SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 155


__ADS_3

"Ma, kak Dira sudah berusaha jujur sama mama. Kenapa mama malah marah sama kak Dira," kata Vira.


Menjadi seorang ibu bagi sebagian orang merupakan anugerah terindah. Bukan hanya mengasihi dengan sepenuh hati, tugas seorang ibu juga menjadi guru pertama untuk anaknya.


Tentu saja setiap ibu di dunia ini ingin memberikan hal-hal terbaik untuk anak-anaknya dalam hal apapun termasuk tumbuh kembang anak. Sebagai orang tua, sebagai seorang ibu kita menginginkan anak-anak kita tumbuh dengan sehat dan baik dan tidak kekurangan suatu apa pun.


Begitu pun yang Dewi pikirkan soal anak-anaknya. Dia selalu ingin menjadi ibu yang terbaik untuk ketiga anaknya. Termasuk dalam hal permasalahan rumah tangga. Bukan maksud dia ingin ikut campur, hanya saja dia tidak mau yang dulu pernah terjadi juga menimpa anaknya.


Kegusaran Dewi memuncak saat mendapati orang-orang di sekelilingnya sudah tahu tentang kehamilan Dira. Sedangkan dirinya baru di beri tahu untuk yang terakhir.


"Kamu tidak akan paham, Vira. Sebagai seorang ibu, sudah pasti menjadi orang yang pertama dalam hidup anaknya. Mengetahui anaknya sudah bisa merangkak, mengetahui anaknya sudah tumbuh gigi atau bisa berjalan. Itu sudah kebanggaan bagi seorang ibu. Ketika anak beranjak remaja ibulah orang pertama yang tahu apa yang dialami anaknya. Dan sekarang seorang ibu kecolongan anaknya sudah berbadan dua


Dan mama juga kecolongan atas pertemuan kamu dan Pandawa. Kalian tega seperti ini sama mama. Hanya sekedar mengabari kalau kamu hamil saja tidak bisa. Nyatanya mama mertua kamu yang lebih dulu tahu."


"Maafkan Dira, Ma. Sampai saat ini Dira belum yakin apakah ini hamil atau bukan. Dira harus menunggu satu bulan lagi untuk memastikan kondisi ini. Dira bukan tidak mau mengabari mama soal ini, tapi .... Dira takut, ma kalau ternyata bukan hamil. Mama tidak lupa kan saat dulu dokter bilang Dira sedang mengandung tapi nyatanya ...." Dira tidak bisa melanjutkan ceritanya. Hatinya sudah di guncang dengan kemarahan mamanya di tambah dengan ketakutan yang menghantuinya.


Juna melihat istrinya masih down langsung memegang pundak istrinya. Dia tidak ingin Dira banyak pikiran. Juna menuntun Dira duduk di kursi makan.


Seperti rencana pesta tahun baru malam ini akan gagal. Mana tadi Panji bilang kalau lelaki itu mau memesan daging ayam sama jagung bakar. Takutnya Panji datang bawa persiapan malah gagal acaranya. Tapi bagi Juna sekarang adalah istrinya lebih penting. Dia tidak mau Dira semakin down dalam kondisi hamil.


"Apakah itu bisa di jadikan alasan, Dira? sebagus atau seburuknya kondisi kamu, apa kamu tidak bisa menceritakan sama mama. Sementara mertua kamu malah lebih tahu kondisi kamu daripada mama. Jadi ini yang buat kamu nyaman diam Dira? mama kecewa sama kamu, Arjuna dan juga Vira," Mama Dewi menghempaskan tubuhnya di atas kursi meja makan.


Dira memegang kepalanya yang mulai terasa berat. Tubuhnya linglung serta berjalan sendiri ke kamarnya. Juna langsung memapah Dira menyandarkan tubuhnya di headboard ranjang.


"Viraaaaa, tolong telepon bidan Ratih. Kakakmu drop lagi." pekik Juna.


"Mama lihat sekarang? kenapa kak Dira belum bisa jujur sama mama. Karena dia sendiri belum yakin dengan kandungannya.


Mama tahu apa yang bidan katakan pada kak Juna. Janin kak Dira memang lemah dari sananya. Kak Dira tidak mau menambah pikiran mama. Kenapa mama Salma yang lebih tahu lebih awal.


Karena dia dan kak Ayu yang menemukan kak Dira pingsan hingga ketahuan hamil. Bukan kak Dira tidak cerita duluan sama mama. Sedangkan dia sendiri saja belum yakin.

__ADS_1


Vira merasa mama sekarang sudah banyak berubah. Apa-apa negatif thinking. Satu yang mama harus tahu Vira tidak pernah dekat ataupun berurusan dengan Pandawa. Dia datang sama Elsa saja aku juga baru tahu. Tiba-tiba mama mengultimatum aku seolah apa yang aku lakukan tidak sesuai keinginan mama."


Dewi mendengar ucapan Vira hanya mencelos memandang Dira terbaring pucat. Sebegitukah menderita Dira dalam hal kehamilannya saat ini. Dewi berjalan memasuki kamar Dira. Duduk disamping Dira. Dewi langsung memeluk Dira di sambut tangisan.


"Maafkan mama, Nak. Kenapa kamu malah lebih menderita di kehamilan keduamu? seharusnya kamu cerita sama mama. Biar kita saling berbagi dan beban di pundakmu menjadi ringan,"


"Dira juga minta maaf sama mama. Karena ketakutan ini aku lupa memberi kabar ini sama mama. Waktu mama bilang kalau mau ke sini untuk tahun baru, aku terpikir mau kasih kejutan ini sama mama. Maafkan aku, Ma." Dira bersandar di bahu mama Dewi.


"Ya ampun mama lupa. Tadi mama minta sama Panji supaya pesan ayam dan jagung untuk malam tahun baru kita. Tapi maaf mama malah merusak suasana," sesal Dewi.


"Aku sudah bilang sama Panji kalau malam tahun barunya batal. Jadi sepertinya Panji tidak akan datang,"


Ting!


"Juna, ajak keluarga Dira gabung di rumah mama. Kami sudah siap untuk acara malam tahun baru," pesan singkat dari Mama Salma.


"Iya, Ma. Sepertinya Juna tidak bisa ikut. Dira drop lagi. Juna tidak mungkin meninggalkan Dira sendirian. Nanti Juna kabari mama Dewi dan Vira untuk gabung kesana,"


"Iya, ma," Juna dan Mama Salma menutup komunikasi mereka.


Juna menyampaikannya pesan mama Salma pada mama mertuanya serta Vira. Mama Dewi pun mengajak putri bungsunya untuk menemaninya ke tempat besannya.


Setelah mengambil handphone dan jaket rajut, Vira pun ikut bersama mama Dewi. Masih dalam suasana tegang keduanya saling diam. Di depan pintu ada Panji sudah berdiri membawa bahan-bahan untuk acara bakar-bakaran.


"Bukannya kak Juna sudah bilang acara nya di batalkan," kata Vira.


"Iya, tapi bahannya sudah terlanjur aku beli jadi aku kasih kesini saja. Siapa tahu mau di buat masakan besok," Panji menyerahkan ayam yang sudah di bersihkan kulitnya. Mama Dewi memasukkan bahan tersebut ke dalam kulkas.


"Tante, saya ajak Vira jalan-jalan boleh?"


Mama Dewi memandang kearah Vira. Lalu kembali menatap Panji.

__ADS_1


"Nak, Panji akan lebih baik kamu ikut kami bergabung di acara tempat mertua Dira. Tante tahu kamu bisa jaga Vira dan Tante percaya kalau Vira bisa jaga diri.


Tapi maaf, nak. Saya tidak bisa mengizinkan Vira pergi dengan lelaki yang belum sah. Kalau memang nak Panji mau ikut acara ini silahkan. Tapi kalau tidak silahkan pulang," kata mama Dewi.


"Ma, Vira mau ngomong sebentar sama om Panji boleh?"


"Bicara disini saja. Mama tunggu," sahut mama Dewi.


"Iya, emang mau bicara disini. Tapi mama duluan saja ke tempat Tante Salma. Nanti aku nyusul. Lagian kan ini masih di teras rumah kak Dira,"


Dewi akhirnya meninggalkan Vira dan Panji berdua di teras rumah Dira. Setelah mama Dewi pergi, Vira pun langsung ke inti pembicaraan.


"Apa dia masih di rumah Om?" tanya Vira.


"Masih, dia tidak bisa berjalan dengan baik. Dia cerita kalau kamu yang buat dia seperti itu. Emang sebenarnya apa yang terjadi? aku lihat dia cukup down saat Elsa di jemput paksa sama orang suruhan papanya."


"Lah emang dia tidak cerita sama Om?"


"Versi dia kamu menuduhnya menghamili calon dia sebelum sama Elsa. Dia juga sempat heran kenapa kamu segitu bencinya."


"Nah, itu om tahu alasannya. Mantan calonnya itu hamil dan dia membatalkan pernikahan. Untuk apa? untuk lepas dari tanggung jawab. Dan aku tidak mau Elsa bernasib sama. itu saja."


"Kamu sudah bilang sama Elsa?"


"Sudah, tapi percuma. Dia malah nuduh aku cemburu. Entahlah rasanya sejak masalah ini persahabatan aku sama dia pecah. Ya walaupun aku tahu kalau orang mabuk cinta memang susah di kasih tahu," kata Vira terdengar pasrah.


"Om pulang saja. Kasihan tamu nya di tinggal sendirian. Aku akan ikut sama mama dulu,"


"Ra, besok aku sama dia akan pulang ke Jakarta. Kalau saran aku, kamu jangan berhenti mengingatkan Elsa. Sebagai sahabat kalian itu sudah menjadi paket lengkap,"


"Iya, Om. Hati-hati di jalan. Kalau bisa om tidak usah mampir ke rumah besok. Nanti bakalan lebih runyam masalahnya. Aku pergi dulu, Om. Kasihan mama nunggu di sana," Vira meninggalkan Panji sendiri di depan teras rumah Dira.

__ADS_1


__ADS_2