
Pemandangan alam pedesaan membuat hati yang memandanginya nyaman dan tenang,sawah-sawah yang sudah ditanami dengan tanaman padi terlihat bagai permadani hijau yang membentang luas. Burung-burung kecil mulai terbang meninggalkan sarang mereka untuk mencari makanan yang akan dibawa pulang untuk anak-anak mereka.
Suasana pedesaan berbeda jauh dengan suasana di perkotaan.Jauh dari keramaian, udara yang sejuk dan bersih dari polusi, serta suasana tenang dan nyaman.Di pagi hari suasana sunyi sangat terasa tidak seperti suasana pagi hari di perkotaan, ramai dan bising yang disebabkan suara kendaraan bermotor yang lalu lalang.
Mulai terasa udara yang segar dan pemandangan hijau yang menyejukan mata. Sepanjang jalan kita bisa melihat perkebunan jeruk dan perladangan yang semakin menguatkan kesan kehidupan pedesaan yang bersahaja. Senyum ramah petani menambah segar suasana hati.
Dira sudah sampai di desa Tulang Bawang, desa yang kata si Awan tidak tersorot oleh pemerintah. Tapi ternyata kehidupan orang disana sudah terjamah oleh teknologi. Seperti ada tower milik perusahaan seluler ternama, Seperti ada toko-toko yang membuka warnet ( warung internet). Udaranya lumayan sejuk. Itu yang Dira lihat saat mobil mereka memasuki desa tersebut.
Mobil berhenti di sebuah rumah kecil. Rumah sederhana yang terpampang pamplet Bidan Naura Herawati. Dira menarik nafas berat dalam-dalam. Senyumnya mengembang saat Awan menarik tangannya masuk ke halaman rumah Naura.
Keduanya berdiri di depan pintu mengucapkan salam sebagai tanda adab dalam bertamu. Lama mereka menunggu tak ada jawaban. Dira pun melihat ada kursi panjang dari bambu. Wanita itu mengajak Awan duduk di sana.
"Kamu nggak pulang ke keluargamu, Wan?" tanya Dira memulai obrolan.
"Saat ini aku hanya menjalankan tugas dari pak Burhan, Non. Aku mengenal desa ini bukan berarti aku disini untuk berlibur." jawab Awan.
"Masa sih kamu nggak rindu sama keluargamu? Jaka saja pernah bilang dia ingin sekali pulang tapi nggak tega ninggalin opa Han. Aku salut sama kesetiaan Jaka pada opa. Disaat banyak pemuda yang merantau ke Jakarta untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Jaka tetap setia bekerja dengan opa Han. Padahal usia dia sudah cocok berumah tangga"
"Saya kenal Jaka sudah Tiga tahun, non. Sebelum aku tinggal di kost Jaka. Saya kenal sama Jaka dari Opick yang duluan satu kost sama Jaka. Opick itu satu kerja driver travel lintas pulau sama dengan saya. Terus Opick nikah dan kamar Opick saya yang nempatin." cerita Awan.
"Oh, begitu. Terus pekerjaan kamu sekarang apa sebelum gantikan Jaka?"
"Saya masih driver travel lintas pulau,non. Waktu Jaka minta tolong supaya aku gantikan dia. Aku izin dengan alasan mau pulang kampung dalam waktu yang belum di pastikan. Nggak enak juga, sih harus bohong. Soalnya biaya kost aku ya, dari sana. Tapi siapa sangka aku malah beneran pulang kampung." Awan tertawa kecil mengigat apa yang dia lakukan pada tempat kerjanya.
"Seperti kata orang, Wan. Omongan itu adalah doa. Dan sekarang kamu berdiri di tanah kelahiranmu." kata Dira sambil menghirup udara segar meskipun jam menunjukkan pukul dua siang. "Disini nggak panas, ya, wan. Beda dengan Jakarta. by the way, ini yang punya rumah mana, ya? dari tadi kita menunggu nggak muncul- muncul."
Dira berjalan mengitari halaman rumah Naura. Menunggu si pemilik rumah muncul. Nyatanya sudah satu jam sang empunya rumah belum menampakkan diri. Awan mau mengajak Dira jalan-jalan ke sekitar desa. Namun Dira masih sangsi meninggalkan barang-barangnya.
Awan mengintip ke jendela ruang depan kediaman Naura. Mata terfokus pada sebuah photo lelaki dewasa di dinding ruang tamu. Senyumnya mengembang saat melihat photo itu. Seraya memegang jantungnya setelah meninggalkan pintu rumah Naura.
__ADS_1
"Kalian siapa?" tanya seorang anak kecil yang berpakaian putih merah.
"Saya Dira dan ini teman saya Awan. Kami dari Jakarta mau liburan kesini. Saya dikasih alamat ini sama Bi Inah. Katanya ini rumah mbak Naura."
"Oh, cari ibu saya, ya. Ibu tadi jemput saya, dia belok mau ke pasar. Jadi saya pulang duluan. Nama saya Jimmy, Tante. Anaknya Ibu Naura."
"Oh, bapak kamu mana, nak?" tanya Awan.
"Ayah, ke Tangerang, om. Lagi kerja." jawab Jimmy.
"Jadi Naura sudah menikah? tapi kenapa masih ada photo itu?" batin Awan.
"Tante dan Om silahkan masuk dulu." Jimmy mendekati pintu rumah dan mengeluarkan kunci.
Dira memasuki rumah Naura memperhatikan setiap sudut rumah sang empunya rumah. Kakinya terhenti pada sebuah photo. Photo yang membuat jantungnya berdetak kencang.
Jimmy melihat Dira memperhatikan photo ayahnya.
"Aaaayaaahh..." Bibir Dira bergetar saat Jimmy memperkenalkan pria di photo itu sebagai ayah.
"Aaaaayaaah ... jadi mas Juna sudah punya anak lain selama ini. Jadi ...." Dira merasa kepalanya di kelilingi beberapa kupu-kupu. Tubuhnya terasa lemas dan pandangannya gelap seketika.
"Nooon...." suara Awan sayup-sayup hilang dari pendengaran Dira.
*
*
*
__ADS_1
Naura turun dari ojek yang mengantarkannya pulang dari pasar. Sambil menenteng beberapa sayuran dan barang kebutuhan lainnya, wanita itu memanggil nama anaknya. Namun bukan Jimmy yang keluar, melainkan sosok lelaki asing yang datang membantu mengangkat barang-barangnya. Langkah Naura terhenti karena ada orang lain berada di rumahnya.
"Kamu siapa? sedang apa di rumah saya?" selidik Naura.
"Sebaiknya anda ke dalam dulu. Biar nanti saya jelaskan." ucap Awan langsung menyelonong masuk ke dalam rumah Naura.
"Ibu sudah pulang." Jimmy langsung memeluk ibunya langsung menarik ke dalam kamarnya.
"Dia siapa?" tanya Naura melihat Dira masih tak sadarkan diri.
"Katanya dari Jakarta, Bu. Tadi dia bilang Inah... siapa tadi ya?"
"Kami dari Jakarta mau liburan ke sini. Kami di kasih alamat dari Bi Inah yang kerja di rumah orangtua non Dira." Jelas Awan.
"Oh ya saya ingat, Bude Ajeng tadi bilang kalau majikan bi Inah mau kesini dan nginap di tempat saya. Tapi kenapa dia pingsan?"
"Saya kurang tahu, mbak. Sepertinya non Dira kelelahan, karena dia belum lama ini keguguran."
"Ya Allah kasihan banget mbaknya. Kamu suaminya?"
"Bukan, saya asistennya. Suaminya belum lama meninggal dunia." jelas Awan.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun. Kasihan mbak ini, sudah kehilangan bayi dan kehilangan suaminya. Sini biar saya periksa dulu. Jimmy anak om nya tunggu di luar sebentar."
"Baik, Bu. Om Tante nya biar di obatin ibu saya. Ibu saya itu bidan."
Selama dalam pemeriksaan Naura, Jimmy dan Awan memilih duduk di luar. Ada pohon belimbing yang berdiri di samping teras rumah Naura. Awan meminta izin untuk mengambil salah satu belimbing yang sudah matang.
"Om suka belimbing juga?"
__ADS_1
"Iya, sejak kecil om suka banget makan belimbing. hmmm...rasanya segar sekali!" Awan mencicipi belimbing yang dia pegang.
"Sama om, aku sejak kecil suka makan belimbing. kata kakek, ayahku suka buah belimbing." cerita Jimmy dengan riang.