
Flashback on
Sepulang dari rumah sakit Tina dan Bude Aminah menaiki angkutan umum. Tadinya Feri mau menawarkan untuk mengantar calon istrinya dan mantan besannya. Tapi Tina menolak, dia masih belum yakin kalau kemunculan Feri bisa memperbaiki keadaan. Yang ada nantinya malah bikin runyam. Wanita usia 28 tahun itu memilih naik angkot bersama budenya. Feri tidak bisa membantah, dia sangat paham kalau wanitanya itu tidak mau di bantah. Bukan keras kepala, tapi demi kebaikan bersama.
Tina meninggalkan rumah sakit, Feri bilang padanya agar tidak sedih karena ini sudah jalan mereka. Tapi tetap saja Tina merasa ragu pulang ke rumah. Belum lepas dari ingatannya bagaimana amukan Mayka. Sudah pasti nanti dia sampai di rumah akan ada masalah besar.
"Bude tahu apa yang kamu pikirkan. Tapi percayalah semua akan baik-baik saja." bude berusaha menenangkan Tina.
"Tapi kalau mereka melakukan sesuatu pada Amar bagaimana, bude? saya akui ini salah saya yang termakan bujuk rayu Feri tadi. Tapi jangan lampiaskan pada Amar." ucap Tina masih terdengar cemas.
"Bude kenal pakde mu bukan sebentar, Tina. Semarah-marahnya dia sama anaknya. Dia tidak akan melakukan hal yang di luar batas." Bude Aminah masih meyakinkan keponakannya.
"Kenapa bude malah mendukung aku? bukannya harusnya bude berada di pihak kak Mayka, dia kan anak bude."
"Tina, bude akan mendukung jika yang di dukung benar. Bude tidak akan mendukung jika salah. Kalau Feri mau dengan Mayka, saat di pertemukan pasti akan memilih Mayka. Tapi nyatanya dia memilih Mey, pada saat itu Mey masih kuliah. Itu tandanya dia tidak tertarik dengan Mayka. Setelah melihat ketulusan Feri dengan kamu. Bude yakin hati feri hanya untuk kamu."
Mobil yang mereka tumpangi tiba di depan kediaman Amran. Tina menghirup nafas dalam-dalam sebagai bentuk perasaannya yang tidak karuan. Sejenak kakinya terhenti saat melihat banyak barang dan baju berserakan di depan pintu. Tampak Amar berlari kearahnya dengan tangisan.
"Kakak...." tubuh kecil itu berlari mendekati mereka berdua.
"Amar, ini ..."
"Kita di usir kak. Tadi pakde dan kak Mayka membuang baju-baju aku dan kakak." kata Amar dengan polosnya.
"Ya Allah, biar Bude yang bicara sama mereka." Tina menahan budenya.
"Nggak usah bude.Saya berterimakasih sama bude, pakde dan juga semua yang disini. Kalian sudah memberikan tempat tinggal sama saya dan Amar. Meskipun saya tahu kalau ternyata pakde bukan keluarga kandung. Tapi tetap saja kita ini keluarga karena papa sudah di terima oleh keluarga kakek Triawan.
Saya pamit bude, saya ucapkan terimakasih pada bude dan keluarga yang. Kalau nanti saya dan Feri jadi menikah, saya tetap akan kesini mengundang keluarga ini." Tina memasukkan barang-barangnya ke dalam koper.
Tina berjalan meninggalkan kediaman pakdenya, sesaat dia dan Amar menoleh ke belakang berharap kakak papanya keluar. Langkah Tina terhenti saat suara meninggi memanggil dirinya.
__ADS_1
"Dasar tidak tahu diuntung! inikah balasanmu pada kami. Kami menerimamu dengan tulus tapi kamu malah menusukku dari belakang. Inikah yang kamu bilang berbakti."
Tina langsung bersujud di kaki pakdenya. Memohon ampun atas semua yang dilakukannya. Mayka melihat hal itu langsung mendorong Tina hingga terjatuh ke lantai.
"Buang air mata buayamu, Tina. Jangan kamu pikir saya akan luluh dengan sikapmu itu. Nggak akan! kamu tahu saya mencintai Feri tapi kenapa kamu malah menikung saya dari belakang. Kenapa, Martina Priscilla Agatha? Sekarang kamu pergi dari rumah ini! dan jangan harap kamu bisa menikah dengan Feri!" amuk Mayka.
"Mayka!" suara Bu Aminah meninggi.
Selama ini dia selalu diam ketika suaminya serta anak-anaknya mengambil keputusan tanpa diskusi dengan dirinya. Batas kesabarannya pun mulai habis.
"Mama mau bela dia? silahkan mama ikut tinggal dengan ****** ini!"
PLAAAAAK!
"Mama tidak pernah mengajarkan anak mama seperti ini. Hanya karena seorang lelaki kamu melupakan rasa hormatmu pada ibumu sendiri. Hah!" Bude Aminah mengalihkan atensinya pada suaminya. "Ini didikan kamu, Pa. Anak yang tidak pernah mendengarkan orang lain. Anak yang selalu merasa dia paling hebat."
"Bude, Sudah! saya yang salah tidak menuruti apa kata mereka. Ini memang salah saya dan sudah konsekuensinya seperti ini. Tina minta maaf kalau selama ini ada sikap yang menggangu kalian. Saya juga minta maaf sama kak Mayka. Saya mencintai Feri begitu juga sebaliknya. maafkan perasaan saya ini, kak.
Pakde, Tina pamit. Tina minta maaf kalau banyak menyusahkan kalian. Saya sangat berterimakasih atas kebaikan kalian." Tina mengambil barang-barangnya dan menarik Amar meninggalkan rumah pakdenya.
"kita pulang ke rumah di Kramat jati, Mar. Nggak apa-apa kan?" Amar mengangguk. Dia senang bisa pulang kesana.
"Kak Tina!" suara bariton memanggil dirinya. Tina mengenal si pemilik suara dan menoleh.
"Alif,"
"Kakak mau kemana?" tanya Alif yang turun dari mobilnya.
"kakak mau pulang ke Kramat jati, lif."
"Tapi bukannya..."
__ADS_1
"Maaf, Lif. Saya sepertinya sudah membuat mereka kecewa. jadi konsekuensinya saya harus pergi. Saya minta maaf selama disana ada sikap yang tak berkenan baik sengaja atau tidak di sengaja."
"Aku antar, ya. Ini sudah malam, nggak bagus juga kalian berdua berjalan di tempat sepi ini." ucap Alif.
"Terimakasih,lif." Tina dan Amar memasuki mobil Alif.
Tina dan Amar pun sampai di rumah kontrakan mamanya. Sesaat netranya menerawang ke setiap sudut ruangan. kenangan demi kenangan bersama mamanya memutar di memori. Tak terasa air matanya tumpah membasahi pipinya.
Tina menggendong Amar yang sudah tertidur di sofa ruang depan. Sebelumnya dia sudah membersihkan kamar Amar untuk bisa di tempati adiknya.
Flashback off
Tina berdiri di depan pintu rumah pakdenya untuk mengundang ke pernikahannya bulan depan. Setelah berbulan-bulan pergi dari rumah tersebut, setelah dia beberapa kali mencoba mengumpulkan keberanian untuk datang. Sekarang dia mulai mantap untuk meminta keluarganya datang. Tidak peduli apa hasilnya nanti.
"Ya Allah semoga pakde sudah tidak marah lagi sama aku." batinnya.
Namun beberapa saat Tina merasa ada yang memegang lengannya. Wanita itu menoleh dan tersenyum melihat siapa yang datang.
"Feri, kenapa kamu disini?"
"Ya mungkin karena insting cinta yang membawaku kesini."
"Insting cinta? ke kak Mayka?" gurat wajah Tina mendadak berubah dengan pertanyaannya sendiri.
"Nggak gitu, sayang?"
"Terus?"
"Bukankah kamu mau minta restu ke mereka. Kita lakukan sama-sama, ya. Karena yang akan menikah adalah kita berdua. Aku nggak tega ngeliat kamu sendirian mengejar restu. Restu Allah adalah restu orang tua. Coba untuk berdoa memohon yang terbaik dari sang pemilik hati. Sekeras apapun hati orang tua, pasti bisa luluh juga dengan doa. Selain itu tetap menjadi anak yang berbakti, tidak melawan orang tua dan menunjukkan kebaikan pasangan kepada orang tua. Tunjukkan bahwa pasangan kita membawa dampak positif bagi kita dengan begitu diharapkan orang tua menyadari bahwa pasangan yang saat ini bersama kita memang baik untuk kita. Tapi dengan catatan, memang dia worth it untuk kita perjuangkan."
"Terimakasih, Feri."
__ADS_1
"Biasakan dong, panggil mas Feri."
"Iya, mas Fe...ri.." ucapnya terbata-bata.