SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 19


__ADS_3

Tina berjalan keluar rumah. Hari ini dia akan menemui Jamal terkait membicarakan soal lamaran itu. Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi sekitar 160 cm. Dengan balutan kaos pink dan jeans soft. Tidak tampak kalau usianya sudah 28 tahun. Rambutnya yang panjang sebatas ketiak di kuncir tanpa meninggalkan poni untuk menutupi dahinya yang lebar.


"Kakak mau kemana?" tanya Amar yang melihat kakaknya sudah rapi.


"Mau ke tempat kak Jamal." jawab Tina.


"Aku ikut, ya? dah lama tidak kesana." pinta Amar.


"Hemmm .. boleh. Kamu siap-siap kakak tunggu."


Amar berlari masuk ke dalam. Tampak wajah anak itu riang ketika diajak ke luar. Amar yang sejak kecil banyak diasuh sama Jamal. Dimatanya Jamal sudah seperti kakaknya sendiri. Malah dia berharap kalau Jamal bisa sama kakaknya.


"Permisi" Seorang lelaki berdiri di depan Tina.


"Iya ada yang bisa saya bantu?"


"Nama saya Jaka, saya di utus untuk menjemput wanita yang bernama Tina. Apa bisa panggilkan orangnya?"


"Saya yang bernama Tina. siapa yang menyuruh anda?"


"Tuan Arjuna ingin bertemu dengan anda, nona." jelas Jaka.


"Oh, baiklah kalau begitu." Tina mengikuti langkah Jaka menuju ke mobil.


Jarak mobil ternyata sangat jauh dari rumah. Tina sempat berpikir kalau lelaki di depannya ada maksud lain. Bisa jadi lelaki itu bukan suruhan Arjuna. Bisa jadi orang lain yang punya rencana jahat pada. Lagi-lagi dia menepis pikiran itu. Kalau iya, Mungkin mulutnya sudah di bekap sebelum sampai mobil.


"Silahkan masuk nona," Jamal mempersilahkan dirinya masuk ke dalam mobil.


"Terimakasih." Tina pun duduk manis di kursi belakang.


Jaka pun akhirnya menghidupkan mesin mobil. Tak berapa lama mobil pun meninggalkan area perumahan tempat pakdenya. Tina memandang jalanan yang ramai dengan kendaraan. Berbagai aktivitas.

__ADS_1


Hidup di Jakarta dengan segala aktivitas dari berbagai kalangan. Di Ibu kota banyak bangunan megah, gedung pencakar langit, semua kegiatan produksi-distribusi-konsumsi yang terpenuhi, pendidikan layak, banyak rumah sakit, pekerjaan yang tetap, bahkan semua itu cukup dan terpenuhi.


Tetapi jika begitu, masih ada anak kecil yang rela mengamen di jalanan, naik turun ke angkot, keluar masuk pasar, kepanasan, kehujanan, semua itu demi sesuap makanan dan menjadi tulang punggung keluarganya.


Yang terfikirkan dalam benaknya yaitu hidup di Ibu kota itu enak, kebutuhan yang lainnya terpenuhi , tetapi hidup di perkotaan tidak segampang membalikkan telapak tangan.


Tina membayangkan bagaimana dirinya hidup dengan hedonisme. Berfoya-foya karena papanya punya perusahaan sukses. Mamanya juga begitu, mereka sering shopping satu pakaian bisa terbilang ratusan juta.


Tapi saat papanya mengetahui hal itu. Mereka dimarahi habis-habisan. Tina sempat mengurangi hedonisme, tapi melihat Glen mulai dekat dengan Maria Selena, sekretaris OSIS yang katanya paling cantik di sekolah. Tina mulai kembali memanjakan Glen dengan fasilitasnya.


Bodoh memang. Tapi itulah cinta yang membutakannya. Bahkan Feri saat itu masing mengingatkannya untuk melupakan Glen. Tentu saja Tina saat itu tidak terima. Karena saat itu dia menganggap Feri hanya ingin menghancurkan hubungannya dengan Glen.


"Jika seandainya aku mendengar kata-kata Feri saat itu. Mungkin akan beda endingnya. Maafkan aku, Feri. Dulu aku memandang kamu sebelah mata. Karena dulu kamu terlihat culun dan tidak setampan Glen. Aku juga dulu tidak tahu kalau kamu anak pengusaha." batin Tina.


Sementara Amar sudah siap menemui kakaknya di gerbang pintu. Ternyata kakaknya sudah tak ada. Amar kesal. Dengan modal nekat dia memecahkan celengan untuk ongkos ke rumah Jamal.


"Kamu mau kemana Amar?" sapa bude yang masuk ke kamar Amar.


"Ke rumah kak Jamal, bude. Tadi kak Tina katanya mau ajak aku kesana. Tapi aku malah ditinggal." adu Amar.


"Amar mau makan? bude tadi masak rawon. Amar suka sama rawon?"


"Suka bude. Mama sering masak rawon yang daging ada bihunnya." Amar sesaat mengingat almarhumah mamanya suka masak rawon.


Kembali ke Tina


Mobil akhirnya sampai di pantai Ancol. Tina memandang ke arah Jaka. Seakan minta penjelasan apa yang di rencanakan. Jaka tetap bungkam dan menuntut Tina kearah pantai.


Melihat gulungan ombak, Tina pun tergerak berjalan ke pinggiran pantai.


Langit pantai terlihat cerah. Teriknya yang membakar kulit tak membuatnya mundur dari area pantai. Tina berlari sendiri seakan menemukan teman bermain. Ya dia sedang bersama gulungan ombak yang seakan mengejarnya. Tawa riangnya terlihat seakan melupakan permasalahan yang sedang di hadapinya. Tak berapa lama Tina pun duduk di pinggir pantai. Membiarkan pakaiannya basah dengan pasir pantai yang lembab.

__ADS_1


Dari jauh sepasang mata terus memandang aktivitas Tina. Senyumnya mengembang saat melihat tawa riang wanita itu. Dia memilih memantau dari jauh. Membiarkan wanita itu menikmati indahnya pantai.


"Kenapa tidak di samperin saja?" Jaka muncul di dekat cucu majikannya.


"Biarkan saja. Kalau aku muncul yang ada masalah merusak suasana."


"Anda mencintainya?" lagi-lagi Jaka mengungkapkan kekepoannya.


"Menurut, kamu?" dia malah balik bertanya.


"Cinta itu buta. Seperti yang anda lakukan saat ini. Dia yang menjebloskan anda ke penjara. Tapi anda malah memberi kejutan manis padanya." Jaka terus mencerocos.


"Sok tahu, kamu. Kamu saja belum pernah dekat dengan wanita manapun sekarang mau ajarin aku soal cinta."


"Saya pernah dekat dengan wanita, mas Feri. Tapi sayangnya tidak ada wanita yang melihat saya dari sisi lain. Mendengar saya kerja jadi sopir saja mereka sudah ngacir tiga langkah. Dari situ saya sadar. Mereka bukan mencari cinta tapi materi."


Feri meninggalkan Jaka. Lelaki itu melangkah menemui Tina yang duduk di pasir lembab. Sesaat Tina pun berdiri karena hendak meninggalkan area pantai. Tangannya membersihkan ujung bajunya yang basah.


Tina terpaku saat sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Tina berbalik melihat siapa yang merengkuhnya. Feri semakin erat menarik tubuh Tina. Jantung keduanya berdetak kencang.


Aroma tubuh Feri yang menjadi candu sejak kejadian dalam lapas saat itu. Aroma yang saat ini membuatnya tidak nyenyak tidur. Sosok yang membuatnya dilema memilih antara lelaki itu dengan Jamal.


Tina melepaskan diri dari tubuh Feri. Sesaat dia ingat kalau lelaki milik sang kakak. Sesaat dia ingat kalau ada lelaki yang baik sudah dia terima lamarannya.


"Na," Feri menahan tubuh Tina.


"Lepaskan!" berontak Tina.


"Aku datang kesini buat kamu. Aku keluar dari sini buat..."


"Buat menikah dengan kak Mayka, kan? Aku sudah menebak itu. Jadi buat apa kamu menemui aku? pakai suruh orang menjemputku. Simpan harapanmu pada kak Mayka. Aku juga akan menikah dengan jamal." Tina meninggalkan Feri.

__ADS_1


"Apa kamu mencintai Jamal?" Tina menghentikan langkahnya.


"Apa urusanmu! kalau aku menerima Jamal itu artinya kamu tahu sendiri kan!"


__ADS_2