SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 68


__ADS_3

"Maaaaamaaaaa!" Ayu memekik ketika tahu siapa yang berada di depan pintu.


Salma yang mendengar teriakan putri bungsunya langsung berjalan ke depan pintu. Sosok lelaki berdiri di depan pintu. Sosok yang dia rindu kan selama satu tahun. Bukan hanya itu saja, di belakang sosok itu tampak seorang lelaki paruh baya turun dari mobil.


Salma berjalan kearah putra sulungnya. Ditatapnya dari atas hingga ke bawah. Benarkah didepannya adalah Arjuna? putra sulungnya yang sudah satu tahun menghilang dan dinyatakan meninggal. Tangan Salma memegang wajah lelaki itu. Wajah yang dia rindukan.


Juna masih memandang di sekelilingnya. masih asing dengan tempat dimana dia berdiri saat ini. Salma yang sudah berhambur memeluk dirinya. Tangis bahagia Salma dan Ayu tak tertahankan lagi. Tangis pertemuan seorang anak yang di kira sudah meninggal. Tangis seorang anak dengan orang yang telah melahirkannya, membesarkannya penuh kasih sayang.


"Juna, anakku!" tangisnya pecah setelah memeluk tubuh putranya dengan erat.


"Aku harus memanggil anda apa? ibu atau mama?" tanya Juna yang masih bingung.


"Ini mama, nak. Panggil saja mama."


"Mama, ini Juna. Maafkan Juna yang masih asing dengan lingkungan sini. Memori Juna banyak yang hilang."


"Apapun itu, mama senang kamu sudah pulang, nak. Kami sangat merindukan kamu, nak."


Sesaat lamanya berpelukan dengan mamanya. Langkah Juna ke arah wanita yang sedang menggendong bayi cantik. Ayu meminta Mak Wiwit memegang Salsa, putrinya. Wajah cantik Ayu sudah basah, sama seperti Arjuna yang masih di banjiri air mata.


"Dia adikmu, Juna. Namanya Ayu." ujar Salma memperkenalkan Ayu pada Juna.


Juna mendekati Ayu. Keduanya saling berpelukan melepaskan rindu. Tangan Juna menangkup wajah adik bungsunya. Mengusap wajah Ayu yang basah dengan air matanya.


"Kak Juna!" Ayu kembali memeluk sang kakak.


"Ayu kangen sama kakak" ujar Ayu masih dalam pelukan kakaknya.


"Kakak juga kangen sama kalian. Sama mama, sama kamu dan sama ... papa mana? aku juga ingin ketemu papa. Apa dia masih marah karena aku menolak perjodohan dengan Delia. Dan lebih memilih Dira." Mama Salma dan Ayu saling melempar pandangan.


"Papa,..."


"Yu, ajak kakakmu masuk dulu." mama Salma mengalihkan pembicaraan.


"Bu... eh maaf salah, mama. Mereka juga ingin bertemu dengan mama." ujar Juna sambil menoleh kearah belakang.


"Mereka?" Salma belum paham.


Tadi hanya Awan dan Jimmy yang menuntun Juna sampai ke depan rumah.

__ADS_1


"Iya, mereka. Pakde dan bukde aku."


Rohim akhirnya turun dari mobil. Di susul Halimah ikut turun dari mobil. Salma memandang sepasang suami istri dengan tatapan haru. Mereka yang Salma lupakan karena kesombongan suaminya.


Salma langsung bersujud di bawah kaki Rohim. Tangisannya pecah ketika bertemu dengan kakak yang sempat dia zolimi.


"Abang!" tangis Salma di bawah kaki sang kakak.


"Salma, jangan seperti ini. Kita kan sudah lama tidak bertemu. Harusnya saling berpelukan seperti kamu dan anakmu." Kata pak Rohim sembari mengangkat tubuh adik satu-satunya.


"Maafkan Salma, bang. Maafin suami Salma yang pernah menyakiti perasaan Abang. Mas Johan saat itu terhasut oleh atasannya yang tidak suka sama abang. Maafin saya yang tidak punya kuasa untuk membela abang."


"Salma, abang tidak pernah marah sama kamu, dek. Abang tahu diri kalau kalian punya jenjang yang jauh dari status ekonomi kami. Abang juga minta maaf sama kamu dan Johan karena sering minta tolong sama kalian. Saat itu yang abang pikirkan kalian adalah keluarga."


Halimah menatap heran atas ucapan Salma. Dia belum paham apa yang sebenarnya terjadi. Tapi saat ini dia enggan menanyakan hal itu. Toh tujuan mereka mengantarkan keponakannya pulang ke orangtuanya.


"Ayu, ini kakaknya mama. Namanya pak Rohim." Salma memperkenalkan Rohim pada Ayu.


"Bang, ini anak bungsuku. Terakhir aku ke tempat kalian aku masih hamil dia. Dan ini adalah anaknya Ayu, usianya masuk tiga bulan." Ayu langsung menyalami Rohim dan Halimah secara bergantian.


"Ini yang namanya Awan? terimakasih, nak sudah merawat Juna di tempat kalian." ucap Salma pada Awan.


Saya sudah lama merantau dan bari bertemu kak Juna."


"Bu, ajak tamunya masuk. Semua sudah saya siapkan." Mak Wiwit menyambangi majikannya.


"Ya Allah, saya lupa. Juna ajak pakdemu dan bukdemu masuk."


"Iya, ma. Bapak dan ibu yuk masuk. Awan ajak anak dan istrimu masuk ke dalam."


"Iya, kak."


Semua keluarga sudah berkumpul di ruang tengah kediaman Johan Bramantyo. Udara musim penghujan sangat terasa di ruangan tersebut. Juna berjalan mendekati photo pernikahan yang terpampang di dinding ruang tengah.


"Dia istrimu, Juna."


"Juna tahu, ma. Juna sudah bertemu dengan Dira. Dia mengira kalau Juna sudah punya istri. Dan Juna rasa kepergian Dira dari desa karena kecewa. Juna rasa Dira tidak akan mau bertemu denganku. Bahkan selama disana Juna beberapa kali menghubungi Dira. Sayangnya tidak pernah di gubris sama Dira."


"Apa yang sebenarnya terjadi, nak? kamu tahu, nak. Dira itu trauma dengan yang namanya perselingkuhan. Dira itu trauma dengan rumah tangga orangtuanya, dua kali dikhianati, dan kalau dia sudah kecewa, mama sudah tidak tahu lagi." ucap Mama Salma.

__ADS_1


Awan akhir menceritakan kronologis tentang kesalahanpahaman tersebut. Juna memiliki rupa yang mirip dengan Sandi di masa lalu harus berperan menjadi orang lain. Berperan sebagai Sandi serta menjalani kehidupan sosok itu. Tentu saja Juna harus menerima sosok Naura yang sudah punya anak bersama Sandi. Itu puncak kesalahanpahaman mereka.


"Ya Allah, pantas saja Dira berkilah saat aku membahas soal kak Juna beberapa hari yang lalu. Sepertinya kakak harus berjuang lagi membuktikan pada Dira. Sama seperti kakak memperjuangkan Dira dulu." kata Ayu.


"Assalamualaikum." suara sapaan terdengar di depan pintu.


"Itu mas Tio. Suamiku." Seru Ayu berlari menuju pintu depan.


"Mas, lihat siapa yang datang."


"Kenapa dia harus kembali ke sini? selama ini aku sudah berjuang agar warga mengakui usahaku. Tapi kalau dia kembali, aku akan menjadi sosok yang tak dianggap lagi. Aku pikir semua akan baik-baik saja setelah kak Juna tiada dan papa Johan meninggal dunia." batin Tio.


"mas, kok bengong? itu ada kak Juna."


Tio terpaksa menyalami kakak iparnya yang dianggap sudah meninggal. Kakak dan adik ipar tersebut saling berpelukan.


"Selamat datang kembali ke keluarga Bramantyo, Kak." ucap Tio terdengar nada berat.


"Terimakasih, Tio." Juna menepuk pundak adik iparnya.


Keluarga besar Bramantyo akhirnya berkumpul di ruang makan. Ayu meminta suaminya menyiapkan rumah mess milik Arjuna. Untuk tempat inap keluarga Rohim.


*


*


*


"Ini apa, Dira!" mama Dewi membanting berkas yang dia temukan dikamar anaknya.


"Jawab,nak! ini apa maksudnya kamu bikin surat ke pengadilan agama. Kamu mau cerai!"


"Iya, aku mau cerai dari kak Juna." jawab Dira lantang.


"Kenapa? apa ada yang salah dengan suamimu?"


"Kak Juna sedang amnesia. Selama dia disana sudah punya anak dan istri. Dia sendiri tidak berusaha memilih antara aku dan istri barunya. Jadi untuk apa aku bertahan, ma. Untuk apa?" Dira langsung sesenggukan.


"Sebenarnya kalian berdua itu jatuhnya sudah talak. Istri yang tidak di nafkahi selama tiga bulan sudah sah jadi talak. Apalagi sudah setahun, nak. Itu kalau kamu gugat pun sudah sah di mata agama.

__ADS_1


Dan jika mau kembali, kalian harus menikah lagi."


__ADS_2