SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 196


__ADS_3

Suara langkah sepatu berlari memecah keheningan dalam koridor rumah sakit. Nafas yang tersengal-sengal terdengar dari bibir tebal lelaki itu. Gurat kecemasan tergambar jelas di wajahnya. Tentu saja dia cemas, wanita yang dia cintai sedang berjuang antara hidup dan mati. Berjuang untuk kelahiran buah hati mereka.


Di belakangnya diikuti sepasang lelaki dan wanita paruh baya. Bedanya mereka tidak terlalu terburu seperti lelaki itu.


"Suster, dimana istri saya?" panggilnya melihat suster yang berjalan di depannya.


Suster tersebut bingung. Pasalnya banyak istri-istri yang menjadi pasien di rumah sakit tersebut.


"Maaf nama istri anda siapa?"


"Martina Priscillia Agatha, atau nama Tina," suara Feri masih tersengal-sengal.


"Bentar, pak," Suster itu pergi ke resepsionis tak jauh dari posisi mereka.


"Bu Tina, Ya, Pak. Ada di ruangan VVIP, pasien kalau tidak salah mau melahirkan," jelas suster.


Feri langsung berlari menuju ruang yang di maksud. Dewi dan opa Han hanya menggelengkan kepalanya.


"Kamu ingat Dewi, saat Andre berangkat dari kantor menuju ke rumah sakit. Karena kamu di rumah sementara dia bekerja, bahkan saking paniknya dia meninggalkan mobil nya di jalanan. Karena apa? karena takut melewati momen mendampingi kamu persalinan. Itu juga waktu kamu mau melahirkan Feri,"


Dewi menunduk lemah. Dia ingat saat hendak melahirkan Feri, menanti kelahiran anak pertama mereka. Waktu itu Dewi bahkan tidak tahu kalau anak mereka laki-laki. Zaman dulu belum terlalu tenar yang namanya USG. Memang ada tapi saat itu Dewi tidak terlalu suprise dengan kehamilan. Mana kala dia masih ingin berkarir tanpa di hambat soal anak.


"Kamu akan jadi seorang ibu, sayang. Akan menjadi madrasah bagi anak-anak kita. Aku yang akan kerja, aku yang akan berusaha menjadi kepala keluarga yang baik untuk kalian," kata Andre saat itu.


"Enggak, aku juga kerja. Itu perusahaan punya papa aku. Itu berarti aku harus ikut andil, Mas. Kita bisa bayar baby sitter. Atau apalah yang bisa bantu. Tapi kalau soal perusahaan itu nyawa aku, amanah dari papa. Percuma aku ninggalin kuliah di Belanda, bela-belain kuliah disini tapi hasilnya nggak ada,"


"Terserah kamu, Dewi. Kalau kamu mau urusin perusahaan papa silahkan! tapi jangan lupakan kewajiban kamu sebagai ibu, dia masih butuh ASI, masih butuh perhatian ibunya. Izinkan aku mengurus perusahaan sampai kamu benar-benar sudah siap terjun langsung.


Dan satu hal, aku tidak mau dengar kamu minta pasang KB seperti saat kita baru menikah. Anak itu anugerah, Dewi. Titipan Allah, kalau kamu mau menjaga amanat papa, Feri juga amanat dari Allah yang harus kita jaga dan didik dengan baik," Dewi hanya terdiam.


Dewi tersadar ketika merasa tepukan bahu berasal dari om nya. Burhan rupanya sedari tadi berbicara dengan Dewi. Sayangnya, lawan bicaranya pikiranya entah kemana-mana.


"Kamu kenapa, Dewi?" tanya Burhan.


"Nggak apa-apa, Om? jadi bagaimana dengan Tina?"


"Kamu kemana saja, Dewi? itu tadi Feri keluar lagi. Katanya Tina masih bukaan tujuh. Masih jauh untuk melahirkan, tapi mereka bakal nginap di rumah sakit. Begitu juga dengan Dira," kata opa Han.


"Maaf, Om. Aku lagi banyak pikiran," kilah Dewi.

__ADS_1


"Kamu lagi pikirkan apa? soal Vira? Dewi, om tekankan sama kamu jangan coba memaksa Vira dengan pilihanmu. Kamu tidak lupa kalau keluarga Panji terlibat atas penculikan Vira. Jadi mulai sekarang biarkan dia memilih sesuai kata yg hatinya,"


"Tapi aku juga minta sama om untuk tidak memakai tradisi sayembara jodoh lagi," balas Dewi.


"Kau ini, Dewi, ada saja balasan ucapan om. Kalau soal sayembara jodoh om sudah ketemu sama temannya Johan. Dulu sering main sama Johan saat masih di pabrik kita. Kau tahu kalau Helena adalah teman Om dan teman papamu. Baru beberapa hari ini kami bertemu kembali,"


"Siapa namanya?" tanya Dewi.


"Siapa apanya? kalau kamu mau nanya anaknya Helena sudah berkeluarga apa belum, dia duda, sebenarnya bukan duda sih, dia cuma nikahin istri abangnya. Kayak Turun ranjang,"


"Om, please. Jangan gitulah, masa iya aku di suruh cari pasangan lagi. Di usiaku saat ini lebih penting menikmati masa tua, melihat pertumbuhan cucu-cucuku. Nggak ada pikiran buat nikah lagi,"


"Ya siapa tahu, kan Feri pasti bakal punya rumah sendiri, begitu juga Dira dan mungkin Vira akan menyusul. Kamu juga butuh pendamping. Oh ya om dengar Andre sekarang tinggal sama kalian?"


"Iya, Om. Andre sekarang stroke. Dia saat ini memang tinggal dengan kami. Sekarang dia tidur di kamar dalam ruang kerja," jelas Dewi.


"Apa itu yang membuat kamu enggan buka hati untuk orang baru?"


"Please, Om, jangan mulai lagi. Aku kan sudah bilang, sekarang ini sudah tidak memikirkan soal pasangan lagi. Cukup melihat anak-anakku bahagia. Sudah, Om, Jangan di bahas lagi," Opa Han hanya terkikik melihat kekesalan Dewi.


Lima jam kemudian


"Mas, sakit!"


"Iya, sayang coba kamu ngeden sedikit," kata Feri.


"Aku nggak kuat, Mas,"


"Kamu bisa Tina, kamu pasti kuat. Ada aku yang akan selalu di sampingmu. Kita akan berjuang bersama untuk anak kita. Kamu harus bisa!" Feri terus menyemangatkan istrinya.


Tina mencoba mengikuti langkah yang diminta Feri. Namun ternyata perutnya semakin sakit.


"Aaaa... Mas sakit!" Feri panik melihat ada air keluar dari paha Tina.


Segera dia berlari mencari bantuan. Tampak Jaka berdiri di depan kamar. Feri langsung menginstruksikan Jaka memanggil dokter.


Dokter Melati baru saja selesai memeriksa Dira. Mengecek apakah pasiennya sudah ada tanda melahirkan. Tapi ternyata belum juga. Kontraksi Dira juga sudah berkurang.


Dia pikir masih bisa memejamkan matanya sebentar. Tangannya pun sedang memegang layar pipih yang menempel di telinganya. Langkahnya menghitung setiap petak lantai ubin yang dipijaknya. Dia ingin bertukar kabar pada anaknya di rumah.

__ADS_1


Tatapannya beralih kearah seorang perawat yang berlari kearahnya. Dengan nafas terputus-putus dia menyampaikan ada pasien yang akan melahirkan.


"Bagaimana keadaannya?"


"Bukaan sembilan, Dok. Oke kita siapkan alatnya. Kita akan melakukan proses persalinan normal,"


"Maaas, sakit..." Tina terus mengeluhkan rasa sakitnya.


"Sayang, kamu harus bisa. Ingat baby twins kita,"


Tina langsung di pindahkan ke ruang persalinan. Setelah di check ternyata sudah masuk bukaan sembilan. Kepala bayi pun seperti sudah mau keluar.


Dokter Melati mempersiapkan untuk persalinan normal. Karena dirasa tidak ada masalah dalam kandungannya.


"Sudah bisa dimulai, Pak Feri?" tanya dokter Melati.


Feri mengangguk menandakan persalinan akan segera dimulai. Setelah beberapa saat terjadi drama tunggu menunggu dalam keadaan darurat. Semua yang ada diruangan pun sudah siap dengan jiwa tempurnya. Menyelamatkan seorang calon generasi yang akan melihat dunia, menyelamatkan seorang wanita yang akan berganti status dari istri menjadi ibu.


Aaaaaaa .. uuuuuh... huuuh huuuh ..." Tina terus mengejan.


"Ayo sayang semangat!"


Tangan Tina terus menarik rambut Feri sekuat tenaga. Lelaki itu hanya pasrah menerima amukan istrinya. Feri merasa tidak tega melihat perjuangan berat istrinya, seandainya bisa bertukar posisi dia mau menggantikan istrinya.


Tangan Feri menggenggam erat jemari istrinya, lelaki itu terus mengeluarkan keringat dalam ruang persalinan.


Dalam hatinya berdoa agar anak dan istrinya lahir dengan selamat. Degup jantungnya selalu berdetak kencang saat melihat perjuangan Tina melahirkan anak mereka. Sesekali mengecup kening istrinya. Meskipun dia sendiri lebih tegang dari Tina.


"Mas, ...." Tangan Tina mencengkeram erat leher baju Feri.


"Aaaaaaa.... "


"Ooooeeee .... ooeeeeee...." suara lengkingan tangis bayi terdengar.


"Selamat pak bayi pertama anda laki-laki," ucap salah seorang suster.


"Kita harus mengeluarkan bayi keduanya," seru dokter Melati.


Setelah perjuangan penuh drama, akhirnya bayi kedua Tina dan Feri berjenis kelamin perempuan lahir ke dunia.

__ADS_1


__ADS_2