SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 230


__ADS_3

Di hadapannya ada seorang lelaki. Sosok sempat dia lupakan selama bertahun-tahun. Tak pernah terpikirkan akan duduk bersanding di depan penghulu. Bukan hanya penghulu, ada kakaknya ada mantan tunangannya ikut menjadi saksi.


Sungguh kejutan yang konyol tapi dia pun bahagia. Tak pernah bermimpi bisa bersanding dengan Pandawa. Bahkan pikiran itu hampir pupus tatkala mamanya semakin kuat memproklamirkan pernikahan keduanya.


"Aku hanya menundukkan kepala, menahan degup jantung tak beraturan. Saat tadi aku hanya berpikir ini lah jawaban akhir hubungan aku dengan kak Danu. Saat tadi aku ingin menangis tapi tak bisa mengeluarkan air mata.


Puing-puing penyesalan menari-nari di pikiranku. Kenapa tidak ku terima tawaran kak Danu untuk kabur bersama. Daripada aku menjalani hidup dengan lelaki yang tidak aku cintai.


Benar kan kata ku, bohong aku merasa kuat menerima permintaan Opa dan mama. Bohong kalau aku ikhlas dengan semua ini. Tapi demi kebahagiaan mama aku rela. Melepaskan semua yang telah terjadi,"


"Saudara Pandawa Danuarta, apakah anda siap?" suara penghulu memecahkan suasana hening.


Bukan Pandawa yang tersadar dari lamunannya. Vira pun ikut terkesiap saat namanya lelaki di sampingnya di panggil. Keduanya kembali bertatapan lalu menunduk sambil tersenyum.


"Savira, maukah menikah denganku? kita mengarungi bahtera rumah tangga bersamaku. Kita telah banyak melewati rintangan dari yang ringan dan sampai yang berat. Kita pernah terpisah oleh jarak dan waktu. Dan sekarang kita berdiri di sini depan penghulu, mengikat hubungan yang kekal dan abadi.


Aku memang bukan lelaki yang sempurna. Tidak sekeren Arjuna, tidak se bucin serta humoris seperti kak Panji. Tapi aku berjanji akan membahagiakan kamu sampai maut memisahkan,


sekali lagi aku tanyakan maukah kau menikah denganku?"


Vira hanya menunduk tanpa berani menegakkan kepalanya. Dalam hatinya sungguh senang dengan lamaran Pandawa. Meskipun yang harus dia tampakkan gengsi semata. Sesaat dia tersadar, ada penghulu yang sudah menunggu, ada kakaknya dan juga Panji yang duduk di dekat penghulu.


"Sebelum aku menjawab permintaan kak Danu, izinkan saya bertanya terlebih dahulu. Saya pernah di tinggalkan seseorang hanya karena masa lalu yang buruk. Padahal saya juga tidak menginginkan hal itu. Saya pernah ...." Belum selesai Vira bicara Dawa menutup bibir Vira dengan jari telunjuk.


"Setiap orang punya masa lalu, Vira. Saya juga punya masa lalu yang buruk. Bukankah kamu tahu itu. Jadi untuk apa melihat ke belakang. yang kita fokuskan saat ini adalah masa depan,"


Vira menarik nafas dalam-dalam. Memberikan senyuman yang manis pada calon suaminya.


"Saya Savira Gayatri, mau menjadi istri untuk kak Danu. Menjadi wanita yang akan bersama dalam suka maupun duka. Aku tidak mau sebuah akhir yang bahagia. Aku ingin selamanya bahagia bersamamu karena aku tak akan pernah mau kita berakhir."


Dawa dan Vira duduk di kursi altar akad. Tangan Pandawa sudah berjabat dengan Feri Andreas selaku wali nikah.


"Saudara Pandawa Danuarta saya nikahkan dan


kawinkan adik saya yang bernama Savira Gayatri binti Andreas Dermawan dengan mas


kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai."


"Saya terima nikahnya Savira Gayatri binti


Andreas Dermawan dengan seperangkat alat


sholat di bayar tunai."


"Sah!"


"Saaah!".

__ADS_1


Wali nikah membacakan doa doa setelah ijab


Kabul selesai. Pandawa menampakkan rasa lega nya. Dia sudah memenuhi janji pada Vira, janji yang bisa di bilang cinta monyet. Keduanya saling


melempar senyum lalu menunduk malu-malu.


Cincin pernikahan pun disematkan di jari


masing-masing. Vira menyalami tangan lelaki


yang sekarang resmi menjadi suaminya.


Sementara Dawa melabuhkan kecupan di


kening wanita yang sudah sah menjadi istrinya.


Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih."


Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya.


Suara mc menggema mengucapkan selamat pada kedua mempelai pengantin.


"Selamat untuk Danu dan Vira, Selamat menempuh hidup baru. Semoga cinta dan kebahagiaan selalu mengisi hari-hari kalian.


Semoga pernikahan kalian menjadi pernikahan abadi yang dapat membawa kebahagiaan bagi orang-orang sekitar.Tidak ada pernikahan yang sempurna di dunia ini, tapi semoga kalian bisa saling menerima dan melengkapi satu sama lain hingga maut memisahkan,


Vira dan Danu menundukkan kepalanya lalu melambaikan tangan ke semua para undangan. Mama Dewi, opa Han, Oma Helena serta Deka pun mendekati kedua mempelai.


"Danu maafkan sikap saya selama ini sama kamu. Saya tahu kamu sudah berjuang mendapatkan cinta Savira. Kamu tahu saya sempat trauma dengan apa yang dilakukan Padma pada keluarga kecil kami," kata Dewi.


"Mama, saya tidak pernah dendam pada anda dan keluarga. Saya hanya sempat dendam pada Om Andre atas apa yang dilakukannya pada kakak saya. Dan ternyata om Andre tidak salah sama sekali, memang beliau pernah terjebak hubungan terlarang dengan kakak saya. Saya sadari kalau kak Padma juga salah terlalu terobsesi dengan suami orang.


Saya juga minta maaf atas apa yang saya, kak Padma dan Om Irul lakukan pada keluarga kecil anda,"


Menantu dan mertua tersebut saling maaf memaafkan. Sebagai manusia biasa mereka pun tak luput dari salah dan dosa. Dewi sadar sikapnya terlalu keras pada Pandawa, mengingat apa yang pernah di jelaskan pada Kayla dahulu. Begitu juga sebaliknya, Dawa pun memaklumi sikap Dewi sebagai bentuk trauma dari perbuatan kakaknya dan irul.


"Nak," Deka memeluk putra semata wayangnya.


"Pa, terimakasih sudah memberikan kejutan buat aku. Saya minta maaf selama tinggal sama papa, sering nyusahin papa,"


"Kamu nggak pernah nyusahin papa, Nak. Papa juga salah dalam hal itu terlalu lama menemukan kamu. Sehingga harus terdidik dengan orang seperti Irul. Papa juga minta maaf atas apa yang terjadi sama ibumu dulu, semua yang di lakukan Oma Helena juga gara-gara papa, karena papa menentang keinginan Oma kamu dulu,"


"Sudahlah, Pa. Yang lalu biarlah berlalu, ambil hikmah atas semua yang terjadi dalam hidup kita,"


"Sudah, samperin istri kamu. Kasihan dia sendiri di dekat penghulu,"


Dawa memandang Vira yang sudah berada di dekat keluarga besarnya. Terselip rasa haru karena dia dan Vira sudah sah Dimata agama dan negara.

__ADS_1


Terjawab lah sudah doa nya selama ini bahwa Vira lah sandaran terakhir. Anugerah terindah dari Allah untuknya.


"Sebentar lagi kita akan mengadakan prosesi sungkeman," suara mc menggema di lokasi.


Beberapa orang mulai sibuk menyalami pengantin baru. Sebelum nantinya pasangan pengantin akan mengikuti proses acara berikutnya. Elsa berjalan diantara para tamu undangan. Dari jauh dia memandang haru atas kebahagiaan sahabatnya.


"Mas, aku tinggal dulu, ya," Elsa mendengar obrolan pasangan tak jauh darinya.


"Kamu mau kemana, sayang?"


"Mau ke toilet dulu, emang kamu mau ikut? kita belum muhrim. Sabar Napa?"


"Ya, aku masih merasa asing di sini. Tidak ada yang aku kenal,"


"Nggak lama, Kok," wanita mendaratkan kecupan di pipi lelakinya.


Elsa awalnya akan berbalik arah. Setelah wanita itu pergi akhirnya Elsa tahu siapa yang bermesraan dengan wanita tadi.


"Non!"


PLAAAAAK!


Elsa berlari menangis di tempat yang sedikit sepi. Belum lepas dari ingatannya bagaimana Pasha mengungkapkan perasaannya, bagaimana lelaki menikmati bibirnya. Lalu menghilang berbulan-bulan tanpa kabar. Sekarang lelaki itu muncul dengan santainya bersama wanita lain. Seakan tidak ada beban sama sekali.


"Non," Sapaan itu terasa dekat, Elsa memilih tetap membelakangi Pasha.


"Kenapa kakak kesini? nanti pacarmu cari," gusar Elsa.


"Saya tahu kamu marah atas apa yang kamu lihat tadi. Maafkan saya, Elsa," Elsa sudah menebak itu akan di ucapkan Pasha kepadanya.


"Lalu? kenapa masih disini? setelah apa yang kamu lakukan sama saya. Setelah janji manis terus kamu menghilang. Dan Sekarang kamu muncul mengobral janji pada wanita. Ah iya, aku lupa, kamu hanya bodyguard saja. Yang kamu lakukan saat itu hanya menyenangkan hati anak majikan," Elsa sudah sedikit tenang.


"Dan saya sudah melupakan semua yang terjadi diantara kita, saya sadar posisi, non Elsa. Tahu diri tidak akan bisa menjangkau anda. Apalagi jauh dari selera menantu bagi pak Irwan Chandra. Maka itu saya memilih pergi menata hidup baru tanpa ada tekanan. Dan Moza adalah gadis yang mendampingi saya saat down selama ini,"


Elsa hanya diam sambil mendengarkan ucapan Pasha. Masih mode saling membelakangi keduanya saling menunduk. Elsa tidak ingin membantah ataupun berdebat dengan Pasha. Percuma juga, Pasha sudah punya pilihan hati.


Memang awalnya Elsa memilih cuek setelah Pasha menghilang. Tak menampik kalau dia juga suka sama Pasha.


Menyerahkan bibirnya pada bodyguard yang menemaninya sejak kecil. Itu yang dia sesali saat ini.


Hatinya masih sakit, perasaannya masih kecewa.


Amarah dan kesal masih membelit jiwa.


"Saya mencintai non Elsa. Sampai saat ini sebenarnya..."


"Jangan ucapkan cinta kak Pasha. Kalau hanya ucapan tapi tidak sinkron di hati sama saja kamu hanya mempermainkannya hati wanita." Elsa berjalan menjauhi Pasha.

__ADS_1


__ADS_2