SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 92


__ADS_3

Dira dan Juna menemui mama Dewi. Selain melepas Rindu karena sejak sudah resepsi mereka belum saling bertemu. Dira juga mengabarkan soal meninggalnya Delia.


Sebuah kabar yang mengejutkan bagi semua yang mengenal Delia. Umur memang tidak ada yang tahu. Dira tidak menyangka perjuangan kesembuhan Delia sudah terhenti. Ingatannya beralih saat Rian mengabari soal keberangkatan ke Singapura. Saat itu Dira hanya menemui Delia dan Rian di bandara saja.


Dira berjalan menuruni tangga menuju keruang utama. Dira memanggil Bi Inah lalu memanggil mama dan juga anggota keluarga yang lain. setelah beberapa hari tidak bertemu keluarganya. Akhirnya masa bulan madu itu selesai juga. Pastinya dengan membawa kabar berita yang dia dengar.


Dira masih mencari keberadaan orang-orang di rumahnya. Suasana sepi dan hening membuat dia heran. Bi Inah muncul membawakan teh untuk anak dan menantu majikannya. Dira duduk di ruang tengah bersama Juna. Sambil mengucapkan terimakasih pada Bi Inah. Wanita usia. 47 tahun segera menyingkirkan diri. Dia tidak mau mengganggu kemesraan kedua pengantin tersebut.


"Mama mana ya, Mas? sejak kita sampai tadi mama tidak nampak batang hidungnya. Kak Feri mana pula. Ini dirumah kok pada hilang anggotanya."


"Coba kamu telepon Vira. Mungkin dia lagi di luar sama Elsa." tebak Juna.


"Kok tahu?"


"Bukannya biasanya emang sama Elsa terus, ya?"


Dira mengangguk. Sejauh ini dia memang tahu teman Vira hanya Elsa. Elsa dekat dengan Vira sejak masa SMA. Kalau sebelumnya Vira kemana-mana hanya dengan dirinya dan Satria. Dulu setiap Vira mau jalan dengan Satria Dira selalu diminta jadi pengawal. Kenapa harus dirinya? karena kalau sama kak Feri yang ada Satria jadi tidak fokus. Karena Feri sangat keras pada Vira.


Sama dengan dirinya dulu. Waktu ada teman mau ajak jalan duo kakak selalu menjadi pengawalnya siapa lagi kalau bukan Arjuna dan Feri. Walaupun dia mau pergi bareng Eka dan Ayu. Tetap saja salah satu dari mereka akan mengawal gadis-gadis muda tersebut.


Kembali ke masa kini. Dira meninggalkan suaminya yang menonton televisi di ruang tengah. Langkah kakinya menuju ruang dapur, dimana seorang wanita sedikit lebih muda dari mamanya, kini meracik makanan untuk hidangan makan malam nanti.


"Bi Inah, kok rumah sepi? mama mana?" tanya Dira.


"Loh, ibu kan tadi ke Lembang bareng Bu Salma. Katanya mau ketempat non Delia."


"Jadi mama sudah tahu kabar tentang Delia?" Bi Inah mengangguk pelan.


"Terus kak Feri?" tanya Dira.


"Den Feri pulang ke rumah non Tina yang di Kramat jati. Katanya mau beres-beres. Kan non Tina mau pindah kesini."


"Owh, gitu?" Dira cukup paham setelah mendengar penjelasan dari Bi Inah.


Dira kembali ke ruang tengah dimana tadi dia meninggalkan suaminya. Tampak Juna sedang asyik menonton pertandingan bola. Dira pun ikut bergabung dengan kesukaan suaminya.

__ADS_1


"Ini yang main siapa?" tanya Dira.


"Liverpool," jawab Juna.


"Inj yang pertandingan bola dunia itu, ya?"


"Bukan. ini pertandingan antar club." kata Juna.


Kemenangan Liverpool dipastikan oleh gol Roberto Firmino. Gol tersebut dibuat pada injury time.


Sebelumnya, Flamengo lolos lebih dulu ke final. Tim besutan Jorge Jesus itu menggenggam tiket final usai mengalahkan juara Liga Champions Asia, Al-Hilal, dengan skor 3-1.


Tiket final itu didapatkan Flamengo dengan gaya. Mereka lebih dulu tertinggal setelah dibobol oleh Salem Al-Dawsari.


Flamengo langsung membalas dengan dua gol di babak kedua lewat Giorgian de Arrascaeta dan Bruno Henrique. Satu gol Flamengo lain didapatkan melalui gol bunuh diri Ali Albulayhi.


Menarik untuk menunggu siapa juara Piala Dunia Antarklub tahun ini.


Gooooool


Dira dan Juna berpekik sorak. Karena jagoan tanda bahagia kalau jagoan mereka menang. Meskipun mereka tahu yang di tonton adalah siaran ulang dari channel khusus olahraga.


"Ngapel, Bi Inah." jawab Dira.


"Yang di depan mata sudah ganteng gini, masa apel yang lain."


"Yang ganteng biarlah di simpan dulu. Yang cantik sedang menyelesaikan jamuan buat kita."


"Aku nggak perlu jamuan. Aku maunya kamu." Juna mengalungkan kedua tangannya di pinggang istrinya.


"Mama tadi berangkat ke Lembang bareng mama Salma." ucap Dira tiba-tiba.


"Jadi mereka sudah duluan tahu?" Dira mengangguk.


"Yasudah, besok pagi kita berangkat. Vira diajak nggak?" tanya Juna.

__ADS_1


"Tanya sama orangnya saja? soalnya Vira sedang kuliah." jelas Dira.


"Ini sudah mau ashar. Kok belum pulang." Juna memeriksa jam di tangannya.


"Ya, biasalah namanya anak muda, Mas. Vira mah enak dia mau kemana juga nggak ada yang ngekorin. Lah aku dulu mau pergi saja ada dua algojo yang gerecokin." kenang Dira.


Juna tertawa mendengar keluhan istrinya. Dia memang sempat di daulat sama mama Dewi untuk menjaga Dira ataupun Vira. Bukan karena mama Dewi tidak percaya pada anak gadisnya. Tapi yang dia ketahui, perusahaan saat itu sedang banyak ancaman. Mama Dewi takut ada orang yang mencoba mencelakai anak-anaknya.


Juna pun kembali ke kamarnya. Dia bingung mau melakukan aktivitas lain. Padahal biasanya dia tak pernah malu melakukan apapun di rumah itu. Dulu waktu masih bujangan Juna kerap menginap di rumah Tante Dewi. Tidak ada celah ketika membaur dalam keluarga itu. Begitu juga Ayu dan juga Eka. Semuanya sudah seperti keluarga sendiri. Tapi sekarang dia merasa canggung di rumah mertuanya.


Langkah kakinya menuntun kearah kamar depan. Lampu yang sangat menyala. Di teras tersebut ada seorang anak muda yang duduk tengah fokus dengan laptop. Kalau dari wajahnya di tebak usianya sekitar 17 tahunan.


"Itu namanya Krisna. Dia anak Tante Santi, temannya mama. Kata Tante Santi dia tahu penjualan rumah ini dari online. Kami sempat bertemu di Bengkulu. Karena Tante Santi mau jemput anaknya yang tinggal sama neneknya.


Mas tahu sebelum Panji dia termasuk orang yang mengejar cintanya Vira. Cuma bagi Vira, Krisna itu masih kecil. Mas tahu sendiri kan, Vira itu suka sama pria yang sudah dewasa."


"Ternyata Vira banyak fans nya, ya. Aku pikir cuma Satria saja yang cinta sama Vira. Tapi kasihan Satria."


"Kenapa Satria, Mas?"


"Sebelum kita menikah aku pernah ketemu dengan teman yang dekat sama istrinya Satria. Dia bilang sama aku, kalau Satria itu cuma jadi suami sambung."


"Suami sambung?" Dira kaget.


"Istrinya Satria itu sudah hamil dengan pacarnya. Sempat jadi buron dan meninggal di tembak polisi. Dan katanya Satria di jodohkan oleh orangtuanya, supaya anak yang di kandung ada ayahnya.


Dan istrinya Satria ini adalah saudaranya Elsa."


"Ya Allah, begini banget nasib Satria. Tapi emang Satria orangnya baik, Mas. Aku yakin dia sudah tahu konsekuensi pernikahannya."


Suara adzan ashar berkumandang. Dira dan Juna bergantian mengambil wudhu. Mereka pun melaksanakan sholat berjamaah di rumah. Sekaligus mendoakan temannya yang sudah tiada.


Tidak ada seorangpun yang ingin kehilangan orang terdekatnya. Sebagian besar dari kita tidak akan siap untuk menghadapi peristiwa tersebut, meski kita juga tahu bahwa kematian tidak akan bisa dicegah.


Kematian orang yang berharga seperti sahabat akan meninggalkan kesedihan seperti halnya ditinggal oleh saudara kandung. Meski tak punya hubungan darah, sahabat adalah keluarga lain dalam hidup yang bisa kita pilih.

__ADS_1


Sulit membayangkan hidup tanpa ditemani oleh sahabat. Begitu juga ketika dirinya telah tiada. Menerima kepergiannya akan menjadi sulit karena sahabat memiliki pengaruh yang kuat dalam hidup seseorang.


Baik Dira maupun Juna tidak menyangka kalau Delia akan pergi secepat itu. Banyak kenangan yang mereka lalui bersama Delia. Meskipun Dira tahu banyak yang di lakukan Delia kepada dirinya..


__ADS_2