
PLAAAAAK!
Tangan kekar itu melayangkan tamparan keras ke wajah adik iparnya. Ayah mana yang tidak emosi ketika tahu siapa yang mencoba membunuh anaknya. Deka terus menampar wajah Seno tanpa rasa ampun.
"Nak, sudah cukup! nanti yang ada kamu yang ikut terseret. Ini sudah di kantor polisi. Biar polisi saja yang mengurus semua ini," Helena mencoba menenangkan putra bungsunya.
"Katakan apa yang membuka kamu ingin membunuhnya anakku! katakan, Bangsat!" amuk Deka.
"Kenapa dia bisa masuk ke dalam rumahku? apa tidak ada yang menjaga anakku sampai jadi seperti ini!" Deka masih tidak terima atas perbuatan Seno pada putranya.
"Suster mengira kalau Seno adalah dokter Wido. Katanya dia datang dengan memakai masker. Alasannya sedang flu," jelas Helena yang tadi sempat mengintrograsi suster dan perawat yang menjaga Pandawa.
"Masa dia tidak tahu kalau itu adalah dokter Wido. Sudah dua bulan ini dokter Wido bolak balik ke rumah. Meskipun pakai masker paling tidak ada perbedaan fisiknya," Deka sudah terlanjur geram.
Helena tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ada benarnya kata Deka, kenapa suster tidak bisa mengenali dokter Wido. Bukankah mereka sering bertemu. Helena mengurutkan dahinya.
Dia sendiri heran kenapa Seno mau membunuh Pandawa. Padahal mereka tidak saling kenal atau sebenarnya mereka saling tahu.
Sementara Seno tetap bungkam walaupun sudah babak belur di hajar dokter Wido dan Deka. Dia merasa terancam begitu tahu Pandawa masih hidup. Tentu nanti saat lelaki itu sadar. Dia belum ingin di penjara. Walaupun sebenarnya dia lah yang menghubungi polisi, memberitahukan dimana Pandawa di buang, juga dimana Khairul dia buat babak belur.
"Sementara ini saudara Seno akan kami amankan. Saudara Seno memang buronan yang kami cari selama. Dua anteknya sudah tertangkap terlebih dahulu," jelas Komandan Dahlan.
"Kalau boleh tahu apa kesalahan dia," Deka enggan menyebut nama adik iparnya. Rasa marah yang menggerogoti membuatnya benci pada lelaki itu.
"Saudara Seno terlibat kasus prostitusi, penculikan, pembunuhan dan penipuan. Karena itu dia sudah kami labeli dengan hukuman 20 tahun penjara. Dan korbannya adalah tuan Pandawa Danuarta," Deka langsung menggertak giginya saking geramnya. Tidak di sangka kalau Seno salah satu otak yang membuat keadaan Dawa seperti ini.
Deka menghunus tangannya ke dinding. Dia merasa kecolongan atas semua yang terjadi pada putranya. Sebegitu banyak orang yang ingin menyingkirkan putranya. "Katakan siapa otak dari semua masalah ini!"
"Otak dari semua ini adalah tuan Khairul, pemilik dari Perusahaan Genetik Machine,"
"I...rul," Helena pucat ketika mendengar nama itu.
'Izinkan saya menemui lelaki itu," kata Deka.
"Kau mau apa? jangan bilang kamu mau mengamuk sama dia, jangan buang tenagamu, Deka. Lebih baik kamu fokus sama anakmu,"
"Tidak rasanya aku belum puas kalau tidak memberinya pelajaran!" Deka masih tersulut emosi. Helena meminta Genta untuk menarik anaknya meninggalkan kantor polisi.
__ADS_1
Langkah Deka terhenti ketika kantongnya merasa getaran. Tertera nama dokter yang sedang berada di rumahnya. Dengan cepat dia mengangkat teleponnya.
"Assalamualaikum, pak Deka? ini dokter Wido. Bapak bisa pulang ke rumah. Ada mukjizat di sini," suara dokter terdengar seperti kaget.
"Ada apa, Wido?"
"Pandawa ... Dia sudah sadar,"
"Alhamdulillah, baik saya akan kesana," Deka terlihat bahagia langsung menutup teleponnya.
"Ma, anakku sudah sadar! dia sudah melewati masa kritisnya," Deka memeluk Helena dengan tubuh bergetar. Lelaki itu menangis di pundak ibunya, tangisan karena setelah lima berbulan bulan putranya melewati masa kritis.
"Kau jangan banyak mengeluarkan air mata, Deka. Tumpahkan lah di depan anakmu nanti," kata Helena.
"Baik, Ma. Kita pulang," ajak Deka.
Sebenarnya Deka masih ingin mengorek tentang motif Seno dan juga antek-anteknya. Apa hubungannya dengan anaknya? akan tetapi kabar tentang bangunnya Pandawa lebih penting dari apapun.
"Kamu duluan saja, Mama ada urusan di tempat lain," kata Helena.
"Aku harus memastikan apakah Irul orang yang sama atau bukan? bisa-bisa Deka tahu kalau aku yang memasukkan Sekar ke agen pembantu itu," batin Helena.
Setidaknya Deka tidak jadi bertemu dengan Khairul. Batin Helena.
****
Beberapa jam yang lalu
"Arini," panggil dokter Wido.
Arini langsung berjalan menemui dokter yang sudah dua bulan menangani Pandawa.
"Maafkan saya, Dok. Saya tidak mengenali perbedaan orang itu dengan dokter. Saya sibuk dengan handphone sambil membuka pintu rumah. Jangan pecat saya, Dok,"
"Saya tidak punya wewenang buat pecat kamu. Saya harap kejadian tadi bisa jadi pelajaran buat kamu, buat saya juga. Semoga tidak terjadi di lain waktu. Seminggu yang lalu saya belum datang kesini, apa informasi yang terbaru,"
"Seminggu yang lalu ada dokter pengganti hanya beberapa hari. Alhamdulillah tuan Pandawa mengalami kemajuan pesat, trombosit darah yang sempat menurun kini kembali normal. Sempat menggerakkan tangannya tapi kembali koma,"
__ADS_1
"Bagus, itu berarti ada reaksi dari pasien, Sekarang siapakan alat-alat untuk memeriksa pasien,"
"Baik, dok." Arini langsung menjalankan tugasnya. Meskipun di rundung rasa cemas akibat keteledorannya, saat ini dia masih tetap profesional. Apapun keputusan atasannya dia pasrah.
"Jadi kamu anaknya om Deka, ya? wah selama ini saya cuma tahu nya Fadli saja. Ternyata Fadli punya kakak. Saya Widodo teman kecilnya Fadli, walaupun saya dan Fadli berjarak tujuh tahun. Ya karena kami dulu tetanggaan,"
Wido terus mencoba berkomunikasi dengan Pandawa. Menurut para ahli, Penderita koma juga ternyata bisa mendengar suara. Akan tetapi, mereka tidak bisa merespons karena kinerja otak disebut berhenti. Selain itu, si penderita koma juga tidak bisa menerima rangsangan apapun meski hal itu sangat menyakitkan.
"Saya baca tentang kamu di artikel. Kamu namanya Pandawa Danuarta, mantan direktur Global Machine. Wah keren, semuda ini sudah punya jabatan. Hebat kamu, apa kamu sudah punya pacar? atau mungkin pernah menikah? masa seusia kamu belum punya pasangan? sama dengan saya, belum ada. Tapi beberapa bulan yang lalu, saya bertemu gadis manis, dia nganterin kakaknya periksa. Eh saya malah curhat, ya,"
"Pak alatnya sudah siap," seru Arini.
"Sepertinya tidak usah dulu, biar dia istirahat. Saya rasa orang tadi belum sempat mengutak-atik alat medisnya Pandawa,"
Sementara dokter Wido membuka laptopnya untuk mencatat perkembangan Pandawa. Suster Arini duduk menunggu pasiennya, lagi-lagi dia menbuka handphone demi menghilangkan rasa jenuhnya.
Saat hendak mengambil charger baterai, suster Arini melihat pergerakan tangan Pandawa. Di pastikan lagi agar tidak salah lihat, bukan hanya satu tangan saja melainkan tangan lainnya juga bergerak. Pelan-pelan matanya terbuka.
"Dokter!" seru suster Arini.
Mata itu terbuka jelas. Dokter Wido sudah berada di samping Dawa.
"Vi ... " kalimat pertama yang keluar dari mulutnya.
"Aku dimana? kalian siapa?"
"Alhamdulillah, anda sudah sadar tuan Pandawa,"
Entah kenapa dia terpikirkan sosok Vira. Takutnya kalau gadis itu di apakan oleh Irul.
"Vira mana? dia selamat kan? tidak diapakan oleh om Irul,"
"Dia tidak apa-apa, kak Pandawa," dokter Wido berusaha menenangkan pasiennya. Meskipun dia tidak begitu paham pada penjelasan lelaki itu.
"Anda sudah koma selama lima bulan pak Pandawa.
Melewati masa dimana banyak anggapan sembuh anda sangat tipis, Alhamdulillah Tuhan masih memberi anda kesempatan hidup,"
__ADS_1
"Alhamdulillah, ya Allah," lirih Pandawa.
"Mungkin Vira saat ini sudah bahagia bersama kak Panji," batin Dawa.