
"Kak," Elsa mendekati Dawa yang duduk di teras rumah.
"Iya,Sa," Dawa mengelus tangan Elsa.
"Aku mau kasih tahu spill tentang Kayla selama di kampus. Mungkin ada titik terang soal siapa ayah dari kandungan Kayla," Elsa pun duduk di samping Dawa. Hanya berjarak meja kecil di tengah mereka.
"Ceritakan, sayang. Apa ada orang lain yang dekat sama Kayla?"
"Namanya Jordy, katanya sudah berteman dengan Kayla sejak kecil. Ada yang bilang orangtua Kayla sering bantu biaya keluarga Jordy," kata Elsa.
"Jordy yang gondrong itu?" tebak Dawa.
"Loh, kakak kenal?" Dawa mengangguk.
Tentu dia mengenal Jordy beberapa kali mengantar Kayla pulang. Kayla selalu bilang Jordy adalah temannya. Tapi kalau bikin Kayla hamil rasanya bukan. Melihat face Jordy bukan tipe berandalan. Saat itu Dawa percaya saja sama ucapan Kayla.
"Iya Jordy beberapa kali mengantar Kayla pulang dari kampus, tapi dari sikapnya Jordy itu anaknya sopan,"
Elsa tersenyum penuh arti. Tebakannya kalau Dawa masih gampang di hasut. Apalagi sepertinya Dawa juga di bohongi oleh Kayla.
"Non, mobilnya sudah siap," panggil pak Marto yang mengurusi villa.
"Apa kamu yakin bawa mobil, Sa? kamu perempuan, Sa. Biar aku saja yang bawa mobil,"
"Kakak nggak percaya? bukannya kemarin pulang dari rumah kak Dira aku yang bawa mobil? padahal jalanan cukup terjal. Itu saja bisa kita lewati apalagi Bandung Jakarta. Sudah kakak tenang saja," Elsa tetap ngotot bawa mobil.
Dawa hanya bisa pasrah. Memang waktu dari rumah Dira, Elsa yang bawa mobil karena Dawa kesakitan akibat ulah Vira. "Tidak usah ngebut, ya sayang," Wajah Elsa memerah ketika tangan Dawa menyentuh kulit pipinya.
"Kak kita pamit sama Vira,ya. Bagaimana pun Vira yang awalnya ajak aku ke Lembang. Nggak enak kalau main pergi saja. Tidak apa kan?" Dawa terdiam sesaat entah perasaannya tidak karuan saat nama Vira disebut.
"Kak," suara Elsa lagi-lagi membuyarkan lamunannya.
"Eh, iya," Dawa tergagap.
"Jadi kan berangkatnya?" Elsa menuntun Dawa ke dalam mobil. Ada rasa tidak enak kepada gadis itu.
Mobil pun meninggalkan villa keluarga Irwan. Seharusnya mereka bisa liburan sampai selesai tahun baru. Namun siapa sangka malah jadi runyam. Dawa memegang tangan Elsa, membuka pergelangan tangannya yang memakai gelang yang sama milik "Sapi-nya"
"Sa,"
__ADS_1
"Iya, kak," Elsa masih fokus dengan setirannya.
"Kamu ingat gelang ini," Dawa menyodorkan gelang coklat menyerupai biji tasbih.
"Maaf, kak. Aku sedang menyetir. Belum bisa fokus. Nanti saja bahas itu," elak Elsa. Padahal hatinya panas melihat gelang yang sama dengan milik Vira.
"Iya, maaf, nanti saja," Dawa urung memamerkan gelang kenangannya.
Dawa memandang kearah jalanan luas. Hamparan daun teh yang masih hijau menyejukkan hatinya. Sejenak mata menutup sembari menghirup udara segar pagi itu. Dalam pejamannya muncul adegan saat dia dan Vira terjatuh di tempat tidur.
"Hah!" Dawa terbangun dan tersentak. Kenapa dia harus membawa Vira ke dalam mimpi. Hanya karena soal semalam.
"Kakak kenapa?" Elsa menghentikan laju mobilnya.
"Tidak apa, aku sempat mimpi buruk," kilah Dawa.
"Mimpi apa?" Elsa masih penasaran.
"Bukan apa-apa, lanjut lagi jalannya. Kalau kamu capek biar aku saja yang menyetir,"
"Tidak usah, kita sudah dekat. Sebentar lagi kita sampai di rumah kak Dira. Tapi kalau kak Dawa keberatan kita langsung pulang ke Jakarta,"
"Kenapa bertemu dengan Kayla?"
"Kamu itu calon istriku, jadi kamu harus tahu kalau urusanku dengan Kayla sudah selesai. Sementara Vira dia perlu bukti agar salah paham ini ada jalan keluarnya, Selain itu aku akan mencari Jordy untuk mengorek soal lelaki yang dekat terakhir dengan Kayla,"
Elsa menampakkan ketidaksukaannya dengan Vira. Entah kenapa dia takut kalau Vira mengaku yang sebenarnya.
"Kenapa harus ajak Vira? mau dia percaya atau tidak, tidak ada pengaruhnya sama dia. Kakak kan sudah berusaha jujur,"
"Untuk saat ini izinkan aku melibatkan kalian berdua sebagai saksi menyelesaikan masalah ini. Aku mohon kamu mengerti hal ini," bujuk Dawa.
Elsa tetap memasang wajah datar setelah mendengar penjelasan Dawa. Dia mengiyakan ucapan Dawa tapi dalam hatinya mulai gelisah. Memang benar sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Serapat rapatnya dia menyimpan semua ini. Pasti akan terkuak juga. Kalaupun ketahuan Vira pasti tidak akan menerima Dawa. Di samping Vira sangat patuh sama mamanya, sudah pasti Vira punya perasaan sama Panji.
...****...
Matahari mulai meninggi di langit.
Mobil sudah berhenti di depan kediaman Arjuna Bramantyo. Jarak tempuh villa Elsa dengan perkebunan teh sebenarnya tidak sampai 30 menit. Tapi karena jalanan yang lumayan terjal membuat perjalanan menjadi lambat.
__ADS_1
"Ra," panggil Dawa.
"Astaga, kenapa panggil nama itu sih?" batin Dawa.
"Kakak tadi manggil siapa?"
"Enggak, aku tidak manggil siapa-siapa? kamu salah dengar, yuk katanya mau pamit. Nanti kemalaman," Dawa mencoba mengalihkan pembicaraan. Walaupun dia merasa bersalah pada Elsa.
"Kakak tadi manggil aku sebutan "Ra," apa itu Vira? ya Allah, Jangan sampai kak Dawa tahu soal sapi adalah Vira. Aku tidak bisa membayangkan kalau itu benar terjadi," batin Elsa.
Dua pasang anak manusia itu sudah berdiri di depan pintu mess tersebut. Baik Elsa maupun Dawa saling terdiam setelah mengetuk pintu rumah Dira.
Ceklek!
Suara decitan pintu terdengar si pemilik rumah sudah menyambutnya dengan baik. Dawa berdiri di depan pintu rumah. Membelakangi tubuh Elsa. Masih berdiri tegap sambil memakai tongkat. Sungguh dia merasa tidak bebas dengan kaki yang seperti ini. Tendangan Vira saat itu bukan hanya di anu nya saja tapi juga di pelipis kakinya. Sehingga dia sampai sekarang belum bisa berjalan dengan baik.
"Panji ayo masuk..." Dewi menyapa dirinya lalu terdiam karena ternyata bukan Panji yang ada dihadapannya.
Dawa masih bersikap ramah pada wanita di hadapannya. Walaupun Dewi pernah mencabut investasi serta kerjasama perusahaan. Dawa tak pernah membenci wanita itu.
"Tante," sapa Elsa menengahi ketegangan keduanya.
Dewi masih terlarut dalam kekagetannya. Darimana Pandawa bisa sampai di depan rumah anaknya. Lebih kaget lagi ternyata datang bersama Elsa. Banyak pertanyaan yang ingin dia cari tahu jawabannya. Ada sedikit kekhawatiran tentang sosok Dawa yang mendekati Elsa. Apalagi mengingat track record masa lalu Dawa dan Padma.
"Elsa, kamu kesini mau ketemu Vira? ayo kedalam dulu, Tante tadi masak banyak," ajak Dewi mengalihkan perhatian.
"Ayo, Kak Dawa," Elsa menuntun Dawa masuk ke dalam rumah Dira.
"Kok bisa kalian barengan?" mama Dewi mulai menyelidiki.
"Kami sebentar lagi mau tunangan, Tante," Elsa mulai promosi.
"Tunangan?" Dewi menampakkan kekagetannya. Pandangannya berputar ke arah Dawa. Berbalik kembali ke arah Elsa.
Sementara di dapur Vira mendengar suara mamanya bicara sama seseorang. "Mana Panji nya menantu mama itu?" Vira muncul di tengah kehebohan.
"Elsa?" Vira menyapa sahabatnya dengan ramah.
"Ra, lusa kami mau tunangan jadi kamu mau kan jadi pendamping acaraku. Kayak Bridesmaids gitu. Tapi Versi tunangan. Mau, ya, Ra, please," Vira menatap kearah Dawa begitu juga sebaliknya.
__ADS_1
"Please Dawa, ingat kamu sudah menemukan "Sapi" jadi jangan mikir yang aneh-aneh," batin Dawa.