
Udara malam di daerah Lembang terasa sangat dingin. Belum lagi sudah mulai musim hujan di bulan penghujung tahun.
Bulan Desember sudah berjalan dua minggu. Akhir tahun pun semakin dekat. Banyak hal yang menjadi tradisi di bulan Desember ini. Musim hujan dianggap sebagai salah satu yang identik dengan Desember.
Meskipun datangnya musim hujan sudah semakin sulit diprediksi, namun Desember tetap identik dengan musim hujan. Bulan ini jas hujan dan payung sudah mulai dikeluarkan.
Tio memandang air langit yang membasahi kediamannya. Lelaki itu duduk di temani secangkir teh hangat dan cemilan ubi Cilembu kiriman mertuanya. Ayu duduk di sebelah suaminya ikut menikmati ubi Cilembu.
"Mas, ingat nggak saat kamu melamar aku dua tahun yang lalu. Dimana dulu kamu bilang orangtuamu melarang kita menikah."
"ingat, sayang. Kakakku ada dua, satupun belum ada yang tertarik untuk menikah. Mereka berdua lebih sibuk dengan bekerja. Membangun karier yang cemerlang. Tapi kalau mas Toni aku nggak masalah. Dia laki-laki, dimana mas Toni pernah bilang kalau lelaki mapan akan datang jodohnya sendiri. Tapi Mbak Tyas kan perempuan, usia sudah sangat matang untuk menikah.
Bagi mama, kalau anak perempuan lama menikah. Akan susah mencari jodoh di usia hampir kepala tiga saat itu. Makanya saat aku melangkahi mas Toni dan mbak Tyas. Mama sudah pusing tujuh keliling. Mereka mapan tapi belum menemukan jodoh. Sedangkan aku yang masih serabutan sudah dapat pasangan. Mama malu kalau dua anaknya di langkah oleh anak bungsunya yang serabutan.
Tapi akhirnya setelah aku berusaha meyakinkan mama. Setelah aku bertukar pikiran dengan kak Juna. Mama akhirnya merestui kita kan."
Ayu mengangguk mengiyakan apa yang di kisahkan suaminya. Perjuangan mereka memang tidak mudah. Bukan hanya pihak keluarga Tio yang sempat keberatan. Papa Johan juga sempat menentang hubungannya dengan Tio. Saat itu bagi papa, Rayyan lah yang lebih pantas untuk dirinya.
Ayu tahu Rayyan juga sempat di sodorkan untuk Eka. Hanya saja, Eka menolak karena sudah punya Wandi. Ayu juga tidak suka sama lelaki yang mau di opor sana sini. Dia juga paham kak Rayyan juga tidak bisa menolak karena Tuan Shahab tidak bisa di tentang.
Menurutnya Ayu,kalau Tio bisa membuka matanya, sebenarnya Juna lah yang banyak berjasa dalam hubungan mereka. Juna yang menyakinkan orangtua Tio, Juna juga yang meyakinkan papanya untuk merestui mereka. Ayu tahu kalau papa Johan mendengarkan Juna ketimbang dirinya.
"Kalau mas Tio bisa telaah, mas Juna sebenarnya banyak berjasa bagi kita. Seperti yang mas bilang tadi. Kak Juna yang mati-matian membujuk kedua orangtua kita. Kak Juna meyakinkan mereka untuk menerima hubungan kita. Toh saat itu mas Toni juga sudah punya pasangan." Batin Ayu.
Di keheningan sore pasangan halal itu masih terlena dengan suasana romantis. Sambil mengenang masa perjuangan mereka dulu. Tio melirik jam di handphonenya.
"Salsa belum bangun?" tanya Tio.
"Loh Salsa kan sama mama dari tadi pagi, Mas."
"Emang nggak merepotkan mama? nanti mama kewalahan ngurusin Salsa."
"Tadi aku mikir sama kayak kamu, mas. malah aku sempat jemput Salsa untuk dibawa pulang. Tapi apa yang aku lihat, Mas. Mama itu kayak punya teman baru. Kan Salsa baru bisa duduk, terus mama masak. Sama Salsa di jadiin mainan tepungnya. Mama malah ngebiarin.
Kata mama biarkan Salsa asyik dengan dunianya. Kalau nanti aku bawa pulang Salsa kalau nggak di kamar ya pasti di sama mama dan papanya."
Melihat semakin seringnya Si Kecil menatap dengan rasa ingin tahu, yang juga merupakan pertanda bahwa ia siap untuk belajar. Dengan kegiatan dan stimulasi bayi 4 bulan yang tepat, maka perkembangan kognitif, emosional, dan fisik bayi akan semakin terasah.
__ADS_1
"Sayang," Tio menepuk pahanya.
"Apa, Mas?"
"Duduk disini." Tio meminta Ayu duduk di atas pahanya.
"Mas, nanti dilihat orang kan malu."
"Ya, kan tidak ada orang. Sekarang hujan, jadi mana mungkin ada yang lewat. Sini, .." Tio menarik tangan Ayu hingga terduduk di atas pahanya.
"Mumpung Salsa sama mama." Bisiknya.
Tio mengangkat Ayu untuk masuk ke dalam rumah. Baru saja mereka berdiri di depan pintu kamar. Sudah terganggu dengan deringan telepon. Tio mencoba mengabaikan. Akan tetapi Ayu menegurnya agar mengangkat telepon.
"Bisa jadi itu penting, Mas."
Tio mengerutkan dahinya ketika tahu siapa peneleponnya.
"Siapa, Mas?"
"Angkat, Mas. Siapa tahu soal proyek yang dulu."
"Iya, aku angkat." ucap Tio terlihat senang.
"Alhamdulillah berarti kak Juna sudah berhasil membujuk pak Suprapto." batin Ayu.
"Bagaimana, Mas?"
"Kata pak Suprapto, kemarin Maria ada menemui dia. Katanya meminta pak Suprapto memeruskan proyek yang aku tangani. Alhamdulillah ya, Yu. Kalau Maria mau turun tangan."
"Maria? kenapa dia yang malah mendatangi pak Suprapto? dia bukan orang yang berpengaruh di pabrik kita. Dia cuma asisten kak Juna. Apa kak Juna yang suruh? lancang banget dia datang ke klien." kata Ayu.
"Aku tidak peduli! itu berarti Maria peduli sama aku, bukan kak Juna." kata Tio. Ayu hanya menggeleng melihat pemikiran suaminya.
"Terserah kamu, Mas! Asal kamu tahu Maria itu hanya asisten kak Juna. Jadi kalau Maria menemui pak Suprapto otomatis pasti atas perintah kak Juna. Kalau bukan, berarti Maria itu lancang. Mas tahu kalau sama atasannya saja bisa lancang. Sama kamu juga dia bisa melakukan hal yang sama. Camkan itu!" Ayu kesal meninggalkan suaminya dari ruang tamu.
Tio mendengar hal itu terdiam sejenak. Ada benarnya yang di katakan Ayu. Sudah pasti Maria melakukan hal itu atas permintaan Arjuna. Kalau tidak, mana mungkin pak Suprapto mau langsung menyetujui. Tio merasa bersalah sudah berburuk sangka pada kakak iparnya. Dia berniat mendatangi Arjuna sebagai tanda terimakasih.
__ADS_1
"Kak Juna sedang di Bandung bersama kak Dira. Besok dia baru pulang. Biarkan saja, mereka menikmati bulan madunya." kata Ayu sambil memasak seblak ceker.
"Aku merasa tidak enak sudah berburuk sangka pada kak Juna. Makanya aku mau ajak kak Juna makan di saung proyek kita."
"Oh, sogokan. Tapi kalau menurut aku lebih baik kamu buktikan kinerja dulu, kalau berhasil baru traktir kak Juna. Biar apa yang di upayakan kak Juna nggak sia-sia."
"Iya, juga, Ya."
...****...
"Apa! Maria meminta kerja sama dengan pak Suprapto!" kata Juna di seberang sana.
Kaget. Tentu saja dia kaget. Pasalnya dia sudah memutuskan kerjasama dengan pak Suprapto. Sikap pak Suprapto yang sombong sudah menjadi poin buat Juna untuk memutuskan kerjasama. Di tambah dengan sikap Tania yang menekan istrinya. Sudah jadi poin plus.
"Iya, kak. Mas Tio sudah percaya saja kalau Maria berhasil membujuk pak Suprapto. Maria harus di tindak kak. Dia sudah lancang melakukan sesuatu tanpa perintah kakak. Pecat saja dia, kak!"
"Maria itu bukan asistenku lagi sejak aku kembali. Karena aku akan mendaulat Tio menjadi wakil kakak. Berarti apa yang dilakukan Maria sudah tidak ada sangkut pautnya dengan pabrik.
Tapi karena dia sudah memasukkan Tio. itu sudah masuk dalam tindak pidana. Mengatasnamakan kakak sebagai umpanya. Ini tidak bisa di biarkan. Mana Tio, biar kakak yang ngomong!"
"Halo kak Juna," sapa Tio.
", Assalamualaikum Tio, kakak mau mengintruksikan kalau Maria ada melakukan sesuatu yang berhubungan dengan pabrik jangan di biarkan."
"Maksudnya bagaimana, kak?"
"Sejak aku pulang Maria bukan lagi menjadi asistenku. Dia sudah saya berhentikan karena saya sudah dapat penggantinya."
"Apa! Jadi Maria itu bukan asisten kakak lagi?"
"Bukan, Tio. Jadi tolong hati-hatilah. Kakak akan melaporkan Maria ke kantor polisi. Sebab dia sudah bertindak di luar urusan kerja."
Tio terdiam sejenak. Dia baru saja bahagia ketika mendapat proyek tanpa di kaitkan dengan Arjuna. Dan sekarang dia sudah di tipu oleh Maria.
"Pak Suprapto tadi minta uang jaminan proyek sebesar 500 juta." kata Maria tadi di telepon.
"Ya Allah, 500 juta." Kepala Tio terasa berat. Seketika dia merasa pandangannya gelap.
__ADS_1