
"Pak Juna," sapa bidan Ratih.
"Iya, bu bidan. Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Juna.
Bidan Ratih memandang kearah Dira. Dia belum mengeluarkan sepatah katapun. Tapi Juna menebak hasilnya tidak baik-baik saja. satu-satunya yang bisa dia lakukan saat selalu berada di samping Istrinya. Sungguh dia sangat trauma dengan momen ini. Serasa berputar pada masa lalu saat dokter melati mengumumkan hasil USG pada kandungan Dira dahulu.
"Bisa kita bicara sebentar, pak?" Juna mengangguk. Lelaki itu mengikuti arah kaki bidan Ratih.
"Apa ada masalah dengan istri saya?"
"Maaf,pak Arjuna saya mau tanya. apakah Bu Dira sedang mengandung?" Juna mengangguk.
"Kehamilan pertama?"
"Bukan, ini kehamilan kedua," jawab Arjuna.
"Yang pertama sudah usia berapa?"
"Meninggal dalam kandungan." jelas Juna.
"Owh, jadi begini pak Arjuna. Saya harus menjelaskan apa yang terjadi dalam kandungan bu Dira. Istri anda memang memiliki janin yang lemah. Bukan karena fisiknya yang lemah. Tapi justru kehamilan istri anda yang membuat dia gampang drop."
"Jadi harus bagaimana, Bu bidan?"
"Kalau bisa jangan buat dia banyak pikiran. Ibu hamil itu harusnya menikmati masa kehamilannya dengan tenang."
"Baik, Bu bidan."
"Saya pamit dulu, pak Juna. Kalau ada apa-apa hubungi saya."
__ADS_1
"Terimakasih bidan Ratih." Juna mengantarkan bidan Ratih sampai depan pintu rumah.
Juna kembali ke kamar. Ada Ayu yang menemani Dira. Setelah bidan Ratih pulang. Ayu pun pamit. Dia tidak enak meninggalkan Salsa lama-lama dengan Mak Wiwit.
"Sayang, maafkan aku. Karena urusan keluargaku membuat kamu drop lagi. Aku memang bukan suami yang baik buat kamu. Maafkan aku, Dira." Juna mengecup jemari Dira.
Ini memang pertama kali Juna menghadapi kondisi Dira yang drop. Satu tahun yang lalu selama kehamilan Dira. Tidak ada masalah yang mengganggu kehamilan Dira. Paling hanya ngidam bersama. Memang Dira dulu gampang capek. Tapi bukankah itu hal biasa dalam kehamilan.
Memang benar kata Dira, tidak perlu dulu memeriksakan kehamilan. Kehamilan yang masih hitung satu minggu belum bisa di lihat. Tapi ini bukan pertama Juna melihat istrinya drop. Sejak satu minggu ini Dira sudah beberapa kali kedapatan hampir pingsan.
Air mata juna menetes di pojok mata. Mengingat apa yang dialami istrinya saat ini. Hanya dengan memandang wajah Dira yang pucat. Menandakan dia harus lebih menjaga dan siaga dari sebelumnya. Hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini.
"Papa lihat sekarang. Apa yang sudah papa perbuat selama hidup. Juna paham kalau papa ingin yang terbaik untuk aku dan ayu. Tapi papa lupa sudah mengatasnamakan kami demi kepentingan papa. Kenapa, pa. Kenapa papa tidak pernah mendengarkan kami anak-anak papa!" batin Juna.
Juna melemaskan tubuhnya. Kakinya melipat di atas lantai. Kini dirinya duduk dan berhadapan tanpa jarak. Tangannya mengusap rambut Dira. Masih bertahan dengan pejaman matanya.
"Maafkan aku, sayang. Aku janji tidak akan membuat kamu sedih lagi. Kalau aku nakal lagi aku siap di hukum." Juna terus mengoceh meskipun dia tahu Dira belum tentu mendengar ucapannya. Memang Dira bukan tidur koma. Hanya beristirahat setelah di beri suntikan dari bidan Ratih.
Tadi saat Ayu mengambil Salsa dari mama Salma. Ayu menceritakan kejadian di rumah Juna. Bagaimana orangtuanya Maria datang meminta anaknya di bebaskan. Bagaimana Tania menagih janji papa Johan untuk di jadikan menantunya. Salma mendengar cerita itu sangat kaget. Awalnya dia tidak percaya suaminya menyodorkan Juna pada keluarga Suprapto. Bukankah Johan tahu Juna hanya mencintai Dira.
"Enggak mungkin, Yu. Masa papa kamu begitu? masa dia mau menyodorkan Juna sama keluarga itu. Bukankah kita sudah menerima tawaran perjodohan pak Burhan."
"Ayu juga awalnya tidak percaya, Ma. Ayu pikir itu cuma bisa-bisanya Tania saja. Tapi kak Juna membenarkan apa yang di ucapkan Tania. Papa malah meminta kak Juna menolak calon dari pak Burhan. Dan menerima Tania sebagai calon pilihan papa."
"Ya Allah, kok gini sih. Papamu tidak pernah cerita soal perjodohan itu. Bahkan bertanya pendapat mama saja tidak." kata mama Salma sambil mengenang saat suaminya masih ada.
"Maafkan papa ya, nak. Mama dan papa sudah banyak salah sama kalian. Terutama kamu, Yu. Mama tahu kamu selalu jaga jarak karena papa lebih perhatian sama Juna. Ketahuilah, nak. Papamu tidak ada maksud seperti itu. Dia hanya ingin menyiapkan Juna sebagai penerusnya."
"Ayu dulu memang sempat marah sama papa. Makanya Ayu memilih ngekost saat kuliah. Padahal kita ada rumah. Ayu capek di bandingkan sama Delia, pa. Papa selalu bilang Delia adalah perempuan yang sempurna. Seakan papa lupa dia juga punya anak perempuan."
__ADS_1
"Maafin, mama, Yu. Mama lupa ada kalau anak-anak mama lebih dari segalanya. Lebih dari harta yang mama punya." Ayu dan mama Salma saling berpelukan.
"Bagaimana keadaan Dira,nak?"
Juna baru saja melabuhkan tubuhnya di atas kursi ruang tamu. Mendengar suara wanita yang sudah melahirkannya. Juna pun memeluk mamanya.
"Sudah mendingan, ma. Tadi sebelum bidan Ratih datang badannya panas.Tapi, Ma,..." ucapan Juna tertahan.
"Gejala kehamilan Dira lebih parah dari yang dulu. Mama ingat, kan. Dulu Dira sering pusing dan mual-mual. Tapi yang ini lebih parah, ma. Capek sedikit dia langsung pusing. Juna takut, ma."
"Nak, dengarkan mama. Selama Dira hamil, kamu harus lebih banyak di rumah. Bawa pekerjaan kamu ke rumah. Jadi bisa terpantau. Kalau ada klien dari luar ingin bertemu. Suruh saja datang ke rumah atau pakai sistem daring. Jadi pekerjaan lancar, istri kamu tidak merasa sendirian."
"Pada saatnya nanti, anakmu akan menyadari betapa orang tuanya begitu bersabar menanti kehadirannya. Ia akan memelukmu dengan kehangatan yang sama saat kamu memeluknya waktu bayi."
Air matanya meleleh. Juna kembali memeluk mamanya. "Terimakasih,ma."
Menjadi suami yang siaga penting untuk istri selama masa kehamilan. Pasalnya, peran suami saat istri hamil bukan hanya harus mendukung secara fisik, tapi juga secara emosional.Ditambah dengan menjaga istri selama masa kehamilan dan setelah melahirkan. Intinya, peran suami saat istri hamil adalah memberikan dukungan dan pendampingan kepada istri Anda selama masa kehamilannya.
"Apa mama mertuamu tahu soal kehamilan Dira?" Juna menggelengkan kepalanya.
"Dira minta jangan di beri tahu dulu. Karena kehamilannya belum genap satu bulan. Dira masih trauma atas kehamilan yang dulu."
"Iya, mama tahu. Saat melihat hasil testpack Dira syok sekali. Seperti ada ketakutan yang di rasakannya. Mama yakin dia masih trauma dengan kehamilan yang dulu. Kamu sebagai suami harus terus menguatkan Dira. Supaya tidak tenggelam dalam ketakutan."
Kata-kata mama Salma rupanya tertanam di benak Juna. Berjanji akan menjadi suami terbaik untuk Dira. Juna dan mama Salma masuk ke kamar. Menjenguk menantunya yang di kabarkan drop akibat ulah Tania.
"Sudah sejak kapan dia tertidur, nak?"
"Ada satu jam, Ma." Juna selonjoran di samping Dira.
__ADS_1
"Yasudah, mama pulang dulu, ya. Kamu jaga Dira, kalau dia mau sesuatu harus di turuti." wejangan mama Salma.