SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 49


__ADS_3

Dira duduk di depan balkon rumahnya. Menatap bulan yang membulat sempurna. Cahaya bulan yang kuning kemerahan sedikit membuat hatinya tenang. Setelah selesai sholat isya matanya tak bisa terpejam.


Malam tak berbintang, terpaku sepi disini. Hanya rembulan malam yang menemaniku. Sering ku bertanya, mengapa hatiku rindu. Hanya rembulan malam menemaniku disini.


"Dira," Dira memutar tubuhnya ketika namanya di panggil.


"Mama," jawab Dira melemah.


"Kamu sudah makan?" tanya mama Dewi.


"Dira belum lapar, ma." jawab Dira.


"Mama tahu kamu masih kesal karena mama melarang kamu pergi. Maafkan Mama, Nak. Bukan mama ingin mengekang kamu. Mama hanya takut kamu kenapa-kenapa. Mama hanya takut kamu melakukan sesuatu karena perasaan hatimu sedang kalut. Biasanya kalau hati sedang tak tenang ada saja kejadian tak terduga. Mama ingin kamu tahu kalau kami selalu ada buat kamu, nak. Mama menegur jika ada salah, mama marah jika ada sesuatu yang tak baik, mama lakukan itu semua karena sayang sama kamu, nak. Jangan kamu merasa sendiri karena kami ada buat kamu. Mama, ada Vira, ada Feri, ada opa. Semua yang ada disini sayang sama kamu, Ra.


Tapi jika kamu merasa tidak nyaman disini mama tidak memaksa. Kamu sudah dewasa, sudah pernah menikah. Sudah tahu baik dan buruk jalan kehidupan. Mama sebagai orangtua hanya bisa mendoakan kamu, nak."


Dira memandang mama Dewi sejenak. Ada rasa bersalah karena sikapnya akhir-akhir ini. Ada rasa bersalah karena keegoisan diri yang membuat semuanya runyam. Sesaat Dira menundukkan kepalanya, meminta maaf pada mamanya atas sikapnya akhir ini.


"Maafkan Dira, ma. Selama ini Dira cuma mikirin diri sendiri. Dira lupa kalau kalian bersikap seperti ini karena sayang sama aku. Benar kata mama, saatnya menata hidup yang baru. Menyongsong hari esok menjadi lebih baik. Tapi jangan minta Dira untuk membuka hati untuk lelaki lain, ma. Dira belum bisa."


"Emang kapan mama minta Dira untuk buka hati ke lelaki lain?"


"Kata Vira, itu Pandawa baik sama kita karena mau mendekati Dira."


Mama Dewi tertawa mendengar kata Dira. Sejujurnya dia suka pada sosok Pandawa yang ramah dan sopan. Entah kenapa Pandawa mengingatkan pada sosok yang dia kenal.


"Biarkan Vira berpikiran seperti itu."


"Kenapa, ma? kalau dibiarkan nanti dia malah ikut jodohkan aku sama Pandawa."


"Pokoknya biarkan saja. Nanti kamu juga tahu sendiri." kata mama Dewi.


Keluarga jadi satu bagian penting dalam kehidupan seseorang. Pasalnya, dari keluarga seseorang pertama kali bisa merasakan cinta kasih yang tulus. Keluarga juga jadi tempat pertama kali seseorang belajar makna kehidupan. Hidup bersama keluarga yang harmonis jadi sebuah nikmat yang patut disyukuri. Kata-kata untuk keluarga bisa jadi satu ungkapan syukur atas nikmat yang tak terkira tersebut.


Kehangatan bersama keluarga jadi hal yang akan selalu dirindukan, terlebih bagi seseorang yang tinggal di perantauan. Apalagi di saat merasa lelah dan susah, hanya keluarga yang bisa jadi tempat paling nyaman untuk melepas penat dan menenangkan diri. Tak salah, jika kemudian banyak yang meletakkan kebahagiaan keluarganya di atas segala-galanya.Di kala susah dan senang, keluarga akan selalu ada untuk memberikan dukungan terbaiknya.

__ADS_1


Itu yang ingin Dewi tanamkan pada semua anak-anaknya. Dewi ingin ketiga anaknya saling membutuhkan satu sama lain. Saling mensupport satu sama lain.


Dewi juga tidak pernah menanamkan kebencian atas Andre sang ayah. Hanya saja Feri lah yang masih terluka atas perbuatan sang ayah pada keluarganya. Meskipun begitu Feri pun tidak trauma untuk membuka hati pada pasangannya. Beda dengan Vira yang sempat menolak kehadiran sang ayah. Ketika Satria mengajaknya menikah.


"Dira bilang sama opa Han kalau aku nggak jadi pergi." Dira henda


"Nak, kalau kamu mau pergi besok mama dukung. Kamu boleh liburan ke luar kota. Tapi jangan lama-lama. Kamu tahu kan kalau kakakmu mau menikah. Sebulan itu nggak terasa, nak."


"apa mama mau undang papa?" tanya Dira tiba-tiba.


"Maaf, ma. Bukan Dira ngingatkan mama sama papa. Sejelek-jelek papa. Dia juga orangtua kami. Aku pernah dengar dari Rian kalau papa sudah tobat. Kami tidak minta mama buka hati atau kembali sama papa. Tapi mama dan papa tetap menjalin silaturahmi yang baik. Mungkin kalian mantan, tapi tidak ada mantan ayah atau ibu."


"Mama tidak masalah, nak. Tapi kamu tahu sendiri kan kakak kamu bagaimana? dia masih marah sama papa kamu. Kamu ingat saat ke Bengkulu, papa kamu datang bersama Rian dan Delia, karena papa kamu kerja jadi supir di keluarga Rian."


"Iya,sih, ma. Dira yakin suatu saat kak Feri akan memaafkan papa. Pada dasarnya manusia akan di beri kesempatan kedua untuk memperbaiki diri, ma. Dan itu yang terjadi sama papa."


"Rian, pernah cerita kalau papa pernah Luntang lantung di jalanan, dasar keadaan hampir mati di keroyok massa karena mencuri makan di warung. Dan om Anca yang menemukan papa serta membantu pemulihan papa dari ketergantungan alkohol. Hingga menginapkan papa di sebuah pesantren dalam beberapa bulan."


"Kamu istirahat, nak. Besok kan mau berangkat." Mama Dewi mengingatkan putrinya akan keberangkatan ke desa Tulang Bawang.


"Mama nggak marah kan kalau aku pergi." Dewi menggeleng. Dia tidak masalah kalau Dira menenangkan diri beberapa saat. Asal jangan melupakan pekerjaan dan keluarga.


Udara sangat dingin. Termometer yang tertempel di ruang tamu tepat menunjuk pada angka sembilan belas derajat celcius. Meski jam dinding baru menunjuk pukul tujuh pagi, namun embun masih bergelantungan pada pucuk-pucuk daun. Matahari juga masih bersembunyi di balik awan. Udara dingin, terasa menusuk-nusuk tulang.


Dira sudah bangun sebelum sholat subuh. Udara musim hujan terasa sangat menusuk tulang. Namun hal itu tak menyurutkan semangatnya untuk pergi liburan. Layaknya seorang anak yang diajak liburan oleh kedua orangtuanya. Dira terus bernyanyi sambil membereskan barang bawaannya.


"Kak, kalau ketemu Cogan kasih tahu sama aku, ya?"kata Vira menghempaskan tubuhnya diatas ranjang kamar Dira.


"Cogan? ada kok kamu aja yang belum nyadar." sahut Dira setelah mengunci koper kecilnya.


"Kakak berapa lama disana?"


"Sampai aku bosan." kekeh Dira.


"Weeeeh, nanti kalau nggak balik lagi gimana?"

__ADS_1


"Ya nggak gimana-gimana, dapat jodoh disana. Pulang tinggal dikenalin sama kalian."


"Katanya nggak akan move on?" Vira membalikkan kata yang sering di bilang Dira.


"Aku nggak akan move on selama kak Juna belum di temukan. Karena sedikit aku gegabah akan berakibat buruk. Aku masih ada masa Iddah setelah keguguran dan di tinggal suami.


Setelah kakak pikir, kakak juga mau menyongsong masa depan lebih baik lagi. Ada kalian yang selalu support aku."


"Kakak sudah mandi?"


"Belumlah. Kakak mau mandi di kamar bawah ada shower panasnya."


*


*


*


Pukul sembilan pagi, semua sudah bersiap mengantarkan Dira di depan rumah. Dimana Dira akan berangkat ke salah satu desa kecil. Bermodal alamat yang diberi Bi Inah. Dira hanya menunggu kedatangan Awan sebagai sopir yang akan menemaninya ke desa tersebut.


Mobil Awan memasuki pelataran kediaman Dewi Savitri. Lelaki itu tampak tampan hanya menggunakan setelan kaos oblong polos dengan lekuk tubuhnya yang berotot. Di pasangkan celana katun pendek sebatas lutut.


Tidak ada yang menyangka kalau awan adalah sopir. Penampilan lelaki itu lebih pantas menjadi seorang model ataupun aktor yang di gandrungi para wanita.


"Ini alamatnya?" tanya Awan saat Dira memberi catatan alamat dari Bi Inah.


"Naura? jadi Dira akan ke tempat Naura? Ya Allah, akhirnya aku bisa bertemu Naura." batin Awan.


"Wan?"


"Iya, Non."


"Kok kamu malah bengong. kapan jalannya?"


"Eh, iya maaf, non."

__ADS_1


"Ya Allah, aku akan pulang. Setelah tujuh tahun aku meninggalkan mereka. Bapak, ibu, Mutiara dan Naura." Batin Awan yang memandang wajahnya di kaca spion mobil.


"Apa mereka bisa mengenalku setelah semua yang terjadi padaku empat tahun yang lalu." Batin Awan.


__ADS_2