
Tadi siang Dawa memaksa Kayla untuk periksa ke dokter. Melihat kondisi Kayla yang sering mual dan muntah. Sebagai calon suami, tentu saja Dawa tidak ingin terjadi sesuatu pada Kayla, wanita yang dia cintai.
Cinta? entahlah dia sebenarnya tidak yakin apakah itu cinta atau bukan. Pastinya ada suatu kewajiban untuk menjaga Kayla sesuai dengan amanat Irul, ayah angkatnya.
Beberapa tahun yang lalu
Pandawa Danuarta berdiri di depan sekolah dasar. Kakinya tak lelah menegak di area gerbang sekolah tersebut. Menunggu seseorang yang dia rindukan. Saat ini yang dia rasakan rasa sayangnya pada si gadis cilik itu sebagai seorang kakak. Mungkin karena dia anak bungsu. Dia juga memang suka anak-anak.
"Kamu lagi? kenapa kamu sering kesini? bukankah ini jam sekolah?" sapa satpam yang sudah hapal wajahnya.
"Saya menunggu sapi, pak. Saya mau bertemu dengan dia." kata Dawa.
"Tidak ada yang namanya sapi, emang kamu pikir ini peternakan. Sekarang kamu pergi atau saya panggil petugas untuk ngusir."
"Tapi, pak...." Dawa masih berkeras untuk menunggu gadis kecil itu.
Satpam penjaga sekolah memanggil beberapa kawan untuk mengusir Dawa. Daripada dia jadi tontonan, lebih baik pergi dari tempat ini.
"Sapi, kakak mau pindah. Kakak ingin sekali bertemu dengan kamu. Ya Allah kenapa sebegitu susahnya aku bertemu dengan anak itu." keluh Dawa.
"Bagaimana?" suara lembut itu menyapanya.
"Gagal, kak. Aku tidak bisa lagi bertemu dengannya. Mungkin takdir tidak bisa berpihak." Dawa masih merasa lemas.
"Sebenarnya kamu sayang sama Sapi, ya kan?" tebak Padma.
"Ya tentulah, kak. Dia sudah seperti adikku sendiri."
"Enggak, aku menilainya beda. Kamu itu sayang sama dia melebihi perasaan seorang kakak sama adiknya. Kamu itu punya rasa spesial sama dia." kata Padma.
"Kakak ini ada saja. Mana mungkin...."
"Kalau bukan cinta ini apa?" Padma menunjukkan sekotak surat yang dimasukkan kedalam botol.
"Ya itu kan aku buat untuk kenangan sama Sapi. Kakak kan tahu dia sering sama kita ketimbang sama keluarganya. Aku sudah sesayang itu sama dia. Dan kalau kita pergi nanti entah kapan bisa bertemu lagi."
"Namanya aslinya siapa kak?" tanya Dawa.
__ADS_1
"Savira." jawab Padma.
"Nama orangtuanya? Kalau bisa aku lacak, aku bisa menemuinya dirumahnya."
"Kakak minta jangan berurusan dengan mereka."
"Tapi, kak..."
"Kakak mohon, mohon sangat jangan berurusan dengan mereka lagi. Tidakkah kamu dengar waktu itu kakak bilang apa? semua beasiswa di cabut. Mereka juga memblokir semua sekolah favorit supaya kamu tidak bisa sekolah disana. Pilihan kamu cuma satu, ikut Om Irul tinggal di daerah. Kakak akan cari kerja supaya bisa menunjang pendidikan kamu."
"Sebenarnya kenapa mereka segitunya sama kita? apa salah kakak sama mereka?"
"Kamu tidak perlu tahu, Danu. Yang pasti kamu harus jadi orang sukses. Bahkan lebih sukses dari anak-anak mereka. Dan kakak minta lupakan Savira. Dia masih kecil, masa depannya lebih panjang."
Setelah itu Dawa ikut bersama Irul. Tinggal di sebuah daerah Jawa jauh dari keramaian kota. Kalau di sebut kota tapi masih dalam kabupaten. Irul tinggal bersama putri kecilnya yang bernama Kayla. Umur Kayla tak jauh dari usia Savira.
Dawa yang mulai dekat dengan Kayla dari kecil hingga gadis itu SMA. Dia mulai melupakan janjinya pada Vira, untuk meminta gadis kecil itu menunggunya. Kayla SMA dan Dawa yang sebentar lagi akan selesai kuliah. Diminta Irul agar menjalin hubungan lebih serius lagi.
Dawa sudah punya usaha yang semuanya modal dari Irul. Dia membangun Global Machine yang awalnya usaha pengelolaan besi bekas. Hingga Irul meminta Dawa masuk dalam perusahaan milik Dewi Savitri.
Apalagi setelah tahu dari Irul kalau Andre, suami dari Dewi adalah lelaki yang sudah membuat kakaknya depresi. Hingga sakit-sakitan akhirnya meninggal dunia. Dari kisah itu Dawa bertekad membalaskan apa yang menimpa sang kakak. Apalagi Irul menceritakan semua keburukan keluarga Dewi Savitri.
"Ya Allah, bagaimana ini? kalau kak Dawa tahu bisa habis aku. Papa sangat berharap kalau menantunya adalah kak Dawa. Padahal papa tahu kalau aku sedang hamil anak Jordy."
Kayla kalut setelah Dawa tahu yang sebenarnya. Apalagi kalau sampai Irul mengetahui keinginan Dawa untuk membatalkan pernikahan mereka. Sesaat Kayla menghirup nafas dalam-dalam. Mencoba menetralisir perasaannya yang sudah tak karuan.
"Nona Kayla Asmarani" suster memanggil nama Kayla.
Dawa celingukan mencari Kayla yang tak kunjung kembali dari toilet. Lelaki itu langsung menyusul Kayla, ada rasa cemas takut terjadi sesuatu pada calon istrinya.
Tak berapa lama Kayla muncul. Wajahnya semakin pucat. Dawa langsung memapah Kayla dan membawa masuk ke dalam praktek dokter.
"Selamat siang, ada yang saya bisa bantu?" tanya dokter yang bernama Safarina.
"Begini, dokter. Tunangan saya beberapa hari ini sering muntah-muntah. Nafsu makannya menurun karena apa yang dia makan selalu keluar. Saya mau periksa apa yang menimpa tunangan saya." kata Dawa.
"Nona silahkan berbaring di sana. Biar saya periksa." Kayla sudah pasrah jika memang ini saatnya ketahuan. Lagipula dia sudah menyuruh anak buah papanya menyingkirkan Jordy. Kayla sudah mengecek tempat tinggal Jordy. Menurut orang sekitar Jordy sudah beberapa hari tidak pulang.
__ADS_1
Sambil berbaring dia pun berdoa semoga ada keajaiban. Semisal papanya datang atau apalah. Selama di toilet Kayla sudah mengadu ke Irul kalau Dawa mengajaknya ke rumah sakit. Meskipun belum ada respon dari papanya. Kayla yakin papanya akan bertindak.
"Sebenarnya Kayla sakit apa, dok?" tanya Dawa.
"Maaf, kalau saya lancang sama kamu, Nona. Kapan kamu terakhir haid?" tanya dokter Safarina.
Kayla sudah menebak kalau dokter cantik itu akan membahas soal ini. Dia masih diam tak bergeming. Sementara Dawa seperti hapal dari arah pertanyaan dokter.
"Dokter, saya..." Masih nada takut-takut.
"Kay, jangan bilang kalau kalau kamu..."
"Iya, saya sarankan Nona Kayla langsung menemui dokter melati. Dia yang paham soal ini. Saya hanya dokter umum."
Dawa langsung membawa Kayla ke dokter Melati. Dawa tahu tentang dokter cantik itu karena beberapa kali bertemu saat Dira masih koma.
"Ada yang bisa saya bantu?' tanya dokter Melati.
Dawa mengatakan keluhan seperti yang dia ungkapkan pada dokter sebelumnya. Lelaki itu pun meminta memastikan apakah Kayla itu hamil atau tidak.
Mampus aku!
Oh tuhan! Tolong selamatkan aku!
BRAAAAAK!"
Kayla hanya menunduk tanpa berani menegakkan kepalanya. Tangannya gemetaran ketika mendengar dengusan nafas kasar. Habislah dia sekarang setelah lelaki itu mengetahui yang sebenarnya. Habislah dia karena pernikahannya yang sudah di depan mata tinggal angan semata.
"Siapa yang melakukan ini sama kamu, Kay! siapa pria brengsek yang membuat kamu seperti ini!" amuk Dawa.
Kayla masih diam membisu. Bagaimana mungkin dia bisa cerita soal Jordy, sementara papanya mengancam soal suami sirihnya. Papanya juga meminta Kayla memaksa Dawa untuk menikahinya.
"Jawab!" suara Dawa yang meninggi mengagetkan Kayla.
"Apa kurang perhatian yang aku beri selama ini! apa kurang semua ini, Kayla! sampai kamu berselingkuh dengan pria lain. Hingga sekarang kamu hamil. Apa yang akan aku bilang sama papa kamu? kalau dia tahu kamu hamil sama laki-laki lain." amuk Dawa.
"Iya, kurang. Karena pikiran kakak bukan sama aku. Pikiran kakak hanya pada si sapi. Entah sapi siapa? entah kerbau entah apa kek! Itu kekurangan kakak. Aku pernah minta sama kakak kan, jangan lagi mencari gadis itu? tapi apa pernah kak Dawa mendengarkan aku?"
__ADS_1
"Itu bukan alasan yang logis Kayla. Apa karena itu kamu bisa seenaknya berselingkuh! Dan maaf aku tidak bisa .." Dawa hendak meninggalkan Kayla.
"Kamu nikahi Kayla, Dawa." suara bariton muncul di tengah ketegangan dua anak manusia.