
"Ra, aku minta kamu datang ke sini." Rengek Elsa.
"Kenapa? itu kan acara keluarga kamu, Sa. Ngapain juga aku ikut kesana"
"Kamu masih anggap aku sahabat kan? please turuti keinginan aku kali ini. Aku nggak mau sama calon pilihan papaku."
"Wait, kamu tinggal protes sama mereka atau kamu kabur dari sana. Pokoknya gimana, kek?"
"Aku nggak mau sama kak Panji." batin Elsa.
Elsa memandang kearah kaca rias di kamarnya. Polesan yang mengubah wajahnya serta mengubahnya menjadi lebih dewasa. Seperti yang di ketahui kalau Elsa akan di jodohkan dengan seorang bos dari pada pabrik madu.
Awalnya dia buta informasi, tidak mencoba mencari tahu soal calon pilihan ayahnya. Papanya meminta Elsa berdandan yang cantik untuk bertemu orang itu. Memperkenalkan sebagai calon pasangan dirinya.
Namun setelah dia memeriksa Instagram pabrik yang dibilang papanya. Elsa cukup kaget kalau yang dimaksud adalah Panji. Serasa dunia sempit, kenapa harus Panji? seperti tidak ada lelaki lain saja.
"Nggak salah? masa aku sama kak Panji. Emang nggak ada laki-laki lain. Ya Allah gimana aku bilangnya sama Vira. Dasar laki-laki, ku pikir kak Panji mau berjuang untuk Vira."
Elsa menarik nafas dalam-dalam. Dia merasa bingung. Satu-satunya jalan mengundang Vira ke rumah. Biar temannya tidak salah paham. Kalau kesannya jahat sepertinya tidak. Dia hanya ingin memberi kedua waktu menyelesaikan masalah. Biar papa dan mamanya tahu seperti apa pilihan mereka.
Elsa meninggalkan kamarnya. Kamar yang berada di lantai atas membuat dirinya berjalan dengan hati-hati. Entah kenapa dia merasa deg-degan, padahal belum bertemu dengan calonnya yang menunggu di bawah.
"Non," suara bariton mengagetkan dirinya. Seorang lelaki yang usianya diatas dirinya. Seorang lelaki yang pernah membuatnya deg-degan, tapi itu dulu saat masih SMA.
"Kak Pasha" sapa Elsa.
"Bapak meminta saya mengecek non Elsa." Lelaki itu bicara layaknya seorang militer.
"Kak, aku cantik nggak?" tanya Elsa.
"Non, cantik. Dari dulu non Elsa sudah cantik."
"Kalau memang aku cantik kok kakak melihat lain arah. Jangan-jangan kakak ngomong gitu karena takut aku marah kayak biasanya. Tenang, kak. Aku sedang jinak sekarang. Kakak boleh jujur kok?" Pasha pun memandang ke arah Elsa.
"Non itu cantik. Bukan cantik karena dandanan, tapi sudah cantik dari dalam. Non itu orang baik, kebanyakan anak orang kaya suka memandang orang sebelah mata. Tapi non beda, non suka berbaur dengan kami." Pasha memegang kedua bahu Elsa.
Kamu sudah dewasa Elsa. Perasaan baru kemarin saya mengantarkan kamu sekolah dari SMP dan sekarang sudah kuliah. Perasaan baru kemarin saya melihat kamu merengek jalan-jalan sepulang sekolah.
__ADS_1
"Kak Pasha, apa mereka sudah datang?"
Pasha terkesiap, dia langsung menghapus wajahnya yang sudah sembab.
"Kakak nangis? aduh kak, aku kan cuma nanya apa mereka sudah datang?"
"Maaf, Non. saya terharu non sudah dewasa. Ingat-ingat saya baru kemarin jadi sopir jemputan non Elsa waktu SMP. Sekarang sudah mau punya calon suami.
Mereka sudah menunggu non Elsa."
"Saya turun, kak. Oh ya kalau Vira datang kasih tahu saya.
Elsa pun akhirnya turun ke ruang makan. Langkah kaki yang begitu elegan.
"Yaelah turunnya kayak putri keraton," ledek Ruben.
"Bawel!" balas Elsa.
"Kak jangan mau sama dia, orangnya dah tua, kayak om-om." bisik Ruben saat Elsa sudah mendarat di lantai bawah.
"Emang siapa yang mau di jodohkan? orang cuma makan malam saja, kok."
"Ruben! bisa nggak sih kamu diem! berisik tahu nggak!" Elsa berteriak mengejar Ruben yang terus mengganggunya. Untung saja dia langsung melepaskan sepatunya. Kalau tidak bisa malu deh di depan tamu.
"Maafkan anak saya pak Adrian. Dia memang suka seperti itu sama saudaranya yang lain. Elsa juga usianya baru masuk 20 tahun, tapi tingkahnya masih .."
"Masih sesuai umurnya pak Adrian. Jadi harap di maklumi." mamanya Elsa langsung memotong pembicaraan papanya Elsa. Adrian dan juga Panji pun hanya mengangguk kecil.
Elsa pun duduk di dekat mamanya. Dia menyalami Adrian sebagai rasa hormatnya pada tamu papanya.
"Kamu apa kabar, Elsa?" tanya Panji membuat Elsa menatapnya dengan tajam.
"Baik kak Panji." jawab Elsa datar.
"Ingat Panji kamu harus membuat mereka menyukaimu. Dengan begitu..." Panji menoleh tajam kearah Adrian.
"Bisa kita mulai sekarang?" Adrian memulai inti pembicaraan.
__ADS_1
Ting!
Elsa membuka gawainya. Ternyata Vira sudah sampai di depan rumahnya. Elsa pun meminta pamit sebentar pada orangtua dan tamunya.
"Kak Panji bisakah saya bicara dengan anda di gazebo rooftop?"
"Bisa" Panji dan Elsa meninggalkan ruang makan. Mereka naik ke lantai atas menggunakan lift khusus.
Tentu saja Elsa sudah meminta pada Pasha untuk membawa Vira ke lantai atas terlebih dahulu.
"Kak Panji duluan jalannya." pinta Elsa.
Vira berdiri memegang pagar rooftop rumah Elsa. Udara malam yang sedikit menusuk hingga ke tulang. Memandang bulan yang membulat sempurna.
Suara langkah berjalan membuat Vira sedikit terusik. Namun tak membuatnya mengubah pandangan kearah langit. Dia menebak itu langkah kaki Elsa.
"Sa, aku ..." Vira berbalik melihat siapa yang berdiri di belakangnya.
"Apa kabar Vira?" sapa Panji.
Vira hanya diam saja. Ada perasaan tidak karuan melihat kemunculan Panji.
Vira yang tadinya mellow kembali menjadi sosok yang berani. Berani dalam arti tidak ada rasa sungkan pada lelaki di hadapannya.
"Kakak lihat sendiri, kan? aku baik, aku sehat. Oh ya selamat ya atas pertunangan kalian, aku turut senang. Oh ya besok di rumah ada acara empat bulanan kak Dira dan Kak Tina. Kalian berdua datang, ya. Sebagai tamu pastinya." Vira hendak meninggalkan rooftop. Seperti ada yang menahan tangannya.
"Kamu kesini cuma mau mengacaukan semuanya, iya kan? kamu mau bilang ke semua orang, ini Panji yang kemarin mau tunangan sama saya, gitu kan?" suara Panji terdengar menyolot.
"Kalau iya kenapa? takut? takut rencana kamu gagal. Setelah satu minggu kamu hilang tanpa kabar. Sekarang kamu kembali untuk tunangan dengan perempuan lain. Dan yang mau di jodohkan dengan anda adalah sahabat saya sendiri. Hebat benar-benar hebat!" Vira bertepuk tangan sambil berjalan berkeliling di sekitar tubuh tinggi Panji.
"Dan saya juga tidak akan mau sama bekas sahabatku. Saya tidak tahu sebenarnya apa tujuan anda mendekati keluarga kami. Apa untuk urusan bisnis? itu sudah terbaca sekali." Elsa muncul di tengah perdebatan Vira dan Panji.
Bukan hanya itu, Elsa sudah membawa mama dan papanya ke atas rooftop beserta Adrian. Lelaki paruh baya itu menatap Vira. Tatapan tidak suka.
"Mama dan papa, ini adalah Panji, lelaki yang tadi nya sudah mau bertunangan dengan Vira. Dia hilang tanpa kabar memutuskan hubungan sepihak tanpa ada kejelasan.
Mama mau aku di perlakukan hal yang sama? papa mau aku di buat seperti itu? Elsa minta sama papa tolong batalkan perjodohan ini."
__ADS_1
"Kamu tahu kenapa Panji memutuskan hubungan? Itu karena dia sudah tahu keadaan kamu yang sebenarnya. Kamu yang sudah di rusak oleh Andre." Vira mengepalkan tangannya.