SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 177


__ADS_3

"Mama sama Vira kok belum sampai, Mas." kata Dira di tempat acara.


Sudah hampir satu jam acara belum bisa dimulai. Mereka memang berangkat terpisah-pisah. Dira ikut keluarga suaminya. Tina pun ikut Feri dan juga keluarga Amran. Sementara Mama Dewi dan Vira berangkat terakhir.


Melihat kegelisahan istrinya Juna pun berusaha menenangkan. Apalagi Dira sedang mengandung tidak boleh banyak pikiran. Lelaki itu meminta Dira duduk dan memberikan segelas air putih.


"Mas, aku nggak haus. Aku cemas mama sedari tadi tidak bisa di hubungi."


"Iya, aku tahu. Tapi kamu harus ingat kalau kamu sedih anak kita juga terasa. Ingat kata dokter kalau kamu tidak boleh banyak pikiran."


"Dokter Antara?" Kata Dira yang suaminya enggan menyebut nama sang dokter.


"Ya gitu lah." Juna melempar pandangan ke lain arah.


"Masih cemburu sama dia, Mas? kan kamu tahu hati aku untuk siapa? walaupun dokter Antara sekarang lebih ganteng sih. Tapi tetap tidak akan mengalihkan pandanganku ke kamu." Dira menangkup wajah suaminya.


"Aku nggak cemburu sama dia. Aku hanya tidak mau dia cari kesempatan dalam kesempitan. Kamu tahu dulu dia terobsesi sama istriku ini. Bahkan setiap periksa sama dia. Kamu di perlakukan istimewa. Suami mana yang nggak Gedeg melihat lelaki lain mencoba ganggu rumah tangga kita."


"Tapi kita tetap baik-baik saja kan, Mas. Lagian kak Antara kan teman kamu dari SMA. Semua yang dekat dengan kak Feri jadi dekat dengan keluarga juga."


"Dira, Juna, apa mama sudah ada kabar?" tanya Feri.


"Belum, Kak. Nomor mama tidak aktif. Ya Allah, semoga mereka baik-baik saja." Kata Juna.


"Sekarang kalian ikut aku sekarang." ajak Feri.


"Kemana, Kak?" tanya Dira.


"Ikut saja." Mau tidak mau Dira dan Juna mengikuti kemana Feri membawa mereka berdua. Keduanya saling bergandengan tangan seakan tidak ingin berjauhan. Di sudut kamar ada Tina yang sedang duduk sendiri menunggu kedatangan suaminya.


"Mas," sapa Tina.


"Kita mau menemui siapa?" Tina masih penasaran sama suaminya.


"Kita masuk, yuk." Feri menuntun istrinya masuk ke sebuah kamar.


Mereka memasuki kamar khusus tersebut. Sejujurnya Feri tidak tahu siapa sosok yang berada di dalam kamar itu. Berdasarkan cerita dari pengurus panti. Sosok itu terasing karena terkena stroke sejak dua bulan ini. Ada rasa tidak enak dia mengadakan acara tapi ada yang masih terasing.

__ADS_1


"Bapak ini kena stroke dalam dua bulan ini. Dia datang sendiri ke panti ini tanpa ada yang mengantar. Katanya dia sendiri yang berkeinginan untuk tinggal disini.


Saya rasa itu hanya alasan dia saja menutupi kelakuan anaknya. Suka heran sama anak yang meletakkan orang tuanya disini.Maaf saya malah kebawa emosi. Silakan masuk."


Feri dan Tina berjalan lebih dulu menemui sosok itu. Tampak seorang lelaki yang duduk menatap jendela kamar. Feri hanya melihat punggungnya saja. Ada rasa penasaran karena merasa tidak asing.


"Pak Andre, ini ada yang mau ketemu bapak?" kata Sofia, pengurus panti.


Feri seperti terkejut mendengar nama sosok itu. Sofia membantu Andre untuk memutar kursi rodanya. Feri mendekati sosok itu, dengan langkah tertatih dia berjalan gontai. Sudah lama dia mencari papanya yang hilang tanpa kabar.


"Papa, benarkah ini papa." Feri memeluk Andre sambil menangis. "Dira! Juna!" pekik Feri.


Dira dan Juna mendengar panggilan lantang dari dalam kamar. Mereka pun ikut masuk padahal tadi yang diminta hanya dua orang saja. Feri menangis memeluk Andre. Suara sesenggukan terdengar kencang.


"Papa kemana saja, Feri mencari papa kemana-mana. Kata pak Saiful papa pergi dari rumah dia. Kenapa papa tidak menghubungi Feri, papa punya kami yang bisa diandalkan. Ada aku, ada Dira ada Vira."


"Eiii..." suara Andre yang cadel menyebut nama anak sulungnya.


Dira berdiri di belakang Feri. Wanita itu pun bersimpuh di lutut Andre. Rasanya dia pun ikut sesak melihat keadaan papanya. Bulir air mata menetes di pipinya.


"Papa ini Dira, akhirnya Dira bisa bertemu papa lagi. Papa jangan pergi lagi. Meskipun papa dan mama sudah pisah. Papa tetap orang tua kami. Maafkan Dira belum banyak bantu papa."


"Bu Sofia, saya mau bawa pulang papa saya. Dia sudah lama meninggalkan rumah. Kami ingin merawatnya." kata Feri.


"Silahkan pak Feri, Jika anda mau merawat pak Andre. Sejatinya pak Andre lebih bagus berada di tengah keluarga. Apalagi dalam kondisi seperti ini"


"Eiii..iaaa.."


"Iya, Mama dan Vira masih di jalan. Kita keluar yuk, pa."


Acara pun akhirnya berlangsung tanpa kehadiran mama Dewi dan Vira. Meskipun Dira dan Tina malah menangis karena mama dan adiknya hilang tanpa kabar. Tadi Awan dan Jaka sudah mengecek ke rumah. Kata Bi Inah mereka sudah berangkat tidak jauh setelah keberangkatan Dira.


"Jaka, coba kamu hubungi polisi untuk melacak keberadaan Dewi dan Vira. Aku merasa ada yang tidak beres." kata Opa Han.


Feri merasa ada yang bergetar di kantongnya. Dahinya mengernyit saat tahu siapa yang meneleponnya.


"Mama dimana? kami dari tadi menunggu mama dan Vira." kata Feri. "Mama menangis? ada apa, Ma?" Feri semakin cemas mendengar tangisan mamanya.

__ADS_1


"Vira, Feri ... Vira di culik! mama Sekarang di kantor polisi. Mama yakin ini perbuatan dia! mama yakin dia yang menculik Vira!"


"Mama tenang dulu, ya? kami langsung kesana" Feri langsung menutup teleponnya.


"Ada apa, kak Feri?" tanya Juna.


"Vira di culik. Mama yakin ini ulah Irul dan Dawa." bisik Feri.


Feri menarik nafas dalam-dalam. Seketika dia melemaskan tubuhnya diatas kursi. Tina mendekati suaminya. Tentu saja ingin tahu apa yang terjadi.


"Ada apa, Mas?" tanya Tina.


"Mama di kantor polisi, Vira di culik." kata Feri lirih.


"Ya Allah, kenapa banyak sekali masalah yang terjadi?"


"Aku tidak tahu, Tina. Mama bilang ini perbuatan dia."


"Dia siapa?"


"Pandawa. Mama mencurigai lelaki itu karena dia terobsesi sama Vira." jelas Feri.


...****...


Dawa masih belum sadarkan diri. Tubuh tegapnya terikat di sebuah kursi. Wajahnya babak belur di hajar habis-habisan oleh anak buah Irul. Tetesan darah mengalir di pelipis wajahnya. Seorang Pandawa yang tadi hendak menjadi pahlawan kini masih tak berdaya. Aksinya malah berujung menjadi tawanan Irul.


Tanpa Dawa sadari ada seorang gadis yang juga sama seperti dirinya. Terikat dan tak sadarkan diri. Mereka berada di ruangan yang bersebelahan. Hanya terpisah oleh tirai penutup.


Beberapa saat kemudian Dawa membuka matanya pelan-pelan. Memandang di sekeliling.


"Om," lirih Dawa.


Lelaki yang dipanggil Om tersebut hanya tersenyum menang. Menang karena momen ini yang dia tunggu selama ini. Momen menghancurkan Paundra dan keluarganya. Momen menghancurkan Dewi Savitri tentunya.


"Kau sudah bangun, Dawa?" Irul menepuk pipi Dawa dengan lembut. Dawa menatap Irul dengan penuh amarah.


"Apakah kejutannya sudah ada!" pekik Irul.

__ADS_1


Beberapa anak buah Irul membuka tirai yang menutupi ruangan di hadapannya.


"Kau suka kejutannya?"


__ADS_2