad nikah saja tapi belum tinggal bersama.Karena dengan tinggal bersama suaminya itulah yang menyebabkan seorang istri berhak mendapatkan nafkah.


Dira menuntun Juna bersama kursi rodanya masuk ke dalam rumah. Karena ada tangga lurus seperti tanjakan.


"Selamat datang kembali di rumah nyonya Dewi Savitri."


"Assalamualaikum," sapa Dira.


Terdengar suara decitan pintu menandakan sang empunya rumah menyambutnya. Wanita paruh baya pun muncul di depan pintu.


"Non, ini beneran den Juna?" ucap Bi Inah.


"Iya, Bi. ini Arjuna." jawab Dira.

__ADS_1


"Alhamdulillah, den. Akhirnya den Juna bisa pulang dengan selamat.


Bu Dewi, non Vira, den Juna sudah pulang." pekik Bi Inah.


__ADS_2