
Memasuki usia kepala tiga kita akan dihadapkan dengan banyak persoalan hidup, dari mulai hal sepele sampai yang benar benar serius. Dulu waktu masih kanak-kanak pasti pernah berfikir bahwa menjadi dewasa itu menyenangkan bukan? Dan ya, ternyata sesungguhnya menjadi dewasa tidak semudah bayangan kita dulu, kita akan dihadapkan dengan banyak hal yang harus disikapi dengan bijak.
"Bagaimana perasaanku sampai saat masih tidak karuan. Masih memikirkan dia yang mungkin sudah menyerah atau bisa kalian sebut melawan restu. Tapi aku masih ingin berjuang, menggapai cinta yang sudah jauh aku melangkah.
Apakah aku harus menyerah Vira, sementara papaku dan mamamu akan bersanding. Kalau memang Tuhan tidak menakdirkan kita, kenapa baru sekarang?"
Dawa duduk memandang gelang penanda hubungan mereka. Gelang yang dia buat menyerupai milik Vira kecil. Nyatanya Vira juga memakainya. Dawa sudah berdiri di depan kaca. Masih mengenakan pakaian harian kaos oblong dengan lekuk tubuhnya di tambah sarung kotak karena baru menyelesaikan sholat Zuhur dan ashar di jamak. Karena acaranya jam empat sore. Konon katanya akan ada pertemuan antara Dawa dan calon pilihan keluarganya.
"Nanti acaranya sore jam empat. karena sekaligus akan ada pesta malam," Deka menyahut setelah keluar dari kamar mandi.
Dawa memandang papanya dari atas sampai bawah. Belum terlihat tua, rambut papanya juga masih hitam lebat. Masih memandang dengan rasa takjub.
"Pantas saja kalau aku dan papa jalan pasti dikira kakak beradik," batin Dawa.
"Kok lihatnya gitu?"
"Papa ternyata ganteng juga. Tidak kelihatan tua. Berapa sih umur papa?"
Yang di tanya hanya tersenyum kecil lalu mendekati putra semata wayangnya.
"Baru sadar, ya? zaman papa sekolah dulu banyak yang antri menjadi pacar papa. Sampai Oma kewalahan karena banyak teman wanita papa yang sering main ke rumah bawa hadiah,"
"Kumat, deh," Dua pria beda generasi pun saling tertawa.
"Bagaimana perasaan papa hari ini? sebentar lagi papa akan melepaskan masa duda,"
"Entahlah, papa malah deg-degan untuk acara pertunangan kamu. Cuma papa punya permintaan sama kamu,"
"Apa itu, Pa?"
"Seandainya kamu dan calon tunangan sudah bertemu. Papa mau kalian langsung menikah hari ini juga. Usia kamu sudah matang, sudah seharusnya menikah,"
"Tapi aku nggak tahu siapa dia? seperti apa orangnya?"
"Kau tahu, Nak istilah Witing tresno jalaran soko kulino artinya kurang lebih adalah cinta hadir karena terbiasa. Cinta di antara keduanya dapat muncul karena terbiasa. Baik terbiasa bersama-sama, terbiasa menghabiskan waktu berdua, terbiasa bertemu, terbiasa mengobrol, dan lainnya.
Sama seperti tak kenal maka tak sayang, perlahan-lahan kalian akan saling mencintai seiring waktu,"
"Amin, Pa," volume suara baritonnya merendah.
"Papa tahu yang kamu pikirkan, Nak. Tapi percayalah Tuhan selalu mendengar doa-doa hambanya. Jangan pernah putus asa. Sekarang kamu mandi terus siap-siap,"
"Papa, kenapa terlihat santai sekali," Dawa merasa aneh dengan penampilan papanya hanya memakai kemeja batik bermotif wayang.
"Papa sudah berpengalaman, Nak. Jatuh nggak kaget sama situasi ini," Deka meninggalkan putranya sendirian.
__ADS_1
"Tapi tetap kenapa papa seperti tidak serius dengan pernikahan ini,"batin Dawa.
Tatapan Dawa menjurus kearah jas putih tergantung di pengait lemari kamarnya. Jas yang kata sang desainer punya pasangan wanitanya.
Kala itu papanya datang ke sebuah butik langganan almarhum mama sambungnya. Seorang desainer yang merupakan kenalan dekat keluarga pun menawarkan beberapa jas. Namun netra sang papa tertuju pada sepanjang baju pengantin. Terlebih jas pria.
"Papa membayangkan kalau kamu yang pakai jas ini,Nak," ucap Deka saat itu.
Kembali ke cottage yang di tempati Dawa dan keluarganya. Oma Helena mengingatkan anak dan cucunya untuk bersiap-siap. Deka pun ikut mengingatkan anaknya supaya berpakaian elegan.
Wanita yang memasuki kepala tujuh itu anggun mengenakan kebaya berwarna gold. Rambutnya yang memutih tak memudarkan kecantikannya.
Sayangnya Deka bersikap seakan mamanya tidak ada. Kemarahan atas sikap mamanya di masa lalu menjadi satu alasan sikap Deka.
Helena tidak bisa protes dengan sikap Deka. Dia sadar akan resiko akibat pengakuannya semalam.
"Kamu pasti masih marah sama mama, Nak" batin Helena.
"Wah, cucu Oma tampan sekali. Kamu mengingatkan Oma saat papamu menikah dengan istrinya Zaki,"
"Terimakasih, Oma," Dawa masih bersikap ramah pada Omanya. Walaupun tak bisa di pungkiri rasa marah masih bersarang di hatinya.
"Sekarang kamu sudah siap, Nak. Oma mau mengatakan hal yang sebenarnya kalau ...."
"Ma, aku sudah siap," suara Deka memotong pembicaraan Dawa dan Oma Helena.
"Apakah aku harus melepas gelang ini? ah, tidak. Bukankah aku harus tahu dulu siapa wanita itu. Tidak mungkin langsung menikah saja,"
"Yasudah, kita berangkat sekarang,"
"Papa kenapa mataku di tutup, gelap, Pa!"
Dawa kaget ketika pandangannya menjadi gelap gulita.
"Pokoknya kamu ikut papa, calon istrimu sudah menunggu di sana,"
"Calon? maksudnya pilihan kalian?" pertanyaan Dawa tidak mendapat respon dari papa atau Oma Helena.
Setelah perbincangan panjang, semua keluarga Dirga berkumpul di depan cottage. Dawa di dampingi Oma Helena masuk ke dalam mobil yang sudah di siapkan.
...****...
Suasana di cottage Anyer mulai ramai. Satu persatu tamu undangan pun mulai memenuhi lokasi acara. Tamu yang datang bukan kaleng-kaleng. Bahkan mantan gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama pun turut hadir di deretan tamu penting.
Mama Dewi sudah memakai gaun borkat putih dengan keras memperlihatkan pundak. Walaupun usia kepala lima dia tidak mau kalah cantik dari tiga bidadari muda.
__ADS_1
Sementara Vira sudah terlebih dahulu sampai di cottage menatap heran. Suasana pesta yang katanya tertutup, rupanya banyak di hadiri beberapa kolega dan staf PUTRA NUSA.
Salah satunya, Rangga Baratayudha dan istrinya Larasati, pemilik perusahaan PT. PATTIMURA corps. kabarnya mereka baru beberapa bulan menikah. Sepasang suami-istri tersebut duduk di deretan kursi tamu penting.
"Mas, jadi itu anaknya Bu Dewi. Cantik, ya masih muda kayaknya," ucap Laras.
"Iya, cantik," jawab Rangga tanpa melepas pandangannya ke arah Vira.
"Mandangnya tidak usah begitu, Mas,"
"Eh iya, maaf sayang. Tapi kamu lebih cantik kok," Wajah Laras langsung memerah mendapat pujian dari sang suami.
(Jangan lupa mampir ke Istri kesayangan Rangga di Noveltoon)
Vira di persilahkan duduk di deretan keluarga. Matanya memutar pandangan. Tidak terlihat sosok yang dia cari. Keningnya mengkerut melihat penampilan mamanya, Dira dan juga Tina berpakaiannya senada. Beda dengan bajunya bak seorang pengantin.
Dewi berjalan menaiki altar, mengambil alih mikrofon dari pembawa acara. Baru kali ini Vira melihat mamanya tersenyum ramah. Mamanya yang dulu kini telah kembali, sejak permasalahan yang menimpa Vira senyum itu susah dia dapatkan.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, Saya selaku tuan rumah sangat berterimakasih atas kesediaan para undangan untuk datang di acara kami.
Perkenalkan nama saya Dewi Savitri. Bagi yang sudah kenal saya ucapkan ribuan terimakasih atas kedatangannya. Bagi yang belum kenal yuk kita kenalan,
Di sore yang berbahagia ini, saya merasa bahagia sekali. Di karuniai tiga anak yang tampan dan cantik. Anak pertama saya Feri sudah menemukan kebahagiaannya, begitu juga dengan anak kedua saya, Dira, Feri dan Vira. Vira anak bungsu saja yang sampai saat ini masih menunggu jodohnya,"
Tiga bersaudara itu maju ke panggung. Berdiri berjejer saling memeluk penuh haru.
"Dulu saya punya dua anak gadis yang cantik, sekarang keluarga kami bertambah anggota yaitu menantu dan cucu perempuan saya. Dulu saya hanya punya satu putra sekarang saya punya lima putera satu menantu saya Arjuna Bramantyo dan dua cucu saya, Fajar dan Harry. Dan ...." Dewi menoleh kearah Vira.
"Saya sebentar lagi akan punya anggota keluarga baru yaitu lelaki yang akan mendampingi putri bungsu saya,"
"Mama," ucap Vira lirih.
"Nak, mama minta maaf kalau sudah lama bohong sama kamu. Tidak ada pernikahan antara mama dan Dirga. Sebenarnya kamu yang akan menikah hari ini. Bukan mama, tapi kalau kamu menolak tidak apa-apa. hanya saja, kasihan mempelai prianya. Dia sangat mencintai kamu, Nak,"
"Apakah...." Mata Vira membulat saat seorang lelaki berjalan ke arah panggung.
"Kak Panji..."
...****...
Nah hayo Panji mau ngapain itu?
Penasaran!
Pokoknya pantengin terus kisah mereka. Mendekati episode terakhir ya, guys.
__ADS_1
Buat kisah Sarmila untuk beberapa hari ini belum bisa up.
Othor mau fokus tamatin ini dulu. Insyaallah awal bulan Mila start lagi.