
Lantunan suara adzan berkumandang. Juna terbangun untuk membersihkan diri. Mandi wajib karena telah bergumul dengan istrinya. Namun sebelumya, Juna mencoba bangunkan Dira. Mengingat dia tak mungkin sholat sendiri tanpa istrinya.
"Sayang, bangun sholat subuh." kata Juna yang masih meringkuk di dalam selimut.
Tak ada reaksi. Juna yakin istrinya masih sangat lelah. Waktu terus berjalan, Juna takut tidak bisa mengejar Subuh jika menunggu istrinya. Juna pun mengambil baju-baju mereka yang berserakan. Masih terekam dalam ingatannya permainan panas yang mereka lakukan tadi malam. Sisi liar istrinya yang membuat dia senang. Tak apa Dira begitu, asal hanya bersamanya.
Juna pun memasuki kamar mandi. Membersihkan seluruh tubuhnya. Tentu ketika akan menghadap sang maha pencipta harus berpenampilan baik. Harus wangi dan bersih.
Ceklek!
Juna melihat sang istri sudah duduk di pinggir ranjang. Tubuhnya yang polos di tutup dengan handuk. Dira berjalan mendekati suaminya. Senyuman khas istrinya membuatnya salah fokus.
"Mas, sudah mandi. Mau sholat subuh, kan? tunggu aku, Mas. Aku mau mandi dulu." Dira melewati tubuh Juna memasuki kamar mandi.
Adzan subuh kembali terdengar. Juna tidak tahu di mana letak mesjid di sekitar Ancol. Tapi dia pernah mendengar nama Masjidil baitul Rahman di sekitar Ancol. Mungkin kalau nanti ada jeda liburan dia akan menumpang sholat disana.
Juna membuka gorden kamarnya. Posisi hotel yang memang menghadap pantai Ancol. Lokasi kamar Juna berada di tingkat lantai 5. Dengan pemandangan dimana cahaya di ujung laut menandakan Waktu pagi akan tiba.
"Mas," suara sapaan lembut menandakan dia harus fokus sama kewajibannya.
"Kamu cantik kalau pakai mukena." Puji Juna.
"Ooo ... jadi kalau nggak pakai mukena nggak cantik?"
"Ya nggak gitu, Sayang. Apapun yang ada dalam dirimu itu sudah cantik bagiku. Mau kamu pakai make up atau tidak kamu tetap Dira ku. Wanita yang aku cintai."
"Sudah, Mas. Nanti keburu habis subuhnya."
"Ya, Allah. Terimakasih sudah diingatkan."
Juna dan Dira pun melaksanakan sholat subuh bersama. lantunan ayat suci Al-Qur'an terdengar dari suara bariton di depannya. Dira pun mengikuti apa yang di ucapkan imamnya. Hanya lebih pelan seperti berbisik.
Setelah sholat, Juna mengambil buku ayat suci dari dalam kopernya.
"Kamu tahu sayang, sewaktu di Tulang Bawang banyak hal yang menyadarkan aku. Tentang waktu yang tidak bisa kembali. Tentang semua yang kita jalani selama hidup di dunia. Tentang bekal yang akan kita bawa nanti. Semua itu menyadarkan aku kalau banyak sekali yang sudah ku melalaikan tugasku sebagai umat muslim."
"Mas, ngobrol nya nanti saja. Kita mengaji dulu."
"Ya Allah, kenapa setiap di dekatmu bikin aku lupa diri. Tapi bukan lupa diri negatif, lupa diri yang positif. Karena ada sosok halalku yang takkan bergeser walaupun banyak wanita yang akan mencoba masuk."
"Mas, please."
Juna dan Dira membuka Al-Qur'an kecil. Ayat demi ayat mereka lantunkan bersama. Hampir satu jam mereka akhirnya menyelesaikannya beberapa bait ayat Al-Qur'an. Selesai menyelesaikan ayat-ayat Alquran. Juna mengambil air mineral yang disediakan hotel. Sementara Dira menyeduh teh hangat untuk suaminya.
"Mas diminum dulu teh nya. Mumpung masih hangat." Juna mengambil cangkir teh dari tangan Dira. Suara seruputan membuat Dira berkerut.
"Terimakasih, sayang. Teh nya enak sekali." puji Juna.
Langit mulai menampakkan cahayanya. Juna mengajak istrinya untuk jalan-jalan sekitar hotel. Tangannya tak lepas dari wanita yang semalam dinikahinya untuk yang kedua kalinya. Tampak beberapa orang sudah memadati pantai, melihat terbitnya matahari.
Dira berdiri di dekat batu karang. Menghirup udara pagi. Hembusan angin seakan membelai wajahnya. Rambut Dira terbang mengikuti alunan angin.
__ADS_1
Juna mengambil karet gelang yang ternyata terselip di kantong celananya. Dengan cepat dia merapikan rambut istrinya hingga terbentuk kuncir rapi.
"Cantik, ya, Mas." Dira menoleh kearah suaminya.
"Kamu lebih cantik dari apapun." jawab Juna.
"Gombal." Dira memencet hidung Juna.
"Tapi ada rasa tersendiri melihat matahari terbit dari pantai. Selama ini kita biasa lihat yang terbenam." kata Dira.
"Iya, selama ini kita hanya tahu bagaimana matahari terbenam. Tapi kita jarang melihat matahari terbit yang ternyata lebih keren dari terbenam. Apalagi kalau sama orang yang kita sayangi."
Juna mengajak Dira bermain di pantai. Tangan kekar itu menarik istrinya berlari di area pantai. Setelah lelah berlari di sekitar pantai Juna menarik Dira dengan jarak yang lebih dekat. Deru nafas keduanya sangat jelas terdengar. Keduanya kini tak berjarak lagi. Juna menarik leher Dira menikmati bibir ranum Istrinya.
"Mas," terdengar Dira mencoba mengambil nafas sejenak.
"Iya, sayang."
"Kok aku ngerasa ada yang kurang, ya?" entah kenapa Dira merasa ada yang janggal.
"Maksudnya?"
"Aku nggak tahu kok kepikiran sama mama. Maaf, ya, Mas."
"Nggak apa-apa. Wajar sih, kamu biasa sama mama terus. bahkan setelah kita nikah pun waktu itu kita masih sama mama.
Tapi aku minta hari ini kita quality time, ya. With you my love."
Dira mencium pipi suaminya. Juna hanya tersenyum nakal melihat sikap istrinya. Tak lama dia kembali mengangkat tubuh Dira.
"Kita mau kemana, Mas?"
"Ke kamar."
"Bikin anak!"
****
KEKASIHKU MENANTUKU (MANTU JADI IPAR)
Sinopsis:
Dia adalah Karina Gadis cantik yang tumbuh di keluarga Broken Home. Mamanya beberapa kali menikah dan bergonta-ganti pacar. Hingga suatu hari dia mengetahui adanya hubungan gelap antara kekasihnya, Dodo dan Kania, sang mama.
Ina berusaha menjalani harinya seperti biasanya setelah mamanya meninggal. Kisah cintanya dengan sang kakak tiri, Rangga, berakhir tanpa kepastian. Hingga sosok baru datang mengobati lukanya, Namun sebuah perasaan itu baginya salah. Karena lelaki itu suami keponakannya.
Ina menerima donor jantung dari keponakannya. Sejak saat itu dia melewati debaran kencang saat bersama Alam, suami keponakannya. Apakah Ina dan Alam bisa menyatukan perasaan mereka? Melewati tentangan dari sang kakak.
Cinta yang rumit dibumbui konflik keluarga. Dendam lama sang kakak pada besannya memperkeruh hubungan mereka.
"Jika aku bisa memilih aku ingin hidup dengan keluarga biasa saja."
__ADS_1
~Karina~
"Aku mencintaimu, kamu mengingatkanku pada mendiang istriku."
Blurb:
"Aku mncintai oranglain kak. Tapi sepertinya akan bernasib sama seperti kak Rangga. Seharusnya rasa itu tidak ada, kak. Kakakku tidak menyukainya."
Mata Jihan melirik ke arah Ina. Jihan pamit untuk masuk kedalam dan meninggalkan Ina sendiri di bangku.
"Apa orang itu, aku?" Ina tersentak saat mendengar suara di belakangnya. Tangan itu menggenggamnya erat.
"Jawab, Na apa kau mencintaiku?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena kamu adalah menantu kakakku."
"Apa itu bisa menjadi alasan?"
"Bisa. Buktinya baru saja aku katakan."
"Tapi aku mencintaimu, Karina. Aku selalu merasa ada Gita dalam dirimu."
"Gita..Gita... dan selalu Gita. Gita sudah tiada, Alam. Kamu harus ingat itu.
Oh, ya. Bukannya sejak awal aku selalu dikaitkan dengan mendiang istrimu. Kau selalu saja merasa dibayangi semua yang berkaitan dengan dia."
"Gita tidak akan pernah mati. Dia ada disini dan selamanya disini." Alam menepuk dadanya.
"Lalu bagaimana denganku? Tidak ada, kan! Tidak ada tempat buatku. Kamu mendekatiku karena aku mirip Gita. Iya kan, Lam? Kalau aku berwajah lain mungkin akan beda ceritanya.
Kamu pikir aku tidak pernah tahu apa yang kamu pikirkan selama ini. Selama kita dekat kamu memperlakukan seolah aku adalah Gita. Kamu dan Juga Kak Lia selalu memperlakukan aku seperti Gita masih hidup.
kalau kamu mencintai gita kenapa kamu tidak pernah membuatnya bahagia."
Alam terdiam. Dia selalu meyakini kalau mendiang istrinya selalu bahagia bersamanya. Dia heran kenapa Ina menuduhnya seperti itu.
Ina menatap Alam dengan sinis "Simpan saja buat kenang-kenangan. Aku tidak butuh cintamu. Kamu itu pembawa sial. Gita selalu menderita saat bersamamu. Dan aku bukan Gita yang gampang membuka hati dengan lelaki seperti kamu."
Alam menunduk lemas. Seakan sakit mendengar ucapan Ina. Selama ini dia sangat meyakini bahwa Gita bahagia bersamanya.
"Iya, aku paham. Aku tidak lebih dari lelaki tak berguna dimatamu, dimata mama Lia, dimata keluarga kalian. Aku tahu diri kalau aku bukan lagi menantu di keluarga itu. Makasih, Na, kamu membuka mataku.
Mulai sekarang aku tidak akan mengganggumu lagi. Kalau kita bertemu anggap aku tak ada." Alam pergi meninggalkan Ina.
"Lam... Alam!" Ina berlari mengejar Alam tak memperdulikan panggilannya.
Alam masuk ke mobil meninggalkan gadis itu. Menahan rasa sesak di dadanya. Lama dia terdiam disebuah tempat, menumpahkan yang sedari tadi menahan.
__ADS_1