SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 170


__ADS_3

"Vira,"


Vira menoleh. Seorang lelaki berlari dari kejauhan mendekatinya. Vira seperti mimpi ketika lelaki itu datang menyapanya di koridor kampus.


"Kak Satria?" Vira masih tidak percaya lelaki itu dengan santai berjalan kearahnya.


"Iya, ini aku. Kamu apa kabar, Vira?"


"Aku Alhamdulillah, baik, kak. Kak Satria sendiri apa kabarnya. Pasti anaknya sudah gede sekarang."


Satria mengacak rambut Vira. Sama seperti dulu kalau lelaki itu datang menemui Vira. Tidak ada yang berubah. Hanya saja yang berubah status mereka. Apakah masih ada cinta di hati Vira. Tentu saja tidak! bagi Vira Satria hanya masa lalu. Dia pun sudah membuka lembaran baru pada sosok lain.


"Kak Satria ngapain ke kampus?"


"Aku di suruh jemput Elsa, katanya mau ada pertemuan keluarga gitu. Kalau nggak salah Elsa mau di jodohkan sama ... Bentar, istriku menelepon." Satria berjalan menjauhi Vira.


"Ra, bisa tolong panggilkan Elsa? anakku rewel. soalnya istriku lagi hamil anak kedua. Bisa kan?" Vira menggangguk. Dia meminta Satria menunggu di gerbang depan kampus.


Vira mencari Elsa. Padahal tadi baru saja bertemu Elsa saat jam istirahat. Vira beberapa kali menabrak orang saat berjalan. Mendengar omelan panjang dari orang yang dia tabrak.


Pikirannya melayang saat Satria bilang kalau Elsa ada pertemuan keluarga. Soal perjodohan, Vira tidak lupa saat Elsa pernah bilang kalau dia akan di jodohkan sama bos PT. Madu Berkah. Yang tak lain dan tak bukan adalah Panji.


Sesaat dia menepis perasaannya. Memang sejak batal fitting gaun, Panji sudah tak ada kabar. Tapi Vira yakin kalau lelaki itu tidak mungkin malah mau di jodohkan sama Elsa. Apalagi Panji tahu kalau Elsa adalah sahabatnya.


"El..." Suara Vira tertahan ketika melihat Pandawa berjalan menjauh. Lalu menemui Eko. Vira kenal Eko adalah temannya Jordy. Langkah kakinya pun berjalan mendekati ketiga orang tersebut.


"Sa," panggil Vira.

__ADS_1


Elsa menoleh kearah Vira. Gadis muda itu berjalan santai mendekati sahabatnya. Seperti menggoda antara Vira dan Pandawa.


"Ehmm ... pandangan kearah jarum jam. Ciyeeee yang sudah bertemu pujaan hati. Aku pergi dulu, kak. Kalau mau interogerasi soal Jordy ajak dia saja. Hitung-hitung pendekatan," bisik Elsa.


"Hey, ingat dia itu calon istri bos ku sekarang. Jangan sampai karier ku tamat cuma karena perempuan." balas Dawa.


"Bukannya emang sudah tamat,ya."


"Sa, kamu di cari sama kak Satria. Dia menunggu kamu di depan gerbang kampus."


"Iyakah, astaga. Papa pasti sudah banyak menelepon aku tadi. Mana handphone ku lowbat. Terimakasih ya, Sapi-ku, sayang. Bye ... bye .. kak Danu titip Sapinya, entar ilang .. " teriak Elsa.


Vira membelalakkan matanya pada Elsa. Dia sudah berusaha menjaga rahasia tentang Sapi. Eh, Elsa malah membongkarnya. Gadis itu langsung berjalan meninggalkan Dawa. Dia tidak mau kalau ada yang melihat. Apalagi kalau di lihat Randi, sepupunya Panji.


"Sapi," Dia terhenti bukan karena panggilan "Sapi". Tadi tangan Dawa menahan dirinya. Vira mau tidak mau pun menoleh.


"Apanya?" jawab Vira ketus.


"Kalau kamu "Sapi". Adik yang aku cari selama ini."


"Bukan! dahlah aku mau pulang. Hari ini kak Dira mau pulang dari Lembang. Aku duluan, ya." Vira melambaikan tangannya pada Dawa.


"Tolonglah, bantu aku untuk mencari Jordy," Dawa kaget seketika Eko sudah tak nampak batang hidungnya. Lelaki itu hanya menggaruk kepalanya. Belum lagi Vira yang sudah kabur duluan.


Dawa akhirnya bertanya pada beberapa mahasiswa tentang keberadaan Eko. Beberapa dari mereka mengatakan kalau Eko sudah pulang dengan motornya. Dawa pun meminta alamat Eko untuk mencari keberadaan Jordy.


"Anda kenapa mencari Eko," tanya salah satu mahasiswa.

__ADS_1


"Saya mau cari Jordy. setahuku Jordy dekat sama Eko."


"Untuk apa anda mencari Jordy. Beberapa hari yang lalu juga ada seorang lelaki yang seperti Intel mencari Jordy. Bahkan Eko pun jadi sasaran kejaran orang itu. Apakah Jordy punya hutang dengan anda. Sehingga orang-orang sekitarnya ikut terancam." Dawa kaget, pantas saja Eko seperti enggan menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi.


...****...


"Non," Wati memanggil anak majikannya di sebuah ruangan.


Beberapa waktu yang lalu Kayla di datangi Irul. Lelaki paruh baya itu murka saat tahu anak tunggalnya mencoba menghubungi Pandawa. Irul yakin kalau Kayla pasti mau kabur atau bisa jadi mau membongkar rahasia mereka selama ini.


PLAAAAAK! PLAAAAAK!


Irul menujamkan ayunan tangannya berkali-kali pada Kayla. Tentu saja Kayla kaget. Tidak ada angin atau hujan papanya semarah ini.


"Dasar anak tidak tahu di untung! kenapa kamu mengabari Pandawa? Kamu mau ngadu ke dia? Hah! jawab!"


"Ma... maksud papa apa?" Kayla merintih kesakitan akibat tamparan keras dari Irul.


"Kamu pikir saya tidak tahu, kamu mencoba kabur dari saya. Atau kamu mau mengadu pada Dawa. Minta pertolongan sama dia. Jangan mimpi! dia tidak akan datang kesini."


"Pa, tolong lepaskan Kayla. Sebentar lagi aku akan melahirkan. Tolong bawa aku ke rumah sakit."


"Tidak! kamu tidak akan kemana-mana. Kamu mau mati bersama bayi ini aku tidak akan peduli. Aku tidak pernah mengharapkan anak perempuan. Seharusnya kamu dan mama kamu meninggal tapi nyatanya kamu malah selamat.


Kamu sudah membuat istri saya meninggal dunia. Kamu lahir karena tidak pernah aku harapkan. Aku mau anak laki-laki. Aku sudah mencoba menerima kamu sebagai anakku. Tapi ini balasannya!


Garong! Pati! Bawa Kayla di ruang bawah tanah! jangan kasih makan sebelum saya perintahkan apapun!"

__ADS_1


__ADS_2