SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 44


__ADS_3

Suasana hujan dengan udara dingin menusuk tulang. Di tambah malam yang semakin larut menambah rasa takut yang mendera. Jika hujan turun lebat di kota Jakarta, sudah pasti sebagian dari mereka memilih berjaga-jaga. Beberapa hari ini banyak berita yang menyiarkan banjir di daerah-daerah luar Jakarta. Ketika banjir sudah mengepung para warga, maka terhentilah aktivitas mereka.


Lihatlah prakiraan cuaca BMKG, meski pada siang hari cuacanya cerah, namun setiap sore hingga malam selalu berubah menjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, seringkali juga disertai petir.


Malam ini hujan deras, deras sekali disertai angin. Air yang turun dari langit seolah-olah tumpah ruah memenuhi selokan. Selokanpun tak mampu lagi menampungnya. Luber hingga ke jalan raya yang sehari-hari tempat lewat kendaraan lalu lalang. Kali ini dialiri air layaknya sungai dadakan.


Malam ini tampak seorang wanita di tempat tidur. Dimana memang harusnya tidurnya terlihat nyenyak. Namun tampaknya dia seperti berkeringat, membolak-balikkan tubuhnya. Tangannya menggenggam ujung selimut.


"Mas Junaaaa!"


Seketika dia terbangun dengan nafas yang terputus-putus. Keringat membanjiri tubuhnya. Pandangannya mengedar ke setiap sudut kamar. Rasanya apa yang dia lihat seperti nyata.


"Enggak, Dira! itu hanya mimpi! itu hanya mimpi! itu bukan mas Juna, itu orang lain." Dira menceracau sendiri mengingat mimpinya barusan.


"Nak," suara mama Dewi terbangun. Mungkin suaranya tadi sudah mengganggu istirahat mamanya.


Dira langsung berhambur memeluk mamanya. Mama Dewi membelai rambut putri keduanya. Wanita itu ingin tahu apa membuat Dira ketakutan.


"Kamu kenapa, nak?"


"Dira mimpi mas Juna melamar perempuan lain. Dira mimpi mas Juna datang ke rumah seorang wanita dan mengatakan begini.


Saya menerima Naura sebagai calon istriku. Kalau memang kenyataannya seperti itu, berarti fix, mas Juna masih hidup! dia masih hidup, ma."


"Nak, mimpi itu hanya bunga tidur. Karena alam bawah sadar kamu masih memikirkan Arjuna makanya terbawa dalam mimpi. Percayalah, nak. Dengan kamu mendoakan Arjuna agar tenang di sana. Paling tidak, kamu cukup mendoakan dia agar Tuhan menjaganya dengan baik."


"Enggak, ma. Aku yakin mas Juna masih hidup. Sudah sepuluh bulan sejak kejadian itu, belum ada tanda-tanda jasadnya ditemukan. Itu artinya mas Juna selamat, bisa jadi ada yang menyelamatkannya. Bisa jadi dia amnesia sampai lupa pulang. Bisa jadi ..."


"Nak, sekarang kamu sholat malam. Minta petunjuk pada Allah. Tenangkan pikiranmu kepada-Nya. Insyaallah akan ada jalan keluarnya."


Tepat jam tiga pagi. Suara hujan masih terdengar. Tak ada bulan serta bintang-bintang yang menebar di angkasa. Yang ada hanya suara gelegar petir serta nyanyian rintik-rintik hujan. Angin malam semakin berhembus kencang.


Dira sudah terbalut mukena putih yang menutupi tubuhnya. Bentangan sajadah pun menemaninya mengadukan perasaannya pada sang pemilik kehidupan. Tangannnya menengadah ke atas meminta doa agar suaminya di jaga di surga. Dan jika suaminya masih hidup dia hanya ingin lelaki itu tetap menjaga hatinya sampai saatnya mereka bertemu.

__ADS_1


Ya Allah dengan namamu aku memohon. Dengan namamu aku berdoa. Hamba hanya berharap ada kabar bahagia tentang suamiku. Masih hidupkah dia? Bagaimana keadaannya? apakah dia masih ingat ada istrinya yang selalu menanti kabarnya.


Ya Allah, lindungilah suamiku dimana pun dia berada. Jika ada di dekatmu, jagalah dia dan jauhkanlah dari siksaan api neraka. Dia orang baik, bahkan sangat baik. Dan aku yakin engkau maha penyayang dan pemaaf.


Ya Allah lindungilah dia dari semua marabahaya. Lindungilah dia dari orang-orang yang ingin menyakitinya. Lindungilah dia dari godaan pelakor yang ingin merusak rumah tangga kami.


Semoga Allah memberikan kebaikan padamu, di mana pun kamu berada.


Ya Allah, jagalah suami hamba yang sedang menjemput rezeki-Mu. Berikan suami hamba perlindungan serta keselamatan. Aamiin.


Aku menitipkan agamamu, amanahmu, dan perbuatan terakhirmu kepada Allah.


Ya Allah, ampunilah dan hapuskanlah dosaku dan suamiku. Wahai Pengampun para pembuat dosa. Jagalah aku, suamiku dan tidurnya orang-orang yang lalai. Jadikanlah ibadah kami sebagai ibadah orang yang benar-benar ibadah kepada-Mu.


Kiranya engkau memberikan ia akal, agar dapat menggunakan pemikiran yang baik untuk perbuatan yang baik, maka jauhkanlah dari pikiran-pikiran jahat dan menjerumuskan.


Rabbana, atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina adzaban nar. Amin amin ya rabbal Al-Amin." Dira menutup sholatnya.


Selesai sholat Dira membuka laptopnya. Rasa kantuknya sudah tidak terasa lagi. Dan itu dia manfaatkan menyelesaikan pekerjaannya sambil menunggu waktu subuh tiba. Benar kata orang jika setelah sholat hati terasa tenang. Dira pun bersyukur karena selalu di kelilingi orang-orang yang baik.


Dira berharap dengan doa yang dia panjatkan untuk Arjuna. Berharap ada titik terang tentang keberadaan suaminya. Berharap suaminya akan selalu berada dalam lindungan Allah. Bahkan doa istri untuk suami juga memiliki banyak keutamaan, salah satunya yaitu membuka pintu rezeki dari Allah.


"Ma," Dira membangunkan mamanya yang masih tertidur.


Dewi membuka matanya pelan-pelan. Melihat tubuh Dira masih terbalut mukena. Wajah Dira tampak cerah dengan mengenakan mukena. Dewi tersenyum lalu bangkit dari tempat tidurnya.


"Kamu cantik sekali kalau berhijab." puji Dewi pada putrinya.


"Mama ini pagi-pagi sudah gombal." cicit Dira.


"Benar, nak. Mama lihat kamu pakai mukena saja sudah terpesona apalagi pake hijab."


"Mama juga belum pakai hijab." balas Dira.

__ADS_1


"Kamu ini, ada aja balasan jawaban mama." gelak Dewi.


"Kan anak mama. Hehehehe...."


Dewi menatap lekat putrinya yang tertawa lepas. Ada rasa senang melihat Dira ceria lagi. Sejak kematian Arjuna, Dira sangat jarang bicara apalagi tersenyum. Bahkan untuk berkumpul saja dia jarang. Apalagi sejak putrinya menggantikan opa Han pabrik gula di Bogor.


Waktu terus berjalan, sang surya mulai menampakkan diri. Setelah sholat subuh, Dira langsung berkutat di dapur. Membongkar kulkas untuk diolah menu sarapan. Tak berapa lama beberapa bahan sudah di depan mata. Dira dengan telaten mengolah bahan tersebut menjadi makanan lezat yang akan di santap oleh keluarganya.


"Maaf, non. Bibi terlambat bangun. Tadi sudah sholat subuh udara dingin banget, jadi malah ketiduran." Bi Inah muncul setelah Dira selesai menyiapkan sarapan.


"Nggak apa-apa, Bi. Tadi pas abis tahajud nggak bisa tidur lagi. Sudah subuh pun tidak ngantuk lagi. Jadi langsung cari kegiatan."


Bi Inah masuk ke kamar sebentar saat mendengar handphonenya berbunyi.


"Iya, assalamualaikum Ajeng."


"Kak Inah, apa kabar?" sapa Ajeng dari seberang sana.


"Alhamdulillah baik. Tumben kamu menelepon, jeng."


"Anu mbak, aku mau ngabarin kalau Naura ponakan suamiku mau nikah. Kalau nggak salah bulan mei. Mbak Inah bisa pulang, kan?" tanya Ajeng.


"Insyaallah, ya, jeng. Nanti saya usahakan izin sama majikanku. Saya juga rindu kampung." kata Bi Inah.


"Terimakasih, Mbak. Salam untuk keluarga majikan."Ajeng menutup teleponnya.


Bi Inah menutup teleponnya. Dia senang kalau keponakannya sudah ada yang meminang. Dia tahu kalau Naura sempat hamil diluar nikah dan membesarkan anaknya sendirian. Bi Inah yakin lelaki yang mempersunting Naura adalah lelaki yang baik. Dimana pastinya menerima keadaan Naura yang punya anak walaupun tanpa ikatan pernikahan.


"Ada apa, Bi?" sapa Dewi saat melihat asistennya senyum sendiri.


"Keponakan saya mau nikah, Bu. Saya senang sekali apalagi dia single parent meskipun dia tidak terikat pernikahan."


Dewi paham maksud ucapan Inah tentang keponakan asistennya. Membesarkan anaknya tanpa tanggung jawab si penanam rahim.

__ADS_1


Anak adalah harta yang tidak ternilai harganya. Dia adalah titipan ilahi yang mesti dijaga. Kepadanya kita menggantung asa. Anaklah pewaris sifat dan harta kita. Sang buah hatilah yang akan mendo’akan kita. Merekalah yang menghibur dikala kita sedih. Tawanya di saat kita pulang kerja menghilangkan letih dan lelah seharian di kantor. Permata jiwa itulah yang kelak mengasuh kita di kala usia senja. Cinta tulus anak tidak tergantikan dengan siapapun juga. Anak tersebut bagai intan dan mutiara, milik orang tua.


Jika anak lahir dari kesalahan orangtuanya, jangan salahkan anak atas semua yang dilakukan orangtuanya. Tidak ada anak yang bisa memilih dengan keluarga siapa dia akan dilahirkan.


__ADS_2