SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 43


__ADS_3

Langit sore ini terlihat mempesona. Entah sejak kapan dia mengagumi anugrah terindah milik Allah SWT. Entah sejak kapan dia menyukai menatap langit sambil duduk di loteng rumahnya. Sebenarnya bukan loteng melainkan atap yang di buat untuk meletakkan jemuran. Gulungan awan seakan mengikuti iringan hatinya. Ada rasa kedamaian dalam hatinya.


"Bapak tahu kamu pasti disini. Dulu kamu suka sekali main di loteng. Bareng sepupumu si Juna. Kalian itu bagai pinang di belah dua. Mirip sekali, entah apa kabarnya sekarang. Terakhirnya bapak ketemu sama buklikmu waktu kamu masih tiga tahun dan Juna berusia sudah SD.


Sejak ayahnya Juna sukses buklikmu nggak pernah bertukar kabar lagi sama kami. Buklikmu itu adik bapak. Hanya saja dia melangkahi bapak. Tapi itu bukan masalah buat bapak, ya kalau dia jodohnya sampai masa bapak larang."


Rohim ingat saat Sandi masih kecil. Sehabis pulang subuh dia sering mengajak Sandi duduk diatas loteng. Sandi sangat suka yang berbau astronomi. Dia selalu merangkai hamparan bintang di langit menjadi bentuk seperti singa, panah atau apapun yang kurang dia pahami.


"Di, bapak punya satu permintaan buat kamu. Bapak sudah tua,Di. Harapan bapak satu-satunya cuma kamu. Saat melihat Jimmy tumbuh bapak seperti melihat kamu saat kecil. Kalian sangat mirip. Bapak sangat yakin dia benar-benar anakmu. Kamu tahu, Di. Saat aku dan Salma masih kecil, kami hidup dengan ibu sambung bukan ibu kandung. Nenekmu yang asli meninggal setelah melahirkan Salma. Sejak kecil Salma tahunya, nenekmu yang sekarang adalah ibunya.


Saat kamu pergi dari rumah, ibumu sangat sedih. Belum lagi sewaktu ibunya Naura meninggal dunia saat tahu anak perempuannya tidak jadi menikah. Kami di kucilkan warga.


Maaf, nak. Bukan bapak mengungkit yang sudah berlalu. Tapi bapak dan ibu sudah tidak enak sama nak Naura. Dia tetap menjalin silaturahmi sama kami, meskipun dia tahu kamu entah kapan kembali. Jimmy bahkan lebih sering bersama kami ketimbang dengan sanak famili Naura. Maka itu bapak sangat berharap kamu dan Naura ..."


"Pak, aku ...."


"Hari sudah mulai gelap kamu bersiap-siaplah. Nanti sehabis isya kita mendatangi kediaman Naura. Kalian itu harus menikah. Ada Jimmy diantara kalian." kata pak Rohim meninggalkan putra sulungnya.


Sandi tetap tidak bergerak dari loteng. Tubuhnya di rebahkan masih menatap langit sesaat dia memejamkan mata. Menikmati tiupan angin sore menenggelamkannya dalam pejamkan mata. Sesaat dia pun tertidur.


Angin sepoi-sepoi membawanya kedalam alam mimpi. Kakinya berjalan menuju atap gedung. Seorang wanita sedang berdiri menatap dunia luar. Sejenak dia berhenti melangkah, berharap tidak mengganggu keasyikan wanita itu.


"Kakak mau apa?" pertanyaan itu langsung meluncur dari wanita itu tanpa menoleh.


"Apakah kami mencintai Rian?"


langkah kakinya mendekati wanita itu. Sekilas mereka bertukar pandang. Wanita itu memalingkan wajahnya. Tubuh langsing itu berbalik untuk meninggalkan lokasi. Untungnya dia sudah mengunci pintunya.


"Kakak mau apa?" lagi-lagi dia mengulangi pertanyaannya.


"Yakin mencintainya?" kakinya terus berjalan mendekati wanita itu.


"Yakin."


"Jadi itu sudah menjadi jawaban lamaranku waktu itu."


"Lamaran? Lamaran mana yang kakak tawarkan. Kak, aku bukan perempuan bodoh yang mau saja ditipu. Anda sadar tidak? Sejak lamaran anda semuanya kacau! Aku di jauhi sahabat, bahkan Delia pun enggan melibatkan aku di pertunangan kalian."


"Aku mencintai kamu, Dira. Perasaan itu tumbuh seiring kebersamaan kita satu tahun ini. Aku sadar sikap akan menyakiti banyak pihak, tapi ini yang aku rasakan. Aku..."

__ADS_1


"Cukup. Kakak tidak pernah punya perasaan apapun sama saya. Begitu pun say, tidak ada perasaan khusus pada anda. Anda mendekati saya karena di gantung selama satu tahu oleh Delia. Itu artinya apa? Saya cuma buat pelarian. Jadi anda jangan mimpi bisa memperdayai saya. Permisi."


"Kalau memang kamu tidak mencintaiku, kenapa setiap kita berbicara kamu tidak pernah mau memandangku? kenapa sejak saat aku melamarmu, kamu terus menghindari aku? Jawab Dira!"


"Bukankah kakak sudah tahu jawabannya. Kalau aku menghindar itu tanda aku malas bertemu dengan anda. Setiap kita bertemu, kak Juna selalu membahas soal lamaran itu, bahkan saat Delia sudah kembali kakak masih mendekatiku, jangan maruk kak. Kak menerima pertunangan Delia dan harus konsisten dengan Delia."


"Tapi, Ra ..."


"Satu lagi kak Arjuna. Tolong bilang sama orang-orang yang salah paham kalau kita memang tidak ada hubungan apa pun. Nama saya sudah buruk dimata teman-teman."


"Tunggu! dengarkan aku dulu..." kakinya berlari mengejar wanita itu.


"Di...Ra!"


Sandi mengerjap matanya yang terbuka lebar. Pandangannya terarah pada langit yang sudah mulai gelap sambil terengah-engah. Nafasnya mulai tak beraturan bagaikan dikejar setan. Sandi berdiri hendak meninggalkan loteng.


"Ya Allah, siapa wanita tadi. Kenapa seperti dekat? apa dia ada di masa laluku. Apa dia yang membuat aku lari dari Naura? ah, tidak. Kalau benar dia wanita yang membuat aku pergi dari Naura, kenapa dia tidak pernah aku lihat selama disini.


Ya Allah, kenapa wanita itu menyebut Delia, Rian. ..Siapa mereka?"


"Aaaaaarrrrg!" pekik Sandi memegang kepalanya yang sedikit pusing.


"Kakaaaak!" Uti yang disuruh menyusul sang kakak. Menemukan Sandi yang sempoyongan.


"Kakakmu kenapa, Ti?" tanya Rohim saat meletakkan Sandi di kamarnya.


"Nggak tahu, pak. Tadi pas aku sampai sudah begini." adu nya.


"Ada apa, Pak? Sandi kenapa lagi?" ibu Halimah panik melihat kondisi putranya.


"Sandi pingsan di loteng jemuran, tadi." kata pak Rohim.


"Ya Allah ini bagaimana, pak? kita mau ke tempat nak Naura."


"Bapak dan ibu saja yang berangkat. Biar aku dan kak Inggar yang jaga kak Sandi." jelas Uti.


"Kamu ikut kami, nak. Nggak bagus yang bukan muhrim satu rumah. Walaupun saya percaya Inggar nggak mungkin begitu, tapi maaf nak Inggar, saya masih was-was."


"Nggak apa-apa, pak. Uti nya bawa saja. Saya juga tidak berani jaga Sandi kalau ada Uti."

__ADS_1


"Yasudah, kita sholat Maghrib dulu. Jamak langsung sama isya. Biar hemat waktu." kata ibu Halimah.


"Bu, jangan di jamak. ibu dandan habis sholat isya saja. Jamak kalau kita dalam perjalanan jauh. Sementara kak Naura masih satu kampung sama kita. Beda kelokan saja. Nggak sampe 10 menit juga sampai." jelas Uti.


"Benar kata Uti, bu, pak. Isya nya dirumah saja. Setelah isya baru berangkat." Inggar pun berkomentar.


Malam itu keluarga Sandi sudah berada di kediaman Naura. Tampak beberapa keluarga Naura sudah berkumpul di rumah peninggalan orangtua Naura. Paman dan bibi pihak Naura pun sudah menyambut keluarga Rohim.


Naura tampak duduk di kamar. Karena peraturan keluarga kalau calon tidak boleh keluar kamar setelah lamaran selesai. Dengan perasaan tak menentu Naura di temani putranya yang sudah tidur. Tentu saja menguping pembicaraan lamaran tersebut.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.


Saya selaku keluarga dari Sandi Kurniawan ingin melamar nak Naura Salsabila. Seperti yang kita ketahui keduanya sudah punya penghubung yaitu Jimmy Kurniawan. Jadi apa salahnya kita satukan mereka dalam tali pernikahan." kata pak Rohim membuka acara lamaran.


"Terimakasih pak Rohim. Saya sebagai wali dari Naura Salsabila hanya bisa mendukung untuk kebahagiaan mereka. Saya lihat sejak pulang Sandi mulai bisa mempertanggungjawabkan atas Naura. Jadi apa salahnya kita satukan mereka kembali." kata pak Tauris, selaku paman Naura.


"Alhamdulillah, bagaimana kalau kita minta Naura keluar untuk membicarakan hal ini?" usul Bu Ajeng istri pak Tauris.


Bu Ajeng membawa Naura keluar dari kamar. Naura terlihat cantik dengan balutan gaun brokat warna silver. Baik Rohim dan Halimah terpesona dengan kecantikan calon menantunya. "Calon mantu kita cantik sekali, pak." puji Bu Halimah.


"Iya, bu. Serasa lihat ibu masih muda." kata pak Rohim. Bu Halimah menunduk malu-malu.


Bagaimana nak Naura apakah kamu bersedia menerima lamaran anak kami, Sandi?" tanya pak Rohim.


"Assalamualaikum," sapa seorang lelaki yang muncul di depan pintu kediaman Naura.


"Waalaikumsalam," jawab semua yang ada di ruangan.


"pucuk dicinta ulam tiba, baru mau di bahas kamu sudah sampai disini." pak Rohim senang anaknya menyusul ke tempat Naura.


"Iya, pak. Saya merasa tidak enak kalau cuma kalian yang datang sementara saya hanya di rumah." Sandi mengalihkan pandangannya kearah Naura.


"Kenapa aku kepikiran perempuan di mimpi tadi?" batin Sandi.


"Nak?" Bu Halimah membuyarkan lamunan putranya.


Sandi menatap wajah kedua orangtuanya. Wajah yang sangat berharap dengan keputusannya. Jika dia menolak Naura, itu artinya untuk kesekian kalinya dia menghancurkan perasaan orangtuanya. Tapi jika dia menerima Naura itu artinya dia juga menyakiti perasaan Naura. Sejenak Sandi memejamkan mata. Lagi-lagi wajah itu kembali menari-nari dipejamannya.


"Saya menerima Naura sebagai calon istri saya."

__ADS_1


"Saya juga menerima Sandi sebagai calon suami saya."


Malam ini sudah di sepakati bersama keduanya siap melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Meskipun sebenarnya Sandi masih ragu dengan keputusan itu. Setelah pembicaraan penuh kebahagiaan dan kehangatan dalam keluarga tercapai kesepakatan bahwa akan diadakan pesta kecil di desa Tulang Bawang. Tepatnya di kediaman Naura. Pak Rohim pun pamit pulang perasaan lega karena sudah menebus persaan bersalahnya selama bertahun-tahun. Akad nikah akan dilangsungkan bulan lima setelah ujian akhir sekolah Uti.


__ADS_2