
Kamu yang ada di depan mata
Aku ingin terus menatapmu
Karena senyum tawa
Yang terlalu lama kau simpan
Aku terpana terbawa suasana
Yang ada di malam itu
Kau yang kulihat dari banyaknya
Kaum hawa
Cukup berdua dan kita tinggalkan dunia
Yang terasa hampa
Tanpa membawa segala rasa
Yang pernah ada di hatiku
Kamu rotan yang dijadikan bangku
Ingin membuatku
Terduduk diam merasakan kenyamanan
Bagai bara yang ada di dalam tungku
Tidak pernah mati seperti cintaku
Rasa ini natural bagai cokelat (bagai cokelat)
Secokelat tanah
Warna bagai biru sebiru lautan
Yang luas
Suara merdu yang menggaung di panggung pesta pernikahan Dua pasangan anak dari Dewi Savitri. Suara merdu itu bernyanyi sambil turun dari panggung mengerumuni para undangan. Dan berhenti ke gadis bergaun merah. Senyumnya mengembang saat pujaan hatinya tersipu malu.
"Udah, Vira. Ikut saja naik ke panggung." bisik Elsa.
Tentu saja Vira menolak. Dia bukan tipe yang gampang baperan. Tapi dia juga tidak enak sama sosok di hadapannya. Kalau dia meninggalkan lelaki itu sama saja dengan mempermalukan di depan umum.
__ADS_1
Tangan itu masih menadahkan untuk ikut keatas panggung. Vira pun ikut naik ke atas panggung. Melihat lelaki yang dia panggil "Om" itu bernyanyi. Sejenak dia memandang lama.
"Ternyata kalau dilihat, si Om tampan juga. Kamu ngomong apa sih? ingat Vira kamu sekolah yang rajin. Nggak usah mikir cinta-cintaan. Nanti kalau sudah sukses banyak kok lelaki yang mendekat. Tapi nggak yang tua juga kali." batin Vira.
Elsa yang memperhatikan sahabatnya hanya tersenyum kecil. Dia senang kalau ada lelaki yang sepertinya tulus sama sahabatnya. Dia juga senang kalau Vira bisa move on dari Satria. Sejauh yang dia tahu kalau Vira enggan membuka hati untuk lelaki lain setelah batal nikah sama Satria.
Tak jauh dari pikiran Elsa, Dewi pun merasa begitu. Melihat sosok Panji yang mapan dan tampan. Tentu sudah ada ancang-ancang untuk mendekatkan mereka berdua. Namanya seorang ibu pasti ingin terbaik untuk anaknya.
"Tante," sapa Dawa menyalami tangan wanita paruh baya itu.
"Terimakasih nak Dawa sudah mau datang ke acara ini. Sendirian saja, Nak? calonmu nggak ikut?"
"Kayla lagi kurang sehat, Tante. Aku kesini sama calon mertua. Ayah dari tunangan saya."
"Oh ya, wah kenalkan sama Tante, dong." sapa Dewi.
"Om, ini Tante Dewi." Dawa pun mengenalkan Irul pada Dewi.
Netra Dewi beralih pada lelaki di belakang Pandawa. Sontak Dewi terdiam melihat siapa calon mertua rekan bisnisnya.
"Hai, Dewi. kamu apa kabar?" sapa Irul.
Dewi masih mematung di depan Irul. Tangannya bergetar seakan ada luka lama yang kembali terbuka.
"Baik," sikap Dewi berubah jadi dingin.
"Sudah lama, ya, kita tidak bertemu. Mantan bos ku." bisik Irul.
"Mama, kemana saja. Itu sudah sesi pemotretan keluarga." Vira muncul mendadak di hadapan Dewi.
"Iya, kah? maaf tadi mama asyik ngobrol sama beberapa relasi.
"Yuk lah, ma. Abis ini vira balik ke kamar boleh?"
"Kan acaranya belum selesai. Kenapa balik ke kamar hotel. Lagian yang akan tetap di hotel hanya pengantin saja. Kita pulang ke rumah."
"Yah,ma. Kirain ikut nginap di hotel. Aku dah bilang sama Elsa kalau akan menginap di hotel."
"Terus mama sendirian di rumah, gitu?"
"Yasudah, kalau begitu, aku dan Elsa pulang saja."
Vira mengikuti mamanya dari belakang. Masih kesal karena tidak jadi menginap di hotel. Tadinya dia sudah membayangkan bisa lihat sunset dari hotel. Mengingat hotel tersebut dekat dengan pantai Ancol. Bisa jalan pagi menyusuri pantai bareng Elsa. Mungkin bonusnya bisa lihat bule ganteng yang sedang berjemur.
"Sapiii!" pekik suara manis dari jauh.
Vira mendengus kesal menatap sosok wanita diatas dirinya. Wanita muda itu memeluk sepupunya dengan penuh rindu.
__ADS_1
"Kak Okta bisa nggak jangan panggil aku kayak gitu?"
"Enggak, itu panggilan sayang kakak sama kamu, dek."
"Panggilan itu yang manis, Ini malah ..."
"Lah, kan benar nama kamu Savira Gayatri. Bisa panggil sapi atau Vira."
"Savi pake V bukan P." Vira masih nggak terima panggilan itu.
"SSK, dong."
"Apa itu kak?"
"Suka Suka Kakak," Okta menjulurkan lidahnya sambil tertawa.
"Up to you, dah."
"Jadi ceritanya nikah ulang si Dira?" Okta tangannya merayap di belakang pundak Vira.
"Iya, kak. Kak Feri juga nikah sama kakaknya kak Meyra."
"Haaah!" Okta sedikit kaget.
"Kayak nggak ada oranglain gitu. Berputar disitu saja. Ya kalau Dira nggak apa-apa, tapi Feri? sudahlah. Dan kamu Vira, cari cowok jangan satu circle, nggak akan berkembang."
'Iya, tenang saja."
"By the way, tadi yang di panggung cakep juga. Pacar kamu, ya?"
"Bukan. Itu klien kerja mama." jawab Vira.
"Ya kalau dari wajahnya dia dewasa banget dan pastinya. Jauh usia dari kamu. Hati-hati kalau dekat sama pria dewasa."
"Kenapa, kak?"
"Kebanyakan kalau pria dewasa itu bawaannya serius. Mereka cari pasangan buat di jadikan istri. Pembawaan mereka terkesan dingin, dan biasanya kurang suka jokes atau apalah untuk usia seperti kamu.
Kalau dekat dengan pria dewasa. Usahakan umurnya terlalu tua. Kamu kan 20, paling banter cari yang usia 27 lah paling tua. Kalau sudah kepala 3, sudah ketuaan."
Vira merasa sudah tidak tahan dengan sepatunya. Dia pun berjongkok melepas sepatu tingginya. Tak berapa lama dia sudah menjinjing sepatu heelsnya. Untung saja gaunnya panjang. Bisa menutupi kakinya. Setelah berdiri Vira pun melangkah ke panggung.
Sebagai salah satu acara istimewa, setiap moment penting dalam pernikahan memang tah boleh terlewatkan oleh fotografer. Dari foto-foto inilah kedua mempelai akan memiliki catatan berharga saat mereka memulai hidup baru melalui dokumentasi foto. Oleh karena itu akan sangat disayangkan apabila setiap moment penting tersebut tidak terabadikan dengan baik.
Begitu juga dengan Dewi dan keluarga besarnya. Dia tidak menyangka kalau akan kembali besanan dengan Amran. Walaupun yang dinikahi adalah keponakannya Amran.
Ditemani oleh orang-orang terdekat. Dalam acara pernikahannya dengan Feri Andreas, terlihat keluarga besarnya ikut datang memeriahkan pernikahan Feri. Tina senang kalau Mayka sudah bisa menerima Feri sebagai iparnya.
__ADS_1
Pesta telah usai, para tamu undangan pun satu-persatu meninggalkan aula acara. Kedua pasangan pengantin pun sudah memasuki kamar hotel yang disiapkan.
Mama Dewi tentu belum pulang. Karena masih ada acara makan malam di hotel. Khusus keluarga besar saja. Apalagi keluarga besar dari papanya Dewi, baik sepupu dari garis keturunan kakek buyutnya. Mereka akan pulang ke kota masing-masing.