
Ku tahu kau pun sama seperti aku
Tak ingin cinta usai di sini
Tapi mungkin inilah jalannya
Harus berpisah ho oh
Berharap suatu saat nanti
Kau dan aku kan bertemu lagi
Seperti yang kau ucapkan
Sebelum kau tinggalkan aku
(Tak ingin usai,Kesya)
"Ih gelangnya lucu." Elsa memuji gelang yang di pakai Intan.
"Terimakasih, ini di belikan pacarku." jawab intan.
Vira ikut memandang gelang yang dipakai Intan. Seakan gelang itu mengingatkan pada sesuatu di masa lalu. Ah, masa lalu, Apakah dia punya masa lalu. Sejauh ini dia hanya dekat satu pria, yaitu Satria. Tapi jauh sebelum Satria dia ingat satu nama, kakak yang selalu menemaninya bermain. Kakak yang selalu menunggunya di gerbang taman kanak-kanak.
Sayangnya Vira tak terlalu ingat sama wajahnya. Dia hanya ingat sama nama lelaki itu.
Danu, itu yang dia ingat tentang lelaki itu. Lelaki yang dulu di harapkan sebagai pengantinnya di saat dewasa nanti. Tapi Vira sadar, kalau itu hanya ocehan anak kecil saja.
"Mungkin sekarang kak Danu sudah menikah. Dan pastinya sudah memiliki anak-anak yang lucu.
Please Vira, kamu jangan aneh-aneh,ya. Fokus kuliah yang benar. Bikin Mama dan keluarga besarmu bangga."
Vira yang baru saja keluar dari ruang kelas. Dia memperhatikan Kayla sudah seharian tidak masuk kuliah. Entahlah dia kenapa mencemaskan Kayla tidak masuk ke kampus. Padahal harusnya dia harus masa bodoh. Tapi entah kenapa dia kepikiran Kayla terus. Apa terjadi sesuatu dengan kandungannya?
"Vira kamu kenapa?" tanya Elsa.
Vira duduk di kursi kantin kampus. Dia kembali mengedarkan pandangan ke sekelilingnya siapa tahu Kayla memang tidak masuk kampus karena faktor kehamilannya.
Vira ingat saat Meyra hamil, kakak iparnya tidak bisa beraktivitas. Makan saja susah, sebentar mual dan pusing. Kalau Kayla sedang tidak hamil dia tidak akan secemas ini.
"Kamu mau makan apa?" tanya Elsa.
"Samain saja sama kamu, Sa." Jawab Vira setengah malas.
"Yasudah, mang pesankan Soto pake toge ya."
"Eh, kok pakai toge? enggak mau!"
"Tadi katanya samain dengan punyaku. Ya punyaku kan banyak toge."
"Bang soto nya satu lagi togenya seuprit." Pesan Elsa.
__ADS_1
"Si Kayla kok nggak masuk, ya." Elsa memulai obrolan.
"Ya mungkin dia ada di urusan atau mungkin kurang sehat." Jawab Vira.
"Bisa jadi, sih. Tapi semenjak Jordy cuti kuliah. Kayla jadi sering jarang masuk."
"Sa, emang si Jordy kenapa cuti kuliah?"
"Kata Boy, Jordy mau kerja dulu nyari biaya kuliah. Jordy itu cuma anak buruh tani. Katanya dia bisa kuliah karena di bantu sama Kayla." jelas Elsa.
"Oh, begitu. Pantas saja dia ngintil Kayla terus." Vira mengakhiri pembicaraannya.
"Ra, pak dosen datang." Elsa menyenggol siku Vira saat sosok tampan berjalan menghampiri dirinya.
"Ya, biarin saja, Sa."
"Benar biarin saja? Tapi kamu dengar rumor nggak?"
"Rumor apa lagi, Sa?"
"Rumor yang mengatakan kalau pak dosen itu sekarang berjalan ke arah kita."
Benar saja. Dia berjalan sudah lima langkah kearah mereka. Vira mencoba cuek, siapa tahu lelaki itu hanya lewat saja.
Sebenarnya Panji adalah lelaki yang baik. Perhatian hanya saja narsisnya selangit. Itu yang dia tahu tentang Panji. Cara berpakaian juga rapi, tidak memamerkan lekuk roti sobek. Vira paling sebal sama lelaki yang suka pamer body. Termasuk kakaknya dan juga kakak iparnya.
Walaupun dia punya perusahaan yang lumayan sukses. Tapi dia tidak pernah bersikap arogan seperti kebanyakan direktur. Beda sekali sama Dawa.
"Hai,"
Tanpa diminta lelaki itu sudah duduk di samping Vira.
Aduh, kalau mahasiswa lain lihat bagaimana?
"Cantik, kok diam saja?" sapa Panji.
"Siapa?" tanya Elsa.
"Ya Vira, dong." kata Panji.
"Oh, kayaknya aku bakal jadi nyamuk nih. Ra, aku mau ambil barang ketinggalan di kelas." Elak Elsa.
"Om, ngapain kesini?" Panji hanya menyengir. Itu yang dia suka dari Vira, tidak terpedaya dengan pesona dirinya.
Vira melihat cara Panji menatap dirinya sedikit risih. Dalam anggapannya Panji itu terlalu percaya diri. Biasanya lelaki yang sudah kepala 3 akan bersikap elegan sesuai usianya.
"Ngapelin calon ibu dari anak kita nanti." kata Panji sambil mengedipkan matanya.
"Mimpi!" Vira menoyor kepala Panji sambil tertawa.
"Aduh hilang kegantengan gue! ini gue balikin." Panji membalas toyoran Vira. Keduanya saling tertawa bersama.
__ADS_1
"Kamu jam kuliahnya sampai jam berapa?" tanya Panji.
"Enggak ada. Tapi kata mama bakal ada makan malam di rumah opa Han."
"Wah, aku juga ada undangan dari pak Burhan. Kok bisa sama ya? atau kita jodoh kali ya?"
"Kenapa Opa Han undang om Panji?"
"Mungkin mau di jadiin cucu mantu."
"Ooom!" Panji semakin tertawa gemas melihat ekspresi Vira.
"Iya, maaf. Kan ini cuma becanda. Lagian kamu serius amat nanggepinnya." Panji memencet hidung Vira.
"Maaf, pak Panji. Saya nggak enak jadi bahan tontonan. Tolong bersikap profesional." Vira pun meninggalkan Panji.
"Betul, pak. Mbak Vira itu sangat menjaga image nya. Dia tidak suka namanya jadi bahan kegaduhan satu kampus." sahut mbak Marti, pemilik kantin.
"Bahan kegaduhan apanya, saya dan dia sudah tunangan." kata Panji.
Bukan maksud dia mau bohong. kalau tidak begitu orang akan berpikir Jelek antara dirinya dan Vira. Padahal apa salahnya dia dan Vira punya hubungan. Dia single, Vira juga single. Meski di akui kalau Vira masih sangat kecil dari usianya.
Namanya juga cinta
Dan aku sedang berusaha memperjuangkannya.
Panji berlari mengejar Vira. Sayangnya gadis itu hilang bak di telan bumi. Terdengar ada seorang wanita yang memanggilnya. Panji pun menoleh, ternyata Bu Dekan. Mau tidak mau Panji Bu mengikuti atasannya.
"Ada apa, Bu?" tanya Panji.
"Begini nak Panji, saya mendengar kamu hanya sementara menggantikan Randi. Tapi sekarang banyak sekali permintaan agar kamu tetap mengajar disini."
"Aduh, maaf Bu. Saya kalau tidak ada pekerjaan sangat mau sekali mengajar disini. Tapi saya nggak enak cuti terus. Nanti bos saya marah. Ini saja saya terpaksa bilang mau mudik. Masa iya saya nambah libur lagi."
"Yasudah, kalau pak Panji di pecat sama atasannya mengajar disini saja. Saya sangat senang kalau anda menjadi pengajar tetap disini." kata Bu Dekan.
"Terimakasih, Bu atas tawarannya. Nanti saya pikirkan lagi." Panji pun pamit dari ruangan Dekan.
"Ya ampun. Nasib orang ganteng gini ya." puji nya dalam hati.i di
...*****...
"Maaf, om. Saya tidak bisa menikahi Kayla. Dia harus menikah dengan ayah kandung dari janinnya. Om sudah tahu Kayla hamil tapi kenapa tidak jujur sama saya."
"Jadi kamu menolak Kayla, setelah apa yang saya lakukan buat kamu dan kakakmu. Kamu lupa bagaimana saya mengangkat derajat kalian. Apalagi setelah kakak tertua kamu bangkrut karena ulah orang kepercayaannya. Dan kalau saya tidak membawamu dulu, mungkin kamu luntang-lantung. Karena semua akses kamu dan kakakmu di tutup."
"Iya, Om. Saya tahu itu. Saya paham kalau om sudah berjasa dalam hidup saya dan almarhumah kak Padma. Saya sangat berterimakasih. Tapi ini masalah harga diri, om. Anak ini berhak mendapatkan kasih sayang orang tua utuh. Jangan seperti saya, yang lahir hanya tahu kakak saja. Tak pernah tahu tentang kedua orang tua baik ayah maupun ibu. Jadi maafkan saya, om."
"Tidak bisa! kalian harus menikah! undangan sudah tersebar. Apa kata orang kalau pernikahan ini gagal. Satu hal yang harus kamu tahu! kalau kamu mencoba menggagalkan pernikahan ini. Semua yang kamu punya akan saya ambil. Perusahaan, semua fasilitas yang kamu miliki akan saya serahkan kepada Kayla."
Dawa langsung lemas ketika mendengar ucapan Irul. Dia belum siap melepaskan semua. Irul melihat reaksi Dawa hanya tersenyum menang. "Izinkan saya berpikir lagi, om."
__ADS_1