
"Tante mohon supaya kamu mendekati Vira lagi. Saya tahu kamu sangat mencintai Vira. Hati ini akan tenang jika anak saya dapat lelaki yang tepat." Suara mama Dewi dari sebarang sana.
"Tante, saya akan senang jika Vira memang punya perasaan yang sama. Tapi nyatanya anak Tante menolak saya. Artinya dia tidak punya perasaan apapun sama saya. Tidak mungkin menjalin hubungan kalau tidak ada feel di dalamnya." jawab Panji.
"Bantu saya melindungi Vira dari seorang lelaki yang hendak masuk ke dalam hidupnya. Lelaki jahat yang mau menghancurkan keluarga kami. Dengan mendekati Vira. Kalau soal cinta bisa tumbuh dengan seiring waktu. Bantu saya, nak. Kamu itu orang baik. Saya yakin dengan kebaikan kamu Vira bisa membuka hatinya buat kamu."
Panji malam itu sudah bersiap-siap untuk pulang ke Jakarta. Setelah satu minggu lamanya dia tinggal di Lembang mengikuti undangan dari komunitas peternak lebah. Kini dia harus pulang karena lusa akan ada party kecil untuk pernikahan Randi dan Mona.
Setelah membereskan barang, dia pun bersiap mematikan sakelar Villa. Namun aktivitasnya terhenti saat deringan telepon dari Dewi Savitri. Panji mengkerutkan dahinya. Merasa aneh wanita itu meneleponnya malam-malam.
Panji mendaratkan tubuhnya di kursi teras villa. Setelah meletakkan tas ranselnya. lelaki itu mengangkat telepon ibu dari pujaan hatinya.
Sekarang setelah permintaan dari Tante Dewi. Panji seperti terkena magnet aneh. Setiap semua yang berhubungan dengan Savira, dia tidak bisa menolak. Seperti ada suntikan semangat imunisasi dalam dirinya. Panji menghidupkan sakelar Villa. Dia urung pulang. Bukankah besok lusa sudah masuk akhir tahun.
"Ah, aku lupa. Bukankah dia sudah menolak aku? kayak menjilati ludah sendiri. Bodoh kamu Panji? tapi kalau memang benar apa yang di katakan Tante Dewi. Aku tidak bisa diam, walaupun aku tidak bisa mendapatkan hati Vira. Tapi aku ingin sekali menjadi pelindung untuk Vira. Kenapa ada lelaki yang tega mau menghancurkan keluarga sebaik Tante Dewi." Kata Panji.
Lelaki itu masuk kembali ke villa. Urung pulang ke Jakarta. Tubuhnya langsung merebah di atas ranjang. Tatapan menerawang ke langit dinding kamar. Senyumnya mengembang ketika bayangan sosok manis seakan ada di hadapannya.
"Kak Panji kok tidur sendirian." sapa gadis itu.
"Aku nggak bisa tidur sebelum ketemu kamu." Panji mengalungkan tangannya membelit pinggang Vira.
"Ra, kenapa kamu cantik sekali? kenapa aku tidak bisa jauh dari kamu."
"Masa? kok kita sama ya? aku juga tidak bisa jauh dari kak Panji."
"Jadi nggak panggil Om lagi?"
"Enggak ah, masa panggil Om sama calon suami? panggil kakak saja, boleh kan?"
"Apa sih yang enggak buat kamu? jangankan panggil kakak, panggil husby juga boleh."
Vira tersipu malu, Panji semakin gemas melihat wajah gadis di depannya memerah. Tangan Panji menarik tengkuk leher Vira. Mencoba menikmati bibir ranum Vira.
Daaaaan.....
__ADS_1
Kriiiiing kriiiiing kriiiiing
Panji terlonjak kaget. Matanya terbuka dengan paksa. Pandangannya berputar ke setiap sudut ruangan. Ternyata dia masih di kamar sendirian. Bahkan sosok Vira tadi ada di dekatnya ternyata hanya mimpi saja.
"Ya Allah, aku kira beneran. Ternyata hanya mimpi."
Kriiiiing kriiiiing kriiiiing
"Aduh ini siapa sih menelepon malam-malam." umpat Panji.
Panji membulatkan matanya saat tahu siapa yang menelepon. Sudah pasti keluarganya yang di Jakarta menunggu kepulangannya.
"Iya, Di."
"Kak Panji sudah pulang?"
"Belum masih di Lembang, Di."
"Lah, kok belum berangkat. Acaranya besok, kak."
"Maaf, ya Randi. Kayaknya aku nggak bisa ikut acara kalian. Aku masih ada urusan disini"
Wah kakakku kayaknya kesengsem sama gadis desa di sana."
"Ssssttt ... bawel ah ... dah ya. Aku ngantuk. Bilang sama keluarga yang lain." Panji langsung menutup teleponnya.
...****...
Suasana pagi di Lembang terasa sangat dingin. Dira terbangun saat mendengar lantunan suara adzan subuh. Tangannya meraba ke samping, Dira baru menyadari pinggangnya terasa longgar. Biasanya saat terbangun ada yang memeluknya erat. Ternyata di sampingnya sudah kosong. Dira pun turun dari tempat tidur berjalan menuju ke luar kamar.
Aroma wangi rempah-rempah mulai menggoda indera penciumannya. Seperti magnet yang menariknya untuk pergi ke dapur. Tampak adiknya bolak balik membuka kulkas, Dira pun melihat suaminya sudah memakai celemek andalan.
Dira menyandarkan tubuhnya di daun pintu penghubung dapur. Udara yang masih dingin membuat Dira merapatkan jaket wol di dalam kamar. Dia sudah tak bisa tidur lagi setelah bangun menjelang shalat subuh tadi. Kepalanya menggeleng melihat aksi keduanya.
Dira memperhatikan adiknya memotong bawang. Juna melihat aksi adik iparnya malah mengomel.
__ADS_1
"Vira, itu masih tebal kamu potongnya. Lebih tipis lagi!" omel Juna.
"Makanya kamu itu harus belajar betah di dapur."
"Kayak yang rajin saja. Dulu saja kak Juna sering makan di rumah. Daripada di rumah sendiri."
"Ada yang pernah bilang makan tidak makan asal kumpul. Aku kan di rumah cuma tinggal sendiri karena mama dan papa sudah tinggal di Lembang. Terus kalau makan sendiri rasanya nggak enak. Dan kalianlah yang menjadi keluargaku setelah keluarga kandungku."
"Tapi anehnya kalau kak Dira yang masak pasti kak Juna datang. Seakan menyambut kedatangan kakak. Padahal kalau kak Dira nggak masak. Kak Juna malah tidak pulang ke rumah kami."
Dira sedari tadi masih asing memantau aktivitas adik dan juga suaminya. Senyumnya mengembang melihat keakraban keduanya. Karena Juna sudah dekat dengan mereka sejak kecil. Baik buruknya Juna, Dira dan Vira serta Feri sudah saling mengetahui.
"Eh, jangan kasih sahang atau cabe ya. Nanti anakku kepedesan." omel Juna saat Vira menggantikan dirinya di penggorengan.
"Ehmmm..." deheman Dira membuyarkan aktivitas mereka.
Juna langsung menarik Dira duduk di meja makan. Meja makan yang letaknya di sebelah dapur. Bak tuan putri Dira di tuntun duduk di kursi yang sebelumnya di bersihkan oleh Juna. Juna membungkuk sejajar dengan perut Dira. Tak lupa dengan kecupan di perut istrinya.
"Anak papa, duduk manis sama mama ya. Papa masak dulu, biar anak mama dan papa sehat di dalam sana. Jangan bandel dan jangan bikin mama kecapekan." Juna mengecup perut istrinya.
"Mas jangan lupa, nanti temani aku periksa ke posyandu." Dira mengingatkan suaminya tentang rencana mereka ikut posyandu.
"Iya, sayang. Nanti siang katanya jam 11 acaranya."
"Aku boleh ikut, kak?" tanya Vira. Dia ogah sendirian di rumah.
"Kamu bukannya ke tempat Elsa nanti?" Dira mengingatkan rencana adiknya tadi malam.
"Elsa belum kasih alamat, kak. Dia masih ngambek sama aku"
"Salah sendiri kamu bikin babak belur calon suaminya" celetuk Dira.
"Sudah ... sudah.. Kalian masih saja bahas soal semalam"
"Tahu tuh, kak Dira. Masih saja bahas musuh." Vira melepaskan celemek meninggalkan dapur.
__ADS_1
"Kamu mau kemana, Ra?" panggil Juna.
"Cari angin"