
Dira melihat pak Arif yang meminta maaf pada dirinya hanya tersenyum kecil. Dia sempat kecewa atas sikap bu Arif tadi malam yang mengatakan dirinya janda itu Gatal. Padahal dia sudah menjelaskan kronologi yang sebenarnya. Tapi mereka seperti tersulut emosi.
"Mbak Dira apa mau memaafkan mereka?" suara pak kades mengagetkan.
"kenapa bapak yang minta maaf? harusnya anak bapak yang minta maaf ke saya. Dia yang mencoba melecehkan saya. Kalau saja Sandi tidak datang mungkin hidup saya sudah hancur."
Inggar pun akhirnya berdiri ke hadapan Dira. Sepertinya ada guratan penyesalan. Inggar pun bersujud di kaki Dira. Memohon ampun pada wanita di hadapannya.
"Maafkan saya, mbak Dira. Saya menyesali apa yang saya lakukan semalam. Saya hanya ingin Jimmy punya orangtua utuh. Itu saja. Saya cuma takut kamu merebut Sandi dari Naura."
"Saya tidak merebut Sandi, Bang Inggar. Saya hanya mengenal Sandi tidak lebih. kalau kamu tidak percaya tanya saja sama Sandi nya sendiri.
Saya memaafkan bang Inggar atas apa yang Abang lakukan semalam sudah bikin saya malu pada satu kampung. Tapi mohon Abang jelaskan ke warga kejadian sebenarnya biar tidak ada salah paham lagi."
Inggar pun akhirnya menceritakan pada warga tentang kronologi kejadian yang sebenarnya. Dia mengakui kalau diam-diam masuk ke rumah Naura. saat tahu Naura pergi bersama Bu Sukma, Inggar pun mendatangi rumah temannya itu. Awalnya dia tidak terpikir untuk melecehkan Dira. Dia datang hanya untuk mengultimatum Dira agar tidak menggangu hubungan Sandi dan Naura. Itu juga dia tahu dari Naura kalau Dira sempat pingsan saat tahu Sandi sudah punya anak.
"Huuuu!" teriak para warga. Apalagi rata-rata yang datang adalah ibu-ibu.
"Jadi bagaimana mbak Dira?"
"Saya memaafkan saudara Inggar. Dan saya mau dia dikasih hukuman sesuai perbuatannya. saya pamit karena kendaraan penjemput sudah datang." Dira berdiri hendak meninggalkan balai desa.
Sudah menjadi kodrat sebagai manusia tidak terlepas dari kesalahan dan ketidaksempurnaan dalam perbuatan. Namun demikian manusia diciptakan juga dibekali dengan sifat-sifat untuk memperbaiki kesalahannya. Salah satu sifat yang dianjurkan untuk kita miliki adalah sifat pemaaf. Sifat pemaaf merupakan sifat yang mulia, karena tidak semua manusia dapat berbesar hati dengan mudah untuk memaafkan kesalahan orang lain.
Hal-hal yang tidak disadari semua orang dalam pergaulan dengan sesama adalah melakukan sesuatu, baik secara lisan maupun perbuatan yang tidak disadarinya telah melukai hati atau perasaan orang lain meskipun hal tersebut dilakukan dengan tidak kesengajaan.
Tapi kalau hal tersebut dibiarkan akan berakibat buruk terhadap hubungan antar individu yang bersangkutan. Untuk itu ketika merasa ada yang melukai hati dan perasaan kita maka sebaiknya kita tidak langsung marah terhadapnya, tetapi cari kebenarannya dahulu agar sikap yang akan kita ambil jangan sampai salah sehingga merugikan diri kita sendiri, dan kalau hal tersebut dibiarkan akan merusak hati kita menjadi seorang yang pendendam dan berfikiran negatif.
"Mbak Dira ibu juga minta maaf atas sikap ibu selama anda disini." Bu Halimah buka suara.
"Saya juga minta maaf, atas sikap saya sama mbak." ibu yang lain pun ikut meminta maaf kepada Dira.
"Ibu tidak salah,kok. Saya juga minta maaf pada ibu dan keluarga Sandi. Jujur dia sangat mirip dengan suami saya yang bernama Arjuna Bramantyo. Ini photonya." Bu Halimah sedikit kaget melihat photo Arjuna yang di sodorkan Dira. Memang benar-benar mirip.
"Sebentar? pak..." panggil Bu Halimah pada suami yang di duduk tak jauh dari pintu balai.
"Iya, Bu." Pak Rohim pun mendatangi Dira dan Bu Halimah.
"Ini kalau nggak salah namanya anaknya Salma pake Bramantyo bukan?" Rohim mengangguk.
"Berarti kamu menantunya Salma?" tanya pak Rohim.
"Iya, pak. Saya menantunya mama Salma." jawab Dira.
"Salma itu adik kandung saya. Berarti kamu adalah menantu saya juga." Dira menyalami Pak Rohim dan Bu Halimah secara bergantian.
__ADS_1
"Dira!" seorang lelaki paruh baya berjalan kearah dirinya. Dengan tongkat andalannya lelaki itu bukan hanya menyapa Dira tapi juga lelaki yang berdiri di sampingnya.
"Pak Burhan," sapa Rohim.
"Kamu masih ingat saya, Rohim?" jawab Burhan
"Masih, pak. Bu, bapak ini yang dulu melamarkan Salma pada bapak dan ibuku. Bapak inj juga banyak bantu ekonomi keluargaku saat Johan masih kerja sama pak Burhan."
"Masya Allah, jadi ini bapak Burhan yang kamu ceritakan, pak." jawab Bu Halimah.
"Iya, Bu. Dulu bapakku menentang hubungan antara Johan dan Salma. Kamu tahu sendiri Salma itu anak perempuan yang paling di sayang kedua orangtuaku. Apalagi karena parasnya yang cantik. Ya, meskipun bapakku sedikit melunak saat pak Burhan mengatakan kalau Johan anak angkatnya."
"Opa kenapa tidak bilang mau kesini? tadi bukannya Jaka datang sendiri? lalu opa sama siapa kesini?"
"Opa dan Jaka sampai jam 1 malam. Terus kami menginap di penginapan tak jauh dari desa ini. Kamu tahu sendiri opa nggak mungkin biarkan Jaka bawa mobil sendirian."
"Rohim, Dira ini cucu saya. Kamu tahu Dira? Rohim ini pakdenya suami kamu. Kakak mama mertuamu."
"Dira sudah tahu opa, tadi pak Rohim sudah memperkenalkan dirinya."
"Pak Burhan dan nak Dira, jika kalian sudi mampirlah ke gubuk kami. Sebagai permintaan maaf saya sama nak Dira. Kalau bisa kalian jangan pulang dulu. Menginaplah di tempat kami." ajak pak Rohim pada Dira dan opa Han.
"Bagaimana, Dira? apa kamu masih mau pulang atau kita tambah waktu untuk hari ini?"
"Awan," panggil Dira.
Awan mendekati Dira dan atasannya. Tak lupa menyalami orang yang sudah memberikan pekerjaan walaupun untuk sementara.
"Terimakasih kamu sudah menjaga cucu saya selama disini. Saya tidak akan memecat kamu. Karena mulai sekarang kamu adalah sopir pribadi cucu saya." kata opa Han.
"Terimakasih, pak. Tapi maaf, pak saya mau pulang kampung. Berkumpul dengan keluarga saya yang sudah saya tinggalkan bertahun-tahun."
"Kalau itu sudah keputusan kamu saya tidak bisa memaksa." opa Han menepuk pundak Awan.
"Sandi," panggil pak Rohim saat melihat anaknya hendak berbalik menjauhi kedua orangtuanya.
Pak Burhan membulatkan matanya melihat siapa yang di panggil Sandi. Sungguh benar-benar mirip dengan cucu menantunya. Lama dia mematung saat Sandi menyodorkan tangannya untuk menyalami pak Burhan.
"Dia anakmu?" tanya pak Burhan.
"Iya, dia anak saya yang nomor dua. Kakaknya Sandi sudah meninggal saat masih SMP karena demam. Usia kakaknya Sandi seumuran dengan anaknya Salma yang tua." cerita pak Rohim.
Sandi dan Dira saling melempar pandangan. Tangan Dira menggenggam erat ke lengan opa Han. Burhan paham pasti cucu salah tingkah pada lelaki muda itu.
"Kamu sudah tahu, nak?" Dira mengangguk.
__ADS_1
"Opa kita pulang ke rumah Naura saja." ucap Dira tiba-tiba.
"Kenapa? apa kamu tidak mau bersilaturahmi dengan pakde suamimu?" genggaman tangan Dira semakin erat. Burhan semakin penasaran kenapa cucunya enggan di dekat anaknya Rohim.
"Bisakah kita bicara?" Sandi mendekati Dira lalu menarik tangan wanita itu.
Dira menoleh ke arah Opa Han. lelaki paruh baya itu mengangguk kecil.
"Pergilah, nak. Kamu nggak usah takut. Anggap saja di depanmu Arjuna. Kamu harus move on, nak."
"Tapi tidak dengan suami orang, opa." batin Dira.
Keduanya kini berjalan mengitari jalanan desa. Masih terhanyut dalam diam. Masih menunduk malu-malu. Entah siapa yang akan memulai pembicaraan.
"Mbak Dira," Sandi memulai obrolan.
"Ya, Sandi."
"Kamu beneran mau pulang ke Jakarta?"
"Iya, aku mau ke tempat mertuaku. Melihat keponakanku yang masih bayi. Umurnya sekitar dua bulan. Eh kayaknya bentar lagi tiga bulanan deh. Sejak suamiku meninggal dunia, entahlah aku merasa dia masih hidup."
"Awas ular!" pekik Sandi.
Dira tentu saja kaget saat mendengar kata ular. Dira Langsung menjerit dan memeluk Sandi. lelaki itu mengulum senyum ketika mendapati sosok manis menempel di pundaknya.
"Kamu ngerjain saya?" omel Dira ketika melihat Sandi senyam-senyum.
Dira dengan cepat melepaskan diri dari Sandi. Lelaki itu malah menarik tangannya memasuki areal persawahan.
"Aku boleh minta tolong nggak?"
"Apa, Sandi?"
"Bisakah kamu menunda kepulanganmu? aku ingin mengenalmu lebih dekat lagi. Kamu tahu sejak awal aku bertemu sama kamu, aku merasa ada seperti ikatan kuat yang tak tahu apa itu? aku akan selesaikan urusanku dengan Naura. Bisakah kamu menunggu?"
"Kamu mau apa? menceraikan Naura? hanya untuk perempuan lain? heh! aku nggak nyangka kamu sepicik itu."
"Aku dan Naura belum menikah!"
"Lalu aku harus percaya begitu? dimana-mana yang namanya laki-laki kalau mendekati wanita pasti begitu. Membual untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Itulah kamu!"
"Itu..." Sandi tidak bisa melanjutkan ucapannya.
Tolong rahasiakan hal ini dari Naura dan juga non Dira, Sandi.
__ADS_1