SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 139


__ADS_3

POV VIRA


"Vira, aku sedang perjalanan menuju Lembang." Aku yang sedang mode on malas tiba-tiba


mendapat kabar Elsa sudah dalam perjalanan.


"Bukannya kamu mau ke Thailand? kok malah belok ke Lembang?"


Aneh kan, seorang Elsa yang suka jalan-jalan ke luar negeri, seorang Elsa yang lebih suka plesiran dari satu negara ke negara lainnya lebih milih ke Lembang.


Yakin dah tuh anak kerasukan, tapi nggak apa-apa sih, aku ada temannya.


"Sama siapa?" tanyaku masih kepo.


Eit dah, ya pasti sama sopirnya lah. Vira ngapain kamu nanya kayak gitu, sih.


"Sama calon suamiku, Vira. Kamu tahu nggak semalam dia datang ke papa ngelamar aku." suara Elsa kayaknya bahagia banget.


"Owh, begitu. Selamat deh."


Aku senang kalau Elsa sudah punya seseorang yang mau menerima dia apa adanya. Atau mungkin ada apanya, kenapa aku bilang begitu? Elsa itu adalah putri dari seorang pengusaha terkaya di Indonesia. Bahkan lebih kaya dari keluargaku. Setara dengan Aburizal Bakrie, Hari Tanoesoedibjo.


Orangtua Elsa punya perusahaan di bidang pertelevisan di Indonesia. Irwan Chandra, itu nama ayah dari Elsa. Memang papanya Elsa bukan orang sembarangan, dan aku yakin tidak akan mudah buat keluarga itu menerima seseorang untuk calon mantunya.


"Eh, bukannya Elsa kemarin bilang kalau dia di jodohkan dengan bos madu berkah. Dan itu bukannya kak Panji, ya. Apa mungkin sudah ada orang lain yang menggeser? entahlah bukan urusan aku juga. Yang pasti aku harus mastikan kalau calon Elsa itu tulus. Kalau tidak akan aku jadiin tuh orang pupuk daun teh."


Aku sudah dua hari tinggal di Lembang. Udara di Lembang yang segar dan alami. Beda sama Jakarta yang penuh polusi. Hanya saja kalau diatas jam 1 sampai jam 3 panas banget. Ya kan Lembang nggak sama dengan Bogor. Kalau Bogor, tiada hari tanpa mendung.


Satu hutangku sudah selesai, mengembalikan barang-barang Danu ke pemilik aslinya. Ya memang barang yang sudah di beri tidak perlu di kembalikan. Tapi aku tidak mau mama kecewa, aku tidak mau dengan barang itu menambah sedih mama. Mengingat bagaimana kak Padma yang sangat di percaya bisa berkhianat. Tapi yang aku heran, kenapa tidak pernah di buang? atau mungkin harus aku yang membuangnya.


"Vira, sarapan yuk."


Aku bangkit meninggalkan teras mess tempat tinggal kak Dira. Rumah yang keren untuk ukuran mess. Apa karena kak Juna sekarang bos makanya beda dari yang lain. Padahal rumah Tante Salma nggak sebagus ini.


"Yang dekor rumah siapa, kak?"


"Tio, sama temannya. Tio kan suka pernah kerja di properti. Jadi dia yang buat gambar rumah."


"Oh, enak ya Kak Juna. Punya saudara bikin rumah. Bantu saudaranya asah skill."

__ADS_1


"Ya, aku kan cuma bilang mau bikin rumah waktu itu. Itu pas belum nikah sama Dira aku rancang. Ya, membayangkan bikin keluarga kecil, tinggal di tempat yang jauh keramaian kota. Di daerah yang tenang seperti ini."


"Kenapa dulu tidak ajak kak Dira? kenapa kalian malah beli rumah di Jakarta, rumah yang jarang di tempati pula. Kan mubazir."


"Karena situasi sedang tidak baik di keluarga kita, Vira. Kakak akan tenang kalau urusan keluarga kita selesai. Itu yang membuat kami belum bisa menempati rumah ini. Belum lagi saat mas Juna kecelakaan, dan hilang ingatan."


"Tapi syukurlah kak Dira dan kak Juna sudah bersama. Tuhan masih sayang sama kalian, sudah begitu banyak kalian melalui jalan yang terjal. Cinta dari anak-anak, Cinta lama belum kelar, dan di persatukan dalam ikatan pernikahan."


"Ra, kamu tahu kan soal Danu dan masa kecil kalian,..."


Kenapa kak Dira malah bahas itu, sih?


"Tahu dan aku nggak mau tahu soal Danu yang sekarang."


"Yakin?"


"Yakinlah, kenapa sih pada bahas soal ini?" Sumpah mood aku hilang.


"Ra, mau kemana?"


Aku meninggalkan ruang makan. Selera makanku mendadak hilang. Bagi aku Danu adalah pria brengsek, menghamili perempuan lain. Dan sekarang playing victim seolah dia di tipu sama Kayla.


Tapi bikin aku kecil hati adalah aku punya papa yang tega berniat merusak anak kandungnya. Aku juga tidak habis pikir kalau papa juga menghamili kak Padma, kakaknya Danu.


"Vira,.." aku seperti hapal suara itu.


"Kamu Savira kan?" Lagi-lagi suara itu.


"Om ..." aku mencoba membalas sapaan lelaki itu.


"Kamu kesini pasti tempat Dira dan Juna, kan." Aku mengangguk kecil. Lalu mencoba menghindari lelaki itu. Masih tidak enak hati karena sudah aku tolak malam itu. Merasa ada yang menahan lenganku. Sudah pasti kerjaan si Om.


"Vira, maaf, tapi bisakah kita tetap berteman saja? ya kalau kamu memang tidak punya perasaan sama aku, nggak apa-apa. Toh kita tetap berteman seperti dulu."


"Oh, nggak marah sama aku?"


Lelaki itu tersenyum padaku. Kenapa dia seperti tampan sekali? tapi kenapa aku tidak punya perasaan apapun sama dia?


"Muka kamu merah? Apa karena melihat ketampananku?

__ADS_1


"Please, deh, Om."


Ya Allah aku tidak bisa marah kalau sama dia. Untuk sebuah pertemanan dia emang bisa bikin aku terhibur. Tapi untuk lebih dari teman, aku takut tidak bisa seperti ini lagi.


"Hey!"


"Eh, iya, Om. Aduh jangan disini, bisa tambah lebar punyaku nanti."


"Iya, kayak lapangan sepakbola. Hahahaha...."


"Om, ngapain disini?"


"Aku ikut komunitas peternak lebah se-Indonesia. Kebetulan kumpulnya disini. Aku sudah ketemu Juna dan Dira, sempat satu malam menginap disana.


Dan kamu?"


"Ya, aku kan liburan semester."


"Oh, iya, ya."


Kami berjalan beriringan. Mengitari luasnya kebun teh. Hamparan teh yang tumbuh subur dengan udara sejuk, segar, dan tanpa polusi. Sepanjang jalan, terlihat pekerja yang sedang memetik daun teh. Pemandangan ini mungkin tidak akan di temui saat kembali dengan hiruk pikuk kemacetan kota Jakarta.


Dan aku merasa gawai ku bergetar, setelah kutengok ternyata dari kak Juna.


"Iya, kak. Ada apa?"


"Vira, tolong belikan kembang api."


"Hah! kembang api?"


"Kakakmu dari tadi pengen main kembang api. Kamu bisakan belikan untuk calon ponakan kamu."


"Kenapa bukan kak Juna saja, sih?" protesku.


"Ra, kakak mau kamu yang belikan kembang api." Ini suara kak Dira sepertinya lagi ngidam.


"Ya Allah, kak. Masa ngidamnya ke aku. Kenapa nggak sama suami kakak aja sih?"


"Enggak mau, si debay mau nya onti nya yang beli."

__ADS_1


Astaga!!!!


__ADS_2