
"Kalian sudah pulang?" sapa Panji ketika menemukan pasangan pengantin baru duduk di ruang tamu.
Randy tersenyum simpul ketika si empunya rumah menemui mereka. Randi memang berencana mau mengajak Ramona, istrinya untuk berkenalan dengan sanak famili mereka. Dan kunjungan pertama jatuh pada rumah Panji.
"La ini yang di depan kak Panji siapa?"
"Ya mungkin qorinnya." tawa Panji lepas.
"Mas Panji ada dapur kah? boleh nggak aku bikin menu buat kalian berdua." kata Mona.
"Wah, boleh banget. Aku juga pengen coba masakan adik ipar."
Panji mengajak Mona untuk ke dapur. Memberitahukan dimana letak tempat bahan sayuran atau menu yang lain. Panji kembali ke ruang tamu bersama Randi.
"Kak Panji tenang saja. Mona itu hobi bongkar pasang makanan. Yang tadinya jadi makanan kecil bisa berubah menu kreasi."
"Mantap, Randi. Punya istri pintar masak. Coba kalau kalian dari nikahnya sudah lama. Kamu nggak akan ngomel sama Mia karena jarang di masakin."
"Kan emang Mia nggak suka masak. Tapi kalau dia nikah nanti aku berharap kalau Mia mau belajar di dapur. Padahal usianya sudah 25 tahun. Tapi dia masih gitu" Keluh Randi.
"Habis ini kamu mau tinggal di mana?" Panji balik bertanya.
"Di rumah lah. Emang mau di mana lagi? aku dan Mona sudah sepakat nggak apa-apa kalau harus campur sama Mia. Kak Panji kan tahu sejak papa nikah lagi, aku dan Mia tidak punya siapapun lagi. Hanya ada kak Panji saja. Pakde dan bude kan sudah nggak ada."
"Iya, aku tahu itu. Tapi apa Mona tidak keberatan tinggal bareng Mia. kamu tahu sendiri karakter Mia seperti apa. Judes, semaunya sendiri. Takutnya Mona yang tidak betah." kata Panji.
Randi paham kegelisahan kakak sepupunya. Mia orangnya rada perfeksionis. Masih memandang orang dari status sosialnya. Tapi rasanya kalau sama Ramona pasti akan akur. Secara riwayat keluarga Mona sangat sempurna. Anak dari pemilik hotel terbesar di Jakarta. Sudah pasti akan di sambut baik oleh Mia.
"Bagaimana soal ada Savira?" tanya Randi.
"Bagaimana apanya?"
"Hubungan kalian lah? bukannya sudah di kasih kesempatan besar. Apa kakak tidak memanfaatkannya."
"Apa yang kamu tahu tentang Savira?" selidik Panji.
__ADS_1
"Banyak kak, salah satu Savira pernah batal menikah dengan kekasihnya."
"Batal nikah? kenapa?"
"Aku nggak tahu, kak. Tanya saja langsung sama orangnya. Yang aku tahu batasnya beritanya seperti itu."
"Kasihan Vira. Pasti cowoknya selingkuh makanya batal nikahnya." batin Panji.
"Kak," sapaan Randi membuatkan lamunannya.
"Eh, iya." Panji langsung gelagapan ketika Randi menepuk bahunya.
"Jadi bagaimana, lancar nggak?" Panji langsung menggeleng.
"Aku di tolak, Di. Kayaknya selama ini perjuanganku sia-sia. Waktu pak Burhan menawarkan cucunya buat aku, senang sekali. Masalahnya aku pernah bertemu Dira. Eh pas diajak ke rumah ada yang lebih mempesona dari kakaknya. Tapi nyatanya aku di tolak."
"Saya punya satu cara buat mancing reaksi Vira. Tapi kak Panji harus ikut bantu."
"Iya, caranya apa?" Panji ikut penasaran dengan rencana Randi.
"Kalian senyam-senyum ada apa, sih?" Mona melabuhkan tubuhnya di samping suaminya.
"Nggak ada apa-apa, Ramona. Ini cuma urusan para lelaki." jawab Panji.
"Oooo... tapi bukan ngajarin suami saya buat selingkuh kan?" tuduh Mona.
"Astaga, istri kamu, Di. Mikirnya sudah kesana."
"Soalnya sudah pernah kejadian." sahut Mona.
Mona menceritakan bagaimana Randi sempat dekat dengan wanita lain. Saat dia mempertanyakan keseriusan lelaki itu setelah bertahun-tahun menjalin hubungan. Randi juga tidak pernah memperkenalkan dirinya pada keluarganya. Makanya saat hubungan mereka sempat goyah, Mona mendapati Randi dekat dengan salah satu dosen di tempat mengajar. Bahkan dekat sama Mia, adiknya Randi.
"Dosen yang mana,Di?"
"Sonia. Dia terus ngintilin aku kemanapun aku pergi. Kesel juga sih. Tapi aku juga nggak enak sama pak Gusti, dia yang comblangin kami."
__ADS_1
"Ya kalau kamu nggak nyaman harus tegas. Si Gusti juga jodohin aku sama Hanum, salah satu mahasiswa bimbingannya. Ya kali sama anak muda."
"Terus bagaimana dengan Savira. Usia Savira itu lebih muda dari Hanum. Hanum itu mahasiswa semester akhir. Kalau Savira itu kan masih semesta empat. Masih mending Hanum kan?"
Panji tak menjawab pertanyaan Randi. Baginya Savira dan Hanum itu beda. Hanum yang sempat di sodorkan Gusti malah lebih gencar mendekatinya. Beda dengan Savira, gadis muda malah biasanya saja saat di dekati. Itu yang buat Panji makin penasaran sama Vira.
"Kan aku sudah di tolak. Aku juga nggak ada rasa sama Hanum. Jadi buat apa di tanggapin." Randi melihat raut wajah Panji yang kesal.
"Jadi kamu besok mengajar lagi kan, Di? aku capek lo, di kejar mahasiswa terus."
"Alah, bukannya kakak suka di begitu kan? hahahaha...." Tawa Randi lepas.
"Enak saja, emang saya cowok apaan?"
"Cowok Alay dan bucin." balas Randi.
Suasana rumah Panji jadi ramai. Tawa canda dua lelaki bersaudara menjadi hiburan pelipur hati. Biasanya jam segini Panji ada di luar rumah. Main ke tempat Vira atau berlama-lama di pabrik. Malam baru pulang ke rumah untuk istirahat. Karena tidak ada pembantu di rumahnya.
Setelah Randi pulang bersama istrinya. Panji pun masuk ke kamar untuk beristirahat. Besok sepertinya dia harus ke kampus untuk pamit sama dosen disana. Dan sepertinya dia harus bersikap biasa saja pada Savira.
"Ini yang sangat susah aku lakukan. Masa iya aku harus menghindari Savira hanya karena di tolak. Kayak bukan aku banget. Ya Allah, dulu waktu aku pacaran sama Kanaya nggak gini amat. Nggak se kencang saat bersama Vira. Kanaya terlihat sangat mencintai aku. Tapi kenapa aku tidak bisa menerima dia. Sekarang Kanaya sudah bahagia dengan pasangannya. Sudah punya anak."
Pikirannya terus menari-nari tentang rasa yang mulai bergejolak. Salah!Mungkin dia merasa perasaan itu timbul diwaktu yang salah. Kakinya berdiri disebuah pintu kamar berbahan kaca.
Pelan-pelan Panji pun mencoba memejamkan mata. Meskipun matanya tidak mengantuk sama sekali. Setelah berjam-jam berkutat pada kesibukan. Dia merindukan gadis itu. Bibirnya tersenyum memandang photo Vira di gawainya.
...***...
Vira duduk di kantin kampus. Setelah menghadapi ujian semester hari ini dia mendadak lapar. Elsa biasanya menyamperin dia kalau mau ke kantin. Tapi nyatanya, Elsa meninggalkannya tanpa sebab. Suara paduan suara dari perutnya terus bernyanyi. Dengan terpaksa dia pergi ke kantin sendirian.
"Terimakasih, ya pak Panji. Sudah mau menjadi pengajar di sini. Semoga sukses di tempat kerja anda yang baru."
"Sama-sama, Bu. Saya juga berterimakasih pada anda sudah di terima mengajar disini. Kalau begitu saya permisi dulu." Panji pun pamit pada bu dekan berserta dosen lainnya.
Vira berjalan mendekati Panji. Tentu saja menyapa seperti biasanya. Mencoba memasang wajah ceria seperti biasanya. Tapi ekpektasinya salah.
__ADS_1
Kakinya terhenti ketika tubuh lelaki jangkung itu melewati dirinya tanpa bertegur sapa seperti biasa.