SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 56


__ADS_3

Pukul delapan pagi semua sudah berkumpul di meja makan. Dira di bantu oleh Naura menyajikan hidangan diatas meja. Sop sayur, ikan goreng bumbu, telur dadar dan juga lalapan terhidang di meja makan.


"Mbak Dira masak sebanyak ini? apa nggak mubazir?" tanya Naura sambil menyiapkan teh hangat untuk Sandi.


"Kalau nggak habis kan bisa buat makan siang atau sore nanti. Tapi kalau nggak,bisa di kasih ke siapa gitu." jawab Dira sambil menghidangkan salah satu menu ke meja makan.


Naura memandang menu ikan yang tersaji di meja. Dia tidak enak bilang kalau Jimmy tidak suka ikan, begitu juga Sandi. Tapi karena Dira sudah terlanjur buat dia hanya bisa menerima saja.


"Dari luar wanginya sudah mantul." Sandi muncul bersama Inggar.


"Oh, ya mbak Dira. Ini Inggar, sohibnya mas Sandi." Naura memperkenalkan Inggar pada Dira. Inggar terpesona dengan sosok Dira yang dimatanya manis.


"Saya Inggar Ramadan. Masih single dan maaf pengangguran. Mbak manis dari mana asalnya?"


"Saya dari Jakarta, maaf saya panggil apa ya mas atau kak atau gimana?"


"Panggil Abang saja, mbak. Dari Jakarta ya? pantes mbak wajahnya manis."


"Ehmmm..." Deheman dari samping sambil menyentil siku lengan Inggar.


"Apa sih, Di? Sirik ya? praktek sana sama Naura." kata Inggar kesal karena di halangi kenalan.


"Ingat, dia itu ada suaminya. Tadi kata Naura dia kesini sama laki-laki. pasti itu suaminya."


"Maaf saya memang punya suami kok kak. Tapi sayangnya suami saya sudah punya istri lain. Jadi bentar lagi on the way janda." jawab Dira mengalihkan atensinya ke lelaki di sebelah Inggar.


"Nah, kan, di. Dia saja kasih sinyal sama aku." Inggar terdengar riang.


Dira pun mengalihkan pandangannya dari Inggar ke Jimmy. Walaupun hatinya terasa sesak karena suaminya sudah bersama wanita lain. Tapi dia mencoba menguatkan diri. Tidak terbawa suasana lagi.


"Yuk, semuanya kita makan. Aku sudah masak buat kalian. Oh ya, mbak Naura ada lihat Awan nggak? dari pagi tadi nggak kelihatan."


"Nggak lihat mbak Dira. Coba saja hubungi siapa tahu dia masih sekitar sini."


"Oh iya. Bentar, handphone saya di kamar Jimmy." Dira beranjak dari dapur menuju kamar Jimmy.

__ADS_1


Dira membawa handphone ke ruang depan. Mencoba menghubungi Awan yang sejak pagi tak kelihatan. Sejenak Dira menghirup udara dalam-dalam. Menumpahkan kekesalannya karena Awan tak mengangkat teleponnya.


"Ini orang kemana sih? ngilang saja!" omel Dira.


"Pucuk cinta ulam tiba, kamu kemana saja sih? dari tadi dicariin. Aku sudah masak nih. Yuk, kita makan." Dira menarik Awan ke ruang makan tanpa menunggu jawaban pria itu.


"Inggar," batin Awan.


Awan mendekati Inggar yang asyik bermain sama Jimmy dan Sandi. Tangan Awan mengepal keras, seakan tidak suka kehadiran Sandi.


"Wan, coba deh kamu cicip ikan bumbu buatan saya" kata Dira sambil menempel di pinggang Awan.


"Maaf,non saya tidak suka ikan. Dari kecil saya phobia sama ikan." jawab Awan.


"Tapi nggak ada ayam, Wan. Gimana, dong?"


"Nggak apa-apa, itu ada telur dadar sama lalapan. Ada sop juga. Pasti saya habiskan, Non. kata pak Burhan Non Dira pintar masak." puji Awan.


"Ayo, Sandi. Kamu makan juga masakan non Dira. Jangan dipandangi saja menunya." ajak Awan.


Sandi mengambil piring lalu Naura mengambil nasi. Lelaki itu mengucapkan terimakasih pada Naura. Memberikan senyuman terbaiknya pada Sandi. Inggar melihat itu menggoda temannya yang sedang bahagia.


"Sini bang, aku ambilkan. Mau lauk apa? ikan, sop, lalapan, telur dadar."


"Masukin semuanya dah. Kata sih Wan ini kamu pintar masak. Rugi banget suamimu ninggalin kamu." cerocos Inggar.


Naura melihat Sandi yang lahap memakan ikan goreng bumbu buatan Dira. Dia merasa cukup kaget karena selama yang dia tahu Sandi phobia sama ikan. Tapi nyatanya malah Awan yang phobia bukan Sandi.


"Mas, bukannya kamu tidak suka ikan, dulunya? kenapa sekarang lahap sekali? itu bukannya kamu sering gatal-gatal kalau makan sambal terasi? ini enggak."


"Mungkin faktor kekebalan tubuhnya, Naura. Semakin dewasa kan semakin jarang sakit." jawab Inggar.


"Mungkin juga, Gar. Kamu nggak lupa kan waktu dulu dia sampai demam setelah di kerjain kalian kasih ikan pakai terasi." kenang Naura.


"Kamu kenapa, Wan?" Dira melihat Awan duduk di teras sambil menggaruk tangannya yang mulai bentol.

__ADS_1


"Kayaknya disini banyak nyamuk non." Kilah awan.


Awan merasa ada yang menatapnya secara inten pun mengalihkan atensinya. Selesai makan, pemuda itu pergi ke teras untuk mengalihkan perasaannya. Melihat kedekatan Sandi dengan orang-orang terdekat membuat dadanya terasa sesak. Haruskah dia membuka identitasnya, atau dia masih mencoba menguatkan mental. Awan mengepalkan tangannya, pandangannya beralih ke sosok yang mereka sebut Sandi. Ada amarah yang terkumpul di dalam dadanya. Namun masih dia tahan melihat situasi yang tidak memungkinkan.


Jimmy sudah siap dengan seragam sekolahnya. Sandi pun mengambil kunci motor untuk mengantarkan Jimmy ke sekolah.


Awan melihat Jimmy sudah berseragam sekolah merebut kunci motor dari Sandi. Tanpa mendengar protes sandi, Awan menawarkan pada Jimmy untuk mengantarkan anak itu.


"Aku mau diantar ayah."


"Ayah kamu kan belum sehat. Jadi sama om saja, ya?" Jimmy mengangguk menerima tawaran Awan.


Jimmy hanya menurut saja saat tas nya sudah di bawa Awan. Anak usia tujuh tahun itu memilih naik di belakang punggung Awan. Lalu Awan meminta Jimmy turun dan berpindah ke depan.


"Jimmy di belakang saja, Om." jawabnya lirih.


"Enak di depan, Jimmy. Lihat jalanan, apalagi kamu SD di jalan jalur perbatasan kan?"


"Kok om tahu?"


"Om kan peramal. Dan om ramalkan pulang nanti om ajak kamu jalan-jalan.Mau?"


"Mau, Om. Tapi aku izin sama ibu dulu."


"Om sudah minta izin sama ibu kamu. Tapi pulangnya sore. Mau?"


"Ini Ayah, nak. Ayah kandungmu?" batin Awan.


Jimmy memandang jalanan dengan takjub. Bukan berarti dia tidak pernah diajak jalan-jalan. Sejak kecil dia sudah dikelilingi orang-orang yang memberikan perhatian padanya. Meskipun lebih banyak yang membully dirinya.


Sejak kecil sang ibu sudah menanamkan pada dirinya, siapa ayahnya, siapa kakek dan neneknya, siapa bibi nya. Tidak ada yang di tutupi. Sejak kecil dia selalu di bilang sama ibunya, kalau ayahnya pergi untuk bekerja. Ketika dia menanyakan kenapa ayahnya tidak pernah pulang? Ibunya selalu menjawab " Meskipun dia tidak pulang. Tapi dia ada dalam dirimu, nak. Kamu mirip sekali dengan ayahmu." Tentu saja rasa penasaran itu masih membelenggunya.


Hanya satu pertanyaan yang sering berputar di pikirannya.


"apa ayahku tidak sayang sama kami?"

__ADS_1


"Kita sudah sampai." Jimmy masih terjebak dalam lamunan. Awan menepuk pundak Jimmy mengingatkan kalau sudah sampai ke sekolah. Sambil menenteng tasnya, mencium tangan Awan, meskipun dia tahu kalau lelaki itu hanya tamu di rumahnya. Jimmy pun berjalan menuju gerbang sekolah. Membalikkan badannya, melambaikan tangan ke arah Awan.


"Maafkan ayah, nak."


__ADS_2