
Suasana di kampus Trisakti terasa lenggang. Beberapa mahasiswa masih asyik dengan aktivitasnya. Ada yang di kelas, ada yang ke kantin, ada juga yang berleha-leha di taman sekitar kampus. Salah satunya adalah Savira, gadis muda yang sebentar lagi usianya masuk 21 tahun kini bersantai sendiri di taman kampus. Menikmati angin segar sekitar pepohonan sebelum akhirnya nanti masuk ke kelas.
Sekarang sudah masuk semester enam. Tahu sendiri kalau semester enam sudah banyak berkurang mata kuliah. Vira masih harus menyelesaikan mata kuliah yang sempat turun nilainya. Mama Dewi tidak pernah marah dengan nilai yang didapat Vira. Asalkan IPK nya masih stabil.
Vira memandang seorang gadis yang berjalan dengan teman yang lainnya. Gadis yang biasanya ceria menemui dirinya. Akan tetapi sekarang beda, gadis itu berlalu tanpa menyapa dirinya.
"Kok kita gini ya, Sa. Hanya karena seorang lelaki. Persahabatan kita jadi hancur. Sa, aku kangen sama kamu. Kangen kebersamaan kita." batin Vira.
Lamunannya buyar saat gawainya berdering. Vira membuka handphone lipatnya. Senyumnya agak di paksakan saat tahu siapa yang menelepon.
"Sayang, kamu masih di kampus, nak?" kata mama Dewi.
"Masih, ma. Aku kan ada mata kuliah jam 9 nanti. Ada apa, ma?"
"Mama mau ajak kamu fitting gaun untuk seragam empat bulanan Feri dan juga Dira. Sekaligus pertunangan kamu sama Panji."
"Ma, aku belum mau tunangan. Aku masih pengen kuliah. Satu hal, ma keluarga Om Panji kurang respect sama aku. Jadi please biarkan kami mengejar restu dulu." kata Vira.
"Masa mereka kurang setuju, bukannya dulu Adrian lah yang mengajukan diri untuk mendekatkan kamu dan Panji. Kenapa malah jadi terbalik."
"Sebaiknya mama tanyakan sendiri sama om Adrian. Jangan tanya sama Vira ataupun om Panji." Vira menutup teleponnya.
Vira menghirup nafas dalam-dalam. Dia dan Panji sekarang memang sudah pacaran. Seperti permintaan sang mama yang terus mendesaknya menerima Panji. Akan tetapi dia juga sudah terlanjur nyaman bersama lelaki itu. Meskipun usia mereka berjarak 12 tahun.
"Kamu yang namanya Savira?" seorang gadis yang usia diatas dirinya berdiri di hadapan Vira.
"Mbak Hanum?" tebak Vira.
Siapa yang tidak kenal sama Hanum, mahasiswa tingkat akhir santer di kabarkan sedang dekat dengan Panji.
"Kamu tahu nama saya?" Vira mengangguk.
"Berarti saya tidak perlu mengenalkan diri lagi." Hanum duduk di samping Savira. Dua gadis beda generasi kini duduk berdampingan. Vira memandang Hanum dengan takjub. Wajah Hanum yang eksotik membuat Vira sedikit minder. Meskipun Hanum berkulit kuning Langsat sedangkan dirinya berkulit putih. Tapi Vira mengakui kalau wajah Hanum tidak bosan di pandang.
"Aku dengar kamu dan Panji sedang dekat saat ini"
"Iya kak. Aku dan kak Panji sudah pacaran. Sudah dua bulan."
"Oh, jadi kamu alasan Panji nolak aku?"
__ADS_1
"Maaf Mbak Hanum, tapi setahu saya kak Panji memang sejak awal tidak punya perasaan apapun sama Mbak. Dia cuma tidak enak sama pak gusti."
"Tapi kenapa waktu aku ajak dia ketemu keluargaku tidak menolak."
Hanum tertawa kecil melihat ketegangan wajah Vira. Kepalanya menggeleng lalu memegang kedua tangan Vira. "Kamu percaya omongan aku tadi?" Sekarang Vira gantian bingung.
"Maksudnya?"
"Begini Savira, aku dan Panji memang di dekatkan sama Gusti. Dan kami sempat dekat. Akan tetapi Panji pernah bilang dia jatuh cinta pada pandangan pertama sama kamu.
Panji itu anaknya asyik kok, dia bisa mengikuti sesuai umur pasangannya. Lagian aku nggak mungkin sama dia. Bekas pacar kakak sepupuku, Kanaya."
"Kanaya?" Vira baru mendengar nama itu.
"Kanaya dan kak Panji itu pacaran dari SMA hingga ke tamat kuliah mereka masih pacaran. Tapi saat itu kak Panji belum sesukses sekarang. Keluarga Kanaya yang terbilang kaya pun mau anaknya sama yang lebih baik. Dan kata kak Kanaya, kak Panji seperti tidak berusaha memperjuangkan hubungan mereka. Dan akhirnya selesai."
"Apa itu yang buat kak Panji sampai sekarang belum dekat dengan perempuan lain?"
"Bisa jadi, Vira. Kamulah perempuan yang membuka hatinya yang hampir mati."
"Sepertinya mbak Hanum lebih paham daripada aku"
Vira melihat jam di handphonenya. Baru dia teringat sudah melewatkan jam mata kuliah beberapa menit. Vira pun pamit pada Hanum, alumni kampusnya. Hanum pun ikut pamit karena saat ini dia adalah asistennya pak Gusti. Dua wanita itu berjalan beriringan.
Tiba di kelas, Vira meletakkan tas nya. Saat ini dia bergabung dengan anak semester bawah untuk mengulang mata kuliah. Sebenarnya dia cuma ambil 15 SKS saja. hanya 4 atau 5 mata kuliah yang nilainya C. Vira memandang ke arah Elsa yang satu mata kuliah dengannya. Gadis itu memilih duduk di belakang jauh dengan Vira.
Setelah Vira mulai sibuk dengan dirinya sendiri. Elsa pun menatap kearah Vira. Jarak mereka berkelang 7 kursi.
"Kalau saja kamu tidak membocorkan soal masa lalu kak Dawa pada orang-orang di kampus. Aku tidak akan sesakit ini sama kamu, Vira. Semua yang di kampus tahu kalau Dawa adalah ayah dari anak yang di kandung Kayla. Semua yang di kampus juga tahu kalau aku sedang berpacaran sama kak Dawa. Mereka menuduhku orang ketiga gagalnya hubungan antara kak Dawa dan Kayla. Jahat kamu Vira!" batin Elsa.
"Eh, ada pelakor disini?" Nindy ketika melewati kursi Elsa.
"Apaan sih? siapa juga yang pelakor? aku nggak macarin suami orang."
"Iya, tapi apa kamu nggak kasihan sama bayi yang di kandung Kayla. Nggak punya bapak!"
"Lagian apa urusannya sama kamu, Nindy. Saya tekankan kalau Kayla itu bukan hamil sama ..."
"Kamu kalau ngomong di jaga ya, Nindy. Kata siapa Elsa itu pelakor dia tidak merusak hubungan siapapun. Elsa itu korban kebohongan pacarnya." Vira sedari tadi ikut gerah melihat sikap orang-orang pada Elsa.
__ADS_1
Elsa menatap Vira dengan sinis. Di matanya apa yang Vira lakukan itu sekedar kamuflase belaka. Toh hanya Vira yang tahu soal ini. Sudah pasti biang keladinya temannya itu.
"Sudahlah, Vira. Bukannya ini yang kamu mau? mempermalukan saya di depan orang banyak. Kamu mau membalas sakit hatimu karena kak Danu lebih pilih aku, Iya kan."
"Hey! sudah beberapa kali aku bilang, bukan aku yang bilang sama orang lain soal kamu dan kak Dawa. Tapi percuma bilang sama kamu. Hati dan pikiran kamu sedang gelap. Aku doakan kamu tidak ikut gelap mata." Vira mengambil tasnya keluar dari kelas.
Vira meninggalkan ruang kelasnya. Sebenarnya ada satu mata kuliah lagi yang harus dia tempuh. Tapi semangatnya sudah hilang. Kekesalannya bermula saat Elsa menuduh dia yang menyebarkan hubungan antara Kayla, Pandawa dan Elsa. Padahal dia saja juga baru dengar rumor itu dari teman kampusnya.
"Kamu tuh kalau cemberut makin jelek." suara bariton membuyarkan lamunannya.
"Ya Allah, om. Ngagetin saja."
"Ra, kita kan sudah pacaran. Bisa nggak jangan panggil aku Om lagi?"
"Susah, sudah jadi kebiasaan." sela Vira.
"Bukannya ada pepatah yang bilang. Alon Alon asal kelakon. Pelan-pelan tapi pasti."
"Jadi fittingnya?" Vira mengalihkan pembicaraan.
"Aku mau nanya sama kamu boleh?"
"Nanya apa,om eh maaf kak Panji."
"Aku mau tanya sama kamu. Benar kalau kamu mau tunangan sama aku? mau jadi istriku?" Vira menggangguk kecil.
"Tapi aku nggak tahu kenapa kamu kayaknya masih belum siap,Vira"
"Om kok nanya begitu?"
"Ya karena aku merasa ada sesuatu yang kamu sembunyikan."
"Om kalau kesini cuma mau bahas hal yang tidak penting mending aku pulang naik grab saja. Percuma bicara sama orang yang hatinya sedang panas. Nggak akan menang aku nya."
Vira terdiam saat ada menahan tubuhnya. Dengan tatapan malasnya dia berbalik menghadap Panji. Lelaki itu memegang jemari Vira.
"Aku minta maaf, Ra. Bukan maksudku untuk bikin kamu kesal. Tapi aku merasa kamu menerimaku karena Tante Dewi."
"Itu tandanya Om Panji tidak percaya sama aku. Kalau memang hanya karena mama aku sudah nolak om sama seperti malam itu.
__ADS_1
Sekarang aku mau pulang. Aku sudah tidak mood ikut fitting gaun."