
Dua sosok beda generasi kini duduk di sebuah saung kecil. Dimana saung tersebut berdiri diatas sungai kecil buatan yang sangat jernih. Sebagian pengunjung menikmati alam yang di sajikan di sekitar saung tersebut. Dalam kolam tersebut banyak ikan kecil, pengunjung di manjakan dengan ritual pijak relaksasi ikan. Sepasang kaki itu masih menari-nari, menyipratkan air mengganggu ketenangan ikan-ikan kecil tersebut. Dira diajak sang kakek untuk jalan-jalan sejenak. Setelah melepaskan penat dengan pekerjaan di pabrik.
"Terimakasih, opa. Mau ajak aku jalan-jalan." kata Dira sambil menghirup udara segar di sekitar kolam.
"Dulu, opa kalau mau diskusi pekerjaan sama Juna. Opa selalu ajak dia disini. Dia selalu bilang kalau lihat ikan selalu mengingatkan sama seseorang. Seseorang kalau bikin ikan bakar membuatnya rindu"
Dira menunduk malu. Sebab dia tahu siapa yang dikatakan Arjuna. Wanita itu menggeliat geli saat ikan-ikan kecil mendekati kakinya. Namun tak berlangsung lama Dira mulai kecanduan saat ikan-ikan kecil itu masih betah mengerubungi kakinya.
Fish spa atau dikenal dengan terapi ikan adalah jenis perawatan yang biasa dilakukan pada kaki. Anda akan diminta untuk meletakkan kedua kaki di akuarium yang berisi air hangat dan ikan-ikan kecil selama 15-30 menit.
Jenis ikan yang biasa digunakan untuk terapi atau pijat adalah Garra rufa. Garra rufa adalah spesies ikan tidak bergigi yang biasa ditemukan di wilayah Timur Tengah.
Tren terapi pijat ikan dimulai di Timur Tengah, di mana ikan Garra rufa ditemukan di sungai-sungai wilayah Turki dan Syria.
Ada berbagai manfaat terapi ikan yang didapat, mulai dari mengangkat sel-sel kulit mati hingga pengobatan psoriasis alami. Kendati demikian, perhatikan risiko yang ditimbulkan dengan cara melakukan terapi pijat ikan yang aman.
"Asyik banget mbak nya." sapa seorang lelaki berdiri di sebelah Dira.
"Kamu siapa?" tanya Dira masih asing pada lelaki di depannya.
"Maaf, nak. Ini Awan. Pengganti sementara Jaka." Opa mengenalkan Awan pada Dira.
"Emang Jaka kemana, opa?"
"Jaka orangtuanya sakit keras. jadi sementara Awan yang menggantikan Jaka. Awan ini teman kost nya Jaka."
"Ooooo..." Hanya itu reaksi yang keluar dari Dira. Wanita dua puluh enam tahun itu kembali asyik dengan ikan kecil yang masih betah di sekitar kakinya.
"Saya sudah mendengar berita tentang suami anda. Saya turut berdukacita." kata Awan yang ikut duduk di samping Dira.
"Kamu asli mana?" tanya Dira.
"Aku dari tulang bawang, salah satu daerah di pelosok Bekasi." Cerita Awan.
__ADS_1
"Maaf, ya aku sok kenal sok dekat soalnya aku merasa kita sepantaran. Kamu tamat SMA tahun berapa?" tanya Awan.
"2015," jawab Dira.
"Sama, dong." jawab Awan.
"Nama kamu Awan saja?" tanya Dira.
"Iya." jawab Awan tersenyum simpul.
Dira melepaskan kakinya dari kolam. Netranya beralih ke arah langit yang mulai berubah sedikit menghitam. Opa Han memanggil cucunya untuk bergabung ke pondok. Beberapa hidangan menggugah selera.
Saung di rumah makan ada yang berada di atas danau buatan yang banyak lalu-lalang ikan berenang. Areanya luas, terdapat banyak saung yang bisa ditempati oleh pengunjung di sana. Menariknya lagi, saung tersebut berada di kolam ikan yang akan membuat anak-anak betah. Mereka juga bisa memberi makan ikan di sana.
Sambil makan duduk lesehan di saung, para pengujung juga akan disuguhi dengan pemandangan danau. Untuk menunya juga terbilang banyak, salah satu yang jadi andalan adalah Gurame Terbang berukuran besar.
"Iya, pak." jawab Awan patuh.
"Jadi opa ngizinkan Dira liburan?" tanya Dira.
"Iya, besok kamu bisa ke desanya Awan. kata Awan view-nya bagus, dan sejuk."
"Terimakasih, opa." Dira memeluk opa dengan bahagia.
"Sekarang kita pulang dulu. Kita bicarakan ini dirumah." ajak opa.
Dira dan opa Han sudah berada di dalam mobil. Setelah Dira membereskan urusan di kantor lalu pamit pada Retno, asistennya. Mereka pun kembali menempuh perjalanan dari Bogor ke Jakarta. Opa memandang kearah sang cucu yang duduk di sebelahnya. Tatapan Dira masih terlihat muram. Opa yakin kalau Dira masih memikirkan kematian suaminya.
Umur tidak ada yang tahu. Belakangan ini, sering terdengar berita mengejutkan perihal kepergian seseorang. Kemarin masih bisa tertawa, esoknya sudah tiada. Tidak bisa dimungkiri, kematian juga akan menghampiri diri kita sendiri. Oleh karena itu, jangan berpuas diri dan merasa aman karena masih muda atau memiliki harta yang banyak. Umur tidak bisa dijadikan patokan, sedangkan harta tidak bisa dibawa mati.Nyatanya, seberapa panjang hidup seseorang sudah ditentukan Tuhan. Esok atau lusa, bisa jadi giliran kita.
__ADS_1
Opa juga tidak menyangka Arjuna bakal meninggal se tragis itu. Terakhir saat Dewi mengabari kalau Juna kecelakaan saat ke Bandung. Tak lama keponakannya mengabari kalau Johan meninggal dunia setelah melawan penyakitnya. Opa menghirup nafas dalam-dalam. Dia bersyukur masih diberi kesempatan hidup dalam usia kepala tujuh. Dia tidak bisa membayangkan kalau meninggal tapi tidak menemukan pengurus pabriknya. Mengandalkan Feri, rasanya tidak etis mengingat cucunya itu adalah pewaris PUTRA NUSA corps. Perusahaan yang dibangun ayahnya atau kakek buyutnya Feri.
Mobil akhirnya sampai di depan kediaman Dewi Savitri. Dira terlihat sudah tertidur efek kelelahan dalam perjalanan. Opa membangunkan Dira tapi nyatanya cucunya benar-benar terlelap. Opa meminta Awan menggendong Dira untuk di bawa ke dalam. Dengan cepat Awan pun menggendongnya wanita itu. Lama dia menatap Dira seakan ada reaksi yang berbeda.
DUUUUGH!
Suara benturan keras membangunkan Dira. wanita itu pun melototi Awan yang masih menggendong dirinya.
"Aaaaawwwww!" pekik Dira.
"Turun!" protes Dira.
"Maaf, non. Tadi saya kepeleset."
"Kamu ngapain gendong saya!"
"Tadi non di bangunkan tapi masih asyik tertidur. Bapak suruh saya bawa non Dira kedalam kamar."
Dira meminta Awan kembali ke opa Han karena dirinya akan membersihkan diri. Dira membereskan barang-barang untuk berangkat nanti. Dalam pikirannya bagaimana reaksi mamanya ketika dia tetap ingin pergi menenangkan dirinya. Belum hilang dari ingatan semalam sempat bertengkar hebat dengan sang mama.
"Om, saya tidak setuju Dira pergi sendiri ke tempat lain." protes mama Dewi.
"Dia cuma butuh waktu untuk menenangkan diri, Dewi. Sudah cukup kalian menahannya dengan kekhawatiran yang belum tentu terjadi. Dia sudah dewasa, sudah waktunya dia cari kebahagiaannya sendiri." Bujuk Opa Han.
"Tapi dia itu perempuan, om. Apalagi dengan statusnya..." Dewi tidak melanjutkan ucapannya.
"Janda gitu? terus kalau dia janda kenapa? Dia juga tidak mau jadi janda, Dewi. Setiap pasangan pasti ingin selalu bersama hingga ajal menjemput. Dan Dira pun dipisahkan oleh maut. Kamu kenapa seperti ini, Dewi? saya tahu kekhawatiran kamu sama Dira. Tapi ini sudah berlebihan. Dira sudah dewasa, biarkan dia mencari jalannya sendiri. Dia cuma ingin menenangkan diri bukan kabur dari rumah." kata opa Han dengan lantang.
Dari tempat yang tak jauh, Dira mendengar pembicaraan mama dan opa nya. Sungguh dia tidak ingin membuat keluarganya runyam. Dia juga tidak enak pada mamanya yang terlihat protektif semenjak menyandang status janda. Dira duduk di dekat pintu kamar Vira.
Statusku sekarang apa? janda atau masih istri Arjuna. Aku memang sudah menikah, tapi kenapa hidupku berasa jadi janda. Tapi aku juga merasa mas Juna masih hidup. Bukan sekedar halu atau belum menerima kenyataan. Entah kenapa feeling aku kuat sekali kalau mas Juna masih hidup.
Sama seperti dulu, saat mas Juna mendekatiku. Saat statusnya tunangan Delia, saat statusku tunangan Rian. Aku sudah mencoba melupakan kalau Juna adalah cinta pertamaku. Aku berusaha menerima sosok Rian, setelah lama aku sendiri karena kecewa pada Wawan.
__ADS_1
Disaat kebahagiaan itu datang, dan Tuhan mengambilnya kembali. Mengambil suami yang sangat mencintaiku. Kenapa hidupku makin rumit setelah kepergian mas Juna.