SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 40


__ADS_3

Gerimis sudah turun membasahi bumi. Membasahi tanah, rumput dan semua yang ada di bumi. Termasuk membasahi kediaman Dewi Savitri. Dira yang masih dalam mobil menghirup nafas dalam-dalam, tampak awan putih melayang-layang seperti kapas yang menggulung ke angkasa.


Tampak pak satpam berlari menuju mobilnya dengan membawa payung. Dira mengucapkan terimakasih pada lelaki yang sudah lima tahun kerja di rumahnya.


Hawa dingin segera merayap, menyelimut menusuk tulang. Dira pun memasuki rumahnya yang terlihat sepi. Tak perlu waktu yang lama dia sudah berada di kamarnya. Setelah membanting tas nya di ranjang. Dira pun berjalan menuju balkon. Tampak rumah di depannya selalu hidup menyala. Rumah didepannya dulu adalah rumah orangtua Arjuna. Rumah yang memiliki kenangan saat dia masih kecil. Dira, Ayu, Delia dan Eka tumbuh bersama. Ayu dan Dira berteman sejak kecil karena mereka tetangga. Sedangkan dia mengenal Delia dan Eka saat di bangku SD. Hingga sampai SMA, bedanya Delia sekolah SMA di JIS. Namun tak membuat persahabatan mereka merenggang walaupun beda sekolah.


Disini mas Juna menyatakan perasaannya padaku. Saat malam lamaran aku dan Rian dia muncul membuat aku sedikit goyah. 20 tahun memendam cinta pada Mas Juna tak membuatnya peka. Dan aku mencoba mengubur dalam-dalam perasaan ini.


Tubuhnya di hempaskan ke ranjang melepaskan penat setelah seharian berkutat dalam pekerjaan. Matanya menerawang ke langit dinding kamar. Seakan menuntut tidak ingin di usik apapun alasannya. Sejenak Dira memejamkan matanya.


"Kamu capek sayang, sini aku urut. Mana yang pegel."


"Nggak usah, mas. Aku nggak apa-apa, kamu pasti yang capek bolak balik Jakarta-Bandung. Aku aja yang mijitin kamu" Dira berdiri di depan suaminya.


Tangannya dengan lembut memijit tengkuk leher Arjuna. Meskipun usia pernikahan mereka dalam hitungan minggu, tapi tak ada pertengkaran. Mungkin benar kata orang awal pernikahan hanya manisnya saja. Itu yang mereka alami.


Juna yang merasa sedikit nyaman dengan pijitan buatan Dira. Tangan Juna langsung menarik tubuh istrinya dan jatuh ke pangkuan. Degupan jantung keduanya terasa kencang. Juna menarik dagu Dira serta menikmati indahnya cinta halal mereka. Tak lama Juna sudah berada diatas Dira.


Benar saja tubuh Dira sudah berada dibawah Juna. Dengan cepat Dira beranjak dari suaminya. Tangan Juna menahan hingga Dira terduduk diatas paha suaminya. Juna membelai rambut Dira dari atas sampai bawah. Menyingsing rambut istrinya yang menutupi leher. Juna menelan salivanya. Tak sabar mereguk indahnya tubuh istrinya.


"Mas,"


"Kalau seperti ini rasa lelahku hilang, sayang. Aku mencintaimu sangat mencintaimu. Terimakasih kamu menerima cintaku, terimakasih sudah menyempurnakan kerja kerasku untuk mendapatkan hatimu." Tanpa menunggu jawaban Dira, Juna langsung melancarkan aksinya.


Pasangan mana pun pasti mendambakan hubungan rumah tangga yang harmonis dan langgeng seumur hidup. Tetapi, ternyata membangun rumah tangga tak semudah yang dilihat dari pengalaman orang. Setiap hubungan pernikahan pasti akan ada badai yang mengguncang. Badai kecil, sedang dan besar. Pasti akan melewatinya. Untuk saat ini mereka belum melewati badai itu. Masih merasakan manisnya cinta dalam pernikahan.


Dira membuka matanya. Dialihkan atensinya ke samping. Tak ada siapapun, tak ada sosok yang memejamkan matanya sambil melilitkan tangannya di pinggang. Ternyata semua itu hanya mimpi. Dira meraih boneka little poni kesayangannya. Boneka pemberian suaminya saat dia wisuda S1 dulu.

__ADS_1


"Poni, apa yang harus aku lakukan sekarang? apakah aku harus move on? tapi aku sudah lewat masa Iddah. Ah, tidak poni, percuma perjuangan aku mencintai selama 20 tahun dan hanya karena terpisah oleh maut aku harus berpindah hati. Tidak akan poni, menikah itu sekali seumur hidup."


Suara adzan berkumandang menggema di langit Jakarta. Dira membangkitkan tubuhnya menunaikan kewajiban sebagai umat muslim. Terdengar suara mama Dewi memanggil dirinya untuk ikut sholat berjamaah di bawah. Setelah mengambil wudhu Dira pun turun berbaur dengan kakak dan adiknya yang sudah siap.


"Ada kak Tina," sapa Dira.


"Dan ini bukannya kamu bos GLOBAL MACHINE." Dira menoleh ke lelaki yang ikut sholat bersama mereka.


"Tadi nak Dawa mobilnya mogok di dekat sini, ketemu sama kakakmu yang sedang lewat. Mobilnya masih di simpang jalan. Jadi sambil di benerkan istirahat dulu di sini."


"Oh," jawab Dira.


"Mereka ternyata kuat juga agamanya. Sampai sholat berjamaah. Ah tidak Dawa, kamu jangan tertipu dengan semua ini. Bisa jadi hanya pencitraan saja. Sama seperti Andre yang suka bermain perempuan." batin Dawa.


Selesai sholat, mama Dewi meminta Tina dan Dawa untuk ikut makan malam bersama. Dua tamu tersebut mengiyakan permintaan tuan rumah. Tina ikut bi Inah di dapur membantu menyiapkan makan malam.


"Aku kenal sama Feri sejak SMA, Bi." jawab Tina.


"OOO, berarti kenal sama den Juna juga. Kan den Feri sama den Juna satu sekolah." Tina mengangguk.


"Iya, Bi. Aku sama Feri satu kelas. Kalau Juna beda kelas, sama sekretarisnya Juna juga satu sekolah." cerita Tina.


Mereka berkumpul di ruang makan. Tina dan Bi Inah menyajikan masakan diatas meja. Bi Inah sedikit kagum pada Tina karena pintar masak. Serta tidak gengsi masuk dapur. Beda sekali dengan Meyra yang jarang ke dapur. Itu yang ada di pikiran Bi Inah.


"Ma," Dira memulai pembicaraan.


"Iya, nak."

__ADS_1


"Dira pengen liburan minggu depan bolehkah?"


"Nak, kalau kata mama kamu liburan sesudah pernikahan Feri dan Tina saja. Kalau saat ini kita kan masih banyak persiapan." kata mama Dewi.


"Dira cuma mau liburan sendiri, ma. Dira pengen menenangkan diri dulu. Cuma sebelum itu Dira mau ke Lembang menengok anak Ayu yang masih bayi."


"Kalau kamu mau pergi tunggu urusan selesai, nak. Mama nggak akan biarkan kamu pergi sendiri."


"Tapi, ma."


"Maaf non Dira, kalau bibi ikut nimbrung. Non Dira kalau mau liburan ke desa bibi aja. Namanya desa Tulang Bawang, masih di daerah Bekasi. Disana ada ponakan bibi namanya Naura. Non tinggal sama dia dulu sementara. Tapi ya itu, nggak semewah rumah-rumah orang kaya. Namanya juga juga desa terpencil." cerita Bi Inah.


"Nggak apa-apa, Bi. Aku lihat schedule dulu. Aku minta persetujuan opa Han dulu. Nggak mungkin aku main pergi saja kalau meninggalkan pekerjaan. Soalnya...." Dira tidak melanjutkan ucapannya.


"Soalnya apa, nak?"


"Kalau disini aku keingat mas Juna terus, ma. Bukan aku mau melupakan mas Juna. Tapi aku butuh waktu untuk menerima semua ini. Tolong mengerti aku, ma."


"Daridulu kak Dira selalu dimengerti oleh mama dan yang lainnya. Ingat saat aku di lamar kak Satria, tapi mama malah heboh mencari jodoh untuk kak Dira.


Acara lamaran pun malah lebih mewah dari lamaranku dengan kak Satria." sahut Vira.


"Kamu ngomong apa sih, Vira?" Mama Dewi sedikit kaget dengan ucapan anak bungsunya.


"Maaf, ma Vira bukan iri dengan kak Dira. Hanya saja kak Dira selalu minta di mengerti tapi dia nggak ngertiin keadaan kita disini. Dia juga nggak mencoba mengerti perasaan mama saat ini.


Mama sangat berharap kalau dengan berkumpul seperti ini bisa mengobati kak Dira. Tapi dia malah minta untuk menjauh dari kita. Itu artinya dia nggak nyaman sama kita." Vira meninggalkan ruang makan dan menutup pintu keras-keras.

__ADS_1


Apakah aku egois?batin Dira.


__ADS_2