SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 204


__ADS_3

"Bagaimana Dawa apakah kamu mau menuruti permintaan Oma?" tanya Helena.


Dawa dan Deka saat ini sudah kembali ke kediaman Helena Abraham. Setelah berbulan-bulan mengungsikan diri akibat penolakan Helena saat itu. Waktu terus bergulir membuat Helena bisa menerima cucunya itu.


Penerimaan Helena tidak gratis. Karena perjanjiannya dengan Burhan, teman masa mudanya untuk menjodohkan Danu dan cucu temannya. Tentu saja imbalannya kerjasama antar perusahaan. Helena merasa butuh penerus untuk usaha yang di bangun suaminya. Karena usia Deka juga tidak muda lagi.


Dulu anak tertuanya yaitu Adzaki, tidak berminat terjun di usahanya. Alasannya satu, bukan fashionnya. Zaki lebih tertarik di bidang seni, seperti teater dan sutradara. Helena tidak bisa memaksakan kehendaknya, harapannya tertuju pada Deka. Putra ketiganya pun mau meneruskan usaha orangtua. Sementara anak keduanya yaitu Kenanga, lebih fokus jadi ibu rumah tangga. Di samping membantu bisnis kuliner suaminya.


Helena bersyukur ketiga anaknya tidak ada yang rebutan harta setelah suaminya meninggal dunia. Mereka tetap fokus pada bidang yang mereka geluti.


"Permintaan?" Dawa mengerutkan dahinya.


"Iya, kamu ingat Oma pernah bilang mau kenalkan kamu sama cucunya teman Oma. Mau kan kamu mendekati dia?"


Dawa tergelak sejenak. Bisa dibayangkan reaksi gadis itu kalau lihat kondisinya saat ini. Mungkin gadis itu akan mundur perlahan-lahan.


"Emang dia mau sama aku yang seperti ini, Oma?"


"Makanya Oma bilang, kamu harus fokus sama terapi kakimu. Jangan ikuti mau papa kamu yang gila kerja. Bahkan mama sempat suruh papa kamu cari istri baru dia menolak.


Kan bagus kalau nanti Oma pergi kamu menikah dan papa kamu ada yang urusin,"


Dawa menarik kursi rodanya. Tangannya meraih jemari yang sudah terlihat uratnya.


"Oma jangan bilang begitu, Danu berharap Oma umurnya panjang, bisa lihat aku menikah, ngasih cicit buat Oma. Papa juga bisa kasih cucu lagi buat Oma.


Danu dulu punya Oma yang sudah ratusan umurnya. Waktu itu aku masih SMP, sering diajak kakakku menengok Oma di panti jompo. Karena aku tumbuh tidak melihat seperti apa kedua orangtuaku saat itu. Yang aku ingat aku punya mama namanya Claudia, itu pun aku belum masuk SD. Setelah mereka meninggal dunia kakakku yang perempuan sering ajak aku jenguk nenek di jompo,"


"Mereka pasti sayang sekali sama kamu, Nak," Oma Helena menunjukkan sisi keibuannya.


"Alhamdulillah, aku punya keluarga yang sayang sama aku, Oma. Sama om Irul juga aku diperlakukan seperti anak sendiri. Hanya saja dia pernah meminta aku menikah dengan anaknya. Kami hampir menikah dan ternyata anaknya om Irul sudah hamil dengan laki-laki lain.Sejak saat itu dia menganggap aku seperti musuh, Oma," cerita Dawa.


"Alhamdulillah, ya, Danu, Jadi bagaimana?" kamu mau kan ketemu sama cucu teman Oma. Coba kenalan dulu siapa tahu kalian cocok,"


"Aku sudah punya pilihan sendiri, Oma. Aku pernah berjanji sama dia untuk menikahinya. Jadi maaf, Oma, aku tidak bisa memenuhi permintaan Oma," tolak Dawa.

__ADS_1


"Kalau boleh tahu namanya siapa? anak pengusaha mana?"


"Namanya Savira Gayatri, Oma. Anak pengusaha PT. PUTRA NUSA. Mungkin Oma kenal, ya walaupun tidak seterkenal tuan Spencer atau mungkin perusahaan Gunawan,"


"Kamu kenal sama kalangan itu. Wah cucu Oma circlenya keren," puji Helena.


"Saya pernah berada di circle mereka, Oma. Walaupun cuma bentar. Saya pernah memegang suatu perusahaan kalau di katakan tidak besar lah. Masih taraf perusahaan kecil. Itu pun juga karena pengaruh Om Irul. Setelah saya menolak menikah dengan Kayla. Saya pun harus menerima konsekuensinya. Salah satunya melepaskan jabatan yang saya pegang," cerita Dawa.


Helena terdiam mendengar cerita cucunya. Ada rasa marah pada Irul saat ini, kenapa hanya karena tidak jadi menikah, di sangkut pautkan dengan pekerjaan. Padahal yang salah anaknya Irul, hamil dengan laki-laki lain. Helena ingat saat Irul menjadi calo pekerja, dimana Irul sempat minta tolong pada dirinya.


Meminta Helena untuk menikahkan salah satu anak lelakinya untuk menikah dengan adiknya yang hamil tanpa suami. Tentu saja Helena menolak saat itu, dia tidak mau punya menantu tidak selevel.


"Kalau anda menolak, tentu aku akan bilang sama anak anda soal Sekar. Dia akan tahu kalau ibunya lah yang memasukkan Sekar untuk jadi pembantu. Padahal anda tahu Sekar sedang hamil,"


"Saya tidak takut sama ancaman kamu! kalau kamu pikir saya akan lemah karena hal ini. Saya rasa tidak, saya bisa hancurkan usaha kamu dalam hitungan jari," Helena penuh percaya diri.


Sejak saat itu Helena sudah tidak tahu lagi keberadaan Irul. Terakhir dia dengar usaha agen nya tutup. Irul pun membuka usaha lain, entah apa itu dia pun tak tahu dan tak mau tahu lagi.


"Oma, aku mau keluar dulu mencari angin segar," kata Dawa.


Asisten Pandawa pun membawa lelaki itu pergi ke taman sekitar kompleks perumahan.Tiupan angin seakan mengajaknya bermanja-manja ria. Menerbangkan daun-daun kering yang ada di sekitarnya. Cukup sedikit menghirup udara segar sudah membuat pikirannya tenang. Dawa memandang anak-anak bermain di sekitar taman. Beberapa orang dewasa mengawasi anak-anaknya. Terlintas ingatannya saat mengasuh Vira kecil.


"Senang, kak," ucap Vira sambil menikmati es krim cone coklat. Dawa mengacak rambut Vira yang di kuncir tinggi.


"Ini siapa yang bikin kuncir rambut kamu?"


"Kakakku," Vira kembali melahap es krimnya yang hampir meleleh.


"Bukan mama kamu?"


"Mama mana sempat pergi pagi terus aku bangun mama udah mau berangkat lagi," celoteh Vira saat itu.


"Kamu tenang saja. Kak Padma dan kak Danu akan selalu ada buat kamu,"


"Kak aku mau gendong kayak gitu," Vira menunjuk anak yang naik ke pundak ayahnya.

__ADS_1


Danu langsung membungkukkan badan. Meminta Vira naik keatas bahunya.


"Waaaaaw, aku bisa lihat pemandangan,kak,"


"Pemandangan apa, dek?" Dawa merasa tidak ada pemandangan apapun.


"Pemandangan lihat orang dari atas," Dawa terkikik. Mana ada pemandangan orang dari atas. Lagian dia juga tingginya standar layaknya remaja lainnya.


Memang imajinasi anak kecil beda dari dewasa. Imajinasi anak anak berbeda dengan orang dewasa, semakin bertambah umur maka manusia semakin sadar bahwa imajinasi memiliki dunia yang lain dan berbeda dalam kehidupan kenyataan, oleh karena itu manusia mengesampingkan imajinasi mereka dalam kehidupan sehari hari, hal ini disebut dengan kedewasaan.


imajinasi anak anak sangat luas dan liar, mereka sangat mudah menyerap sesuatu disaat mereka masih balita


...****...


"Apaaaa! aku mau di jodohkan! please, opa kan aku sudah bilang, tidak mau di jodohkan. Vira mau fokus kuliah dulu, Opa," Vira kaget tiba-tiba opa Han membahas tentang sayembara jodoh untuk dirinya.


Vira kaget ketika opa Han mengatakan soal perjodohannya dengan teman lamanya yaitu Helena Abraham. Memang pembicaraan itu tidak terencana, hanya saja sekedar mempererat hubungan persahabatan mereka. Helena juga punya usaha berada diatas angin.


Setelah pengumuman dari opa Han, Vira kembali ke kamarnya. Vira duduk di depan kamar balkonnya. Menatap langit bertabur bintang. Membuka laptopnya, mencari lagu-lagu pengobat galaunya.


Rumah kembali sepi setelah Dira dan Juna kembali ke Lembang. Sedangkan Feri dan Tina kini sedang di rumah pakde Amran.


Ting!


"Kalau kamu cemberut makin cantik saja," Vira mengernyitkan dahinya. Pesan tak bertuan mendarat di nomornya.


"ini siapa, sih?" umpat Vira.


"Pasti kamu aneh kan, ada nomor nyasar datang. Ya seperti biasa kamu akan mengabaikan pesan ini," balas si pemilik nomor.


"Kamu siapa? tahu dari mana nomorku?"


"Apa yang aku tidak tahu tentang kamu, Sa ...."


"Kok nggak di selesaikan? apa kamu salah kirim pesan. Atau kamu secret admire nya Elsa. Hayoo, ... kamu mau minta bantuan kan sama saya,"

__ADS_1


Tidak ada balasan.


"Halah... mau dekati Elsa saja nggak berani," batin Vira.


__ADS_2