
Dawa membulatkan matanya. Melihat siapa yang sedang dalam sekapan Irul dan anak buahnya. Bukan hanya Irul yang berdiri di depannya. Ada Adrian yang juga ikut dalam kasus ini.
"Om, kenapa melibatkan Vira. Dia tidak tahu apa-apa, kalau anda punya masalah sama saya tidak apa tapi jangan Vira."
"Oh begitu, kamu dengar Vira. Dia sangat mengkhawatirkan kamu. Oh, kisah cinta yang sangat mengharukan. Tapi, kamu harus tahu, Nak. Dia masuk ke keluargamu bukan untuk sekedar silaturahim. Kamu juga harus tahu kalau dia bukan lelaki yang baik. Dia masuk ke keluarga kamu untuk membalaskan dendam kakaknya. Kakaknya yang jadi pelakor dalam rumah tangga kedua orangtuamu, Nak."
Vira yang sudah sadar menatap Dawa penuh arti. Entah itu tatapan benci atau mungkin sebaliknya. Dia juga tidak tahu. Jika memang benar lelaki di depannya hanya masuk untuk menghancurkan keluarganya, Vira benar-benar merasa kecewa pada lelaki itu. Jika mulutnya tidak dalam bekapan sudah keluar sumpah serapah untuk lelaki itu.
Terbayang kata-kata mamanya untuk tidak terlalu dekat dengan Pandawa. Ternyata benar apa yang di katakan mamanya selama ini. Bahwa Dawa masuk ke keluarganya untuk maksud tertentu.
Sementara Pandawa hanya terus menunduk. Dia yakin Vira akan sangat membencinya. Dawa tahu betul bagaimana karakter Vira yang keras kepala dan tidak gampang percaya sama orang lain. Itu yang dia pelajari selama dekat dengan Vira, Elsa dan juga Panji.
"Maafkan aku, Vira. Aku memang sempat terpikir untuk membalaskan apa yang sudah papamu lakukan pada kakakku. Aku juga bekerja sama dengan Kayla untuk mendekatimu. Tapi ternyata aku salah. Kalian keluarga yang baik. Hanya saja apesnya kalian adalah anak dari Andre. Lelaki yang aku benci. Maafkan aku, Vira." kata Dawa.
"Aku pikir kamu orang baik, Kak Danu. Walaupun aku masih kesal sama kamu soal Kayla. Di mataku kamu memang bukan pria bertanggungjawab. Kamu yang rusak Kayla tapi kamu juga yang merasa tersakiti. Dan sekarang sudah terkuak soal siapa dirimu. Jahat kamu, Kak! Jahat!" batin Vira. Seandainya dia tidak di tutup mulutnya mungkin cacian makian sudah keluar dari mulutnya.
Irul puas dengan adu domba yang dia lakukan pada Dawa dan juga Vira. Tapi rasanya itu belum cukup untuk membalaskan sakit hatinya pada Andre dan Dewi.
Dimata Irul, Andre sudah merebut apa yang dia capai, merebut jabatannya, merebut Dewi darinya. Memang dia belum pernah menyatakan perasaannya pada Dewi. Tapi paling tidak dia sudah menunjukkan perhatiannya pada anak atasannya.
Irul merasa sudah banyak berjasa dalam hidup seorang Dewi Savitri. Bagaimana wanita itu datang sebagai anak manja yang tidak tahu mengatur perusahaan. Menjadi wanita sukses. Irul merasa Dewi harusnya membalas budi kepada dirinya.
Tentu sejak awal dia memang masuk ke perusahaan PT. Putra Nusa untuk membalaskan dendam pamannya yang kalah tender. Dia berusaha mematahkan pemikiran keluarganya tentang keluarga Wirya Harahap. Tapi nyatanya apa yang di ucapkan oleh keluarganya memang benar. Perusahaan itu tidak punya ampun, menggeser posisinya dengan Andre. Seharusnya dia yang duduk di jabatan manajer. Bukan Andre yang masuk jadi pahlawan kesiangan.
__ADS_1
"Om lepaskan Vira, dia tidak ada urusan dengan om. Saya mohon lepaskan" mohon Dawa.
"Lepaskan dia? jangan kak!" Adrian yang sedari tadi diam akhirnya buka suara.
"Kakak tahu siapa yang buat rencana aku hancur berantakan. Dia orangnya, aku minta kakak menculik dia supaya bisa menjodohkan Panji dengan anaknya Irwan. Kakak ingat siapa yang sudah membuat Irwan hampir membatalkan semua ini. Dia kak! dia orangnya!"
"Diam!" bentak Irul.
Irul sebenarnya malas bekerja sama dengan Adrian. Irul tahu persis bagaimana Adrian hanya parasit yang mau enak sendiri. Tapi Irul punya senjata sendiri untuk Adrian. Saat ini dia harus fokus dengan Dawa dan Vira.
Adrian mendengar bentakan Irul mendadak menciut. Sosok lelaki yang biasanya punya segudang akal bulus pun memilih diam.
"Urusan Om itu dengan saya, bukan dengan Vira!"
"Karena apa yang bersangkutan dengan kamu juga menjadi urusan saya, Pandawa. Kamu lihat dia hanya diam saja, itu artinya dia sudah membencimu. Seorang Pandawa Danuarta, sekarang di benci oleh orang yang dia cintai. Sungguh miris hidupmu, Dawa. Lebih miris dari hidup Padma.
Dan kamu tahu, itu belum membuat saya puas! aku mau kalian berdua hancur sehancur hancurnya. Hahahhahaa ...."
"Om kenapa seperti ini sama saya? Apa karena saya menolak menikahi Kayla? om, yang seharusnya menikahi Kayla adalah ayah dari si jabang bayi. Bukan aku!"
"Hahahaha ... Kau pikir aku seperti ini karena Kayla. Ya memang kau meninggalkan Kayla. Kau kira hanya karena itu aku melakukan ini. Dasar naif
Tapi bukan itu alasannya."
__ADS_1
"Maksud, Om?"
"Kau tahu kalau saja kakakmu meninggal dunia tidak masalah. Tapi yang jadi masalah kakakmu meninggal dalam kecelakaan saat melamar adikku, Winda. Kalau dia meninggal tanpa meninggalkan sesuatu tidak masalah. Tapi dia meninggalkan benih di rahim adikku. Benih, Dawa! kau tahu bagaimana Winda yang perutnya semakin membesar, di kucilkan warga! kamu tahu adikku memilih mengakhiri hidupnya dengan gantung diri!
KAU TAHU SIAPA YANG MENYEBABKAN SEMUA INI! PAUNDRA, KAKAKMU PAUNDRA!"
"Ketika aku bertemu dengan Padma yang sedang di mabuk cinta pada Andre. Aku merasa ini waktunya membalaskan apa yang Winda rasakan! aku membuat dia halu merasa seperti hamil anak Andre padahal bukan. Dia hamil anak Angga, suaminya. Dan Angga pun tidak percaya kalau Padma mengandung anak mereka. Aku yang membuat kakakmu semakin depresi. Karena itu bisa membalaskan sakit hatiku pada PAUNDRA!"
Dawa mendengar kisah masa lalu Irul menundukkan kepalanya. Tidak menyangka ada kepedihan di balik sosok Irul yang kuat dan antagonis. Tapi apakah dendam seperti itu bisa mengubah segalanya. Tentu tidak. Dawa memandang kearah Vira. Tampak gadis itu terus membuang muka, wajahnya sembab mengartikan ada kekecewaan mendalam.
"Itu masa lalu, Om. Tidak ada hubungannya dengan Vira. Dia itu wanita yang di cintai Panji. Dan Vira juga mencintai Panji, jadi tidak ada urusan dengan saya"
"Tapi kamu mencintainya kan, Dawa?"
Lagi-lagi Dawa memandang kearah Vira. Seakan bibirnya berat berucap. Tapi ini harus di lakukannya.
"Aku tidak mencintaimu, Vira. Aku hanya memanfaatkan kamu untuk membalas kematian kakakku, Padma"
"Aku rasa kalau dia lihat ini bagaimana? Seno lakukan sekarang!"
Seno memegang tongkat kasti. Tanpa ampun tongkat menghujam ke tubuh Dawa berkali-kali.
"Winda lihat! seperti janjiku dulu. Aku akan membuat keluarga Paundra habis tak tersisa."
__ADS_1
Vira melihat bagaimana Dawa disiksa habis-habisan oleh anak buah Irul. Dia hanya bisa meraung mencoba memberontak. Di hadapannya Dawa tersungkur bersama kursinya. Tetesan darah segar keluar dari kepala lelaki itu.
"Saudara Irul! anda sudah terkepung!" suara lantang terdengar dari luar.