
Dira merebahkan tubuhnya di atas ranjang kecil milik Jimmy. Tatapan kearah langit yang di hiasi mainan dinding berbentuk bintang. Ketika lampu di matikan, tempelan itu bercahaya bagaikan lampu menerangi kamar.
Bintang di malam hari merupakan puji syukur atas cahaya yang berkelap-kelip di malam hari. Bintang di langit akan muncul kala senja telah tenggelam dan langit berganti dengan malam.
Kehadiran bintang-bintang di malam hari memang sangat memukau dan enak dilihat. Siapapun pun bisa menghabiskan malam di luar sembari menatap bintang-bintang.
Dengan menatap langit, Kamu akan melihat bahwa tidak ada batasan di dunia ini. Kamu bisa melihat tidak ada garis pembatas di langit, waktu, ataupun gravitasi. Kamu dapat menyadari ada banyak kesempatan dan hal tersembunyi yang bisa Kamu raih.
Apa yang terbentang di langit sangat indah. Ada pelangi, matahari, bulan, dan ribuan bintang yang berkelap-kelip di malam hari. Hal-hal kecil seperti itulah yang membuat langit menjadi indah dipandang. Dengan memahami hal ini, Kamu bisa menyadari bahwa keindahan bisa ditemukan di mana saja, asalkan Kamu selalu berpikiran positif.
Dira tak bisa memejamkan matanya. Tubuhnya bangkit dari tempat tidur berukuran 120 tersebut. Langkah kaki berayun menuju jendela kamar yang menghadap ke jalan besar. Hembusan udara terasa menusuk tulang. Meskipun Dira belum membukanya. Tapi dari celah garis jendela sudah terasa. Dira pun merasa urung untuk membukanya.
"Mama, Vira dan kak Feri. Maafin Dira yang keras kepala tidak mendengarkan kalian.
Sekarang Dira tahu apa artinya restu. Meskipun tadinya mama menentang keinginan Dira untuk liburan. Tapi ternyata malah ada kejadian seperti ini. Dan lagi-lagi karena sosok yang mirip Arjuna.
Mama ... Dira mau pulang. Dira rindu kalian."
Dira melipatkan kakinya di atas ranjang Jimmy. Air matanya terus menetes seakan ada penyesalan mendalam. Seandainya dia mendengarkan ucapan mamanya saat itu, mungkin dia tidak akan di usir sama warga. Padahal dia jelas-jelas tidak melakukan seperti yang di tuduh warga.
Dira pun membuka matanya. Sosok lelaki berdiri tak jauh dari jendela kamar. Lama mereka saling bertatapan hingga Dira memilih menutup jendela. Tangan itu menahan jendela kamar Jimmy.
"Kamu mau apa?" Dira berkacak pinggang melototi lelaki itu.
"Aku ingin mengajak kamu jalan-jalan. Bisa?"
"Tidak. Saya mengantuk. Besok saya harus berangkat. Kamu mending menemui Naura. Jaga hati Naura. Semua yang saya alami selama disini adalah karena kamu."
"Mbak, saya minta maaf dengan sikap ibu. Saya juga minta maaf kalau memang sayalah yang buat mbak sampai seperti ini. Tapi ini di luar kendali."
"Apa yang diluar kendali, Sandi?"
"Hati, mbak. Di luar kendali saya hati saya kepikiran mbak terus. Padahal saya dan mbak baru kemarin bertemu. Tapi saya merasa kita bukan orang asing."
"Itu bukan hati tapi nafsu. Lelaki yang sudah beristri mengatakan soal hati pada wanita lain. Dimana otak anda?"
__ADS_1
"Tapi, mbak .."
"Jangan Panggil saya, Mbak. Saya bukan mbak-mu, saya juga bukan istri mas-Mu. Sekarang kamu pulang. Atau
Sandiii! keluar dari sini! atau saya akan teriak biar kamu di pukuli warga."
Dira kaget saat Sandi sudah masuk ke kamar melalui jendela. Tubuh Sandi dan Dira sudah berjarak. Sandi benar-benar merasakan jantungnya berdetak kencang. Begitu juga dengan Dira.
Wanita itu berjalan mundur ketika Sandi mendekatinya. Begitu juga Sandi yang terus maju selangkah.
"SAYA CINTA SAMA KAMU, DIRA. SEJAK PERTEMUAN SEMALAM KAMU BIKIN SAYA TIDAK TENANG! SAYA TIDAK TAHU APA BENAR KITA PUNYA MASA LALU SEPERTI YANG IBU BILANG KE NAURA. TAPI SATU HAL YANG KAMU TAHU!
DARAH SAYA, JANTUNG SAYA, RASANYA BERDESIR PANAS KETIKA KAMU BERSAMA AWAN.
DARAH SAYA SERASA MENDIDIH SAAT INGGAR MENCOBA MELECEHKAN KAMU."
"Saya bukan perempuan bodoh yang percaya begitu saja dengan ucapanmu, Sandi. Saya paling benci dengan lelaki yang punya ikatan. Tapi mengumbar cinta pada wanita lain. Dan saya minta kamu keluar sebelum saya teriak dan di dengar orang banyak. Keluar!
Saya mohon kamu pergi! jangan ganggu saya lagi!" isaknya.
Sandi akhirnya memilih meninggalkan kamar Jimmy. Berjalan menjauhi kediaman Naura. Pandangannya menatap kearah langit. Dengan taburan bintang-bintang di langit. Kelap-kelip cahaya bintang dan bulan yang membulat sempurna.
Sandi mendapati Awan sedang berdiri tak jauh dari rumah Naura. Kedua lelaki itu saling bertemu dan mencari tempat untuk berbicara dari hati ke hati. Apalagi permasalahan mereka sama. Soal identitas.
"Saya mau bertanya sesuatu sama kamu, Sandi?"
"Apa, Wan?"
"Sejak kapan kamu mengakui sebagai Sandi?"
"Wan, sejak aku bangun dari tidur yang entah kapan, mereka sudah memanggilku dengan nama Sandi. Kenapa kamu menanyakan hal itu?"
"Apa kamu dan Naura sudah menikah?"
"Belum. Tapi saya dan Naura akan menikah bulan Mei setelah Uti selesai ujian."
__ADS_1
"Tentu saja aku tidak ingin kamu melukai dua orang wanita sekaligus. Naura dan non Dira. Kamu tahu Naura sangat berharap besar padamu. Kamu non Dira itu sedang sedih karena suaminya tak ingat dirinya lagi."
"Apa kamu mau membantuku untuk mengembalikan ingatanku?" Awan hanya tersenyum kecil mendengar permintaan Sandi.
"Dengan satu syarat?"
"Apa itu, wan?"
"Ikhlaskan Naura dan Jimmy untukku."
Sandi mengerutkan dahinya. Dia cukup kaget dengan permintaan Awan.
Apakah lelaki itu mau menerima keadaan Naura yang punya anak tanpa ikatan pernikahan?
Apakah Naura bisa membuka hatinya dengan pria lain?
Pertanyaan itu berputar di pikirannya. Sandi menyipitkan matanya kearah lelaki di depannya. Tak lama anggukan kepala pun menandakan dia menyetujui keinginan Awan.
Sandi dan Awan pun beranjak meninggalkan gubuk sawah tempat mereka saling bertukar pikiran. Dua lelaki satu generasi itu mengitari area persawahan melihat sawah yang menguning dari kilauan lampu jalan.
"Besok non Dira akan pulang ke Jakarta." cerita Awan.
"Jadi dia benar-benar akan pergi?" Sandi sedikit kaget mendengar kabar Dira akan pulang ke Jakarta.
"Iya, kalau saja Inggar tidak kurang ajar mungkin kami masih lama disini."
"Kamu juga akan pulang, Wan?"
"Tidak, Di. Aku akan disini menyelesaikan masalahku. Masalah kita berdua pastinya."
"Terus siapa yang akan mengantarkan Dira?"
"Besok pagi ada dari opa nya Dira yang akan menjemputnya."
"Siapa namanya?"
__ADS_1
"Jaka" jawab Awan.
Awan sudah sampai di rumah Naura. Setelah tadi memberitahukan Jaka kalau Dira akan pulang besok pagi. Temannya langsung mengiyakan dan katanya sudah di setujui opa Han. Awan salut dengan Opa Han yang perhatian dengan keluarga Dira.